Arsip

Posts Tagged ‘Munada’

Pengertian Munada Tarkhim dlm Ilmu Nahwu » Alfiyah Bait 608-609-610-611

10 Maret 2012 4 komentar
–·•Ο•·–

باب التَّرْخِيمُ

BAB TARKHIM  

تَرْخِيماً احذِفْ آخِرَ المُنَادَى ¤ كَيَاسُعَا فِيمَنْ دَعَا سُعَادا

Buanglah dengan di-tarhim pada akhir kalimah Munada, seperti contoh “Yaa Su’aa” didalam perkataan orang yg memanggil nama Su’aad. 

وَجَوِّزَنْهُ مُطْلَقاً فِي كُلِّ مَا ¤ أُنِّثَ بِالهَا وَالَّذِي قَدْ رُخِّمَا

Perbolehkanlah tarkhim secara mutlak pada setiap Munada yg dita’nits dengan Ha’ (ta’ marbutoh). Dan terhadap Munada yg ditarkhim… (ke bait selanjutnya)  

بحَذْفهَا وَفِّرْهُ بَعْدُ وَاحْظُلَا ¤ تَرْخِيمَ مَا مِنْ هذِهِ الْهَا قَدْ خَلا

…dengan membuang Ha’ ta’nits tsb, pertahankan setelah itu. Cegahlah tarkhim terhadap munada yg kosong dari Ha’ ta’nits…  

إلّا الرُّبَاعِيَّ فَمَا فَوقُ الْعَلَمْ ¤ دُونَ إضَافَةٍ وَإسْنادٍ مُتَمْ

kecuali berupa isim empat huruf atau lebih yg berupa isim alam bukan tarkib idhafah atau tarkib Isnad tamm.  

–·•Ο•·–

Pengertian Tarkhim menurut bahasa adalah melunakkan suara. Menurut Istilah Ilmu Nahwu adalah pembuangan akhir kalimah didalam Nida’ dengan cara khusus umumnya untuk meringankan.

Macam-macam Tarhim :

1. Tarkhim Munada
2. Tarkhim Dharurah
3. Tarkhim Tashghir (dijelaskan pada bab Tashghir)

Pembagian Isim yg ditarkhim

1. Barakhiran Ha’
2. Tidak berakhiran Ha’

Jika Isim tersebut diakhiri dengan Ha’ maka boleh ditarkhim secara mutlak yakni baik berupa Isim ‘Alam semisal “Faathimah”, “Hamzah”, atau bukan Isim ‘Alam semisal “Jaariyah”, baik berupa Isim lebih dari tiga huruf atau tetap tiga huruf semisal “Syaatun”. Maka menjadi “Yaa Faathima”, “Yaa Hamza”, “Yaa Syaa”.

Contoh:

ياشا إدجني

YAA SYAA IDZJINIY! = hai kambing tinggalah/diamlah disini.

lafazh SYAA asalnya SYAATUN ditarkhim dengan membuang akhir kalimah yg berupa huruf Ha’ Muannats (huruf ta’ marbuthoh disebut Ha’ karena ketika wakof dibaca Ha’).

Jika Isim tersebut tidak berakhiran Ha’ muannats, maka boleh ditarkhim dengan tiga syarat sbb:

1. Harus Isim empat huruf atau lebih.
2. Harus isim ‘Alam.
3. Harus bukan tarkib idhofi atau tarkib isnadi.

Apabilah ketiga syarat diatas tidak terpenuhi, maka isim yg tidak berakhiran Ha’ tersebut tidak boleh ditarhim, semisal hanya terdiri dari tiga huruf “zaidun”, “umar” atau bukan isim Alam “qoo’imun” “jaalisun” atau berupa terkib idhafi “Abdul Aziz” atau berupa tarkib Isnadi “Syaaba Qornaahaa”. (InsyaAllah akan dijelaskan bagian-bagiannya pada bait selanjutnya)

Pengertian Nubdah dan hukum Munada Mandub » Alfiyah Bait 601-602

8 Maret 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

النُّدْبَةُ

BAB NUDBAH 

مَا لِلْمُنَادَى اجْعَلْ لِمَنْدُوبٍ وَمَا ¤ نُكِّرَ لَمْ يُنْدَبْ وَلا مَا أُبْهمَا

Jadikanlah Munada sebagai Mandub (yg dikeluhi), Isim nakirah tidak bisa dijadikan Mandub, juga tidak bisa isim Mubham. 

وَيُنْدَبُ المَوْصُولُ بالَّذِيْ اشْتَهَرْ ¤ كَبئْر زَمْزَمٍ يَلِي وَا منْ حَفَرْ

Isim Maushul yg masyhur digunakan, boleh dijadikan Mandub, seperti “waa man hafaro bi’ro zamzamaah” = oooh… yg menggali sumur zamzam! (Abdul Mutthalib kakek Nabi) 

–·•Ο•·–

Pengertian Nudbah (ratapan/keluhan) adalah memanggil sesuatu atau seseorang yg ditangisi karena merasa kehilangan dsb. atau memanggil sesuatu yg dirasakan sakit. contoh,

وا زيداه

WAA ZAIDAAH = ooh.. zaid!

وا ظهراه

WAA ZHOHAROOH = ooh… punggungku!

Isim-isim yg dijadikan Mandub harus berupa Isim Ma’rifah, karena tujuan Nudbah tersebut untuk menyatakan kesungguhan rasa sedih atau sakit, oleh karenanya mandub harus Ma’rifah dan tertentu.

Tidak boleh dari Isim Nakirah contoh:

وارجُلاه

WAA ROJULAAH = oooh.. laki-laki

Tidak boleh dari Isim Mubham semisal Isim Isyarah contoh:

واهذاه

WAA HADZAAH = oooh.. ini.

Juga tidak boleh dari Isim Maushul, kecuali Isim Maushul yg tidak ada AL dan Shilahnya yg masyhur digunakan, contoh mereka mengatakan:

وامن حفر بئر زمزماه

WAA MAN HAFARO BI’RO ZAMZAMAAH = oooh.. penggali sumur zamzam! (Abul Mutthalib).

Demikian contoh seperti ini telah dikenal dikalangan mereka dan digunakan manempati lafazh berikut :

واعبد المطلباه

WAA ‘ABDAL-MUTHTHALIBAAH = ooh.. ‘Abdul Muththalib! (Kakek Nabi saw).

Hukum I’rob Mandub seperti halnya Munada, yakni :

Mabni Dhammah apabila berupa Isim Ma’rifah yg mufrad, semisal:

واعمرُ

WAA ‘UMARU = ooh Umar!

WAA = huruf Nida’ dan Nudbah
UMARU = Munada Mandub mabni dhammah dalam mahal nashab.

Hukum Nashab apabila berupa Mudhaf, semisal:

وا أميرَ المؤمنين

WAA AMIIROL MU’MINIIN = ooh pemimpin muslimin!

Pengertian Istighatsah, Yaa dan Lam Istighotsah, Mustaghats Bih dan Mustaghots Lah » Alfiyah Bait 598-599

3 Maret 2012 7 komentar
–·•Ο•·–

باب الاِسْتِغَاثَةُ

BAB ISTIGHATSAH 

إذَا اسْتُغِيثَ اسْمٌ مُنَادَى خُفِضَا ¤ بِاللَّامِ مَفْتُوحاً كَيَا لَلْمُرْتَضَى

Apabila Isim Munada dibuat Istighotsah maka ia dijarkan oleh Lam istighatsah yg berharkat Fathah. Contoh “Yaa Lal-Murtadhaa” (Tolonglah wahai orang yg Diridhoi Allah!) 

وَافْتَحْ مَعَ المَعْطُوفِ إنْ كَرَّرْتَ يَا ¤ وَفِي سِوَى ذَلِكَ بِالْكَسْرِ ائْتِيَا

Fathahkan juga Lam Istighasah yg menyertai Ma’thufnya jika kamu mengulang kata “Yaa”, selain daripada itu (tanpa mengulang Yaa pada Ma’thuf) maka gunakanlah Lam Istighotsah yg berharkat kasrah. 

–·•Ο•·–

ISTIGHATSAH (minta pertolongan) : termasuk salah satu dari jenis Nida (panggilan/kata seru) yaitu menyeru pihak kedua agar membebaskan dari hal yg tidak diinginkan yg telah terjadi, atau menyerunya untuk menolak dari suatu yg tidak diinginkan agar tidak terjadi. Perangkat Istighotsah tersebut menggunakan kata “YAA”.

Contoh Istighatsah minta tolong untuk hal yg telah terjadi :

يا لَلنَّاس لِلغريق

YAA LAN-NAASI LIL GHARIIQI = wahai manusia, tolonglah orang yg tenggelam!

Contoh Istighatsah minta tolong menolak hal yg tidak diinginkan agar tidak terjadi :

يا لَلحراس لِلأعداء

YAA LAL-HURRAASI LIL-A’DAA’I = wahai pengawal, tolong awasi musuh-musuh!

Metode Istighotsah yg berfungsi sebagai permintaan tolong tersebut bisa terlaksana apabila telah memenuhi ketiga rukunnya yaitu:

1. Harus menggunakan Huruf Nida’ “YAA” bukan yg lainnya.
2. Isim yg menjadi Mustaghats Bih (pihak kedua yg dipintai pertolongan) dijarkan oleh Lam berharkat fathah selamanya, kecuali pada Mustaghats lain yg athaf pada Mustaghats pertama dengan tanpa mengulang huruf Nida’ “YAA”. Contoh:

يا لَلعلماء ولِلمصلحين لِلشباب

YAA LAL-‘ULAMAA’I WA LIL-MUSLIHIINA LISY-SYABAABI = wahai para ulama dan aparat sosial, tolonglah generasi muda!.

lafazh AL-MUSHLIHIINA = asalnya bukan merupakan Mustaghots, karena tidak ada huruf Nida “Yaa” padanya, akan tetapi ia telah diathafkan pada lafazh “ULAMAA’I” maka makna Istighotsah juga dikandungnya.

Apabila pada Ma’thufnya mengulang kata “Yaa”, maka wajib Lamnya berharkat Fathah, contoh:

يا لَلوعاظ ويا لَلخطباء لِظاهرة السَّهَرِ

YAA LAL-WU’AAZHI WA YAA LAL-KHUTHOBAA’I LI ZHAAHIROTIS-SAHARI = wahai penceramah dan muballigh, tolong peringati wanita malam!

3. Isim yg menjadi Mustaghats Lah (pihak ketiga penyebab dipintanya pertolongan agar ditangani atau diberi bantuan) dijarkan oleh huruf “Lam” berharkat Kasroh seperti pada contoh-contoh diatas, atau dijarkan oleh huruf “Min”, seperti contoh:

يا لَلقاضي من شاهد الزور

YAA LAL-QODHIY MIN SYAAHIDIZ-ZUURI = wahai hakim, tolong hindari saksi palsu!

Ada beberapa pendapat Ulama Nuhat tentang status Lam yg terdapat pada Mustaghats Bih, pendapat terbaik adalah: bahwa Lam tsb adalah huruf Jar yg diharkati fathah untuk membedakan dengan Lam yg terdapat pada Mustaghats Lah.

Beberapa pendapat oleh ulama’ nuhat tentang status huruf “Lam” yg terdapat pada Mustaghats Bih. Namun pendapat yg terbaik bahwa Lam-lam tersebut adalah huruf jar. Penggunaan Lam fathah pada Mustaghats Bih untuk membedakan dengan lam kasrah pada Mustaghats Lah. Masing-masing kedua lam jar tersebut berikut majrurnya, berta’alluq pada huruf Nida’ “Yaa” sebagai pengganti Fi’il “ALTAJI’U” (aku minta tolong) atau Fi’il semacamnya.

Contoh i’robnya :

يا لَلعلماءِ لِلجهال

YAA LAL-‘ULAMAA’I LIL-JUHHAALI = wahai para alim, tolonglah orang-orang bodoh!

YAA = huruf nida dan istighasah.
LAL-ULAMAA’I = LAM huruf Jar dan Istighotsah, ULAMAA’ Majrur, Jar dan Majrur berta’alluq pada YAA.
LIL-JUHHAALI = Jar dan Majrur juga berta’alluq pada YAA.

Bentuk Isim khusus Munada » Alfiyah Bait 595-596-597

29 Februari 2012 5 komentar
–·•Ο•·–

أسماء لازَمَتِ النِّدَاءَ

BAB ISIM-ISIM YG LAZIM UNTUK NIDA’ 

وَفُلُ بَعْضَ مَا يُخَصُّ بالنَّدَا ¤ لُؤْمَانُ نَوْمَانُ كَذَا واطَّرَدَا

“Fulu” termasuk dari isim (Sima’i) yg dikhususi Nida. demikian juga “Lu’maanu” dan “Naumaanu”. 

فِي سَبِّ الأنْثَى وَزْنُ يَا خَبَاثِ ¤ وَالأَمْرُ هَكَذَا مِنَ الثُّلَاثِي

Ada yg secara menerus (Qiyasi) digunakan untuk cacian pada wanita, yaitu wazan “Fa’aali” contoh “Yaa Khabaatsi” (Hei wanita jahat!). Kata perintah juga ada yg berwazan seperti ini, dari Fi’il Tsulatsi. 

وَشَاعَ فِي سَبِّ الذُّكُورِ فُعَلُ ¤ وَلا تَقِسْ وَجُرَّ فِي الشِّعْرِ فُلُ

Terkenal juga penggunaannya untuk cacian pada pria yaitu wazan “Fu’alu” dan janganlah kamu mengiaskannya (Sima’i). Lafazh “Fulu” ada yg dijarkan dalam sebuah Syair (yakni pernah digunakan bukan sebagai Munada). 

–·•Ο•·–

Termasuk dari Isim-Isim yang hanya untuk digunakan sebagai Munada atau Munada Lazim, ada tiga bagian :

1. Sima’i mufakat Nuhat, ada empat lafazh :

  • FULU = laki-laki
  • FULATU = perempuan
  • LU’MAANU = jahat/kurang ajar
  • NAUMAANU = tukang tidur

2. Qiyasi, Mufakat Nuhat :

Yaitu sifat dengan wazan FA’AALI serupa dengan makna FAA’ILATUN dan FAA’IILATUN digunakan sebagai cacian kepada wanita yg berbuat hina. Dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Tamm Mutasharrif, contoh:

يا خباثِ

YAA KHABAATSI = hei wanita tercela!

يا غدارِ

YAA GHADAARI = her wanita penghianat!

يا سراق

YAA SARAAQI = hei wanita pencuri!

Contoh i’rob: KHABAATSI = munada mabni dhammah muqaddar, dicegah i’rob zhahirnya oleh kasrah bentuk asli dalam posisi Nashab.

Diqiaskan juga penggunaan wazan FA’AALI yg mabni kasrah tersebut sebagai kata perintah yakni Isim Fi’il Amar, contoh:

نزال

NAZAALI = turunlah!

شرابِ

SYARAABI = minumlah!

3. Khilaf Nuhat ada yg mengatakan Sima’i ada Qiyasi :

Yaitu Sifat dengan wazan FU’ALU, digunakan sebagai cacian pada laki-laki, contoh:

يا غُدَر

YAA GHUDARU! = hei laki-laki penghianat!

يافُسق

YAA FUSAQU! = hei laki-laki pencuri!

Adapun menurut qoul yg rojih bentuk wazan ini adalah Qiyasi, dengan syarat sebagai penunjukan atas celaan.

Dijelaskan juga bahwa lafazh “FULU” yg lazim untuk Nida’ tsb boleh digunakan pada selain Nida’ tapi khusus dharurah Syi’ir, contoh Syair dalam bahar Rojaz :

في لجةٍ أمسك فلاناً عن فُلِ

FIY LAJJATIN AMSIK FULAANAN ‘AN FULI = dalam situasi tegang…”pegang laki-laki ini dari laki-laki itu” (mencegah agar tidak terjadi perkelahian).

Penggunaan FULU pada syair diatas sebagai Dharurah Syi’ir demikian menurut Ibnu Malik. Menurut Ibnu Hisyam yang benar adalah bahwa FULU disini asalnya FULAANU dibuang Alif dan Nunnya karena Dharurah Syi’ir. Perihal pembuangan seperti ini akan dijelaskan pada Bab TARKHIM pada Bab selanjutnya… InsyaAllah .

Munada Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 582

28 Februari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

المُنَادَى المُضَافُ إلَى يَاء المُتَكَلِّمِ

BAB MUNADA MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM 

وَاجْعَلْ مُنَادًى صَحَّ إنْ يُضِفْ لِيَا ¤ كَعَبْدِ عَبْدِي عَبْدَا عَبْدِيَا

Jika Munada Shahih akhir mudhaf pada Ya’ Mutakallim maka buatlah serupa contoh Abdi, Abdiy, Abdaa atau Abdayaa.  

–·•Ο•·–

Munada yang dimudhafkan pada Ya’ Mutakallim bisa berupa Isim Mu’tal Akhir atau Shahih Akhir.

Apabila berupa Isim Mu’tal Akhir, maka hukumnya sama dengan ketika tidak menjadi Munada, sebagaimana penjelasannya dalam Bab Mudhaf pada Ya’ Mutakallim, yaitu menetapkan Ya Mutakallim dengan berharkat fathah, contoh:

يا فتايَ

YAA FATAAYA = Hai Pemudaku!

يا قاضيَّ

YAA QAADIYA = Hai Hakimku !

oOo

Apabila berupa Isim Shahih, maka boleh dibaca dengan lima cara :

1. Membuang Ya’ Mutakallim dan menetapkan harkat kasrah sebagai dalil terbuangnya Ya’ Mutakallim. Cara yang pertama ini adalah yang paling banyak digunakan, contoh :

يا غلامِ

YAA GHULAAMI = wahai anak mudaku !

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

YAA ‘IBAADI FAT-TAQUUN = Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku (QS. Azzumar 16)

Lafazh ‘IBAADI = Munada Mudhaf, Manshub tanda nashabnya Fathah Muqaddar di atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim yg dibuang untuk takhfif/meringankan, dicegah i’rab zhahirnya karena Isytighol mahal/ termuatnya posisi dengan huruf yang sesuai. Ya’ yg terbuang adalah Dhamir Mutakallim Mabni Sukun pada posisi Jarr sebagai Mudhaf Ilaih.

2. Menetapkan Ya’ dengan berharkat Sukun, Cara yang keduan ini juga yang paling banyak digunakan setelah cara yg pertama, contoh:

يا غلامي

YAA GHULAAMIY = wahai pemudaku !

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an dengan menetapkan Ya’ sukun oleh sebagian Qiro’ah Sab’ah bacaan Abu ‘Amr dan Ibnu “Amir:

يَا عِبَادِيْ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ

YAA ‘IBAADIY LAA KHOUFUN ‘ALAIKUMUL-YAUMA WA LAA ANTUM TAHZANUUN. = “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.(Az-Zukhruf 68)

Lafazh IBAADIY = Munada Manshub, tanda nashabnya Fathah muqaddar diatas Ya’ yg dibuang. Ya’ dhamir mutakallim mabni sukun dalam posisi Jarr sebagai Mudhaf Ilaih.

3. Mengganti Ya’ dengan Alif kemudian membuangnya, menetapkan harkat Fathah sebagai dalil terbuangnya Alif, contoh:

يا غلامَ

YAA GHULAAMA = wahai pemudaku !

Lafazh GHULAAMA = Munada Mudhaf Manshub, tanda nashabnya Fathah zhahir. Ya’ Mutakallim diganti Alif yg terbuang dalam mahal Jar Mudhaf Ilaih.

4. Mengganti Ya’ dengan Alif yg ditetapkan, contoh:

يا غلامَا

YAA GHULAAMAA = wahai pemudaku !

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ

YAA ASAFAA ‘ALAA YUUSUFA = “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf” (QS. Yusuf 84)

Lafazh ASAFAA = Munada Manshub, tanda nashabnya dengan fathah zhahir, Ya’ Mutakallim digantikan Alif sebagai Dhamir yg mabni atas sukun dalam mahal Jar Mudhaf Ilaih.

5. Menetapkan Ya’ dengan berharkat Fathah, contoh :

يا غلامِيَ

YAA GHULAAMIYA = wahai pemudaku!

contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ

QUL YAA ‘IBAADIYAL-LADZIINA ASROFUU ‘ALAA ANFUSIHIM = Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri (QS. Az-Zumar :53)

Lafazh ‘IBAADIYA = Munada dinashabkan dengan Fathah Muqaddar, Ya’ mutakallim dhamir mabni fathah dalam mahal jarr menjadi Mudhaf Ilaih.

Lima cara bacaan diatas dalam hal yang paling banyak digunakan, yaitu : dengan membuang Ya’ Mutakallim dan cukup dengan harkat kasrah pada akhir kalimat, kemudian menetapkan Ya’ sukun atau berharkat Fathah, kemudian mengganti Ya’ dengan Alif, kemudian membuang Alif, terakhir cukup dengan Fathah akhir kalimah.

Pengertian Nida’, Munada dan Mandub » Alfiyah Bait 573-574

26 Februari 2012 16 komentar
–·•Ο•·–

النِّدَاءُ

BAB NIDA’ 

وَلِلْمُنَادَى النَّاءِ أوْ كَالنَّاءِ يَا ¤ وَأيْ وَآ كَذا أيَا ثُمَّ هَيَا

Penggunaan huruf Nida’ (kata seru) untuk Munada jauh atau berhukum jauh, yaitu “Yaa”, “Ay” dan “Aay”. Demikian juga “Ayaa”, dan “Hayaa”. 

وَالهَمْزُ لِلدَّانِي وَوَا لِمَنْ نُدِبْ ¤ أوْ يَا وَغَيْرُ وَا لَدَى اللَّبْسِ اجْتُنِبْ

Hamzah “A” untuk Munada dekat. “Waa” digunakan untuk Mandub yg diratapi atau menggunakan “Yaa”, adapun penggunaannya selain “Waa” dilarang ketika ada kesamaran (antara “Yaa” untuk ratapan dan “Yaa” panggilan jauh). 

–·•Ο•·–

Definisi Nida’ (kata seru) : Tholabul-Iqbal (mohon perhatian) dengan menggunakan salah satu huruf Nida’ yang menggantikan tugas Fi’il “AD’UU/aku berseru” baik secara lafazhan atau taqdiran (dikira-kira).

Contoh Nida’ dengan huruf Nida’ lafzhan :

يا صاحبَ السيارة تمهل

YAA SHAAHIBAS-SAYYAARATA TAMAHHAL! = hoi si empunya mobil, pelan-pelan!

Contoh Nida’ dengan huruf Nida’ taqdiran (dikira-kira) :

صاحبَ السيارة تمهل

SHAAHIBAS-SAYYAARATA TAMAHHAL! = si empunya mobil, pelan-pelanlah!

(Perihal pembuangan huruf Nida’ seperti contoh ini, akan diterangkan pada bait selanjutnya)

Huruf-huruf Nida’ ada delapan terbagi tiga :

1. Digunakan untuk Munada dekat

“A” Hamzah berharkat fathah pendek, contoh:

أخالد أجب

A KHAALIDU AJIB..! = He Khalid, jawablah!

2. Digunakan untuk Munada jauh atau berhukum jauh

“Yaa, Aa, Ayaa, Hayaa, Ay, Aay”

Contoh Munada jauh :

يا صاعد الجبل تمهل

YAA SHAA’IDAL-JABALI TAMAHHAL! = he pendaki gunung, hati-hati!

Contoh Munada hukum jauh :

أيا غافلاً والموت يطلبه

AYAA GHAAFILAN WAL-MAUTU YATHLUBU HU = wahai orang yg lupa kematian akan menyertainya..!

3. Digunakan untuk Munada Mandub (yg diratapi) kata seru untuk menyatakan rasa sedih atau sakit, baik karena musibah, kesakitan, kematian, kehilangan, dsb.

“Waa”, contoh:

وا رأساه

WAA RO’SAAH = aduh kepalaku (misalkan, kepadanya sakit)

وا زَيْدَاه

WAA ZAIDAAH = Oh.. Zaid (misalkan, kerena kematian Zaid)

Boleh juga menggunakan huruf Nida’ “Yaa” sebagai Nida’ Mandub, bilaman ada qorinah yg menunjukkan tentang itu.

Contoh Syair oleh Jarir bin ‘Athiyyah yang berduka atas kematian Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan menyebut-nyebut keagungannya.

حُمِّلْتَ أمراً عظيماً فاصطبرت له ¤ وقمت فيه بأمر الله يا عمرا

HUMMILTA AMRON ‘AZHIIMAN FASHTHOBARTA LAHU # WA QUMTA FIIHI BI AMRILLAAHI YAA ‘UMAROO. = Kau bebani dirimu dengan hal yang mulia, karenanya engkau bersabar dan kau tegakkan didalamnya sesuai perintah Allah, Oh… Umar!

Kategori:Bait 573-574 Tag:, ,
%d blogger menyukai ini: