Arsip

Posts Tagged ‘Majrur’

Pengertian Idhafah (Idhofah = Sununan Mudhaf dan Mudhof Ilaih) » Alfiyah Bait 385-386-387

24 Desember 2011 34 komentar
–·•Ο•·–

الإضافة

BAB IDHAFAH (MUDHAF DAN MUDHOF ILAIH)

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا ¤ ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا

Terhadap Nun yang mengiringi huruf tanda i’rob atau terhadap Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: THUURI SIINAA’ = Gunung Sinai. 

وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا ¤ لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FIY bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM … <ke bait selanjutnya>. 

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا ¤ أو أعطه التعريف بالذي تلا

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fiy). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih). 

–·•Ο•·–

Setelah Bab Majrur sebab Huruf, selanjutnya Mushannif membahas tentang Majrur sebab Idhofah.

Pengertian Idhafah/Susunan Mudhaf dan Mudhof Ilaih adalah: Penisbatan secara Taqyidiyah (pembatasan) di antara dua lafazh yang mengakibatkan lafazh terakhir selalu di-jar-kan.

Contoh kita mengatakan:

كتاب

KITABUN* = Kitab/Buku

*Lafazh KITAABUN di sini masih bersifat Mutlak/umum belum ada Taqyid/pembatasan.

Contoh apabila kita berkata:

كتاب زيد

KITAABU ZAIDIN* = Kitab/Buku Zaid

  • Lafazh KITAABU = Mudhof
  • Lafazh ZAIDIN = Mudhaf Ilaih
  • Dengan demikian terjadilah Taqyid/pembatasan sebab Idhafah yakni memudhofkan lafazh KITAABUN kepada lafazh ZAIDUN.

Apabila dikehendaki Isim mudhaf pada Isim lain, maka perhatikan hukum-hukum yg berkenaan dengan Idafah, sebagai berikut:

Hukum Idhafah Pertama:

Wajib membuang Tanwin pada akhir kalimah isim yg menjadi Mudaf. apabila sebelum dijadikan Mudof ia mempunyai Tanwin.

Contoh sebelum susunan Idofah:

ركبت سيارة جديدة

ROKIBTU SAYYAAROTAN JADIIDATAN* = aku mengendarai Mobil Baru

Contoh menjadi Mudhaf tanwinnya dibuang:

ركبت سيارة زيد

ROKIBTU SAYYAAROTA ZAIDIN* = aku mengendarai Mobilnya Zaid.

Juga wajib membuang NUN pada akhir Isim Mutsanna, Jamak Mudzakkar Salim, dan Mulhaq-mulhaqnya, apa dimudhofkan. yaitu huruf NUN yg mengiringi huruf Tanda I’rob (yakni Nun yg ada setelah Wawu/Ya’ pada Jamak Mudzakkar Salim, atau Alif/Ya’ pada Isim Tatsniyah). contoh:

يسير الناس على جانبي الشارع

YASIIRUN-NAASA ‘ALAA JAANIBAYISY-SYAARI‘* = orang-orang berjalan di dua sisi pinggir jalan raya.

حاملو العلم محترمون

HAAMILUL-‘ILMI MUHTAROMUUN* = orang yg punya ilmu mereka dihormati.

Jika Huruf NUNnya bukan Nun Tatsniyah atau Nun Jamak yakni bukan Nun yg mengiringi Huruf tanda I’rob, maka tidak boleh membuangnya. contoh:

المحافظة على الصلاة عنوانُ الاستقامة

AL-MUHAAFAZHOTU ‘ALASH-SHOLAATI ‘UNWAANUL-ISTIQOOMAH* = menjaga sholat adalah pertanda istiqomah.

Hukum Idofah Kedua:

I’rob Jar bagi Mudhaf Ilaih. Adapun amil Jar-nya adalah lafazh yg menjadi Mudhaf -demikian menurut Qoul yg shahih- alasannya: Lafazh Dhamir yg menjadi Mudhaf Ilaih dapat bersambung langsung dengan lafazh yg menjadi Mudhaf, yang mana dhamir tsb tidak akan bersambung kecuali kepada Amilnya, contohnya:

كتابك جديد

KITAABUKA JADIIDUN = Kitabmu baru.

Hukum Idhafah ketiga:

Wajib menyimpan Huruf Jar Asli yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih. Untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudaf dan Mudhaf Ilaeh-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FIY dan LAM.

1. Idhafah menyimpan makna huruf MIN Lil-Bayan apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. contoh:

خاتمُ ذهبٍ

KHOOTAMU DZAHABIN = cincin dari emas

Takdirannya adalah KHOOTAMUN MIN DZAHABIN’

2. Idhafah menyimpan makna huruf FIY Liz-Zharfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Zhorof bagi lafazh Mudhof. contoh:

عثمان شهيد الدار

‘UTSMAANU SYAHIIDUD-DAARI = Utsman Ra. adalah seorang yg mati Syahid di rumah.

Takdirannya adalah ‘UTSMAANU SYAAHIDUN FID-DAARI.

Atau berupa Zharaf Zaman.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:

بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ

BAL MAKRUL-LAILI WAN-NAHAARI = “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami) (QS. Saba’ : 33)

Takdirannya MAKRUN FIL-LAILI.

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

LILLADZIINA YU’LUUNA MIN-NISAA’IHIM TAROBBUSHU ARBA’ATI ASYHURIN = Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). (QS. Al-Baqarah :226)

Takdirannya TAROBBUSHUN FIY ARBA’ATI ASYHURIN.

3. Idhafah menyimpan makna huruf LAM apabila tidak bermakna MIN atau FIY. contoh:

هذا كتاب زيد

HADZAA KITAABU ZAIDIN = ini kitab milik Zaid

Takdirannya: HADZAA KITAABUN LI ZAIDIN.
LAM berfungsi sebagai Lil-Mulk/Lil-Ikhtishosh Kepemilikan/Kewenangan.

Demikian Hukum-hukum yg berhubungan dengan Idhafah maknawi belum Idhofah Lafzhi yg akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya, berikut hukum-hukum Idhofah yg belum disebut disini.

Huruf Jar dalam Bahasa Arab (من إلى حتى خلا حاشا عدا في عن على مذ منذ رب ل كي و ت ك ب لعل متى) » Alfiyah Bait 364-365

23 Desember 2011 23 komentar
–·•Ο•·–

باب حروف الجر

BAB HURUF-HURUF JAR

هَاكَ حُرُوفَ الْجَرِّ وَهْيَ مِنْ إلىَ ¤ حَتَّى خَلا حَاشَا عَدَا في عَنْ عَلَى

Ambillah sebagai Huruf Jar yaitu : Min, Ila, Hatta, Kholaa, Haasyaa, ‘Adaa, Fii, ‘An, ‘Alaa, 

مُذْ مُنْذُ رُبَّ اللّامُ كَيْ وَاوٌ وَتَا ¤ وَالكَافُ وَالْبَا وَلَعَلَّ وَمَتَى

Mudz, Mundzu, Rubba, Lam, Kay, Wau, Ta’, Kaf, Ba’, La’alla, dan Mataa. 

–·•Ο•·–

Setelah selesai pembahasan tentang Marfu’ dan Manshub, selanjutnya Mushonnif menerangkan tentang Majrur.

Majrur ada tiga sebab:

1. Majrur sebab Huruf jar
2. Majrur sebab Idhofah
3. Majrur sebab Tabi’

Dimulailah dengan pembahasan Majrur sebab Huruf-huruf Jar/Huruf Khafadh, karena ini merupakan Asal dari Amil Jar.

Huruf-huruf Jarr kesemuanya berjumlah sepuluh sebagaimana disebutkan oleh Mushonnif pada Bait diatas. Semua huruf tersebut khusus masuk pada kalimah Isim merupakan Amil Jar/beramal Jar.

Untuk Harf Jar yg berupa (KHOLAA – HAASYAA – ‘ADAA) telah dijelaskan pada Bab Istitsna, dikedepannya penjelasannya karena berstatus Istiqsho’ yakni perlu perhatian khusus didalam Taroddudnya yakni sebagai kalimah huruf apabila menjarkan isim sesudahnya, atau sebagai kalimah Fi’il yang Jamid apabila menashobkan isim sesudahnya.

Untuk Huruf-huruf jar sisanya InsyaAllah akan dijelaskan secara rinci pada Bait-bait selanjutnya. Kecuali (KAY, LA’ALLA dan MATAA) dimana orang arab jarang menggunakannya sebagai huruf Jar, karena itu disebut Huruf Jar Ghorobah/asing, ada yg menyebutnya huruf jar Syadz. Rinciannya sebagai berikut:

KAY كي

Huruf Jar Lit-Ta’lil, untuk menyatakan alasan, digunakan pada tiga tempat:

1. Apabila Kay masuk pada huruf MAA ISTIFHAM, untuk menanyakan penjelasan sebab atau alasan. contoh:

كيمه فعلتَ هذا

KAY-MAH FA’ALTA HAADZAA?* = karena apa/kenapa kamu melakukan ini?

*Lafazh KAY = sebagai huruf Jar dan Lafazh MAA = sebagai Isim Istifham yang dijarkan oleh Kay, Alifnya dibuang karena dimasuki Huruf Jarr, dan ditambah Ha’ pengganti dari Alif yg dibuang, dan harkat fathah sebagai dalil terbuangnya Alif, maka menjadi KAY-MAH.

2. Apabila Kay masuk pada AN MASHDARIYAH dan Shilahnya, umumnya huruf AN tsb dikira-kira (Muqoddar). contoh:

جئت كي أستفيد

JI‘TU KAY ASTAFIIDA* = aku datang untuk mendapat faedah/kegunaan/keuntungan.

*Lafazh ASTAFIIDA = Fi’il Mudhori’ yg dinashobkan oleh AN yg dikira-kira ada setelah huruf KAY, takdirannya JI’TU KAY AN ASTAFIIDA. huruf AN dan jumlah sesudahnya di-takwil Mashdar yg dijarkan oleh KAY dengan takdiran: JI’TU LIL-ISTIFAADZAH.

Demikian menurut salah satu wajah. Adapun dalam wajah lain:
*KAY sebagai huruf Mashdariyah yg menashobkan Fi’il Mudhari’, dan mengira-ngira ada LAM sebelumnya, takdirannya adalah JI’TU LI KAY ASTAFIIDA.

3. Apabila Kay masuk pada MAA MASHDARIYAH dan Shilahnya, contoh:

أحسن معاملة الناس كي ما تسلم من أذاهم

AHSIN! MU’AAMALATAN-NAASI KAY MAA TASLAMU MIN ADZAAHUM* = bersikap baiklah dalam bermasyarakat agar kamu selamat dari perlakuan buruk mereka.

*Lafazh TASLAMU adalah Fi’il Mudhari’ yg dirofa’kan. Maka MAA berikut Jumlah yg ada padanya dita’wil MASHDAR di-jar-kan oleh KAY huruf jar. yakni takdirannya adalah: LI SALAAMATIKA MIN ADZAAHUM.

LA’ALLA لعل

Adalah Huruf Jar yang serupa dengan harf jar zaidah yakni menjarkan secara lafazh saja tidak dalam mahalnya, mempunyai faidah Taroji. digunakan sebagai huruf jar secara terbatas oleh sebagai bangsa Arab. contoh:

لعل المسافر قادم غدا

LA’ALLA AL-MUSAAFIRI QOODIMUN GHODAN* = Semoga musafir itu tiba pada esok hari.

  • Lafazh LA’ALLA = huruf berfaedah Taroji sebagai huruf jar syibhul-zaa’id (diserupakan dengan Huruf Jar Zaidah).
  • Lafazh AL-MUSAFIRI = Majrur lafazhnya dan Marfu’ mahalnya sebagai Mubtada’. Lafazh QOODIMUN = Khobar.
  • Lafazh GHODAN = Isim Zaman Manshub sebagai Zharaf.

MATAA متى

Dipakai sebagai Huruf Jar asli oleh logat Bani Hudzail, berfaedah Ibtidaa’ul-Ghaayah/batas permulaan seperti faedah huruf MIN. contoh mereka berkata:

أخرجها متى كمه

AKHROJAHAA MATAA KUMMIHII = Dia mengeluarkan tangannya dari lengan bajunya.

Kategori:Bait 364-365 Tag:, ,
%d blogger menyukai ini: