Arsip

Posts Tagged ‘Athof’

Definisi Athaf Nasaq » Alfiyah Bait 540-541-542

25 Februari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

عَطْفُ النَّسقِ

ATHAF NASAQ 

تَالٍ بحَرْفٍ مُتْبعٍ عَطْفُ النَّسَقْ ¤ كَاخصُصْ بوُدٍّ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ

Isim tabi’ yg mengikuti dg huruf penghubung (antara Tabi’ dan Matbu’nya), demikian definisi Athaf Nasaq. Seperti contoh “Ukhshush bi waddin wa tsanaa’in man shadaqa” = Istimewakan..! dengan belas kasih dan sanjungan terhadap orang-orang yg jujur. 

فَالْعَطْفُ مُطْلَقاً بِوَاوٍ ثُمَّ فَا ¤ حَتَّى أمَ أوْ كَفيكَ صِدْقٌ وَوَفَا

Athaf yg mengikuti secara Mutlaq (lafazh dan Makna) yaitu dengan huruf Athaf Wawu, Tsumma, Fa’, Hatta, Am, dan Aw. Seperti contoh “Fiika shidqun wa wafaa” = kamu harus jujur dan menepati.   

وَأتْبَعَت لَفْظاً فَحَسْبُ بَلْ وَلا ¤ لَكِنْ كَلَمْ يَبْدُ امْرُؤٌ لَكِنْ طَلَا

Sedangkan huruf Athaf yg cukup mengikutkan secara lafazhnya saja, yaitu Bal, Laa dan Laakin. Seperti contoh “Lam yabdu imru’un laakin tholaa” tidak tampak seorangpun melainkan anak rusa.   

–·•Ο•·–

Definisi Athaf Nasaq :

Isim Tabi’ yang terdapat perantara di antara Tabi’ dan Matbu’ dengan salah satu huruf Athaf.

Definisi Nasaq menurut bahasa adalah Isim Mashdar “NASQUN” yg berarti “penyusunan teratur” contoh: NASAQTU AL-KALAAMA = aku menyusun/mengatur kalimat. yakni mengathafkan satu bagian kepada bagian yg lain sehingga bagian-bagian tersebut beriringan secara teratur.

oOo

Huruf-huruf Athaf semuanya ada sembilan dan terbagai menjadi dua bagian:

1. Bagian pertama dari Huruf-huruf Athaf yg melaksanakan Tasyrik (penyekutuan) secara lafazh dan makna.

Penyekutuan secara Lafazh dimaksudkan adalah didalam hukum i’robnya. Penyekutuan secara makna dimaksudkan adalah menetapkan pada Ma’thuf dengan hukum yang ditetapkan pada Ma’thuf ‘Alaih. Penetapan demikian berlaku pada Athaf Mufrod, sedangkan Athaf Jumlah tidak berlaku Faidah Tasyrik (penyekutuan).

Bagian huruf Athaf disini ada enam huruf :

1. Wawu
2. Tsumma
3. Huruf Fa’
4. Hattaa
5. Am
6. Aw

Contoh:

جاء خلد وعلي

JAA’A KHOOLIDUN WA ‘ALIYYUN = Khalid dan Ali telah datang

حضر الطلاب ولم يحضر المدرس

HADHARA AT-THULLAABU WA LAM YAHDHUR AL-MUDARRISU = para siswa telah hadir dan para guru belum hadir.

oOo

2. Bagian kedua dari Huruf-huruf Athaf yg melaksanakan Tasyrik (penyekutuan) secara lafazhnya saja tidak secara makna.

Tasyrik secara Lafazhnya, yakni secara i’robnya. Dan tidak secara makna, yakni tidak menghukumi Ma’thuf dengan hukum secara makan yg ada pada ma’thuf Alaih.

Bagian huruf Athaf disini ada tiga huruf :

1. Bal
2. Laa
3. Laakin

Contoh:

ما جاء الضيف بل ولده

MAA JAA’A ADH-DHAIFU BAL WALADUHU = Tamu itu tidak datang tapi anaknya.

Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535

24 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

العطف

BAB ATHAF

عطف البيان

ATHAF BAYAN 

الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ

Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan). 

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ

Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.   

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:

1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)

Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.

Penjelasan Definisi :

TABI’ :

adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.

IDHAH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.

TAKHSHISH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.

Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):

أكرمت محمداً أخاك

AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.

Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.

Contoh sebagai Takhshish (penghusus):

سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ

SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.

Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.

Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.

Contoh Taukid :

جاء الأمير نفسه

JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.

Contoh Athaf Nasaq :

قرأت التفسير والحديث

QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.

Contoh Badal :

قضيت الدين نصفه

QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.

Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.

Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :

Contoh Na’at :

هذا خالد الكاتب

HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.

Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh Athaf Bayan :

هذا التاجر خليل

HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.

Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.

JAMID :

Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.

TANPA TAKWIL :

Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :

مررت بعلي هذا

MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.

Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.

%d blogger menyukai ini: