Arsip

Archive for the ‘Bait 55-56’ Category

Pengertian Dhamir Muttashil, Alfiyah Bait 55-56

11 November 2010 11 komentar
Kitab Alfiyah Ibnu Malik » Bab Nakirah dan Ma’rifah » Bait 55-56
–·•Ο•·– 

وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لاَ يُبْتَدَا ¤ وَلاَ يَلِي إلاَّ اخْتِيَــــارَاً أبَــدَا

Dhomir Muttashil adalah Isim Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan tidak boleh mengiringi إلا selama masih bisa memilih demikian..

كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْني أكْرَمَكْ ¤ وَالْيَــاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكْ

Seperti Ya’ dan Kaf dari contoh lafadz: ابْني أكْرَمَكْ (Ya’ Mutakallim dan Kaf Mukhothob), dan seperti Ya’ dan Ha’ dari contoh lafadz: سَلِيْهِ مَا مَلَكْ (Ya’ Mukhatabah dan Ha’ Ghaib)

–·•Ο•·–

Isim Dhamir dari segi penampakannya ada dua golongan:

(1). Dhamir Bariz (بارز) : adalah Isim Dhamir yang mempunyai bentuk penampakan lafazh secara hakikiyah (kongkrit) atau secara hukmiyah (abstrak).

Contoh dhamir bariz yang hakikiyah

أَكْرَمـْتُ الْغَرِيْبَ

Aku memulyakan orang asing itu.

Contoh dhamir bariz yang hukmiyah:

جََََََاءَ الَّذِيْ أَكْرَمْتُ

seorang yang aku mulyakan telah datang

(maksudnya: أَكْرَمْتُــهُ yang aku memulyakan-nya. maka dhamir yang berupa ـه nya” pada contoh kalimat diatas, ada secara hukumnya).

(2). Dhamir Mustatir (مستتر): adalah Isim Dhamir yang tidak mempunyai bentuk lafazh. contoh:

حَافِظْ عَلَى الصَّلاَةِ

Peliharalah… shalat !

(yakni, حَافِظْ أنْتَ Peliharalah olehmu…!)

Dhamir Bariz ada dua macam:

1. (ضمير بارز متصل) Dhamir Bariz Muttashil

2. (ضمير بارز منفصل) Dhamir Bariz Munfashil (akan diterangkan pada bait-bait selanjutnya)

(ضمير بارز متصل) Dhamir Bariz Muttashil/dhamir muttashil: adalah dhamir yang tidak bisa dijadikan permulaan kalimat dan tidak bisa berada setelah lafazh إلا secara ikhtiar (اختيارا)pemilihan”, maksud ikhtiar adalah longgar atau lowong dalam susunan kalimat tidak sempit semisal pada dharurah syi’ir. Contoh Dhamir Muttashil:

اِسْتَمَعْـتُ لِلْمُحَاضَرَةِ

Aku mendengarkan ceramah

Contoh syawahid syair yang melafalkan dhamir bariz muttashil jatuh sesudah إلا secara Syadz:

أَعُوذُ بِرَبِّ الْعَرْشِ مِنْ فِئَةٍ بَغَتْ × عَلَيَّ فَمَالِي عَوْضُ إِلاّهُ نَاصِرُ

Aku berlindung pada Tuhan yang memiliki Arsy….
daripada golongan orang yang menganiayaiku……
maka sebab itu….
tidaklah bagiku seorang penolong kecuali Dia selamanya….

(syahid pada syair diatas adalah pada lafazh إِلاّهُ dimana dhamir muttashil jatuh setelah إِلاّ adalah Syad,  yakni tidak boleh kecuali pada dharurah syi’il)

Demikian juga Dhamir muttashil jatuh sesudah “Illa” pada syair berikut:

وَمَا عَلَيْنَا إِذَا مَاكُنْتِ جَارَتَنَا × ألاَّ يُجَاوِرَنَا إِلاَّكِ دَيَّارُ

(wahai kekasih…)
tidaklah kami menaruh perhatian…
bilamana dikau sudi menjadi tetangga kami…
seakan tidak ada tetangga lain kecuali hanya dikau seorang…

Kategori:Bait 55-56 Tag:
%d blogger menyukai ini: