Arsip

Posts Tagged ‘Takhshish’

Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535

24 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

العطف

BAB ATHAF

عطف البيان

ATHAF BAYAN 

الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ

Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan). 

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ

Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.   

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:

1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)

Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.

Penjelasan Definisi :

TABI’ :

adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.

IDHAH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.

TAKHSHISH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.

Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):

أكرمت محمداً أخاك

AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.

Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.

Contoh sebagai Takhshish (penghusus):

سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ

SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.

Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.

Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.

Contoh Taukid :

جاء الأمير نفسه

JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.

Contoh Athaf Nasaq :

قرأت التفسير والحديث

QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.

Contoh Badal :

قضيت الدين نصفه

QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.

Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.

Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :

Contoh Na’at :

هذا خالد الكاتب

HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.

Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh Athaf Bayan :

هذا التاجر خليل

HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.

Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.

JAMID :

Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.

TANPA TAKWIL :

Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :

مررت بعلي هذا

MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.

Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.

Pengertian Idhafah (Idhofah = Sununan Mudhaf dan Mudhof Ilaih) » Alfiyah Bait 385-386-387

24 Desember 2011 34 komentar
–·•Ο•·–

الإضافة

BAB IDHAFAH (MUDHAF DAN MUDHOF ILAIH)

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا ¤ ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا

Terhadap Nun yang mengiringi huruf tanda i’rob atau terhadap Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: THUURI SIINAA’ = Gunung Sinai. 

وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا ¤ لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FIY bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM … <ke bait selanjutnya>. 

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا ¤ أو أعطه التعريف بالذي تلا

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fiy). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih). 

–·•Ο•·–

Setelah Bab Majrur sebab Huruf, selanjutnya Mushannif membahas tentang Majrur sebab Idhofah.

Pengertian Idhafah/Susunan Mudhaf dan Mudhof Ilaih adalah: Penisbatan secara Taqyidiyah (pembatasan) di antara dua lafazh yang mengakibatkan lafazh terakhir selalu di-jar-kan.

Contoh kita mengatakan:

كتاب

KITABUN* = Kitab/Buku

*Lafazh KITAABUN di sini masih bersifat Mutlak/umum belum ada Taqyid/pembatasan.

Contoh apabila kita berkata:

كتاب زيد

KITAABU ZAIDIN* = Kitab/Buku Zaid

  • Lafazh KITAABU = Mudhof
  • Lafazh ZAIDIN = Mudhaf Ilaih
  • Dengan demikian terjadilah Taqyid/pembatasan sebab Idhafah yakni memudhofkan lafazh KITAABUN kepada lafazh ZAIDUN.

Apabila dikehendaki Isim mudhaf pada Isim lain, maka perhatikan hukum-hukum yg berkenaan dengan Idafah, sebagai berikut:

Hukum Idhafah Pertama:

Wajib membuang Tanwin pada akhir kalimah isim yg menjadi Mudaf. apabila sebelum dijadikan Mudof ia mempunyai Tanwin.

Contoh sebelum susunan Idofah:

ركبت سيارة جديدة

ROKIBTU SAYYAAROTAN JADIIDATAN* = aku mengendarai Mobil Baru

Contoh menjadi Mudhaf tanwinnya dibuang:

ركبت سيارة زيد

ROKIBTU SAYYAAROTA ZAIDIN* = aku mengendarai Mobilnya Zaid.

Juga wajib membuang NUN pada akhir Isim Mutsanna, Jamak Mudzakkar Salim, dan Mulhaq-mulhaqnya, apa dimudhofkan. yaitu huruf NUN yg mengiringi huruf Tanda I’rob (yakni Nun yg ada setelah Wawu/Ya’ pada Jamak Mudzakkar Salim, atau Alif/Ya’ pada Isim Tatsniyah). contoh:

يسير الناس على جانبي الشارع

YASIIRUN-NAASA ‘ALAA JAANIBAYISY-SYAARI‘* = orang-orang berjalan di dua sisi pinggir jalan raya.

حاملو العلم محترمون

HAAMILUL-‘ILMI MUHTAROMUUN* = orang yg punya ilmu mereka dihormati.

Jika Huruf NUNnya bukan Nun Tatsniyah atau Nun Jamak yakni bukan Nun yg mengiringi Huruf tanda I’rob, maka tidak boleh membuangnya. contoh:

المحافظة على الصلاة عنوانُ الاستقامة

AL-MUHAAFAZHOTU ‘ALASH-SHOLAATI ‘UNWAANUL-ISTIQOOMAH* = menjaga sholat adalah pertanda istiqomah.

Hukum Idofah Kedua:

I’rob Jar bagi Mudhaf Ilaih. Adapun amil Jar-nya adalah lafazh yg menjadi Mudhaf -demikian menurut Qoul yg shahih- alasannya: Lafazh Dhamir yg menjadi Mudhaf Ilaih dapat bersambung langsung dengan lafazh yg menjadi Mudhaf, yang mana dhamir tsb tidak akan bersambung kecuali kepada Amilnya, contohnya:

كتابك جديد

KITAABUKA JADIIDUN = Kitabmu baru.

Hukum Idhafah ketiga:

Wajib menyimpan Huruf Jar Asli yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih. Untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudaf dan Mudhaf Ilaeh-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FIY dan LAM.

1. Idhafah menyimpan makna huruf MIN Lil-Bayan apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. contoh:

خاتمُ ذهبٍ

KHOOTAMU DZAHABIN = cincin dari emas

Takdirannya adalah KHOOTAMUN MIN DZAHABIN’

2. Idhafah menyimpan makna huruf FIY Liz-Zharfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Zhorof bagi lafazh Mudhof. contoh:

عثمان شهيد الدار

‘UTSMAANU SYAHIIDUD-DAARI = Utsman Ra. adalah seorang yg mati Syahid di rumah.

Takdirannya adalah ‘UTSMAANU SYAAHIDUN FID-DAARI.

Atau berupa Zharaf Zaman.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:

بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ

BAL MAKRUL-LAILI WAN-NAHAARI = “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami) (QS. Saba’ : 33)

Takdirannya MAKRUN FIL-LAILI.

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

LILLADZIINA YU’LUUNA MIN-NISAA’IHIM TAROBBUSHU ARBA’ATI ASYHURIN = Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). (QS. Al-Baqarah :226)

Takdirannya TAROBBUSHUN FIY ARBA’ATI ASYHURIN.

3. Idhafah menyimpan makna huruf LAM apabila tidak bermakna MIN atau FIY. contoh:

هذا كتاب زيد

HADZAA KITAABU ZAIDIN = ini kitab milik Zaid

Takdirannya: HADZAA KITAABUN LI ZAIDIN.
LAM berfungsi sebagai Lil-Mulk/Lil-Ikhtishosh Kepemilikan/Kewenangan.

Demikian Hukum-hukum yg berhubungan dengan Idhafah maknawi belum Idhofah Lafzhi yg akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya, berikut hukum-hukum Idhofah yg belum disebut disini.

%d blogger menyukai ini: