Bab Ta’ajjub

التَّعَجُّبُ

BAB TA’AJJUB (TAKJUB)

بِأفْعَلَ انْطِقْ بَعْدَ مَا تَعَجُّبَا ¤ أوْ جِئْ بِأفْعِلْ قَبْلَ مَجْرُورٍ ببَا

Berucaplah dengan wazan AF’ALA setelah MAA (MAA AF’ALA) sebagai ungkapan takjub, atau boleh gunakan wazan AF’IL sebelum Majrur oleh BA’ (AF’IL BIHI) 

وَتِلْوَ أفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كما ¤ أوْفَى خَلِيلَيْنَا وَأصْدِقْ بِهِمَا

Nashabkanlah terhadap kalimah yang jatuh sesudah wazan AF’ALA seperti: MAA AUFAA KHOLIILAINAA WA ASHDIQ BI HIMAA (alangkah alimnya kedua sahabatku ini dan alangkah benar keduanya) 

وَحَذْفَ مَا مِنْـــهُ تَعَجَّبْتَ اسْتَبحْ × إِنْ كَانَ عِنْدَ الحَذْفِ مَعْنَاهُ يَضِحْ
وَفِي كِلاَ الفِعْلَيْنِ قِدْمَاً لَزِمَا × مَنْــــعُ تَصَرُّفٍ بِحُـــكْم حُتِمَا
وَصُغْهُمَا مِنْ ذِي ثَلاَثٍ صُرِّفَاً × قَابِلِ فَضْـــــلِ تَمَّ غَيْرِ ذِي انْتِفَا
وَغَيْرِ ذِي وَصْفٍ يُضَاهِي أَشْهَلاَ × وَغَيْرِ سَـــــالِكٍ سَبِيْـــــــلَ فُـــــعِلاَ
وَأَشْدِدَ أو أَشَـئدَّ أَو شِبْهُهُمَا × يَخْــلُفُ مَا بَعْضَ الشُّرُوطِ عَدِ
وَمَصْدَرُ العَادِمِ بَعْدُ يَنْتَصِبْ × وَبَعْـدَ أَفْـــعِل جَرُّهُ بِالبَـا يَجِبْ
وَبِالنُّدُورِ احْكُمْ لِغَيْرِ مَا ذُكِرْ × وَلاَ تَقِسْ عَلَى الَّذِي مِنْــهُ أُثِرْ
وَفِعْلُ هَذَا البَابِ لَنْ يُقَدَّمَا × مَعْمُـــولُهُ وَوَصْلَهُ بِـهِ الزَمَا
وَفَصْلُهُ بِظَرْفٍ أو بِحَــرْفِ جَرّ × مُسْتَعْمَلٌ وَالخُلفُ فِي ذَاكَ اسْتَقَرْ

Link MP3 : http://www.islamhouse.com/media.php?f=60784

Keterangannya :

Kyai Musonif akan menerangkan Bab Ta’ajjub. Apa sebabnya bab ta’ajjub (Di Kitab) disampaikan setelah bab sifat musyabbahah. Karena antara sifat musyabbahah dengan ta’aajub terdapat wajah kebersamaan (musyarokah).

Adapun yang terdahulu membuat shegat ta’ajjub adalah putera perempuannya Imam Abu Aswad Addualie, yaitu pernah mengatakan begini : “Maa Asyaddul harri ?”. Terus kalimah itu dibetulkan oleh ayahandanya sebab tarkibannya salah. Adapun yang benarnya adalah begini : ”Maa Asyaddal harro”, artinya : “Amat sangat panasnya”, dan (mengingat) ta’rifnya ta’ajjub itu yaitu : “Idrooku umuurin ghooribatin khoofiyatis-sabab”. Artinya : “Menemukan perkara yang aneh dengan tidak hafal sebabnya”.

Syarat ta’ajjub itu ada tiga : 1. Harus menyandar (sanding) antara Maa Ta’ajjub dengan Fi’il Ta’ajjub. 2. Fi’ilnya harus bangsa Tsulatsie. 3. Asal pokok Mu’ta’ajjub Minhu-nya wajib ma’rifat, ilatnya lietahsielil faa idah.

Rukun ta’ajjub itu ada tiga : 1. Maa ta’ajjubiyah. 2. Fi’il ta’ajjub. 3. Muta’ajjub minhu (ma’mul ta’ajjub).

Pembagian ta’ajjub itu ada dua : 1. Ta’ajjub Dzatie, yaitu bilamana ta’ajjub diatur dengan wazan “Maa Af’ala” dan “Af’il Bihi”. 2. Ta’ajjub ‘Arodhie, yaitu ta’ajjub yang keluar dari wazan “Fa’ila” dipindahkan ke wazan “Fa’ula” seperti “Qodhuwar rojulu”, dan yang keluar dari jumlah ismiyah seperti “Wallohu dhorruhu faa risan”.

Kesimpulan tiap2 Bait :

Ta’ajjub adalah berarti juga ; “Memperbesar kelebihan pada sifat fa’il yang penyebabnya masih samar”.  Ini sebaik2nya ta’rif seperti pendapat Ibnu Ushfur ; “Huwas-ti’dhoomu ziyaadatin fie wasfil-faa’ili khofiya sababuhaa”. (Ibnu Hamdun : 1 ; 232)

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 1 di atas :

بِأَفْعَلَ انْطِقْ بَعْدَ مَا تَعَجُّبَا  #  أَو جِىء بِأَفْعِلَ مَجْرُورٍ بِبَا

“Dengan yg turut akan wazan af’ala, harus mengucapkan kamu (halnya tetap) setelah maa ta’ajjub ; Atau mendatangkan kamu kepada mauzuun yg turut akan wazan af’il, halnya tetap sebelum isim yang dijarkan oleh ba ziyadah”.

Bentuk pertama : Bilamana akan menjadikan fi’il ta’ajjub, samakan saja kepada wazan “af’ala”, diamkan setelah lafadh “maa”.

Contoh : “Maa ahsana zaidan” (Alangkah baiknya Si Zaed). – “Maa afdholahuu wa maa a’lamahuu” (Alangkah utamanya dia dan alangkah alimnya dia).

“Maa” adalah mubtada (ini kata khusus permulaan kata fi’il ta’ajjub) bermakna sesuatu, dan “af’ala” adalah fi’il madhi (kata kerja lampau bangsa tsulatsie -majied- / berasal dari tiga huruf yg menerima tambahan), sedangkan fa’ilnya (subjeknya) adalah dhamir (kt ganti) yg tersembunyi wajib disembunyikan, yg kembali kepada “maa” ; dan isim yg dinashabkan ialah “muta’ajjub minhu” (pengikut amal), berkedudukan sebagai “maf’ul beh” (objek penderita), sedangkan jumlah semuanya merupakan khabar dari “maa”.

Bentuk kedua : Atau samakan saja kepada wazan “af’il”, diamkan setelah kalimat yang dijarkan oleh “ba-ziyadah”. Seperti “Ahsin bi zaedin ” (Alangkah baiknya si zaid) – “Akrim bihi” (Alangkah mulianya dia).

Lafadh “af’il” adalah fi’il yg lafadhnya berbentuk amar tetapi maknanya adalah ta’ajjub (bukan perintah), dan di dalamnya tidak mengandung dhamir. Sedangkan “bi zaedin” adalah fa’ilnya.

Bentuk asal kalimah “Ahsin bi zaedin” (Alangkah baiknya Si Zaed) ialah “Ahsana Zaedun” (Si Zaed menjadi orang yg baik) ; perihalnya sama dengan “Auroqosy-syajaru” (Pohon itu telah berdaun), kemudian bentuknya diubah menjadi bentuk amar, maka dianggap tidak baik bila secara langsung disandarkan kepada isim dhohir, untuk itulah maka ditambahkan huruf “ba” pada fa’ilnya. (Wallohu ‘alam)

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 2 di atas :

وَتِلوَ أَفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كَمَا  #  أَوفَى خَلِيْلَيْنَا وَأَصْدِقْ بِهِمَا

“Dan harus menashabkan kamu atas isim yang sanding kepada lafadh af’ala. Tegasnya harus menashabkan kamu atas isim yang sanding kepada lafadh af’ala seperti Maa aufaa kholielaenaa wa ashdiq bihima (Seperti perkara yang memenuhi dua sahabat/kekasih kami, serta  kaget benar keduanya)”.

Kalimah yang menyandar/sanding kepada fi’il ta’ajjub wazan “maa af’ala” maka harus dinashabkan. Contoh seperti “Maa ahsana zaidan”, Ilat sebabnya harus nashab ; “li anna ma’muulat-ta’ajjubi bi shurotil-fadhlati. Wa haqqul-fadhlati an yakuuna manshuuban” (karena sesungguhnya “ma’mul maa fi’il ta’ajjub” itu seperti tambahan/fadlah. Adapun hak-nya fadhlah terbuktinya dinashabkan).

Adapun kalimah yang menyandar kepada fi’il ta’ajjub wazan “af’il”, maka kalimat itu jar-kan oleh “haraf jar zaidah laazimiyyah”. Contoh seperti lafadh “Ahsin bi zaedaeni” dan seperti lafadh “Wa ashdiq bihimaa”.

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 3 di atas :

وَحَذْفَ مَا مِنْهُ تَعَجَّبْتَ ا سْتَبحْ  #  إِنْ كَانَ عِنْدَ الحَذْفِ مَعْنَاهُ يَضِحْ

Adapun perkara fi’il ta’ajjub, maka fi’il itu apabila ada dalil boleh dibuangnya, tetapkan (anggerkeun) fi’il ta’ajjubnya. Contoh seperti lafadh dalam sya’iran :

“Aroo umma amrin dam’uhaa qod tahadaroo ; Bukaa-an ‘ala amrin wa maa kaana ashbaroo”. “Wataqdieru maa kanaa ashbaroha“.  (Menyaksikan saya akan ibunya Ki Amar air matanya betul2 telah berlinang ; oleh sebab menangisi Ki Amar dan semoga menjadi sabar ibunya Ki Amar).

“Haa” disitu (maa kanaa ashbaroha) adalah maf’ul lafadh ashbaro, dibuang karena menunjukkan kepada lafadh sebelumnya (“lidalaalati maa qoblahu alaih / alaih bima taqoddama”).

Contoh yg kedua seperti firman Alloh SWT ; “Asmi’ bihim wa abshir (wallohu ‘alam). Attaqdieru wa abshir bihim. “Bihim” dibuang setelah wa abshir”.

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 4 di atas :

وَفِي كِلاَ الفِعْلَيْنِ قِدْمَاً لَزِمَا  #  مَنْعُ تَصَرُّفٍ بِحُكْم حُتِمَا

Adapun perkara fi’il ta’ajjub, baik wazan af’ala ataupun wazan af’il, maka fi’il itu dicegah dua-duanya dari di-tashrif, meskipun mulanya menerima di-tashrif. Tegasnya tidak pernah digunakan wazan af’ala selain fi’il madhinya, dan tidak pernah digunakan wazan af’il selain fi’il amarnya.

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 5 / 6 di atas :

وَصُغْهُمَا مِنْ ذِي ثَلاَثٍ صُرِّفَا  # ً قَابِلِ فَضْلِ تَمَّ غَيْرِ ذِي انْتِفَا

وَغَيْرِ ذِي وَصْفٍ يُضَاهِي أَشْهَلا  # َ وَغَيْرِ سَالِكٍ سَبِيْلَ فُعِلاَ

Apabila hendak mencetak fi’il ta’ajjub, maka fi’il itu harus menyamakan kepada persyaratan yang tujuh, yg diterangkan dalam dua bait ini :

1. Harus fi’il bangsa tsulatsie. 2. Harus menerima di-tashrif. 3. Harus ada makna fi’il itu yang menerima pada saling melebihkan. 4. Fi’ilnya harus fi’il tam (tdk goer qiyas). 5. Fi’ilnya jangan manfi (negatif). 6. Dan tdk boleh fi’il yg mempunyai shegat sama kepada wazan af’ala. 7. Dan fi’ilnya tdk boleh yg majhul (pasif).

Contoh fi’il ta’ajjub yg memenuhi persyaratan seperti ini ; “Maa ahsana zaedun” dan seperti “Wa ashdiq bihi”.

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 7 / 8 di atas :

وَأَشْدِدَ أو أَشَدَّ أَو شِبْهُهُمَا # يَخْلُفُ مَا بَعْضَ الشُّرُوطِ عَدِ مَا

وَمَصْدَرُ العَادِمِ بَعْدُ يَنْتَصِبْ # وَبَعْدَ أَفْعِل جَرُّهُ بِالبَا يَجِبْ

Bilamana terdapat fi’il kosong dari sebagian syarat, maka fi’il itu apabila dijadikan fi’il ta’ajjub gantikan saja oleh lafadh “Asydid” atau oleh lafadh “Asyadda”, atau “Syibahahnya”, tegasnya “Aktsaro” dan “Aktsir Bihi”. Kemudian ambil masdharnya fi’il yg kosong dari setengahnya syarat itu, simpan setelah lafadh “Asyadda”, bacanya harus “Dinashabkan”. Contoh seperti lafadh “Maa asyadda dakhrojatahu”, atau seperti lafadh “Maa asyadda istikhroojahu”.

Atau simpan setelah lafadh “Asydid” beserta wajib dijarkan oleh “Ba zaidah” masdar itu. Contoh seperti lafadh “Asydid bi dakhrojatihi”, atau seperti lafadh “Asydid bi istikhroojatihi” (Ini ruba’i).

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 9 di atas :

وَبِالنُّدُورِ احْكُمْ لِغَيْرِ مَا ذُكِرْ # وَلاَ تَقِسْ عَلَى الَّذِي مِنْهُ أُثِرْ

Bilamana ada fi’il kosong dari sebagian syarat, tetapi tetap dijadikan fi’il ta’ajjub, tapi tidak digantikan oleh lafadh “Asyadda”, tidak digantikan oleh lafadh “Asydid”, dan tidak digantikan oleh lafadh “Syibahahnya”, maka fi’il itu hukumnya “Langka”, tegasnya “Samaa’i”, jangan diqiyaskan. Contoh seperti lafadh “Maa ahshorohu”, dan seperti “Maa uhmiqoohu”, tegasnya di-mabni-majhulkan (Dipasifkan), dan seperti “Maa a’ssahu” dan seperti “a’si bihi”.

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 10 di atas :

وَفِعْلُ هَذَا البَابِ لَنْ يُقَدَّمَا # مَعْمُولُهُ وَوَصْلَهُ بِهِ الزَمَا

Adapun perkara ma’mul fi’il ta’ajjub, maka fi’il itu tidak boleh didahulukan, diakhirkan fi’il ta’ajjubnya. Contoh seperti lafadh “Maa ahsana zaedun”, tdk boleh dibaca “Zaedun maa ahsana”, dan seperti lafadh “Ahsin bi zaedin”, tdk boleh dibaca “Bi zaedin Ahsin”. Ilatnya ; “Liannaha min adawaatil ibtida-i”.

Kesimpulan Kaidah Ta’ajub di bait 11 di atas :

وَفَصْلُهُ بِظَرْفٍ أو بِحَرْفِ جَرّ # مُسْتَعْمَلٌ وَالخُلفُ فِي ذَاكَ اسْتَقَرْ

Adapun perkara antara fi’il ta’ajjub dengan ma’mulnya dipisah oleh “Huruf Jar”, atau “Dhorof” (keterangan waktu atau tempat), maka fi’il itu hukumnya rebutan kaol. Menurut sebagian kaol “Jamaatu Nahwiyyin” serta Imam Ajjurumie, boleh dipisah dengan “dhorof” atau “jar-majrur”. Menurut sebagian lagi tidak boleh, yaitu menurut Imam Akhfasy dan Imam Mubarrod.

Contoh yang boleh seperti lafadh “Maa ahsana fie haejaa’i liqoo ahaa” (Aduh alangkah bagusnya pada waktu susah menemui kekasih”) , dan seperti lafadh “Akrim fid-darbaati ‘athoo-a-haa” (Aduh alangkah mulyanya pada waktu susah memberinya tanda mata”. Adapun ilatnya kenapa boleh dipisah dengan “Dharaf” dan “Jar-majrur”, karena ; “Liannadh-dhorfa wal jarro la yu’taddu bihimaa faa shilan”. (Karena sesungguhnya dhorof dan jar-majrur tidak dihitung sebagai yang memisahkan).  Wallohu ‘alam*** (Iqbal1)

Referensi : http://iqbal1.wordpress.com/2010/10/28/catatan-fiil-taajjub/

  1. Ahmadi
    25 Oktober 2011 pukul 10:25

    Syukron atas penjelasannya pa ustad..

  2. Anonim
    23 Januari 2012 pukul 23:37

    hatur nuhun,

  3. Buudi
    3 Februari 2012 pukul 03:10

    Makasih..Penjelasannya,hanya di hp aku nadhom nya ga begitu mungkin karna hp aku ga support font arabic..Klau browser lewat pc ga masalah

  4. 25 November 2012 pukul 08:27

    http//ta’ajub.com

  5. R0`fah el Labiibah
    2 Juli 2014 pukul 14:32

    Ustadz. .
    Masih axis kah??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: