Tamanni dan Taroji ليت هل لو لعل (laita, hal, law, la’alla)

وأمَّا التمَنِّي: فهوَ طَلَبُ شيءٍ محبوبٍ، لا يُرْجَى حصولُه لكونِه مُستحيلًا أوْ بعيدَ الوقوعِ، كقولِه:

Adapun disebut Tamanni adalah: menuntut terjadinya sesuatu yang diidamkan yang tidak diharap keberhasilannya karena mustahil terjadi atau sulit tercapai, contoh mustahil terjadi, dalam sya’ir :

أَلاَ ليتَ الشبابَ يَعودُ يومًا = فأُخْبِرُه بما فَعَلَ الْمَشيبُ

Ketahuilah…. Sekiranya masa muda itu kembali suatu hari, maka akan kuceritakan sesuatu yg diperbuat di masa tuanya (alias kepahitan2 dan penyesalan).

وقولِ الْمُعسِرِ:

Contoh perkataan orang bangkrut (tamanni yang sulit tercapai):

(ليتَ لي أَلْفَ دينارٍ)

sekiranya aku mempunyai uang seribu dinar

وإذا كان الأمْرُ متوَقَّعَ الحصولِ فإنَّ تَرُقُّبَه يُسَمَّى تَرَجِّيًا، ويُعبَّرُ عنه بـ (عسى) أو(لعلَّ)، نحوُ:

Apabila perkara itu dimungkinkan terjadi, maka penantian keberhasilannya disebut taroji, dan diucapkan dengan kata ASAA atau LA’ALLA contoh:

{لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا}.

Barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru

وللتَّمَنِّي أربَعُ أدواتٍ: واحدةٌ أصليَّةٌ، وهيَ (ليتَ)، وثلاثةٌ غيرُ أصليَّةٍ، وهي: (هل)، نحوُ: {فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا}.

Tamanni mempunyai empat Adawat (perangkat/lafazh yg menunjukkan tamanni): satu adat sebagai yang asli yaitu: LAITA. Dan tiga adat bukan yg asli yaitu:
1. HAL
Contoh: FA HAL LANAA MIN SYUFA’AA FA YASYFA’UU LANAA
maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami

و (لو)، نحوُ: {فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ}،

2. LAW
Contoh: FA LAW ANNA LANAA KARROTAN FA NAKUUNA MINAL-MU’MINIIN
maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman

و(لعلَّ)، نحوُ قولِه: أَسِرْبَ الْقَطَا هلْ منْ يُعِيرُ جَناحَهُ = لَعَلِّي إلى مَنْ قدْ هَوِيْتُ أَطِيرُ

3. LA’ALLA
Contoh sya’ir: A SIRBAL-QATHAA HAL MAN YU’IIRU JANAAHA HU # LA’ALLIY HAWIITU ATHIIRU.
Hai.. sekawanan burung! Adakah kiranya diantara kalian yg sudi meminjamkan sayapnya, semoga aku bisa terbang sampai pada seseorang yg sangat aku cintai .

ولاستعمالِ هذه الأدواتِ في التَّمنِّي يُنْصَبُ المضارعُ الواقعُ في جوابِها.

Penggunaan adawat ini (tiga adat yg tidak asli) di dalam tamanni yaitu dinashabkannya fi’il mudhari yang jatuh sebagai jawabnya. (demikian juga LA’ALLA menurut ulama bashrah. Sedangkan menurut ulama kufah nashabnya fi’il mudhari’ tsb tidaklah menjadi dalil atas tamanni, karena mereka juga membolehkan nashabnya fi’il mudhari pada jawab taroji).

  1. 10 September 2011 pukul 22:40

    wuaaaah ya Allah..alhamdulillaaah senangnya dapet lagi… hampir lupa udah lama g dibuka kitabnya T_T
    makasih ya udah merefresh ingatan..:))) senaaaaaang sekaliiiii…

  2. Anonim
    4 Juni 2013 pukul 17:14

    gimana caranya membedakan lau berma’na tamanni dengan lau yang lainnya??

  3. 23 Oktober 2013 pukul 04:36

    Senangnya mendalami ilmu agama dan perangkatnya dengan membuka website, sangat memudahkan .. ! dari pada membuka kitab kuning dan sebagainya

  4. Anonim
    6 Maret 2015 pukul 20:49

    cara mentaroji’kan tamanni itu gmn?

  5. Anonim
    17 Mei 2016 pukul 11:35

    ga sengaja baca ini lagi inget2 tentang kalimat pengandaian, hatur nuhun pisan

  6. 14 Agustus 2016 pukul 09:40

    bahasan yang bagus.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: