Arsip

Posts Tagged ‘Isim tidak Munsharif’

Pengertian Isim Tafdhil dan Syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 496-497

2 Februari 2012 8 komentar
–·•Ο•·–

أَفْعَلُ التَّفْضِيلِ

BAB AF’ALU AT-TAFDHIL

صُغْ مِنْ مَصُوغ مِنْهُ للتَّعَجُّبِ  ¤ أَفْعَلَ للتَّفْضِيلِ وَأْبَ اللَّذْ أبِي

Bentuklah lafazh yang boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub kepada bentuk Isim Tafdhil “AF’ALA”. dan tinggalkan lafazh yang tidak diperbolehkan. 

ومَا بِهِ إلى تَعَجُّبٍ وُصِل  ¤ لِمَانِع بِهِ إلى التَّفْضِيلِ صِل

Suatu yang disambung sebagai perantara pembentukan ta’ajjub karena ada hal yang tidak memperbolehkannya, maka sambungkan juga kepada pembentukan Isim Tafdhil (dengan alasan yang sama) 

–·•Ο•·–

Wazan Af’alut-Tafdhil “AF’ALA” adalah kalimah Isim karena bisa dimasuki oleh tanda-tanda kalimah Isim. Termasuk Isim yang tidak Munsharif karena menetapi dua illah: Washfiyah dan Wazan Fi’il. Isim Tafdhil tersebut tidak akan munsharif kecuali Hamzahnya dibuang dalam banyak penggunaannya yaitu lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN”. Terkadang ada juga kalimah lain dari Isim Tafdhil yang berlaku pembuangan Hamzah seperti keduanya, yaitu lafazh “AHABBU” menjadi “HABBUN” seperti dalam syahid syair bahar basith berikut:

وزادني كلفا بالحب أن منعت # وحب شيء إلى الإنسان ما منعا

WA ZAADANIY KALAFAN BIL-HUBBI AN MANA’AT # WA HABBU SYAI’IN ILAL-INSAANI MAA MUNI’AA

Penolakanmu menambah cintaku semakin menyala-nyala # suatu yang lebih dicintai oleh manusia adalah suatu yang ditolak.

Terkadang juga lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN” dipergunakan bentuk aslinya yaitu “AKHYARU” dan “ASYARRU”.

Contoh sebagian Qiro’ah membaca Ayat berikut :

مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشَرُّ

MANIL-KADZDZAABUL-ASYARRU = siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi lebih buruk. (QS. Al-Qamar:26)

dan contoh syahid syair dalam penggalan syair bahar Rojaz berikut:

بلال خيرُ الناسِ وابن الأخير

BILAALU KHAIRUN-NAASI WABNUL-AKHYARI = Bilal manusia terbaik dan putra orang terbaik.

Af’al At-Tafdhil yaitu Isim Musytaq yang berwazan AF’ALA. Termasuk bagian dari Isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya. Umumnya menunjukkan kepada dua hal yang mempunyai hubungan sifat yang mana salah satunya diunggulkan dari yang lainnya.

Contoh:

العلم أفضل من المال

AL-‘ILMU AFDHALU MINAL-MAALI = Ilmu lebih utama dari harta.

  • Lafazh AL-‘ILMU = yang diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL
  • Lafazh AL-MAALI = yang tidak diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL ‘ALAIH atau disebut AL-MAFDHUL.
  • Lafazh AFDHALU = Wazan AF’ALA yang menunjukkan Tafdhil atau Isim Tafdhil, biasanya diperuntukkan untuk sifat Tafdhil yang keberadaannya selalu tetap dan eksis yakni tidak sekali-kali.

Af’al At-Tafdhil musytaq dari asal Mashdar Fi’il, dibuat dengan bentuk wazan AF’ALA untuk menghasilkan makna tafdhil/melebihkan. Disyaratkan lafazh yang boleh dibuat Isim Tafdhil disini adalah berasal dari Fi’il-Fi’il yang secara langsung boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub, yakni Fiil-Fi’il yang mencukupi syarat dibuat Ta’ajjub yang telah diterangkan pada Bab Ta’ajjub, yaitu:

1. Tsulatsi
2. Mutasharrif
3. Dapat menerima hal perlebihan
4. Tamm
5. Mutsbat
6. Tidak punya bentuk Sifat dengan wazan AF’ALA
7. Mabni Ma’lum

Sebagaimana Fi’il yang tidak boleh dijadikan shighat Fi’il Ta’ajjub karena tidak mencukupi syarat, maka tidak boleh juga untuk dijadikan shighat Isim Tafdhil. Dan Fi’il yang tidak mencukupi syarat tersebut boleh dijadikan sebagai penunjukan Tafdhil dengan sebab persambungan lafazh perantara yaitu lafazh ASYADDU, contoh:

بَحْثُ خالد أشدُّ اختصاراً من بحث محمد

BAHTSU KHAALIDIN ASYADDU IKHTISHAARAN MIN BAHTSI MUHAMMADIN = Pembahasan Khalid lebih ringkas dari pembahasan Muhammad.

Lafazh IKHTISHAARAN = Isim Manshub dii’rob sebagai Tamyiz jatuh sesudah lafazh perantara untuk makna ta’ajjub yaitu lafazh ASYADDU.

Isim tidak munsharif/ghair munawwan, jar dengan fathah syarat tidak mudhaf atau tanpa AL » Alfiyah Bait 43

5 November 2010 11 komentar
◊◊◊

وَجُــرَّ بِالْفَتْحَـةِ مَـالا يَنْصَرِفْ ¤ مَالَمْ يُضَفْ أَوْيَكُ بَعْدَ ألْ رَدِفْ

Jar-kanlah olehmu…! dengan tanda Fathah terhadap Isim yang tidak munsharif, selagi tidak dimudhafkan atau tidak berada setelah AL dengan mengekorinya


Diterangkan dalam Bait ini, bagian kedua dari Isim yang di-i’rab dengan harakat pengganti dari harakat asal. Yaitu Isim yang tidak Munsharif atau Isim ghair Munawwan atau isim yang tidak ditanwin.

Definisi Isim tidak munsharif adalah: setiap kalimah  isim mu’rab yang menyerupakan kalimah fi’il didalam hal terdapatnya dua illat dari sembilan illat, atau terdapat satu illat yg menempati maqom dua illat.

Contoh lafazh terdapat dua illat أَخْمَدُ “Ahmad” (Alami dan Wazan Fi’il) عَطْشَانُ “yg haus” (Sifat dan Ziadah Alif-Nun). contoh lafazh satu illat مَسَاجِدَ “Masjid-masjid” (bentuk/shighat Muntahal Jumu’).

Mengenai penyebab yang mencegah ditanwinkannya kalimah isim, dalam hal ini ada bab khusus yang akan diterangkan secara jelas disana –insyaAllah–. sedangkan dalam Bait ini, dimaksudkan mengenai hubungan dengan tanda I’rabnya. Rofa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Nashab dengan Fathah (i’rab asal) dan Jar dengan Fathah (menggantikan i’rab asal Kasrah) contoh:

َجَاءَ أَحْمَدُ رَأَيْتُ أَحْمَدَ مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ

Ahmad datang, Aku melihat Ahmad, Aku berjumpa dengan Ahmad.

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا ِللهِ حَنِيفًا

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya

Sebagai pengecualian tetap Jar dengan tanda  i’rab asal atau Kasrah,  bilamana Isim tidak munsharif/ghair munawwan tersebut berada pada dua posisi :

(1). Menjadi Mudhaf. contoh:

مَرَرْتُ بِأَحْمَدِكُمْ

Aku berjumpa dengan Ahmad-mu

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Tapi jika posisinya sebagai Mudhaf Ilaih, maka tetap berlaku tanda irab pengganti Jar dengan Fathah. contoh

هَذَا كِتَابُ أَحْمَدَ

Ini kitab Ahmad

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).

(2).  Dimasuki huruf AL (ال). contoh:

سَأَلْتُ عَنْ اْلأَفْضَلِ مِنَ الطُّلاَّبِ

Aku bertanya tentang siswa terbaik dari para siswa

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.

Kesimpulan pembahasan Bait:

Jarkanlah dengan Fathah sebagai pengganti dari i’rab asal Kasrah, terhadap isim yang tidak munsharif/ghair munawwan dengan syarat tidak mudhaf atau tidak dimasuki oleh AL yang mubasyaroh bertemu langsung tanpa pemisah.

%d blogger menyukai ini: