Arsip

Posts Tagged ‘Na’at’

Tabi’ Munada Mabni Dhammah » Alfiyah Bait 585-586-587

28 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

فصْل في تابع المنادى

FASAL MENERANGKAN TABI’ MUNADA 

تَابعَ ذِيْ الضَّمِّ المُضَافَ دُونَ ألْ ¤ ألْزِمْهُ نَصْباً كَأَزَيْدُ ذَا الْحِيَلْ

Terhadap Tabi’ yg mengikuti Munada mabni dhommah (munada mufrod alam/nakirah maksudah) yang mana Tabi’ tsb mudhaf tanpa AL, hukumilah ia wajib Nashob, contoh: “A, Zaidu dzal-hiyal” (Wahai, Zaid si empunya ide..!) 

وَمَا سِوَاهُ ارْفَعْ أوِ انْصَبْ وَاجْعَلَا ¤ كَمُسْتَقِلٍّ نَسَقاً وَبَدَلا

Selain Tabi’ Munada yg mudhaf tanpa Al sebagaimana diatas (yakni berupa tabi’ munada yg mufrod atau mudhaf menyandang AL) maka boleh rofa’kanlah atau nashobkanlah. Sedangkan tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq dan Badal, hukumilah sebagaimana Munada itu sendiri (yakni, mabni dhammah jika mufrod atau Nashab jika Mudhaf). 

وَإنْ يَكُنْ مَصْحُوبَ ألْ مَا نُسِقَا ¤ ففِيهِ وَجْهَانِ وَرَفْعٌ يُنْتَقَى

Jika Tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq yg disandangi AL, maka boleh dua jalan (Rofa’ atau Nashob) sedangkan Rofa adalah jalan yg terpilih. 

–·•Ο•·–

Fasal ini diangkat oleh Mushannif untuk menerangkan hukum Tabi’ kepada Munada, semisal Na’at dan lain-lainnya. Telah dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa Munada didalam tarkibnya terdapat dua keadaan hukum:  1. Mabni dan 2. Nashab

Untuk Munada Mabni, maka hukum Tab’inya ditafsil sebagai berikut:

1. Apabila Munada Mabni dan Tabi’nya berupa Isim Mudhaf tanpa AL yang berupa Na’at, Taukid atau ‘Athaf Bayan. Maka Tabi’ disini wajib Nashab dengan petimbangan mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada. Dan tidak boleh dimabnikan dengan mempertimbangkan Lafazh Munada.

Contoh Tabi’ Munada berupa Na’at yang mudhaf tanpa AL :

يا خالدُ صاحبَ محمد

YAA KHAALIDU SHAAHIBA MUHAMMADIN = wahai Khalid teman Muhammad!

Contoh Tabi’ Munada berupa Athaf Bayan yang mudhaf tanpa AL :

يا صالحُ أبا عبد الله

YAA SHAALIHU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Shaleh bapak Abdullah!

Contoh Tabi’ Munada berupa Taukid yang mudhaf tanpa AL :

يا تميمُ كلَّهُم

YAA TAMIIMU KULLAHUM = wahai seluruh bani Tamim…!

2. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Mudhaf dg menyandang AL atau berupa mufrod (tidak mudhaf). Maka Tabi’-tabi’ tersebut boleh Rofa’ dan Nashab. Rofa’ dengan pertimbangan mengikuti Lafazh Munada, dan Nashab mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada.

Contoh pada Tabi’ berupa Athaf Bayan:

يا رجلُ زيدٌ وزيداً

YAA ROJULU ZAIDUN / ZAIDAN = wahai seorang Zaid…!

Contoh pada Tabi’ berupa Taukid:

يا تميم أجمعون وأجمعين

YAA TAMIIMU AJMA’UUNA / AJMA’IINA = wahai bani Tamim semuanya..!

Termasuk pada hukum Tabi’ nomer 2 – boleh rofa’ dan nashab, yaitu Athaf Nasaq yg menyandang AL, contoh :

يا خالدُ والطالب

YAA KHAALIDU WAT-THAALIBU / AT-THAALIBA = wahai Khalid dan seorang Santri.

Pada contoh ini lebih baik memilih Rofa’ menurut Imam Khalil dan Imam Sibawaihi demikian untuk menyamai pada lafazh Matbu’.

Namun dalam Al-Qur’an ditemukan Nashab, contoh:

يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ

YAA JIBAALU AWWIBII MA’AHUU WAT-THAIRO = “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”

Qiro’ah Sab’ah membaca Nashab sebagai athaf kepada mahal i’rab JIBAALU. Para Nuhat seperti Imam Sibawaih dan Imam Khalil mereka memahami dalam ayat ini bahwa Nashabnya lafazh AT-THAIRO athaf kepada lafazh FADHLAN sebelumnya.

3. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Athaf Nasaq tanpa AL atau berupa Badal, maka dihukumi sebagaimana hukum Munada secara mandiri: Mabni apabila Mufrad (tidak mudhaf) dan Nashab apabila Mudhaf, contoh:

Athaf Nasaq tanpa AL :

يا خالدُ ومحمدُ

YAA KHAALIDU WA MUHAMMADU! = hai Khalid dan Muhammad.

Badal :

يا رجلُ خالدُ

YAA ROJULU KHAALIDU! = hai seorang lelaki Khalid..!.

Dua contoh Tabi’ diatas dihukumi seperti Munada Mufrad seperti hukum mengatakan :

يا محمدُ ويا خالدُ

YAA MUHAMMADU dan YAA KHAALIDU = Hai Muhammad! dan Hai Khalid!

Athaf Nasaq tanpa AL, Nashab karena Mudhaf:

يا خالد وصاحبَ الدار

YAA KHAALIDU WA SHAAHIBAD-DAARI = wahai Khalid dan Pemilik rumah..!

Contoh Badal, Nashab karena Mudhaf:

يا زيد أبا عبد الله

YAA ZAIDU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Zaid bapak Abdullah..!

Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535

24 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

العطف

BAB ATHAF

عطف البيان

ATHAF BAYAN 

الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ

Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan). 

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ

Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.   

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:

1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)

Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.

Penjelasan Definisi :

TABI’ :

adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.

IDHAH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.

TAKHSHISH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.

Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):

أكرمت محمداً أخاك

AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.

Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.

Contoh sebagai Takhshish (penghusus):

سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ

SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.

Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.

Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.

Contoh Taukid :

جاء الأمير نفسه

JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.

Contoh Athaf Nasaq :

قرأت التفسير والحديث

QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.

Contoh Badal :

قضيت الدين نصفه

QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.

Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.

Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :

Contoh Na’at :

هذا خالد الكاتب

HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.

Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh Athaf Bayan :

هذا التاجر خليل

HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.

Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.

JAMID :

Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.

TANPA TAKWIL :

Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :

مررت بعلي هذا

MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.

Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.

Pengertian Tabi’ Na’at Man’ut dan Faidahnya » Alfiyah Bait 506-507

7 Februari 2012 13 komentar
–·•Ο•·–

النعت

BAB NA’AT

يَتْبَعُ فِي الإعْرَابِ الأسْمَاء الأوَلْ  ¤ نَعْتٌ وَتوْكِيدٌ وَعَطْفٌ وَبَدَلْ

Mengikuti Isim awal di dalam I’robnya, yaitu: Na’at, Taukid, ‘Athaf dan Badal. 

فَالنَّعْتُ تَابعٌ مُتِمٌّ مَا سَبَقْ  ¤ بِوَسْمِهِ أوْ وَسْمِ مَا بِهِ اعْتَلَقْ

Adapun Na’at adalah Tabi’ penyempurna lafazh sebelumnya dengan sebab menyifatinya (Na’at Haqiqi) atau menyifati lafazh hubungannya (Na’at Sababi). 

–·•Ο•·–

TABI’ / TAWABI

Pengertian Tabi’ (yang mengikuti) : adalah Isim yang bersekutu dengan lafazh sebelumnya di dalam i’robnya secara mutlak.

Penjelasan Definisi: Lafazh sebelumnya disebut Matbu’ (yang diikuti). Di dalam i’robnya secara mutlak dimaksudkan untuk semua keadaan i’rob Rofa’, Nashob dan Jar. Contoh:

جاء الرجلُ المهذبُ

JAA’A AR-ROJULU AL-MUHADZDZABU = Laki-laki yang baik itu telah datang

رأيت الرجلَ المهذبَ

RO’AITU AR-ROJULA AL-MUHADZDZABA = Aku melihat laki-laki yang baik itu

سلمت على الرجلِ المهذبِ

SALLAMTU ‘ALAA AR-ROJULI AL-MUHADZDZABI = Aku memberi salam pada laki-laki yang baik itu

Pada tiga contoh diatas, lafazh AL-MUHADZDZAB (Tabi’) mengikuti lafazh AR-ROJUL (Matbu’) di dalam tiga bentuk i’robnya masing-masing.

Keluar dari definisi Tabi’ adalah Khobar dari Mubtada’ dan Haal dari Isim Manshub.

Contoh Khobar dari Mubtada’ :

الدنيا متاع

AD-DUNYA MATAA’UN = Dunia itu perhiasan.

Contoh Haal dari Isim Manshub :

لا تشرب الماء كدراً

LAA TASYROB! AL-MAA’A KADIRON = jangan kamu minum air dalam keadaan keruh!

Dua lafazh Khabar dan Haal pada contoh diatas tidak disebut Tabi’ karena tidak bersekutu dengan lafazh sebelumnya secara mutlak pada semua keadaan i’robnya, namun hanya pada sebagian keadaan i’rob saja.

Isim-isim Tabi’ atau dijamak Tawabi’ menurut pokoknya ada empat: Na’at, Taukid, ‘Athaf dan Badal. InsyaAllah akan dijelaskan nanti secara rinci untuk semua bentuk-bentuk tawabi’ pada bab-bab selanjutnya.

Menurut yang masyhur : Matbu’ tidak boleh diakhirkan dari Tabi’nya yakni dengan sebab mengedepankan Tabi’nya, demikian mafhum dari perkataan Mushannif pada Bait diatas “AL-ASMAA’IL-AWWALI”.

NA’AT

Pengertian Na’at : adalah Isim Tabi’ sebagai penyempurna bagi lafazh Matbu’nya dengan memberi penjelasan sifat diantara sifat-sifat Matbu’ atau diantara sifat-sifat lafazh yang berta’alluq pada Matbu’.

Penjelasan definisi: Tabi’ adalah nama jenis yang mencakup semua Tabi. Sebagai penyampurna matbu’ dengan sebab menjelaskan sifatnya, untuk membedakan dengan bentuk-bentuk tabi’ lain yang tidak menunjukan sifat Matbu’ ataupun sifat yang berta’alluq pada Matbu’. Dengan demikian Na’at harus berupa Isim Musytaq untuk melaksanakan penunjukan suatu makna sekaligus si empunya makna.

Diambil dari definisi Na’at tersebut, maka Na’at terbagi dua macam:

1. Na’at Hakiki:

Adalah Na’at yang menunjukkan sifat bagi Isim sebelumnya. Contoh:

أقمت في المنزل الفسيح

AQIMTU FIL-MANZILIL-FASIIHI = saya tinggal di rumah yang luas

Lafazh AL-FASIIHI = Na’at Hakiki yang menunjukkan sifat bagi Isim yang ada sebelumnya (AL-MANZILI). Dan disebut Na’at Kakiki karena yang punya sifat AL-FASIIHI (luas) hakikatnya adalah Man’ut sendiri yaitu lafazh AL-MANZILI (tempat tinggal/rumah).

Ciri-ciri Na’at Haqiqi adalah: menyimpan dhamir mustatir yang merujuk pada Man’ut.

2. Na’at Sababi

Adalah Na’at yang menunjukkan sifat bagi Isim yang mempunyai irthibat/ikatan dengan Matbu’. Contoh:

أقمت في المنزل الفسيح فناؤه

AQIMTU FIL-MANZILIL-FASIIHI FINAA’U HUU = saya tinggal di rumah yang luas halamannya

Lafazh AL-FASIIHI disebut Na’at, akan tetapi bukanlah Na’at bagi lafazh Matbu’ AL-MANZILI, karena AL-FASIIHI bukan sifat bagi AL-MANZILI. Hanya saja sifat tersebut diperuntukan bagi Isim yang mempunyai ikatan dengan Isim Matbu’ yaitu lafazh FANAA’U HUU/halamannya. Oleh karena itu disebut Na’at Sababi.

AL-FASIIHI = Na’at, majrur dengan tanda jar kasroh. FANAA’U = Fa’ilnya, dirofa’kan oleh sifat dengan tanda rofa’ dhammah. HUU = Mudhaf Ilaih, Dhamir Bariz Muttashil yang merujuk pada Matbu’ sebagai robit/pengikat antara isim zhahir dan matbu’.

Ciri-ciri Na’at Sababi: yakni setelah Na’at didatangkannya Isim Zhahir yang dirofa’kan oleh Na’at dan mencakup ada dhamir yang kembali pada Man’ut.

Faidah-faidah Na’at sebagai penyempurna faidah lafaz sebelumnya, yang masyhur adalah sebagai berikut :

1. Faidah IDHAH (menjadikan jelas) apabila Man’utnya berupa Isim Ma’rifah.

Yakni: menghilangkan isytirok lafzhiy (persekutuan lafazh) di dalam lafazh Isim ma’rifah, dan menghilangkan ihtimal ma’nawiy (kemungkinan makna) yang mengarah kepada makna Isim ma’rifah. Contoh:

حضر خالد التاجر

HADHARA KHAALIDUN AT-TAAJIRU = Khalid yang pedagang itu telah hadir.

2. Faidah TAKHSHISH (penghususan) apabila Man’utnya berupa isim Nakirah.

Yakni: mengurangi Isytirok makna di dalam makna isim nakirah dan mempersempit bilangan jumlah yang mencakupinya. Contoh:

جاء رجل واعظ

JAA’A ROJULUN WAA’IZHUN = seorang lelaki penasehat telah datang.

3. Faidah MUJARRODUL-MADAH (pujian khusus). Contoh:

رضي الله عن عمرَ بنِ الخطابِ الشاملِ عدلُه الرحيمِ قلبُه

RODHIYALLAAHU ‘AN UMAROBNIL-KHOTHTHOOBI ASY-SYAAMILI ‘ADLUHUU AR-ROHIIMI QOLBUHUU = semoga Allah memberi Rahmat pada Umar bin Khaththab yang keadilannya luas dan hatinya penuh kasih .

4. Faidah MUJARRODUDZ-DZAMM (celaan khusus). Contoh:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

A’UUDZU BILLAAHI MINASY-SYAITHOONIR-ROJIIMI = aku berlindung kepada Allah dari Syetan yang terkutuk.

5. Faidah TAROHHUM (menaruh belas kasih). Contoh:

اللهم ارحم عبدك المسكين

ALLAHUMMA IRHAM ‘ABDAKA AL-MISKIINA = ya.. Allah, kasihanilah hambaMu yang miskin.

6. Faidah TAUKID (pengokohan). Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

فإذا نفخ في الصور نفخة واحدة

FA IDZAA NUFIKHO FISH-SHUURI NAFKHOTUN WAAHIDATUN = Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup (QS. Al-haaqqah:13)

Lafazh WAAHIDATUN = Na’at yang berfaidah sebagai Taukid, sebab makna wahidah sudah dimafhumi dari Man’ut lafazh NAFKHOTUN yang berupa Isim Murroh.

فاسلك فيها من كل زوجين اثنين

FASLUK FIIHAA MIN KULLIN ZAUJAINI ITSNAINI = maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis) (QS. Al-Mu’minun:27)

Lafazh ITSNAINI = Na’at yg berfaidah sebagai Taukid, dari lafazh man’ut ZAUJAINI.

%d blogger menyukai ini: