Arsip

Posts Tagged ‘Isim Tatsniyah’

Hukum-hukum Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 420-421-422-423

28 Desember 2011 9 komentar
–·•Ο•·–

الْمُضَافُ إِلَى يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ

BAB MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM

آخِرَ مَا أضِيْفَ لِلْيَا اكْسِرْ إِذَا ¤ لَمْ يَكُ مُعْتَلاً كَرَامٍ وَقَذَا

Berilah harkat kasroh pada akhir kalimah yg mudhof pada Ya’ Mutakallim. Dengan syarat apabila tidak berupa Isim Mu’tal. Contoh Isim Mu’tal seperti “Roomin” (Isim Mu’tal Manqush berakhiran Ya’ asalnya “Roomiyun”) dan contoh “Qodzaa” (Isim Mu’tal Maqshur berakhiran Alif) 

أَوْ يَكُ كَابْنَيْنِ وَزَيْدِيْنَ فَذِي ¤ جَمِيْعُهَا الْيَا بَعْدُ فَتْحُهَا احْتُذِي

Atau berupa Isim yang seperti contoh “Ibnaini” (berupa Isim Tatsniyah) juga seperti contoh “Zaidiina” (berupa Isim Jamak Mudzakkar Salim). Kesemua Isim seperti contoh tersebut ini (yakni: Manqush, Maqshur, Tatsniyah dan Jamak Mudzakkar Salim), maka Ya’ Mutakallim yang jatuh sesudahnya diberi harkat Fathah. 

وَتُدْغَمُ الْيَا فِيْهِ وَالْوَاوُ وَإِنْ ¤ مَا قَبْلَ وَاوٍ ضُمَّ فَاكْسِرْهُ يَهُنْ

Ya’ akhir kalimah diidghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Wawu akhir kalimah (juga diidghomkan pada Ya’ Mutakallim, yakni setelah Wawu itu diganti Ya’). Jika huruf sebelum Wawu berharkat Dhommah, maka gantilah dengan harkat kasroh demikian menjadi ringan. 

وَأَلِفَاً سَلِّمْ وَفِي الْمَقْصُوْر عَنْ ¤ هُذَيْلٍ انْقِلاَبُهَا يَاءً حَسَنْ

Tetapkan Salim (yakni selamat tanpa ada perubahan) pada Alif akhir kalimah (di dalam Isim Maqshur dan juga Isim Tatsniyah Marfu’). Perubahan Alif kepada Ya’ di dalam Isim Maqshur adalah baik menurut logat Bani Hudzail. 

–·•Ο•·–

Bab ini dikhususkan untuk hukum-hukum Idhafah Isim kepada Ya’ Mutakallim. Merupakan hukum-hukum Idhofah yg dibahas secara tersendiri. Yakni Hukum Idhafah yang bertalian dengan Ya’ Mutakallim dan hukum Huruf akhir pada Isim yang menjadi Mudhaf.

Kaedah yang umum untuk bab ini adalah: wajib kasroh di akhir kalimah yang Mudhaf pada Ya’ Mutakallim untuk menyesuaikan (lil-munasabah) dengan Ya’ yg jatuh sesudahnya. Dan Ya’ Mutakallim diberi Sukun atau diharkati Fathah, dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.

Termasuk pada hukum yang umum dalam Bab ini adalah apabila Isim yang menjadi Mudhaf berupa:

1. Isim Mufrod Shohih. Semisal lafazh “KITAABUN”. Contoh:

كتابي جديد

KITAABIY JADIIDUN = Kitabku baru.

atau berupa Isim Mufrod yang serupa dengan hukum Shohih. Yakni, Isim yang berakhiran Wawu atau Ya’ dan huruf sebelumnya Sukun, seperti lafazh DALWUN, SHOFWUN, SAQYUN, ZHOBYUN. contoh:

سقيي الماءَ من دلوي فيه ثواب عظيم

SAQYIY AL-MAA’A MIN DALWIY FIIHI TSAWAABUN ‘AZHIIMUN = Pemberianku akan air minum dari timbaku, di dalamnya terdapat pahala yang besar.

2. Jamak Taksir Shohih Akhir. Semisal lafazh “THULLABUN”, “KUTUBUN”. Contoh:

كتبي مرتبة

KUTUBIY MUROTTABATUN = kitab-kitabku tersusun rapi

3. Jama’ Mu’annats Salim. Semisal lafazh “AKHOWAATUN”, “‘AMMAATUN”, “BANAATUN”. Contoh:

أزور عماتي وأَصِلُ أخواتي

AZUURU ‘AMMAATIY WA ASHILU AKHOWAATIY = aku mengunjungi Paman-paman ku dan bersilaturrahmi pada Saudara-saudaraku.

Kaidah I’rob untuk lafazh-lafazh mudhof pada contoh diatas adalah: Untuk lafazh Mudhof yang Marfu’ dikatakan Rofa’ dengan tanda dhommah muqoddar atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim. Keterbatasan posisi oleh harkat yang bersesuaian merupakan pencegah dari I’rob Zhahirnya. Dan untuk lafazh Mudhof yang Manshub -selain Jamak Mu’annats Salim- dikatakan Nashob dengan tanda Fathah muqoddar dengan alasan yang sama. Demikian juga untuk Mudhof yang Majrur dikatakan Jar dengan tanda Kasroh Muqoddar dan alasan yg sama. Dan untuk yang Majrur dikatakan juga Jar dengan Kasroh Zhohir demikian untuk alasan kemudahan karena harkat Kasroh nampak dalam lafazhnya. Adapun Kaidah I’rob untuk Ya’ Mutakallim dalam hal ini adalah: Dhamir Muttashil mabni atas Sukun atau Fathah didalam mahal Jar sebab menjadi Mudhaf Ilaih.

¤¤¤

Dibedakan dari Kaidah yang umum yaitu terdapat pada empat masalah. Wajib memberi sukun pada akhir kalimah yang menjadi Mudhof, dan Ya’ Mutakallim menjadi mabni atas Fathah saja sebagai Mudhaf Ilaihnya dalam mahal Jar. Empat masalah tersebut adalah:

1. Isim Maqshur, seperti lafazh “FATAA”, “HUDAA”.

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran Alif. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah dikarenakan paling ringannya harkat. Pemberian harkat untuk menghidari bertemunya dua huruf mati. Maka Alif maqshur ditetapkan, kecuali menurut logat Bani Hudzail, dalam hal ini Alif ditukar dengan Ya’.
Contoh:

هدايَ خير طريق لنجاتي

HUDAAYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.

Contoh bagi lughoh Bani Hudzail:

هديَ خير طريق لنجاتي

HUDAYYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

قَالَ هِيَ عَصَايَ

QOOLA HIYA ‘ASHOO-YA = Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku (QS. Thoha :18)

I’rob Lafazh ‘ASHOO-YA :
“ASHOO” = Mudhaf Menjadi Khobar dirofa’kan dengan Dhommah muqaddar atas Alif. Tercegah harkat Zhohirnya karena ta’adzdzur.
“YA” = Dhamir Mutakallim Muttashil mabni Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.

Contoh lagi Ayat dalam Al-quran:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

QUL INNA SHOLAATIY WA NUSUKIY WA MAHYAAYA WA MAMAATIY LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN = Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162).

2. Isim Manqush, seperti lafazh “AL-HAADIY”, “AD-DAA’IY”

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran hurut Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Ya’ Mutakalli disini wajib diharkati Fathah.
Contoh:

الشرع هاديّ لطريق الخير

ASY-SYAR’U HAADIY-YA LI THORIIQIL-KHOIR = peraturan hukum (syara’) sebagai penunjukku menuju jalan kebenaran.

I’rob lafazh HAADIY-YA:
“HAADIY” = Mudhof dalam posisi menjadi Khobar, dirofa’kan dengan Dhommah yang dikira-kira (muqoddar) atas Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. tercegah I’rob zhohirnya karena berat (lits-tsaqli).
“YA” = Ya’ Dhamir Muttashil Mutakallim mabni atas Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhof Ilaihi.

3. Isim Mutsanna/Tatsniyah berikut Mulhaq-mulhaqnya.

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah. Nun dibuang karena Idhofah. Huruf Alif ditetapkan/Salim ketika Rofa, dan diidghomkan ketika Nashob atau Jar seperti pada Isim Manqush.
Contoh:

لن أجازى إلا بما قدمت يداي

LAN UJAZAA ILLAA BIMAA QODDAMAT YADAAYA = aku tidak akan mendapat balasan kecuali dengan apa yang telah diperbuat oleh kedua tanganku.

لا أعتمد في الرزق بعد الله إلا على يديّ

LAA A’TAMIDU FIR-RIZQI BA’DALLAAHI ILLAA ‘ALAA YADAYYA = aku tidak akan menguasai suatu rizki (harta) setelah Allah. kecuali atas hasil perbuatan kedua tanganku.

I’robnya lafazh YADAAYA: “YADAA” = Fail marfu’, tanda rofa’nya Alif. “YA” = Mudhaf Ilaih mabni fathah di dalam mahal Jar. Asalnya adalah “YADAAANI LIY”. NUN dan LAM dibuang karena Idhofah. Untuk contoh kedua YADAYYA: Ya’ akhir kalimah diidghomakan pada Ya’ Mutakallim.

Contoh di dalam Ayat Al-Qur’an:

مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

MAA MANA’AKA AN TASJUDA LIMAA KHOLAQTU BI YADAYYA = apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (QS. Shood :75)

I’rob pada lafaz YADAYYA: “YADAY” = Isim Mutsanna Majrur tanda Jarnya Ya’, dan diidghomkan pada Ya’ kedua yakni pada Ya’ Mutakallim yang menjadi Mudhaf Ilaih.

4. Jama’ Mudzakkaar Salim dan Mulhaq-mulhaqnya

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah.

Dalam keadaa Rofa Wawu diganti Ya’ dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhommah diganti Kasroh untuk menyesuaikan pada Ya’ Mutakallim (lil munasabah). Untuk keadaan Nashob dan Jar, Ya’ diidghamkan pada Ya’ Mutakallim. contoh:

أنتم مشاركيّ في الدعوة إلى الله

ANTUM MUSYAARIKIYYA FID-DA’WATI ILALLAAH = kalian adalah teman-tamanku di dalam dakwah ilallaah.

I’lal lafazh MUSYAARIKIYYA: asalnya MUSYAARIKUUNA LIY, Nun dan Lam dibuang karena Idhafah. Maka menjadi MUSYAARIKUUYA. Kemudian Wawu diganti Ya dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhummah diganti Kasroh maka menjadi MUSYAARIKIYYA.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ

WAMAA ANTUM BI MUSHRIKHIYYA = dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku (QS. Ibrohim : 22)

Jumhur Qiro’ah membaca lafazh MUSHRIKHIYYA dengan Fathah pada Ya’ tasydid. karena asalnya Ya’ jamak yang sukun diidghomkan pada Ya’ Mutakallim yang Fathah, maka harkat Fathah ditetapkan. Sedangkan Qiro’ah Hamzah (sebagian dari Qiro’ah Sab’ah) membaca kasrah pada Ya tasydid menjadi MUSHRIHIYYI demikian termasuk dari salah satu lugot bangsa Arab, dan apabila sebelum wawu berharkat Fathah seperti contoh MUSHTHOFAUNA, maka harkat Fathah tentu ditetapkan menjadi MUSHTHOFAYYA.

Pengertian Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah dan Mulhaq-nya » Alfiyah Bait 32-33-34

13 Oktober 2010 5 komentar

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ

Rofa’-kanlah! dengan tanda Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhamir, dengan menjadi Mudhaf.

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ

Juga (Rofa’ dg tanda Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rob-nya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang di jar-kan.

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤ جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ

Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jar dan Nashab-nya, terletak setelah harakah Fathah yang tetap dipertahankan.

Kitab Hasyiyah Al-Khudhari penjelasan Syarah Ibnu 'Aqil

Telah disebutkan sebelumnya tanda I’rab dengan huruf sebagai pengganti dari I’rab Harakah yaitu pada Asmaus-Sittah. Selanjutnya pada Bait ini, Kiyai Mushannif Ibnu Malik menerangkan tentang I’rab pengganti asal bagian kedua, yaitu untuk tanda I’rob Isim Mutsanna (Kata benda dual) dan Muhaqnya (Isim yang diserupakan Isim Tatsniyah/Mutsanna).

Definisi Isim Tatsniyah/Mutsanna dalam ilmu nahwu dan Sharaf adalah: Satu lafazh kalimah yg menunjukkan dua buah objek, dikarenakan ada penambahan huruf zaidah di akhirnya, dapat dibentuk mufrad/tunggal beserta dapat dipisah dan diathafkan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh Isim Tatsniyah:

زَيْدَانِ, ضَرْبَانِ, مُسْلِمَانِ

Dua Zaid, dua pukulan, dua orang Muslim.

4 macam kategori lafazh kalimah tidak bisa dikatakan Isim Tatsniyah/Mutsanna:

1. Lafazh menunjukkan dua objek, tapi bukan sebab huruf tambahan. Contoh:

شَفْعٌ

Sepasang

2. Lafazh ada tambahan huruf zaidah semisal Isim Tatsniyah, tapi tidak menunjukkan dua objek. Contoh:

  • Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim sifat:

رَجْلاَنُ، رَحْمَانُ، شَبْعَانُ، جَوْعَانُ، سَكْرانُ، نَدْمَانُ

Pejalan kaki, pengasih, yang kenyang, yang lapar, yang mabuk, tukang minum.

  • Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim alam / nama:

عُثْمَانُ، عَفَّانُ، حَسَانُ

Utsman, ‘Affan, Hasan

  • Menunjukkan Jamak dari jama’ taksir:

صِنْوَانٌ, غِلْمَانٌ, صِرْدَانٌ, رُغْفَانٌ, جُرْذَانٌ

Saudara-saudara sekandung, anak-anak muda, kumpulan burung-burung sejenis, adonan-adonan roti/keju, kumpulan tikus-tikus.

Masing-masing ketiga jenis contoh-contoh kalimah diatas di-I’rab dengan Harkah Zhahir pada Nun shighah bukan Nun maqom tanwin, sedangkan Alifnya adalah Lazim pada semua I’rabnya.

3. Lafazh menunjukkan dua buah tapi tidak dapat dimufrodkan/tunggal. Contoh:

اثْنَانِ

Dua

Tidak bisa dimufrodkan atau tidak bisa membuang huruf zaidah atau tidak bisa dilafalkan اثْنٌ.

4. Lafazh menunjukkan dua buah objek, ada tambahan huruf zaidah, bisa dimufrodkan/tunggal, bisa dipisah berikut diathafkan tapi bukan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh sebagaimana orang arab mengatakan:

القَمَرَيْنِ

Dua planet yg menyinari bumi

Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

اَبَوَيْنِ

Dua orang tua.

Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الأَبُ والأُمُّ

Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah

Tanda I’rob untuk Isim Mutsanna adalah Rofa’ dengan huruf Alif sebagai ganti dari I’rob asal harakah Dhammah, Nashab dengan Huruf Ya’ sebagai ganti dari Fathah juga Jar dengan huruf Ya’ sebagai ganti dari Kasroh. Contoh:

قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya.

فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ

didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun).

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).

Demikianlah I’rob Isim Tatsniyah menurut sebagian besar logat orang Arab. Dan sebagian lain (logat bani Kinanah, Bani Harits bin Ka’ab, bani ‘Ambar, bani Bakar bin Wa’il, bani Zubaid, bani Kats’am, bani Hamdan, bani ‘Udzrah) mengamalkan Isim Mutsanna dan Mulhaqnya dengan tanda Alif secara muthlaq; baik rofa’, nashab dan jarnya. contoh:

جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا– رَأَيْتُ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا– مَرَرْتُ بِالزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا

Dua Zaid telah datang kedua-duanya – Aku melihat dua Zaid kedua-duanya – Aku bertemu dengan dua Zaid kedua-duanya.

Demikian juga sebagian Qiraah membaca Inna ditasydid pada Ayat:

قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ

Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir…”

Nabi bersabda:

لاَ وِترَانِ فِي لَيْلَةٍ

Tidaklah dua Witir dalam satu malam.

Tanda I’rob Muhaq kepada Isim Mutsanna/Tatsniyah

Termasuk juga untuk I’rob Isim yang diserupakan atau di-mulhaq-kan dengan Isim Mutsanna atau dikenal dengan sebutan Mulhaq Mutsanna, yaitu setiap isim/kata benda yang kurang mencukupi syarat definisi Isim Mutsanna. Di antara isim-isim mulhaq tsb. Sebagaimana disebutkan dalam bait adalah:

Kilaa dan kiltaa (كِلاَ وكِلْتَا), dengan prosedur sbb:

1. Diberlakukan seperti I’rab Isim Mutsanna, apabila Mudhaf pada Isim Dhamir. Contoh:

جَاءَنِيْ كِلاَهُمَا وَرَأَيْتُ كِلَيْهِمَا وََمَرَرْتُ بِكِلَيْهِمَا

Keduanya (male) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya

وَجَاءَتْنِيْ كِلْتَاهُمَا وَرَأَيْتُ كِلْتَيْهِِمَا وَمَرَرْتُ بِكِلْتَيْهِمَا

Keduanya (female) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya

العِلْمُ وَالعَمَلُ كِلاَهُمَا مَطْلُوْبٌ

Ilmu dan Amal, kedua-duanya dituntut.

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”

2. Diberlakukan seperti I’rab Isim Maqshur (tetap menggunakan Alif, pada Rafa’/Nashab/Jar). Apabila Mudhaf pada Isim Zhahir. Contoh:

جَائَنِيْ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَرَأَيْتُ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَمَرَرْتُ بِكِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ

Datang kepadaku kedua pria dan kedua wanita itu. Aku melihat kedua pria dan kedua wanita itu. Aku berjumpa dengan kedua pria dan kedua wanita itu.

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya

Itsnaani dan Itsnataaani (اثْنَانِ واثْنَتَانِ), dengan prosedur sbb:

Diberlakukan Hukum I’rab seperti Isim Mutsanna tanpa syarat, sebagaimana contoh Isim Mutsanna/Tatsniyah lafazh Ibnaani dan Ibnataani (ابْنَانِ وابْنَتَانِ). Contoh:

حَضَرَ مِنَ الضُّيُوْفِ اثْنَانِ

Telah hadir dua orang dari tamu-tamu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu…

Kesimpulan penjelasan Bait: Isim Mutsanna/Tatsniyah di rofa’-kan dengan Alif, demikian juga Kilaa dan Kiltaa dengan syarat mudhaf dan mudhaf ilaih-nya harus isim dhamir. Sedangkan itsnaani dan itsnataani diberlakukan seperi Isim Mutsanna sebagaimana Ibnaani dan ibnataani. Adapun ketika dalam keadaan Nashab atau Jar, maka tanda irob-nya adalah Ya’ menempati tempatnya Alif ketika Rofa’. Semua tanda irab Isim Mutsanna dan mulhaq-nya jatuh sesudah harakah Fathah, karena fathah ini biasa berlaku untuk alif Tatsniyah. Maka tetap dipertahankan ketika bersama dengan Ya’.

%d blogger menyukai ini: