Arsip

Archive for the ‘Bait 420-421-422-423’ Category

Hukum-hukum Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 420-421-422-423

28 Desember 2011 9 komentar
–·•Ο•·–

الْمُضَافُ إِلَى يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ

BAB MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM

آخِرَ مَا أضِيْفَ لِلْيَا اكْسِرْ إِذَا ¤ لَمْ يَكُ مُعْتَلاً كَرَامٍ وَقَذَا

Berilah harkat kasroh pada akhir kalimah yg mudhof pada Ya’ Mutakallim. Dengan syarat apabila tidak berupa Isim Mu’tal. Contoh Isim Mu’tal seperti “Roomin” (Isim Mu’tal Manqush berakhiran Ya’ asalnya “Roomiyun”) dan contoh “Qodzaa” (Isim Mu’tal Maqshur berakhiran Alif) 

أَوْ يَكُ كَابْنَيْنِ وَزَيْدِيْنَ فَذِي ¤ جَمِيْعُهَا الْيَا بَعْدُ فَتْحُهَا احْتُذِي

Atau berupa Isim yang seperti contoh “Ibnaini” (berupa Isim Tatsniyah) juga seperti contoh “Zaidiina” (berupa Isim Jamak Mudzakkar Salim). Kesemua Isim seperti contoh tersebut ini (yakni: Manqush, Maqshur, Tatsniyah dan Jamak Mudzakkar Salim), maka Ya’ Mutakallim yang jatuh sesudahnya diberi harkat Fathah. 

وَتُدْغَمُ الْيَا فِيْهِ وَالْوَاوُ وَإِنْ ¤ مَا قَبْلَ وَاوٍ ضُمَّ فَاكْسِرْهُ يَهُنْ

Ya’ akhir kalimah diidghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Wawu akhir kalimah (juga diidghomkan pada Ya’ Mutakallim, yakni setelah Wawu itu diganti Ya’). Jika huruf sebelum Wawu berharkat Dhommah, maka gantilah dengan harkat kasroh demikian menjadi ringan. 

وَأَلِفَاً سَلِّمْ وَفِي الْمَقْصُوْر عَنْ ¤ هُذَيْلٍ انْقِلاَبُهَا يَاءً حَسَنْ

Tetapkan Salim (yakni selamat tanpa ada perubahan) pada Alif akhir kalimah (di dalam Isim Maqshur dan juga Isim Tatsniyah Marfu’). Perubahan Alif kepada Ya’ di dalam Isim Maqshur adalah baik menurut logat Bani Hudzail. 

–·•Ο•·–

Bab ini dikhususkan untuk hukum-hukum Idhafah Isim kepada Ya’ Mutakallim. Merupakan hukum-hukum Idhofah yg dibahas secara tersendiri. Yakni Hukum Idhafah yang bertalian dengan Ya’ Mutakallim dan hukum Huruf akhir pada Isim yang menjadi Mudhaf.

Kaedah yang umum untuk bab ini adalah: wajib kasroh di akhir kalimah yang Mudhaf pada Ya’ Mutakallim untuk menyesuaikan (lil-munasabah) dengan Ya’ yg jatuh sesudahnya. Dan Ya’ Mutakallim diberi Sukun atau diharkati Fathah, dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.

Termasuk pada hukum yang umum dalam Bab ini adalah apabila Isim yang menjadi Mudhaf berupa:

1. Isim Mufrod Shohih. Semisal lafazh “KITAABUN”. Contoh:

كتابي جديد

KITAABIY JADIIDUN = Kitabku baru.

atau berupa Isim Mufrod yang serupa dengan hukum Shohih. Yakni, Isim yang berakhiran Wawu atau Ya’ dan huruf sebelumnya Sukun, seperti lafazh DALWUN, SHOFWUN, SAQYUN, ZHOBYUN. contoh:

سقيي الماءَ من دلوي فيه ثواب عظيم

SAQYIY AL-MAA’A MIN DALWIY FIIHI TSAWAABUN ‘AZHIIMUN = Pemberianku akan air minum dari timbaku, di dalamnya terdapat pahala yang besar.

2. Jamak Taksir Shohih Akhir. Semisal lafazh “THULLABUN”, “KUTUBUN”. Contoh:

كتبي مرتبة

KUTUBIY MUROTTABATUN = kitab-kitabku tersusun rapi

3. Jama’ Mu’annats Salim. Semisal lafazh “AKHOWAATUN”, “‘AMMAATUN”, “BANAATUN”. Contoh:

أزور عماتي وأَصِلُ أخواتي

AZUURU ‘AMMAATIY WA ASHILU AKHOWAATIY = aku mengunjungi Paman-paman ku dan bersilaturrahmi pada Saudara-saudaraku.

Kaidah I’rob untuk lafazh-lafazh mudhof pada contoh diatas adalah: Untuk lafazh Mudhof yang Marfu’ dikatakan Rofa’ dengan tanda dhommah muqoddar atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim. Keterbatasan posisi oleh harkat yang bersesuaian merupakan pencegah dari I’rob Zhahirnya. Dan untuk lafazh Mudhof yang Manshub -selain Jamak Mu’annats Salim- dikatakan Nashob dengan tanda Fathah muqoddar dengan alasan yang sama. Demikian juga untuk Mudhof yang Majrur dikatakan Jar dengan tanda Kasroh Muqoddar dan alasan yg sama. Dan untuk yang Majrur dikatakan juga Jar dengan Kasroh Zhohir demikian untuk alasan kemudahan karena harkat Kasroh nampak dalam lafazhnya. Adapun Kaidah I’rob untuk Ya’ Mutakallim dalam hal ini adalah: Dhamir Muttashil mabni atas Sukun atau Fathah didalam mahal Jar sebab menjadi Mudhaf Ilaih.

¤¤¤

Dibedakan dari Kaidah yang umum yaitu terdapat pada empat masalah. Wajib memberi sukun pada akhir kalimah yang menjadi Mudhof, dan Ya’ Mutakallim menjadi mabni atas Fathah saja sebagai Mudhaf Ilaihnya dalam mahal Jar. Empat masalah tersebut adalah:

1. Isim Maqshur, seperti lafazh “FATAA”, “HUDAA”.

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran Alif. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah dikarenakan paling ringannya harkat. Pemberian harkat untuk menghidari bertemunya dua huruf mati. Maka Alif maqshur ditetapkan, kecuali menurut logat Bani Hudzail, dalam hal ini Alif ditukar dengan Ya’.
Contoh:

هدايَ خير طريق لنجاتي

HUDAAYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.

Contoh bagi lughoh Bani Hudzail:

هديَ خير طريق لنجاتي

HUDAYYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

قَالَ هِيَ عَصَايَ

QOOLA HIYA ‘ASHOO-YA = Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku (QS. Thoha :18)

I’rob Lafazh ‘ASHOO-YA :
“ASHOO” = Mudhaf Menjadi Khobar dirofa’kan dengan Dhommah muqaddar atas Alif. Tercegah harkat Zhohirnya karena ta’adzdzur.
“YA” = Dhamir Mutakallim Muttashil mabni Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.

Contoh lagi Ayat dalam Al-quran:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

QUL INNA SHOLAATIY WA NUSUKIY WA MAHYAAYA WA MAMAATIY LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN = Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162).

2. Isim Manqush, seperti lafazh “AL-HAADIY”, “AD-DAA’IY”

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran hurut Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Ya’ Mutakalli disini wajib diharkati Fathah.
Contoh:

الشرع هاديّ لطريق الخير

ASY-SYAR’U HAADIY-YA LI THORIIQIL-KHOIR = peraturan hukum (syara’) sebagai penunjukku menuju jalan kebenaran.

I’rob lafazh HAADIY-YA:
“HAADIY” = Mudhof dalam posisi menjadi Khobar, dirofa’kan dengan Dhommah yang dikira-kira (muqoddar) atas Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. tercegah I’rob zhohirnya karena berat (lits-tsaqli).
“YA” = Ya’ Dhamir Muttashil Mutakallim mabni atas Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhof Ilaihi.

3. Isim Mutsanna/Tatsniyah berikut Mulhaq-mulhaqnya.

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah. Nun dibuang karena Idhofah. Huruf Alif ditetapkan/Salim ketika Rofa, dan diidghomkan ketika Nashob atau Jar seperti pada Isim Manqush.
Contoh:

لن أجازى إلا بما قدمت يداي

LAN UJAZAA ILLAA BIMAA QODDAMAT YADAAYA = aku tidak akan mendapat balasan kecuali dengan apa yang telah diperbuat oleh kedua tanganku.

لا أعتمد في الرزق بعد الله إلا على يديّ

LAA A’TAMIDU FIR-RIZQI BA’DALLAAHI ILLAA ‘ALAA YADAYYA = aku tidak akan menguasai suatu rizki (harta) setelah Allah. kecuali atas hasil perbuatan kedua tanganku.

I’robnya lafazh YADAAYA: “YADAA” = Fail marfu’, tanda rofa’nya Alif. “YA” = Mudhaf Ilaih mabni fathah di dalam mahal Jar. Asalnya adalah “YADAAANI LIY”. NUN dan LAM dibuang karena Idhofah. Untuk contoh kedua YADAYYA: Ya’ akhir kalimah diidghomakan pada Ya’ Mutakallim.

Contoh di dalam Ayat Al-Qur’an:

مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

MAA MANA’AKA AN TASJUDA LIMAA KHOLAQTU BI YADAYYA = apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (QS. Shood :75)

I’rob pada lafaz YADAYYA: “YADAY” = Isim Mutsanna Majrur tanda Jarnya Ya’, dan diidghomkan pada Ya’ kedua yakni pada Ya’ Mutakallim yang menjadi Mudhaf Ilaih.

4. Jama’ Mudzakkaar Salim dan Mulhaq-mulhaqnya

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah.

Dalam keadaa Rofa Wawu diganti Ya’ dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhommah diganti Kasroh untuk menyesuaikan pada Ya’ Mutakallim (lil munasabah). Untuk keadaan Nashob dan Jar, Ya’ diidghamkan pada Ya’ Mutakallim. contoh:

أنتم مشاركيّ في الدعوة إلى الله

ANTUM MUSYAARIKIYYA FID-DA’WATI ILALLAAH = kalian adalah teman-tamanku di dalam dakwah ilallaah.

I’lal lafazh MUSYAARIKIYYA: asalnya MUSYAARIKUUNA LIY, Nun dan Lam dibuang karena Idhafah. Maka menjadi MUSYAARIKUUYA. Kemudian Wawu diganti Ya dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhummah diganti Kasroh maka menjadi MUSYAARIKIYYA.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ

WAMAA ANTUM BI MUSHRIKHIYYA = dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku (QS. Ibrohim : 22)

Jumhur Qiro’ah membaca lafazh MUSHRIKHIYYA dengan Fathah pada Ya’ tasydid. karena asalnya Ya’ jamak yang sukun diidghomkan pada Ya’ Mutakallim yang Fathah, maka harkat Fathah ditetapkan. Sedangkan Qiro’ah Hamzah (sebagian dari Qiro’ah Sab’ah) membaca kasrah pada Ya tasydid menjadi MUSHRIHIYYI demikian termasuk dari salah satu lugot bangsa Arab, dan apabila sebelum wawu berharkat Fathah seperti contoh MUSHTHOFAUNA, maka harkat Fathah tentu ditetapkan menjadi MUSHTHOFAYYA.

%d blogger menyukai ini: