Kaidah I’lal ke 5 » Harakah Dhammah wau atau ya’ di akhir kalimah diganti Sukun

إِذَا تَطَرَّفَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ وَكَانَتَا مَضْمُوْمَةً اُسْكِنَتَا نَحْوُ يَغْزُوْا أَصْلُهُ يَغْزُوُ وَيَرْمِيْ أَصْلُهُ يَرْمِيُ

Apabila Wau atau Ya’ menempati ujung akhir kalimah, dan ber-harakah dhammah, maka disukunkan. Contoh: يَغْزُوْا asalnya يَغْزُوُ dan يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ

Praktek I’lal:

يَغْزُوْ

يَغْزُوْ asalnya يَغْزُوُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Wau di ujung akhir kalimah ber-harakah dhammah, maka disukunkan menjadi يَغْزُوْ.

يَرْمِيْ

يَرْمِيْ asalnya يَرْمِيُ mengikuti wazan يَفْعُلُ . Ya’ di ujung akhir kalimah ber-harkah dhammah, maka disukunkan menjadi يَرْمِيْ.

Perhatian:

غَازٍ

غَازٍ asalnya غَازِوٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Wau diganti Ya’, karena jatuh sesudah harakah kasrah, maka menjadi غَازِيٌ, kemudan Ya’ disukunkan karena beratnya harkah dhammah atas Ya’ maka menjadi غَازٍيْ, kemudian Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin, maka menjadi غَازٍ

سَارٍ

سَارٍ asalnya سَارِيٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Ya’ disukunkan karena beratnya harakah dhammah atas Ya’ maka menjadi سَارٍيْ, kemudian Ya’ dibuang untuk menolak bertemunya dua mati yaitu Ya’ dan Tanwin, maka menjadi سَارٍ

اَوَاقٍ

اَوَاقٍ asalnya وَوَاقِيُ mengikuti wazan فَوَاعِلُ wau pada fa’ fi’il diganti Hamzah, karena kedua wau berkumpul dalam satu kalimah, maka menjadi اَوَاقِيْ. Kemudian Ya’ dibuang untuk meringankannya, maka menjadi اَوَاقِ. Dan didatangkanlah tanwin sebagai pengganti dari Ya’ yang dibuang, maka menjadi اَوَاقٍ.

  1. lukman
    29 Mei 2011 pukul 17:04

    Asalamualaikum,
    boleh minta keterangannya apa yang d maksud di mukkodar / di kira-kirakan itu<<?

  2. Kang Arif
    10 September 2011 pukul 16:04

    waalaikumsalam wr. wb. mukkodar/dikira-kirakan maksudnya dzohirnya lafadz tidak mengalami perubahan (tetap) namun dianggap telah mengalami perubahan dikarenakan adanya ‘amil yang masuk. wallahu a’lam

  3. 26 Oktober 2011 pukul 20:29

    assalamualaikum…..
    saya agak janggal pada i’lalnya lafadz غَازٍ asalnya غَازِوٌ mengikuti wazan فَاعِلٌ . Wau diganti Ya’, karena jatuh sesudah harakah kasrah, maka menjadi غَازِيٌ, kemudan Ya’ disukunkan karena beratnya harkah dhammah atas Ya’ maka menjadi غَازٍيْ, kok huruf za’ nya di kasroh tanwin, padahalkan tadinya cuma kasroh saja, tanpa ditanwin….alasannya apa akhi???makasih

    • Anonim
      5 Desember 2015 pukul 15:09

      izin blas…karena belum ada yang balas…
      sepengetahuan saya,,,
      huruf za’nya diberi tanwin sebab asalnya huruf ya’ dlomma tain,kemudian disukun,karna sukun tidak bisa di tanwin (sukun tain) maka jatuhlahlah tanwin itu pada hauruf za’,,,,,
      kurang lebihnya seperti itu,,,
      barangkali salah atau kurang tepat,mohon dibenarkan,,,,!!!

  4. 14 April 2013 pukul 16:53

    makasih atas materinya semoga bermanfaat bagi penerus agama islam dalam belajar kitabnya

  5. Anonim
    26 Januari 2015 pukul 10:22

    Bguz

  1. 7 November 2010 pukul 05:30
  2. 16 November 2012 pukul 13:18
  3. 4 Juni 2016 pukul 18:02

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: