Bab Naibul Fa’il

الْنَّائِبُ عَنِ الْفَاعِلِ

NAIBUL FA’IL

يَنُوْبُ مَفْعُوْلٌ بِهِ عَنْ فَاعِلِ ¤ فِيْمَا لَهُ كَنِيْلَ خَيْرُ نِائِلِ

Maf’ul bih menggantikan Fa’il di dalam semua hukumnya. Seperti contoh: “NIILA KHOURU NAA-ILI=anugerah terbaik telah diperoleh” .

KETERANGAN:

Naibul Fa’il adalah Isim yg dirofa’kan baik secara lafzhan atau mahallan, menggantikan dan menempati tempatnya fa’il yg dibuang dan fi’ilnya dibina’ Majhul. Baik isim yg menggantikan itu asalnya berupa Maf’ul bih atau serupanya semisal Zhorof, Masdar, Jar-majru dll.

Dengan demikian pembuangan Fa’il dalam hal ini menimbulkan dua keputusan:
1. Merubah Fi’ilnya ke bentuk Majhul
2. Menempatkan Pengganti Fa’il pada posisi Fa’il beriku hukum2nya sebagaimana telah disebutkan dalam Bab Faa’il– semisal harus Rofa’, harus berada setelah Fi’ilnya, sebagai subjek pokok kalimat, hukum ta’nits pada fi’ilnya, dll.

فَأَوَّلَ الْفِعْلِ اضْمُمَنْ وَالْمُتَّصِلْ ¤ بِالآخِرِ اكْسِرْ فِي مُضِيَ كَوُصِلْ

Dhommahkan huruf pertama Kalimah Fi’il (Mutlak, baik Madhi atau Mudhari yg dibentuk Majhul). Dan kasrohkan huruf yg bersambung dengan akhir (yakni, huruf sebelum akhir) pada Kalimah Fi’il Madhi seperti contoh: WUSHILA

وَاجْعَلْهُ مِنْ مُضَارِعٍ مُنْفَتِحَا ¤ كَيَنْتَحِي الْمَقُول فِيْهِ يُنْتَحَى

Dan jadikanlah huruf sebelum terakhir dari Fi’il Mudhari dengan berharkat Fathah, demikian seperti YANTAHII diucapkan menjadi YUNTAHAA.

KETERANGAN:

Telah disebutkan bahwa syarat Naa’ibul Faa’il adalah Fi’ilnya harus dibentuk “Mabni Majhul”. Caranya sebagai berikut:

1. Apabila Fi’il Madhi, maka huruf awal didhammahkan dan huruf sebelum akhir dikasrahkan. Contoh :

فُتِحَ بابُ الرزق
FUTIHA BAABUR-RIZQI = pintu rezki telah dibuka

شُرِبَ العسلُ
SYURIBA AL-‘ASALU = madu telah diminum

2. Apabila Fi’il Mudhari, maka maka huruf awal didhammahkan dan huruf sebelum akhir difat-hahkan. Contoh:

يُحترَمُ العالم
YUHTAROMU AL-‘AALIMU = orang alim dihormati

يُتَعلّم النحو
YUTA’ALLAMU ANNAHWU = ilmu Nahwu dipelajari

وَالْثَّانِيَ الْتَّالِي تَا الْمَطَاوعَهْ ¤ كَالأَوَّلِ اجْعَلْهُ بِلاَ مُنَازَعَهْ

Huruf kedua yang mengiringi Ta’ Muthowa’ah, jadikanlah seperti huruf yg pertama dengan tanpa pertentangan (yakni sama-sama dikarkati Dhommah).

وَثَالِثَ الَّذِي بِهَمْزِ الْوَصْلِ ¤ كَالأَوَّلِ اجْعَلَنَّهُ كَاسْتُحْلِي

Huruf ketiga dari fi’il yg ber-hamzah washal, juga jadikanlah seperti huruf yg pertama (yakni sama-sama dikarkati Dhommah) Seperti contoh: USTUHLIY.

KETERANGAN:

Lanjutan dari bait sebelumnya tentang menjadikan Fi’il Mabni Majhul:

Apabila kalimah fi’il diawali dengan Ta’ Muthowa’ah atau Ta’ zaidah semisalnya, maka huruf pertama dan kedua diharkati Dhommah. Contoh:

تُعُلّم النحوُ
TU’ULLIMA ANNAHWU = ilmu nahwu dipelajari

Dan Apabila kalimah fi’il diawali dengan Hamzah Washal, maka huruf pertama dan ketiga diharkati Dhommah. Contoh:

اُسْتُحْلي الشراب
USTUHLIY ASY-SYAROOBU = minuman didapati manis

وَاكْسِرْ أَوَ اشْمِمْ فَاثُلاَثِيَ أُعِلّ ¤ عَيْناً وَضَمٌّ جَا كَبُوعَ فَاحْتُمِلْ

Harkatilah Kasroh atau dibaca Isymam terhadap FA’ Fi’il Tsulatsi Mu’tal ‘Ain. Adapun Dhommah datang semisal “BUU’A” demikian dima’afkan.

KETERANGAN:

Kelanjutan dari bait sebelumnya perihal membuat Fi’il Mabni Majhul:

Apabila berupa Fi’il Madhi tiga huruf (Tsulatsi) yg ‘ain fi’ilnya terdiri dari huruf illat baik wawu atau ya (Mu’tal ‘Ain), maka boleh dibaca tiga jalan:

1. Dibaca Kasrah, huruf illat digant ya’, contoh:
صيم رمضان
SHIIMA ROMADHOONU = Bulan Ramadhan dipuasai (Bulan Ramadhan dijadikan waktu berpuasa)

2. Dibaca Isymam, suara harkat antara Dhommah pendek dan Kasroh panjang dengan berurutan secara cepat. Contoh “QUIILA” dan “GHUIIDHA” bacaan qiro’ah sab’ah pada ayat berikut:

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ
Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan

3. Dibaca Dhammah (bacaan paling dha’if), huruf illat diganti wawu seperti BUU’U. contoh dalam syair:

ليتَ وهل ينفع شيئاً ليتُ # ليتَ شباباً بوع فاشتريت

وَإِنْ بِشَكْلٍ خِيْفَ لَبْسٌ يُجْتَنَبْ وَمَا لِبَاعَ قَدْ يُرَى لِنَحْو حَبّ

Jika ditakuti ada kesamaran pada suatu syakal/corak, maka syakal demikian harus dihindari. Dan corak yg ada pada lafal “BAA’A” terkadang dijadikan pertimbangan untuk lafazh semisal “HABBA”.

KETERANGAN:

Perihal corak bacaan antara Isymam , Dhommah , dan Kasroh pada kalimah Fi’il Madhi Tsulatsi Mu’tal ‘Ain yg musnad pada Dhamir TA’ Mutakallim, TA’ Mukhotob atau Nun Niswah, ketika dibentuk MABNI MAJHUL.

“JIKA DITAKUTI ADA KESAMARAN PADA SUATU SYAKAL, MAKA SYAKAL DEMIKIAN HARUS DIHINDARI” (Ibnu Malik).

Semisal “BI’TU” ketika dibentuk Mabni Majhul , huruf pertama boleh dibaca Dhommah atau Isymam: “BU’TU” atau “BUI’TU”. Jangan dibaca Kasroh: “BI’TU” karena takut terjadi kesamaran antara mana yg Mabni Ma’lum dan mana yang Mabni Majhul.

Dan semisal “SUMTU” ketika dibentuk Mabni Majhul , huruf pertama boleh dibaca Kasroh atau Isymam: “SIMTU” atau “SUIMTU”. Jangan dibaca Dhommah : “SUMTU” karena takut terjadi kesamaran antara mana yg Mabni Ma’lum dan mana yang Mabni Majhul.

Demikian menurut Mushannif tentang keharusan menghindari dari kesamaran syakal, dan beliau menjelaskan dalam Syarah Al-Kafiyah bahwa pendapatnya tidaklah bertentangan dengan pendapat Imam Sibawaihi yg membolehkan secara mutlak penggunaan tiga corak bacaan diatas. Imam Sibawaihi berpendapat bahwa mereka dapat membedakannya secara takdiran antara Mabni Fa’il dan Mabni Maf’ul baik Isim atau Fi’il seperti lafal “MUKHTAARUN” dan “TUDHOORRO”. Oleh karenanya menghindari Iltibas/kesamaran dalam hal ini tidaklah wajib.

Apabila kalimah Fi’il Madhi Tsulatsi berupa Bina’ Mudho’af, semisal ‘ADDA, maka ketika dibentuk mabni Majhul boleh dibaca dengan tiga corak bacaan seperti BI’TU, yakni yang paling rojih dibaca Dhommah menjadi ‘UDDA, atau dibaca Isymam UIDDA ,atau dibaca kasroh ‘IDDA.

وَمَا لِفَا بَاعَ لِمَا الْعَيْنُ تَلِي فِي اخْتَارَ وَانْقَادَ وَشِبْهٍ يَنْجَلِي

Hukum bacaan (Dhommah, Kasroh, Isymam) bagi Fa’ Fi’il lafaz BAA’A, berlaku juga bagi Huruf sebelum ‘Ain Fi’il pada lafaz IKHTAARO dan INQAADA dan lafaz yg nampak serupanya.

KETERANGAN:

Lanjutan dari bet sebelumnya – Apabila Fi’il Madhi yg mu’tal ‘Ain tsb mengikuti wazan IFTA’ALA atau INFA’ALA, maka ketika dibentuk Mabni Majhul, huruf sebelum ‘Ain Fi’ilnya boleh dibaca DHOMMAH, KASRAH dan ISYMAM. Lebih baik dibaca Kasrah apabila Mu’tal ‘Ain Yaiy dan dibaca Dhommah apabil Mu’tal ‘Ain Wawiy.

Contoh Mu’tal ‘Ain yang Wawiy:

انقاد الطلاب للمعلم
INQAADA AT-THULLABU LIL MU’ALLIMI = murid-murid itu patuh pada gurunya

Dibentuk Mabni Majhul yg terbaik dibaca Dhommah :

انقود للمعلم
UNQUUDA LIL MUA’ALLIMI = gurunya itu dipatuhi

atau dibaca Kasroh:

انقيد للمعلم
INQIIDA LIL MUA’ALLIMI = gurunya itu dipatuhi

Atau dibaca Ismam

انقود للمعلم
UNQUIIDA LIL MUA’ALLIMI = gurunya itu dipatuhi

============

Contoh Mu’tal ‘Ain yang Yaiy:

اختار المعلم علياً
IKHTAARO AL-MU’ALLIMU ‘ALIYYAN = Guru itu memilih Ali

Dibentuk Mabni Majhul yg terbaik dibaca Kasroh :

اختير عليٌّ
IKHTIIRO ‘ALIYYUN = Ali dipilih

atau dibaca Dhommah:

اختور عليٌّ
UKHTUURO ALIYYUN = Ali dipilih

Atau dibaca Ismam

اختير عليٌّ
UKHTUIIRO ALIYYUN = Ali dipilih

وقابِِلٌ مِن ظَرفٍ أو مِن مَصدَرِ أو حَرفِ جَرٍّ بِنِيابَةٍ حَرِي

Lafazh yang dapat menerima pergantian (sebagai Naibul Fa’il) yg berupa Zhorof, Masdar atau Jar-Majrur, adalah layak (dijadikan Naibul Fa’il).

KETERANGAN:

Disebutkan pada bait pertama bahwa Maf’ul Bih menggantikan Fa’il yg tidak dihadirdkan, yakni sebagai Naibul Fa’il. Selain Maf’ul Bih ada lagi lafazh serupanya yg layak dijadikan Naibul Fa’il, yaitu Zhorof, Masdar dan Jar-Majrur, dengan ketentuan memenuhi syarat sebagai pengganti:

Syarat lafazh ZHOROF yang layak dijadikan Naibul Fa’il adalah harus Mutashorrif dan Mukhtash:

1. MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari lafazh yg khusus dinashobkan sebab Zhorfiyah saja semisal “SAHARO”, dan atau boleh majrur hanya oleh huruf MIN saja semisal “‘INDAKA”.
Sebab kalau dijadikan Naibul-Fa’il, maka akan menjadi Rofa’ dan ini menyalahi ketentuan Bahasa Arab yg telah memberlakukan khusus semisal pada dua lafazh tersebut diatas.

2. MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, atau sebagainya.

Contoh:
صيم يومُ الخميس
SHIIMA YAUMUL KHOMIISI = hari kamis dipuasakan (puasa kamis)
Lafazh YAUMU mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab mudhaf.

جُلس وقتٌ طويل
JULISA WAQTUN THOWIILUN = waktu yg panjang didudukkan (duduk lama)
Lafazh WAQTUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati.

صيم رمضانُ
SHIIMA ROMADHOONU = bulah Ramadhan dipuasakan (puasa ramadhan)
Lafazh ROMADHOONU mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab ‘Alamiyyah/Isim ‘Alam.

=====

Syarat lafazh MASDAR yang layak dijadikan Naibul Fa’il, juga harus Mutashorrif dan Mukhtash:

1. MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari lafazh yg khusus dinashobkan sebab Masdariyah saja semisal “SUBHAANALLAHI” dan “MA’AADZALLAAHI”.
Sebab kalau dijadikan Naibul-Fa’il, maka akan menjadi Rofa’ dan ini menyalahi ketentuan Bahasa Arab yg telah memberlakukan khusus semisal pada dua kalimat tersebut diatas.

2. MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, atau sebagainya, yg dapat menunjukkan bilangannya atau jenisnya.

Contoh:
قرئ قراءةٌ صحيحة
QURI’A QIROO’ATUN SHOHIIHATU = bacaan yg benar telah dibacakan
Lafazh QIROO’ATUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati yg menunjukkan jenisnya.

ضُرب ضربٌ واحد
DHURIBA DHORBUN WAAHIDUN = satu pukulan telah dipukulkan
Lafazh DHORBUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab disifati yg menunjukkan bilangannya.

جُلس جلوسُ الخائف
JULISA JULUUSUL-KHOO’IF = duduknya orang takut telah didudukkan (duduk gelisah)
Lafazh JULUUSUN mutashorrif dan menjadi mukhtash sebab mudhaf yg menunjukkan jenisnya.

=====

Syarat JAR-MAJRUR yang layak dijadikan Naibul Fa’il adalah huruf JAR MUTASHORRIF, MAJRUR MUKHTASH dan JAR GHAIRU TA’LIL

1. JAR MUTASHORRIF (Dapat berubah-rubah). Yakni, bukan terdiri dari huruf Jar yg khusus men-Jar-kan lafazh tertentu, semisal “MUDZ/MUNDZU” khusus menjarkan pada isim zaman, “RUBBA” khusus menjarkan pada isim nakirah, “HURUF QOSAM” khusus menjarkan pada lafaz sumpah. Dan sebagainya.

2. MAJRUR MUKHTASH (tertentu), yakni bukan terdiri dari lafazh majrur yg MUBHAM/samar. Karena mengakibatkan kalam menjadi tidak mufid, cara agar menjadi Mukhtash/tertentu adalah dengan dimudhafkan, disifati, dimakrifatkan atau sebagainya.

3. JAR GHAIRU TA’LIL (sebab/alasan), yakni bukan terdiri dari huruf Jar yg menunjukkan ta’lil/sebab alasan, semisal “huruf LAM”, “huruf BA'”, “MIN” oleh karenanya menurut jumhur nuhat Maf’ul Liajlih tidak layak dijadikan Naibul Fa’il.

Contoh:
جُلس في المسجد الجامع
JULISA FII AL-MASJIDIL-JAAMI’ = masjid jami’/masjid yg besar diduduki
Lafazh FII huruf jar yg mutashorrif, lafazh AL-MASJIDI mukhtash sebab disifati. JAR-MAJRUR mahal rofa’ sebab Naibul Fail, atau MAJRUR mahal rofa’ dan huruf JAR zaidah.

فُرح بانتصار المسلمين
FURIHA BI INTISHOORI AL-MUSLIMIINA = kemenangan Muslimin digembirakan
Lafazh BI huruf jar yg mutashorrif, lafazh INTISHOORI mukhtash sebab mudhof. JAR-MAJRUR mahal rofa’ sebab Naibul Fail, atau MAJRUR mahal rofa’ dan huruf JAR zaidah.

ولا ينوبُ بعضُ هَذِي إن وُجِدْ في اللفظِ مَفعولٌ بِهِ وقَد يَرِدْ
وباتِّّفاقٍ قَد ينوبُ الثَّانِ مِن بابِ كَسا فيما التِباسُهُ أُمِن
في بابِ ظَنَّ وأَرَى المَنعُ اشتَهَر ولا أرى مَنعَاً إذا القَصدُ ظَهَر
وَمَا سِوَى النَّائِبِ مِمَّا عُلِّقَا بِالْرَّافِعِ النَّصْبُ لَهُ مُحَقَّقاً
******************

  1. 21 September 2011 pukul 22:24

    terima kasih telah berbagi…………….
    saya harap untuk ndhom yang belum diterjemehkan bisa dilanjutkan terjemahnya……
    dan di tunggu untuk terjemahan nadhom yang lain sampai khatam………………………..

    • 15 November 2011 pukul 17:22

      Insya Allah… alon-alon asal kelakon… syukron komennya..

      • Anonim
        24 November 2016 pukul 09:15

        itu bet alfiyah atau yaqulu??

    • Anonim
      25 April 2014 pukul 16:36

      Penulisan kt2 nya ada yg kurang hurufnya mohon d teliti kembali

  2. 17 November 2011 pukul 15:10

    para admin alhamdulillah , q udah punya kitabnya tapi berbahasa jawa….ada yng paham ada yang ga paham jd q ya tetep mengikuti dan mengunjungi selalu lewat , lewat link ini. makasih ya…

  3. wahyudi yudi
    29 Maret 2012 pukul 12:10

    makasih semua, terjemah berikutnya tak tunggu tadz

  4. 2 Oktober 2012 pukul 14:28

    Kenapa selain fi’il madhi dan mudhori’ tidak bisa ?

  5. 13 April 2013 pukul 08:01

    ASSALAMU’ALAIKUM,,,,
    KLO BISA DI BUAT JUGA KATA MUTIARA DARI BAIT ALFIYYAH NYA,,,,DI TUNGGU

  6. 31 Agustus 2013 pukul 20:03

    Salam Kenal, aGan..
    Ana dari Pasuruan Jawa Timur..
    Ana terpesona dengan blog Agan yang aneh (daripada yang lain), tapi sangat membantu..
    Boleh aGan, ilmunya Ana tularkan ke murid-murid disini..???

    Bleh tahu,, Agan alumni pesantren mana..??

  7. Anonim
    12 September 2013 pukul 22:32

    setahu ana agn ini alumni banyuanyar pamekasan

    • 24 Oktober 2013 pukul 10:58

      Banyuanyar itu kan, letaknya di Sampang Kota…???

  8. manunggale kaula ing gusti
    6 Desember 2013 pukul 11:23

    punten ajang klo bleh saya mw berbagi sdikit terjemah bet yg blum di artiin.. :
    وﻻ ينوب بعض هزا ان وجر …..الخ
    “dan tdk di perkenan kan menjdikan sebgian dri jer-majru,dzorof stau masdar sebagai naibul fa’i jika sudah di temukan lafad maf’ul bih yg bisa di jadikan na’bul fa’il, namun terkadang datang jer-majrur,dzorof atau masdar menjadi berkedudukan naibul fail walaupun ada maf’ul bih yg bisa di jadikan naibul fa’il…

  9. 28 November 2014 pukul 12:57

    suka nahu shorof tapi ane kagak bisa-bisa, jadinya pusing juga

  10. Anonim
    11 Februari 2015 pukul 00:20

    alhamdulillah sangat membantu….makasi bxk ..jazakallohu….

  11. Anonim
    24 Maret 2015 pukul 19:15

    maaf ustadz.. untuk semua keterangan di atas,, refrensinya kitab apa ya…. mhon infonya

  12. Imron fauzi
    25 April 2015 pukul 17:44

    D mana ada kemauan d situ ada jalan ,di mana ingin berbuat kebaikan, pasti allah akan menunjukkan…

  13. 30 Oktober 2015 pukul 10:26

    internet gudang y ilmu,,bg yg positif mnggunakn y.

  14. Sri wahyuni sulistyanawati
    15 Agustus 2016 pukul 15:36

    Seharusnya beserta siapa yg meriwatkannya

  15. rizki
    14 Oktober 2016 pukul 10:30

    ingrob fi’il madi mudmar ada gk kak ?

  1. 16 November 2012 pukul 12:52

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: