Arsip

Posts Tagged ‘Fa’il’

NI’MA dan BI’SA pengertian dan bentuk Fa’ilnya » Alfiyah Bait 485-486-487

30 Januari 2012 6 komentar
–·•Ο•·–

نِعْمَ وَبِئْسَ وَمَا جَرَى مَجْرَاهُمَا

Ni’ma dan Bi’sa dan kalimah yang berlaku seperti keduanya

فِعْلانِ غيْرُ مُتَصَرِّفَيْنِ ¤ نِعْمَ وَبِئْسَ رَافِعَان اسْمَيْنِ

Dua Fi’il yang tidak mutasharrif (Fi’il jamid) yaitu NI’MA dan BI’SA, keduanya merofa’kan kepada Isimnya masing-masing (sebagai Fa’ilnya) 

مُقَارِنَىْ ألْ أوْ مَضَا فَينِ لِمَا ¤ قَارَنَهَا كَنِعِمَ عُقْبَى الكُرَما

baik Failnya bersambung dengan AL, atau mudhaf pada isim yang bersambung AL. contoh: NI’MA ‘UQBAL-KUROMAA’I=sebaik-baik balasan bagi orang-orang mulia 

وَيَرْفَعَانِ مُضْمَراً يُفَسِّرُهُ ¤ مُمَيِّزٌ كَنِعْمَ قَوْماً مَعْشَرُهُ

atau merofa’kan pada Dhamir yang ditafsiri oleh Tamyiz, contoh: NI’MA QOUMAN MA’SYAROHU = sebaik-baiknya kaum yaitu kerabatnya

–·•Ο•·–

NI’MA dan BI’SA adalah kata kerja/kalimah Fi’il yang menunjukkan makna PUJIAN dan CELAAN secara umum. Keduanya berupa Fi’il Madhi yang jamid menetapi zaman madhi dan tentunya memiliki Fail / Subjek. Akan tetapi kedua Fi’il ini tidak ada penunjukan zaman setelah keduanya berikut Failnya dijadikan kalimat berupa jumlah insya’ ghairu tholabiy.

Penampakan Fa’il/subjeknya ada empat macam :

1. Menyandang alif lam (AL) baik disebut AL Jinsiyah atau AL ‘Ahdiyah.

Contoh:

نعم الخلق الصدق

NI’MAL-KHULUQU ASH-SHIDQU = sebaik-baik akhlaq yaitu jujur.

وبئس الخلق الكذب

WA BI’SAL-KHULUQU AL-KIDZBU = dan seburuk-buruk akhlaq yaitu dusta.

Contoh Ayat Al-Qur’an:

نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

NI’MAL-MAULAA WA NI’MAN-NASHIIRU = Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. Al-Anfaal:40)

Lafazh NI’MA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan pujian.
Lafazh MAULAA = Fa’ilnya, dirofa’kan dengan dhammah muqaddar karena udzur.

2. Mudhaf kepada Isim yang menyandang AL.

Contoh:

نعم قائد المسلمين خالد

NI’MA QAA’IDUL-MUSLIMIINA KHAALIDUN = sebaik-baik panglima muslimin yaitu Khalid.

وبئس رجل القوم أبو جهل

WA BI’SA RAJULUL-QAUMI ABUU JAHLIN = dan seburuk-buruk lelaki suatu kaum yaitu Abu Jahal.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

ولنعم دار المتقين

WA LA NI’MA DAARUL-MUTTAQIIN = dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (An-Nahl:30)

وبئس مثوى الظالمين

WA BI’SA MATSWAZH-ZHOOLIMIIN = dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (QS. Ali ‘Imran:151)

3. Mudhaf kepada Isim yang Mudhaf kepada Isim menyandang AL.

Contoh:

نعم حافظ كتاب الله

NI’MA HAAFIZHU KITAABILLAAHI = sebaik-baik orang yang hafal Kitab Allah.

وبئس مهمل أوامر القرآن

WA BI’SA MUHMILI AWAAMIRIL-QUR’AANA = seburuk-buruk orang yang menelantarkan perintah-perintah Al-Qur’an.

(Bentuk Fa’il yang nomer 3 ini, oleh Mushannif tidak disebutkan dalam Bait.)

4. Fa’ilnya Berupa Dhamir Mustatir dan setelahnya ada Isim Nakirah sebagai penafsir dari kesamaran tentang Dhamir Mustatir tersebut.

Contoh:

نعم صديقا الكتاب

NI’MA SHADIIQAN AL-KITAABU = sebaik-baik teman yaitu kitab

بئس خلقا خلف الوعد

BI’SA KHULUQAN KHULFUL-WA’DI = seburuk-buruk perangai yaitu tidak menepati janji.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

بئس للظالمين بدلا

BI’SA LIZH-ZHOOLIMIINA BADALAN = Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim

Lafazh BI’SA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan celaan, Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir wujuban, takdirannya Huwa.
Lafazh BADALAN = Tamyiz yang menafsiri Fa’il Dhamir Mustatir tsb.

Pengamalan Isim Fa’il dan Pengertian Isim Fa’il » Alfiyah Bait 428-429-430

9 Januari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

إعْمَالُ اسْمِ الْفَاعِلِ

PENGAMALAN ISIM FA’IL

كَفِعْلِهِ اسمُ فَاعلٍ فِي الْعَمَلِ ¤ إنْ كَانَ عَنْ مُضِيِّهِ بِمَعْزِلِ

Isim Fa’il beramal seperti Fi’il-nya. Dengan syarat jika Isim Fa’il tsb menempati jauh dari zaman Madhi (yakni jika menempati zaman Hal atau Istiqbal) 

وَوَلِيَ اسْتِفْهَاماَ أوْ حَرْفَ نِدَا ¤ أوْ نَفْياً أوْ جَا صَفَةً أوْ مُسْنَداَ

Dan disyaratkan juga Isim Fi’il tsb mengiringi Istifham, Huruf Nida’ atau Nafi, atau datang sebagai Sifat (Na’at) atau sebagai Musnad (Khobar). 

وَقَدْ يَكُونُ نَعْتَ مَحْذُوفٍ عُرِفَ ¤ فَيَسْتَحقُّ الْعَمَلَ الَّذِي وُصِف

Dan terkadang Isim Fa’il tsb menjadi Na’at dari Man’ut terbuang yang telah dimaklumi, maka ia berhak juga terhadap amalan yang telah disebut diatas.  

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian kedua dari bagian Isim-isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya yaitu: ISIM FA’IL termasuk didalamnya SHIGHAT MUBALAGHAH.

Pengertian Isim Fa’il:

Adalah Isim musytaq untuk menunjukkan kejadian baru dan sebagai si pelaku.

Penjelasan definisi:

Isim Musytaq : yakni hasil bentukan secara tashrif dari bentuk asal Mashdar tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:

نادم

NAADIMUN = yang menyesal

Atau dari bentuk asal Mashdar lebih dari tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:

مكرم

MUKRIMUN = yang menghormati

Menunjukkan kejadian : yakni hanya menunjukkan kejadian tanpa penunjukan zaman semisal berdiri dan duduk.

Kejadian baru : yakni kejadian yang bersifat aridhi, sekali-kali berubah dan hilang. Demikian ini membedakan dengan Shifat Musyabahah atau Isim Tafdhil, karena keduanya menunjukkan kejadian yang bersifat tetap bukan sekali-kali atau bukan yang bersifat baru.

Sebagai Pelaku : yakni subjek yang mengerjakan pekerjaan yang mana pekerjaan timbul darinya, contoh DHOORIBUN = yang memukul. Demikian ini berbeda dengan definisi Isim Maf’ul yakni Isim Musytaq untuk menunjukkan sebagai objek pekerjaan atau sesuatu yang dikenai pekerjaan.

Penampakan Isim Fa’il ada dua :

1. Isim Fa’il yang bersambung dengan AL: Hukumnya akan diterangkan pada Bait selanjutnya.

2. Isim Fa’il yang tidak bersambung dengan AL, maka:

A. Beramal merofa’kan Fa’il secara mutlak tanpa syarat.

Contoh:

الله عالم ببواطن الأمور

ALLAHU ‘AALIMUN BI BAWAATHINIL-UMUURI = Allah Maha mengetahui terhadap perkara yang tersembunyi.

lafazh AALIMUN = Isim Fa’il didalamnya terdapat Fa’il Dhamir Mustatir dirofa’kan sebagai Fa’ilnya.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ

WA MINANNAASI WAD-DAWAABI WAL-AN’AAMI MUKHTALIFUN AL-WAANUHU = di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faathir :28)

Lafazh AL-WAANU dirofa’kan menjadi Fa’il dari Isim Fa’il lafazh MUKHTALIFUN.

B. Beramal menashobkan Maf’ul Bih dengan dua syarat:

1. Diharuskan dalam penggunaannya untuk suatu yang Hal (yang sedang terjadi) atau Istiqbal (yang akan terjadi). Alasan pengamalannya disini -menurut Ulama Nuhat- adalah karena sejalan dengan kalimah Fi’il sebagai sandaran maknanya. yakni sejalan dengan FI’IL MUDHARI’ yakni mencocoki dalam harkat dan sukunnya. dalam artian sukun atau harkat pada Isim Fail sebanding/sehadapan dengan sukun atau harkat yang ada pada susunan huruf Fi’il Mudhari’nya. contoh:

معلم

MU’ALLIMUN = pengajar

sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:

يعلم

YU’ALLIMU = sedang/akan mengajar.

Demikian juga contoh Isim Fa’il:

نادم

NAADIMUN = yang menyesal

sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:

يندم

YANDAMU = sedang/akan menyesal.

2. Harus ada penopang yakni lafazh yang menjadi awalannya :

a. Berawalan ISTIFHAM, contoh:

أبالغ أنت قصدك

A BAALIGHUN ANTA QOSDAKA? = apakah kamu sampai pada tujuanmu?

lafazh BAALIGHUN = Mubtada’
lafazh ANTA = Fa’il yg menempati kedudukan Khobar (Masaddal-khobar)
lafazh QOSDA = Maf’ul Bih
lafazh KA = Mudhaf Ilaih.

b. Berawalan NAFI, contoh:

ما حامد السوق إلا من ربح

MAA HAAMIDUN AS-SAUQA ILLA MAN ROBIHA = tidak akan memuji pasar kecuali dia yang telah mendapat keuntungan.

HAAMIDUN = menjadi Mubtada’
AS-SAUQA = menjadi Maf’ul Bih dari Isim Fa’il (Haamidun)
ILLA = Adat Istitsna’ Mulgha
MAN = Isim Maushul mabni sukun mahal Rofa’ menjadi Fa’il sadda-masaddal khobar.
ROBIHA = Shilah Maushul.

d. Berawalan NIDA’, contoh:

يا سائقا سيارة تمهل

YAA SAA’IQON SAYYAAROTAN TAMAHHAL! = wahai sopir mobil pelan-pelanlah.

YAA = Huruf Nida’
SAA’IQON = Munada Manshub Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir
SAYYAAROTAN = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il.

e. Menjadi NA’AT dari Man’ut yg disebut atau Man’ut yg dibuang

contoh Naat dari Man’ut yang disebut :

صحبت رجلا عارفا آداب السفر

SHAHIBTU RAJULAN ‘AARIFAN AADAABAS-SAFARI = aku menemani seorang yang mengerti adab-adab perjalanan.

RAJULAN = Man’ut
AARIFAN = Na’at
AADAABA = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il (Aarifan)

contoh Naat dari Man’ut yang dibuang karena ada qarinah:

كم معذب نفسه في طلب الدنيا يرى أنه أسعد الناس

KAM MU’ADZDZIBUN NAFSAHU FIY THOLABID-DUN-YAA YAROO ANNAHU AS’ADAN-NAASA = betapa banyak orang yang menyiksa diri dalam mencari dunia dan beranggapan bahwa dunia membahagiankan manusia.

MA’ADZDZIBUN = Isim Fa’il yg menjadi Na’at dari Man’ut yg dibuang.
NAFSAHU = Maf’ul Bihnya.

takdirannya adalah:

كم شخص معذب نفسه

KAM “SYAKHSHUN” MU’ADZDZIBUN NAFSAHU = banyak “orang/individu” yang menyiksa dirinya.

f. Menjadi HAAL Contoh:

جاء خالد راكبا فرسا

JAA’A KHAALIDUN RAAKIBAN FAROSAN = Khalid datang dengan mengendarai kuda

Contoh ayat Al-Qur’an:

فاعبد الله مخلصا له الدين

FA’BUDILLAAHA MUKHLISHON LAHUD-DIIN = Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (QS. Azzumar :2)

g. Menjadi KHABAR dari Mubtada’ atau Amil Nawasikh

Contoh Khabar dari Mubtada’:

أنت حافظ غيبة جارك

ANTA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA = kamu harus menjaga omongan tetangga kamu.

Contoh Khabar dari Amil Nawasikh:

إنك حافظ غيبة جارك

INNAKA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA

Contoh Ayat dalam Al-Qur’an:

ما كنت قاطعة أمرا حتى تشهدون

MAA KUNTU QAATHI’ATAN AMRAN HATTAA TASYHADUUN = aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku). (QS. An-Naml :32).

o0o

Jika Isim Fa’il tersebut digunkan untuk suatu yang telah terjadi (Madhiy), maka ia tidak beramal. Maka tidak dibenarkan mengatakan misal:

محمد كاتب واجبه أمس

MUHAMMADUN KAATIBUN “WAAJIBAHUU” AMSI

lafazh WAAJIBA tidak boleh dinashabkan sebagai Maf’ul Bih dari Isim Fa’il KAATIBUN. Tapi wajib disusun secara Idhofah, maka yang benar mengatakannya adalah:

محمد كاتب واجبه أمس

MUHAMMADUN KAATIBU “WAAJIBIHII” AMSI = Muhammad mencatat kewajibannya kemarin.

lafazh KAATIBU = mudhaf
lafazh WAAJIBI = mudhaf ilaih

Khilaf dalam hal ini :

  1. Menurut Al-Kasa’i : Isim Fa’il tersebut boleh beramal sekalipun ditujukan untuk zaman Madhiy.
  2. Menurut Al-Akhfash : Isim Fa’il tersebut  sekalipun tidak ada penopang yang menjadi awalannya tetap bisa beramal.

Pengertian Fa’il » Alfiyah Bait 225

24 November 2011 12 komentar
–••Ο••–

الْفَاعِلُ الَّذِي كَمَرْفُوعَيّ أَتَى ¤ زَيْدٌ مُنِيْرَاً وَجْهُهُ نِعْمَ الْفَتَى

Yang disebut Fa’il adalah seperti kedua lafazh yg dirofa’kan dalam contoh: “ATAA ZAIDUN MUNIIRON WAJHUHU NI’MAL FATAA = zaid datang dengan berseri-seri wajahnya seorang pemuda yg beruntung”.

Yakni, (1).  Fa’il yg dirofa’kan oleh fi’il mutashorrif atau oleh fi’il jamid seperti contoh “ATAA ZAIDUN dan NI’MAL FATAA”. (2).  Fa’il yg dirofa’kan oleh syibhul fi’li/serupa pengamalan fi’il seperti contoh: MUNIIRON WAJHU HU

–••Ο••–

Pengertian Fa’il menurut bahasa adalah: yang mengerjakan pekerjaan (subjek), contoh:

كتب الطالبُ

KATABA ATH-THOOLIBU = siswa menulis

مات زيد

MAATA ZAIDUN = zaid meninggal dunia

Pengertian Fa’il menurut istilah adalah : ISMUN AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN ‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA AW SYIBHU HU. Artinya: Isim yang dimusnadi oleh Fi’il atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum) atau disandari oleh Serupa Fi’il.

Penjelasan Definisi:

ISMUN = Kalimah Isim : Mencakup Isim yang Shorih, berupa Isim Zhohir dan Isim Dhamir.

Contoh Fa’il Isim Zhohir:

قام زيد

Zaid berdiri

Contoh Fa’il Isim Dhamir:

قمـت

Aku berdiri

Juga mencakup Isim Mu’awwal yaitu kalimat yg ditakwil masdar, berupa jumlah ANNA beserta Isim dan Khobarnya, atau AN Masdariyah beserta Fi’ilnya, atau MAA Masdariyah beserta Fi’ilnya.

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah ANNA + Isimnya + Khobarnya:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran).. (Al-‘Ankabuut : 51)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah AN Masdariyah + Fi’il:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (Al-Hadiid : 16)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah MAA Masdariyah + Fi’il, dalam Sya’ir:

يسر المرء ما ذهب الليالي # وكان ذهابهن له ذهابا

Kepergian banyak malam menggembirakan seseorang (contoh pesta ulang tahun), padahal kepergian malam itu baginya adalah kepergian umur.

AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN = yang dimusnadi oleh Fi’il : Baik oleh Fi’il Mutashorrif seperti pada contoh-contoh diatas atau dimusnadi oleh Fi’il Jamid:

Contoh Fa’il dimusnadi oleh Fi’il jamid:

نِعْمَ العبدُ

NI’MA AL-‘ABDU = sebaik-baik hamba.

Keluar dari definisi “dimusnadi oleh Fi’il” apabila dimusnadi oleh Jumlah, maka tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Mubtada’.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Jumlah bukan dinamakan Fa’il tapi Mubtada’:

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) .. (An-nahl : 65)

‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA = atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum): Yakni menggunakan susunan Fi’il Mabni Ma’lum. Keluar dari definisi ini penggunaan susunan Fi’il Mabni Majhul, maka musnad ilaihnya tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Naibul Fa’il.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Fi’il Mabni Majhul, bukan dinamakan Fa’il tapi Naibul Fa’il:

كتب الكتاب

KUTIBA AL-KITAABU = kitab itu telah ditulis

AW SYIBHU HU = atau dimusnadi oleh Serupa Fi’il : Yakni lafazh yg beramal seperti Fi’il, seperti Isim Fa’il, Sifat Musyabbahah, Isim Tafdhil, dan lain-lain.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Fa’il:

أداخلٌ صالحٌ المسجدَ

Apakah Sholeh yang masuk masjid?

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Sifat Musyabbahah:

زيد حسن وجهه

Zaid tampan wajahnya

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Tafdhil:

العلمُ أفضلُ من المال

Ilmu lebih utama daripada harta *

* pada contoh lafaz AFDHOLU menyimpan Fa’il berupa Isim Dhamir Mustatir

%d blogger menyukai ini: