Arsip

Posts Tagged ‘Asmaus Sittah’

Aksen Bahasa Arab Untuk Lafazh اب، أخ، حم dan هن menghasilkan I’rob Itmam, Naqsh dan Qashr » Alfiyah Bait 29-30

9 Oktober 2010 1 komentar

أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ ¤ وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤ وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.

Abun, Akhun, Hamun dan Hanu (اب، أخ، حم dan هن), termasuk golongan Asma al-Sittah yang berlaku tanda I’rob: Rofa’ denga Wawu, Nashob dengan Fathah dan Khofadh/Jarr dengan Ya’, sebagaimana I’rob Dzu dan Famun yang telah disebutkan pada Bait sebelumnya.

Syarah Alfiyah, Dalilus Salik

I’RAB ITMAM, QASHR ATAU NAQSH UNTUK (اب، أخ، حم)

Menurut lughoh/logat/aksen yang masyhur dikalangan orang Arab, menjadikan tanda I’rab Asmaus-sittah untuk lafazh (اب، أخ، حم) terkenal dengan di-i’rab Itmam (Sempurna, menyertakan huruf illah (و-ا-ي) sebagai tanda I’rabnya).

Contoh:

هَذَا أَبُوْهُ وَأَخُوْهُ وَحَمُوْهَا

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

مَرَرْتُ بِأَبِيْهِ وَأَخِيْهِ وَحَمِيْهَا

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Selanjutnya Ibnu Malik mensyairkan dalam Bait Syairnya “Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.” Menunjukkan ada dua aksen lagi untuk ketiga Kalimah dari Asmaus-Sittah tsb (اب، أخ، حم).

Pertama: Naqsh (cacat/kurang) yaitu dengan membuang wawu, alif dan ya’ atau dengan di-irab harakah zhahir.

Contoh:

هَذَا أَبُهُ وَأَخُهُ وَحَمُهَا

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

رَأَيْتُ أَبَهُ وَأَخَهُ وَحَمَهَا

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

مَرَرْتُ بِأَبِهِ وَأَخِهِ وَحَمِهَا

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Sebagaimana Syair Arab oleh Ru’bah bin Ajjaj dalam bahar rojaz musaddas:

بِأَبِهِ اقْتَدَى عَدِىٌّ في الْكَرَمْ ¤ وَمَنْ يُشَابِهْ أَبَهُ فَمَا ظَـلَمْ

Shahabah Adi (Shahabah Nabi, Adi bin Hatim ra.) mengikuti jejak ayahnya dalam hal kemuliaan. Maka siapa saja yg mengikuti jejak ayahnya, ia tidak zhalim.

Aksen/logat seperti pada contoh syair diatas jarang ditemukan untuk lafazh (اب، أخ، حم) artinya jarang di-I’rab Naqsh.

Kedua: Qashr (ringkas) yaitu tetap dengan tanda Alif baik pada Rofa’, Nashab dan Jarnya.

Atau semua I’rabnya dikira-kira atas Alif dan disebut I’rab Qashr. Sebagaimana I’rab untuk isim-isim Maqshur. Aksen seperti ini, dikalangan orang Arab (tepatnya oleh Bani Harits, Bani Khats’am dan Bani Zubaid) lebih masyhur dipakai daripada I’rab Naqsh.
Contoh:

هَذَا أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

مَرَرْتُ بِأَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Sebagaiman disebutkan dalam Syair Arab yang juga berbahar rojaz :

إِنَّ أَبَـاهَــا وَأَبَـا أَبَـاهَــا ¤ قَدْ بَلَغَا فِي المَجْدِ غَايَتَاهَا

Sesungguhnya Bapaknya dan bapak bapaknya (leluhurnya), benar-benar telah sampai pada batas kemuliaannya.

I’RAB NAQSH ATAU ITMAM UNTUK (هن )

Sedangkan untuk lafazh Hanu (هن), maka yang fasih adalah dengan tanda I’rab harakah secara zhahir. Sebagaimana dalam Bait disebutkan “Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik” maksudnya untuk lafazh Hanu lebih baik di-I’rab Naqsh (Cacat/kurang, tanpa menyertakan huruf illah (و-ا-ي) sebagai tanda I’rabnya) Contoh:

هَذَا هَنُ زَيْدٍ وَرَأَيْتُ هَنَ زَيْدٍ وَمَرَرْتُ بِهَنِ زَيْدٍ

Ini anunya Zaid, aku melihat anunya Zaid, aku lewat berpapasan dengan anunya Zaid.

هن (hanu) sebutan/kinayah untuk suatu yg jelek menyebutnya, ada mengartikan kemaluan, ada juga mengartikan sosok manusia dsb, tergantung konteks kalimat. Contoh Lafadz Hanu yg terdapat dalam Hadits, Rosulullah saw. Bersabda:

مَنْ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِليَّةِ فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا

Barang siapa bangga menisbatkan/menjuluki dirinya dengan penisbatan Jahiliyah, maka gigitkanlah ia pada anunya bapaknya (istilah Indonesia: kembalikan ke rahim ibunya). Dan janganlah kalian memanggil dengan julukan itu!.

Contoh di-I’rob Itmam yang jarang dipakai untuk lafazh Hanu:

هَذَا هَنُوْهُ وَرَأَيْتُ هَنَاهُ وَنَظَرْتُ إلَى هَنِيْهِ

Ini Anunya. Aku melihat Anunya. Aku memandang pada Anunya.

Pendapat Imam Abu Zakariya Al-Farra’ beliau mengingkari terhadap kebolehan I’rab Itmam untuk lafazh “Hanu”, namun ini ditangkis oleh hujah Imam Sibawaehi dengan hikayah orang-orang Arab yang meng-itmamkan lafazh “Hanu” tsb. Demikian juga hujah para Ulama nahwu lain yang memelihara terhadap aksen Bahasa Arab tentang Hanu dengan di-Itmam.

Kesimpulan pembahasan: bahwa lafazh (اب، أخ، حم) terdapat tiga aksen/logat. Yang paling masyhur adalah di-I’rab Itmam, kemudian di-I’rab Qashr, dan terakhir paling jarang digunakan dii’rab Naqsh. Dan untuk lafazh (هن) terdapat dua aksen/logat, paling masyhur dengan I’rab Naqsh dan paling jarang dii’rab Itmam.

Syarat Dzu (ذو) & Famun (فم) yang tergolong pada Asmaus-Sittah » Alfiyah Bait 28

5 Oktober 2010 5 komentar

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤ وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

Syarah Alfiyah, Audhahul Masalik - Ibnu Hisyam

Termasuk pada Asmaus-Sittah atau Isim-isim yang tanda rafa’nya dengan wawu (و), tanda nashabnya dengan alif (ا) dan tanda jar-nya dengan ya’ (ي),  yaitu Dzu (ذو) dan Famun (فم).

Persyaratan lafazh Dzu (ذو) yang tergolong pada Asmaus-Sittah adalah Dzu (ذو) yg difahami makna Shahib/الصاحب (Si empunya/pemilik). Contoh:

جَائَنِيْ ذُوْ مَالٍ

Si Hartawan datang kepadaku.

وَاللهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

Dan Allah mempunyai karunia yang besar

Itulah maksud dalam Bait Syair diatas “adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib” untuk membedakan dengan Dzu (ذو) Isim Maushul (sering digunakan oleh kaum Thayyi’) karena Dzu (ذو) Isim Maushul ini, tidak mempunyai makna si pemilik, tapi ia memiliki makna seperti الذي . hukum Dzu Isim Maushul ini Mabni. Artinya tetap dalam satu bentuk ذو baik keadaan rafa’, nashab dan jar-nya. Contoh:

جَاءَنِيْ ذُوْ قَامَ , رَأيْتُ ذُو قَامَ , مَرَرْتُ بِذُو قَامَ

Dia yang berdiri mendatangiku, Aku melihat dia yang berdiri, Aku bertemu dengan dia yang berdiri.

Sebagaimana contoh dalam syair arab

فَإِمَّـا كِرَامٌ مُوسِرُونَ لَقِيتُـهُمْ ¤ فَحَسْبِيَ مِنْ ذُو عِنْدَهُمْ مَا كَفَانِيَا

Adapun mereka yang mulia lagi mudah hidupnya (kaya), bilamana aku menemuinya, maka cukuplah bagiku kemurahan yang ada padanya itu dalam melayaniku (sebagai tamu) .

Demikian juga disyaratkan pada lafazh Famun (فم) dalam I’rob Asmaus-Sittah yaitu Huruf mim harus dihilangkan daripadanya. Contoh:

هَذَا فُوْهُ, رَأيْتُ فَاهُ, نَظَرْتُ إلىَ فِيْهِ

Ini mulutnya, aku lihat mulutnya, aku memandang kepada mulutnya.

Apabilah Huruf Mimnya tidak dihilangkan daripadanya maka di-I’rob dengan Harkah. Contoh:

هَذَا فَمٌ, رَأيْتُ فَمًا, نَظَرْتُ إلىَ فَمٍ

Ini mulut, aku lihat mulut, aku memandang kepada mulut.

Tanda I’rab Pengganti: Rafa’ dg Wau, Nashab dg Alif, Jar dg Ya’. Berlaku pada Asmaus-Sittah

3 Oktober 2010 5 komentar

وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ ¤ وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):…

Bait Alfiyah ke 27 ini, menerangkan tentang I’rab Pengganti bagian pertama, sebagai pengganti dari Irab asal. Yaitu kalimah yang dii’rab dengan Huruf (wau-alif-ya’) pengganti dari i’rab harkah (dhammah-fathah-kasrah) demikianlah yang masyhur di kalangan Ahli Nahwu. Namun yang benar menurut mereka adalah bahwa status kalimah tsb, tetap dii’rob dengan Harkah secara taqdiran/dikira-kira artinya: Rofa’ dengan Dhommah yang dikira-kirakan atas Wau, Nashab dengan Fathah yang dikira-kirakan atas Alif dan Jar dengan Kasrah yang dikira-kirakan atas Ya’. Merupakan I’rab yang berlaku pada Asmaaus-Sittah/الأسماء الستة (Kalimah Isim/kata benda yang enam) yaitu: أبٌ، أخٌ، حمٌ، فمٌ، هنٌ، ذُو .

Maka kalimah-kalimah ini dirafa’kan dengan Wau sebagai pengganti dari Dhammah. Contoh:

وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.

Dinashabkan dengan Alif pengganti dari Fathah. Contoh:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya

Dijarkan dengan Ya’ pengganti dari Kasrah. Contoh:

ارْجِعُوا إِلَى أَبِيكُمْ

Kembalilah kepada ayahmu

%d blogger menyukai ini: