Arsip

Archive for the ‘Bab Nakirah dan Ma’rifah’ Category

Penggunaan Dhamir Antara Muttashil Dan Munfashil » Alfiyah Bait 64 dan 65

15 November 2011 7 komentar
–••Ο••–

وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاء سَلْنِيْهِ وَمَا ¤ أَشْبَهَـهُ فِي كُنْـتُهُ الْخُــلْفُ انْتَمَى

Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha’ pada contoh lafadz سَلْنِيْهِ dan lafadz yang serupanya. Adapun perbedaan Ulama bernisbatkan kepada lafadzكُنْتُهُ

كَـــذَاكَ خِلْتَنِيْــهِ وَاتِّصَــــــالاَ ¤ أَخْتَأارُ غَيْرِي اخْتَارَ الانْفِصَالاَ

Seperti itu juga, yaitu lafadz خِلْتَنِيْهِ , aku memilih menggunakan Dhomir Muttashil, selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil

–••Ο••–

Boleh menggunakan Dhamir Munfashil beserta masih memungkinkan menggunakan Dhamir Muttashil, yg demikian ada di tiga permasalahan:

PERMASALAHAN PERTAMA: Amilnya berupa Fi’il yang bukan Amil Nawasikh yg serupa A’THOO Cs menashabkan dua maf’ul yg berupa dua Dhamir, dhamir yg pertama lebih khusus dari dhamir yg kedua (yakni, dhamir mutakallim lebih khusus dari dhamir mukhothob dan dhamir mukhothob lebih khusus dari dhamir ghaib).

Contoh menggunakan dhamir Muttashil:

الكتاب سلـنيه

AL-KITAABU SALNII HI = Mintalah kitab itu padaku..!

Boleh menggunakan dhamir Munfashil contoh:

الكتاب سلـني إياه

AL-KITAABU SALNII IYYAAHU = Mintalah kitab itu padaku..!

Jika dhamir yg pertama tidak lebih khusus dari dhamir yg kedua, maka wajib menggunakan dhamir Munfashil. Contoh:

الكتاب أعطاه إياك زيد

ALKITAABU A’THOO HU IYYAKA ZAIDUN = Zaid memberikan kitab itu kepadamu

Atau jika kedua dhamir itu tidak nashab semuanya yakni salah satunya, maka wajib menggunakan Dhamir Muttashil contoh:

النظام أحببـته

AN-NIZHAAM AHBABTU HU = aku menyukai undang-undang itu.

PERHATIAN:
Dalam permasalahan pertama ini, lebih diutamakan menggunakan dhamir Muttashil daripada dhamir Munfashil, mengingat pada hukum asalnya (lihat Penggunaan Bentuk Dhamir  » Alfiyah Bait 63) beserta dikokohkan oleh dalil dalam Al-Qur’an, contoh:

فَسَيَكْفِيـكَهُمُ اللَّهُ

FASAYAKFIIKAHUMU-LLAAHU = Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka (Al-Baqarah : 137)

أَنُلْزِمُـكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ

ANULZIMUKUMUUHAA WA ANTUM LAHAA KAARIHUUN = Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya? (Hud : 28)

إِنْ يَسْأَلْـكُمُوهَا

IN YAS-ALKUMUUHAA = Jika Dia meminta harta kepadamu (Muhammad : 47)

Terkadang ditemukan menggunakan dhamir Munfashil sebagaimana dalil dalam Hadits. Oleh karenanya dalam masalah ini, penggunaan dhamir Muttashil tidaklah wajib dan penggunaan dhamir Munfashil tidak khusus pada Syair saja. Contoh dalam Hadits:

أَفَلَا تَتَّقِي اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَّـكَ اللهُ إِيَّاهَا

Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah? (Shahih Muslim).

PERMASALAHAN KEDUA: bersambung….

Kategori:Bait 64-65 Tag:

Penggunaan Bentuk Dhamir » Alfiyah Bait 63

13 November 2011 4 komentar
–••Ο••–

وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ ¤ إذَا تَــــأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّــصِلْ

Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.

–••Ο••–

Jikalau masih memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil janganlah menggantikannya dengan dhamir Munfashil. Sebab dhamir digunakan untuk tujuan meringkas kata. Bentuk dhamir Muttashil jauh lebih ringkas daripada Dhamir Munfashil. Contoh:

أكرمتـك

AKROMTUKA = aku memulyakanmu

jangan mengatakan:

أكرمت إياك

AKROMTU IYYAKA = aku memulyakanmu

Terkadang di beberapa tempat ada yg harus menggunakan dhamir Munfashil karena tidak memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil diantaranya adalah:

1. Dhamir dikedepankan dari Amilnya karena suatu motif semisal untuk Faidah Qashr, contoh:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (al-Fatihah : 5)

2. Dhamir Jatuh sesudah ILLA, contoh:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al-Israa’ : 23)

3. Dhamir dipisah dari Amil oleh Ma’mul lain, contoh:

يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ

mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu (Al-Mumtahanah : 1)

4. Dharurah Syi’ir, contoh:

بالباعث الوارث الأموات قد ضمنت إياهم الأرض في دهر الدهارير

Kategori:Bait 63 Tag:

Dhamir Munfashil Manshub » Alfiyah Bait 62

11 November 2011 2 komentar
–••Ο••–

وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلاَ¤ إيَّايَ وَالْتَّـــفْرِيْعُ لَيْسَ مُشْـــكِلاَ

Dhamir yang Manshub pada Dhamir Munfashil, dijadikannya seperti lafazh “IYYAAYA”, berikut cabang-cabangnya tanpa ada kesulitan (mudah dalam menentukannya).

–••Ο••–

Telah dijelaskan bahwa Dhamir Munfasil dari segi mahal I’robnya ada dua macam:

1. Mahal Rofa’ (Dhamir Munfashil Marfu‘ > lihat penjelasannya Dhamir Munfasil Marfu’  » Alfiyah Bait 61)
2. Mahal Nashab (Dhamir Munfashil Manshub).

Dhamir Munfashil Manshub semuanya berjumlah 12 dhamir:
Rinciannya sbb:

1. Untuk Mutakallim (orang pertama) terdapat 2 bentuk dhamir

- IYYAAYA = mutakallim wahdah = PADAKU
– IYYAANAA = mutakallim ma’al-ghair aw mu’azh-zham nafsah = PADA KAMI atau PADAKU pengagungan diri.

2. Untuk Mukhothob (orang ke dua) terdapat 5 bentuk dhamir:

- IYYAAKA = mufrad mudzakkar = PADAMU (LK)
– IYYAAKI = mufrad muannats = PADAMU (PR)
– IYYAAKUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = PADAMU BERDUA (LK/PR)
– IYYAAKUM = jamak mudzakkar = PADA KALIAN (LK)
– IYYAAKUNNA – jamak muannats = PADA KALIAN (PR)

3. Untuk Ghaib (orang ketiga) terdapat 5 bentuk dhamir:

- IYYAAHU = mufrad mudzakkar = PADANYA (LK)
– IYYAAHAA = mufrad muannats = PADANYA (PR)
– IYYAAHUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = PADANYA BERDUA (LK/PR)
– IYYAAHUM = jamak mudzakkar = PADA MEREKA (LK)
– IYYAAHUNNA – jamak muannats = PADA MEREKA (PR)

LIHAT TABEL BERIKUT:

DHAMIR MUNFASHIL MANSHUB
ORANG KETIGA(GHAIB) ORANG KEDUA(MUKHOTHOB) ORANG PERTAMA(MUTAKALLIM)

إياه

إياكَ

إياي

إياها

إياك

إيانا

إياهما

إياكما

إياهم

إياكم


إياهن

أياكن

Kategori:Bait 62 Tag:

Dhamir Munfasil Marfu’ » Alfiyah Bait 61

10 November 2011 6 komentar
–·•Ο•·–

وَذُو ارْتِفَاعٍ وَانْفِصَالٍ أَنَا هُوْ¤ وَأَنْــتَ وَالْفُـــرُوْعُ لاَ تَشْــتَبِهُ

Dhomir Rofa’ dan Munfasil, yaitu seperti أَنَا, هُوْ, أَنْتَ dan cabang-cabangnya yg tidak ada kemiripan

–·•Ο•·–

Telah dijelaskan bahwa Dhamir Bariz dibagi dua:

  1. Dhamir Bariz Muttashil/Dhamir Muttashil (telah dijelaskan pada bait lalu lihat Pengertian Dhamir Muttashil, Alfiyah Bait 55-56)
  2. Dhamir Bariz Munfashil/Dhamir Munfasil.

Dhamir Munfashil adalah Isim Dhamir yang dapat dijadikan permulaan dan bisa berada setelah lafazh ILLA.

Contoh bisa dijadikan permulaan kalimat

Firman Allah:

هم العدوّ فاحذرهم

Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka (Al-Munaafiquun : 4)

Contoh bisa berada setelah lafazh ILLA

Firman Allah:

وقضى ربّك ألا تعبدوا إلا إياه

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al-Israa’ : 23)

Dhamir Munfasil dari segi mahal I’robnya hanya ada dua:

1. Mahal Rofa’ (Dhamir Munfasil Marfu’)

2. Mahal Nashab (Dhamir Munfashil Manshub > akan dijelaskan pada bait selanjutnya Insyaallah).

Dhamir Munfasil Marfu’ semuanya berjumlah 12 dhamir:

Rinciannya sbb:

1. Untuk Mutakallim (orang pertama) terdapat 2 bentuk dhamir

-      ANA = mutakallim wahdah = AKU

-      NAHNU = mutakallim ma’al-ghair aw mu’azh-zham nafsah = KAMI atau AKU mengagungkan diri.

2. Untuk Mukhothob (orang ke dua) terdapat 5 bentuk dhamir:

-      ANTA = mufrad mudzakkar = KAMU (LK)

-      ANTI = mufrad muannats = KAMU (PR)

-      ANTUMAA =  mutsanna mudzakkar/muannats = KAMU BERDUA (LK/PR)

-      ANTUM = jamak mudzakkar = KAMU SEKALIAN (LK)

-      ANTUNNA – jamak muannats = KAMU SEKALIAN (PR)

3. Untuk Ghaib (orang ketiga) terdapat 5 bentuk dhamir:

-      HUWA = mufrad mudzakkar = DIA (LK)

-      HIYA = mufrad muannats = DIA (PR)

-      HUMAA = mutsanna mudzakkar/muannats = DIA BERDUA (LK/PR)

-      HUM = jamak mudzakkar = MEREKA (LK)

-      HUNNA – jamak muannats = MEREKA (PR)

LIHAT TABEL BERIKUT:

DHAMIR MUNFASIL MARFU’
ORANG KETIGA

(GHAIB)

ORANG KEDUA

(MUKHOTHOB)

ORANG PERTAMA

(MUTAKALLIM)

هو

أنت

أنا

هي

أنت

نحن

هما

أنتما

هم

أنتم


هن

أنتن

Kategori:Bait 61 Tag:

Isim Dhamir Mustatir wajib dan jaiz » Alfiyah Bait 60

17 November 2010 32 komentar
–·•Ο•·– 

وَمِنْ ضَمِيْرِ الْرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ ¤ كَافْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ

Dhomir Mustatir ada pada sebagian dhomir Rofa’. Seperti pada contoh: افْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ (ket: افْعَلْ = Fi’il ‘Amar untuk satu mukhotob, taqdirannya انت . dan أوَافِقْ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mutakallim, taqdirannya انا. dan نَغتَبِطْ = Fi’il Mudhori’ untuk Mutakallim Ma’al Ghair, taqdirannya نحن . dan تُشْكرُ = Fi’il Mudhori’ untuk satu Mukhotob, taqdirannya انت)

–·•Ο•·–

Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu bahwa dhamir ada dua golongan 1. Isim Dhamir Bariz (mempunyai bentuk lafazh) dan 2. Isim Dhamir Mustatir (tidak mempunyai bentuk lafaz).

Dhamir Mustatir (ضامر مستتر) atau dhamir yang tidak berbentuk Lafazh, ada dua macam 1. Wajib Mustatir dan 2. Jaiz Mustatir

1. Wajib Mustatir واجب الاستتار

Pengertian dhamir yang Wajib Mustatir adalah:  Isim Dhamir Mustatir dimana posisinya tidak bisa digantikan oleh Isim Zhahir pun oleh Isim Dhamir Munfashil. contoh:

أَقُوْمُ بِوَاجِبِيْ نَحْوَ قَرَابَتِيْ

aku menunaikan kewajibanku pada keluargaku

Contoh أقوم pada kalimat diatas, mempunyai Fa’il (subjek) yang berupa Isim Dhamir Mustatir yang wajib. takdirannya adalah  أنا (saya), maka posisi dhamir ini tidak bisa digantikan isim zhahir  semisal أقوم خالد. Atau tidak bisa digantikan isim dhamir munfashil semisal أقوم أنا dengan maksud sebagai Fa’ilnya, bisa juga dilafalkan demikian, akan tetapi ia bukan Fail tapi sebagai taukid bagi damir mustatir.

Isim Dhamir wajib mustatir menempati pada 10 kategori kalimah. lihat tabel berikut :

ISIM DHAMIR WAJIB MUSTATIR
NO TEMPAT WAJIB MUSTATIR CONTOH
1 Fi’il Amar untuk satu mufrad (laki-laki)

فَــاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu

2 Fi’il Mudhari’ yang diawali Hamzah Mudhara’ah untuk Mutakallim (aku lk/pr)

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى الله

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah

3 Fi’il Mudhari’ yang diawali Nun Mudhara’ah untuk Mutakallim Ma’al Ghair (kami lk/pr)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik

4 Fi’il Mudhari’ yang diawali Ta’ Mudhara’ah untuk Mukhatab Mufrad (kamu satu laki-laki)

تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ

Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki

5 Isim Fi’il Amar

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu

6 Isim Fi’il Mudhari’

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”

7 Fi’il Ta’ajub

مَا أَحْسَنَ الصِّدْقَ

Alangkah indahnya kenyataan ini

8 Isim Masdar yang menggantikan tugas Fi’ilnya

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan kepada kedua orang tua, berbuat baiklah!

9 Fi’il-Fi’il Istitsna’ seperti خلا، عدا، حاشا

حَضَرَ الضُّيُوْفُ خَلاَ وَاحِداً

Tamu-tamu sudah hadir selain satu orang

10 Perangkat Istitsna semisal ليس

مَا أُنْهِرَ اَلدَّمُ وَذُكِرَ اِسْمُ اَللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ لَيْسَ اَلسِّنَّ وَالظُّفْرَ

Apa yang dapat menumpahkan darah dengan diiringi sebutan nama Allah, makanlah, selain gigi dan kuku

2. Jaiz Mustatir جائز الاستتار

Pengertian dhamir yang Jaiz Mustatir adalah:  Isim Dhamir mustatir dimana posisinya bisa digantikan oleh Isim Zhahir pun oleh Isim Dhamir Munfashil. yaitu kalimah Fi’il untuk Mufrad Ghaib (subjek orang ketiga tunggal male) contoh:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.

kalimah Fi’il untuk Mufrad Ghaibah (subjek orang ketiga tunggal female) contoh:

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ

Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan

kalimah Isim Fi’il Madhi. contoh:

الصَّدِيْقُ هَيْهَاتَ

jauh sekali dari kebenaran.

Isim Sifat yang murni, semisal Isim Fa’il. Contoh:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka

Maka lafazh مُصَدِّقٌ terdapat dhamir Mustatir Jaiz takdirannya adalah هُوَ tertuju kepada lafazh رَسُولٌ

Kategori:Bait 60 Tag:

Bentuk Dhamir Muttashil di dalam mahal i’rabnya » Alfiyah Bait 57-58-59

14 November 2010 1 komentar
Kitab Alfiyah Ibnu Malik » Bab Nakirah dan Ma’rifah » Bait 57-58-59
–·•Ο•·– 

وَكُـلُّ مُضْمَرٍ لَـهُ الْبِنَا يَجِبْ ¤ وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ

Semua Dhomir wajib Mabni. Lafadz Dhomir yang dijarrkan, sama bentuknya dengan lafadz Dhomir yang dinashobkan.

لِلرَّفْعِ وَالْنَّصْبِ وَجَرَ نا صَلَحْ ¤ كَاعْـرِفْ بِنَا فَـإِنَّنَا نِلْـنَا الْمِـنَحْ

Dhomir Muttashil نا mencocoki semua bentuknya dalam mahal Rofa’, Nashob, dan Jarrnya. Seperti contoh lafadz: اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ ( ket. بنا = Mahal Jarr, فَإِنَّنَا = Mahal nashab, نِلْنَا = Mahal rofa’)

وَأَلِفٌ وَالْــوَاوُ وَالْنُّوْنُّ لِمَا ¤ غَابَ وَغَيْرِهِ كَقَامَا وَاعْلَمَا

Alif, Wau dan Nun, termasuk Dhomir Muttashil untuk Ghoib juga Hadhir. Seperti contoh: قَامَا (Alif Dhomir Muttashil Ghoibain, artinya: “mereka berdua telah berdiri”) dan contoh: اعْلَمَا (Alif Dhomir Muttashil Mukhothobain, artinya: “ketahuilah kalian berdua!”).

–·•Ο•·–

Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu dalam bab Mu’rab dan Mabni, bahwa semua lafazh dhamir adalah mabni. Dan tentunya kemabnian isim dhamir tersebut menempati pada mahal/posisi irabnya masing-masing.

Untuk Dhamir Muttashil (ضمير متصل) didalam mahal irabnya terdapat tiga kategori:

(1). Hanya menempati pada Mahal Rofa’ saja. yaitu ada 5 bentuk dhamir:

1- Ta’ dhamir Mutaharrik/berharkah (التاء المتحرك). dhamir hadir (untuk Mutakallim, mukhatab , atau mukhatabah). contoh:

فَإِذَا عَزَمْـتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

2- Alif Tatsniyah (الف الإثنين). (untuk dhamir hadir juga ghaib)  contoh:

فَخَانَتـَـاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيـَـا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا

lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah

3- Wau Jamak (واو الجماعة), (untuk dhamir hadir juga ghaib) contoh:

وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُــوْا

dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti

4- Ya’ Mukhatabah (ياء المخاطبة) (untuk dhamir hadir) contoh:

فَكُلِــيْ وَاشْرَبِــيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا

maka makan (kamu pr) , minum (kamu pr) dan bersenang hatilah kamu (pr)

5- Nun Jamak muannats (نون الإناث) (dhamir hadir juga ghaib) contoh:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْــنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak handaklah (mereka pr) menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.

(2). sama bisa menempati pada Mahal Nashab dan Jar saja . yaitu ada 3 bentuk dhamir:

1. Ya’ Mutakallim, (dhamir hadir) contoh:

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّــيْ وَآتَانِــيْ مِنْهُ رَحْمَةً

Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya

2. Kaf Mukhatab (dhamir hadir)  contoh:

مَا وَدَّعـَـكَ رَبـُّـكَ وَمَا قَلَى

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu

3. Ha’ Ghaib (dhamir ghaib) contoh:

قَالَ لـَـهُ صَاحِبـُـهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ

Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya

(3). Sama bisa menempati pada Mahal Rafa’, Nashab dan Jar . yaitu 1 bentuk dhamir berupa “Naa” (نا) (dhamir hadir).

contoh:

رَبـَّـنَا إِنـَّـنَا آمَــنَّا فَاغْفِرْ لَــنَا ذُنُوبَــنا وَقِــنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman (kami), maka ampunilah (kami) segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka

Ada juga bentuk isim dhamir yang sama bisa digunakan pada semua mahal i’rab (rafa’, nashab dan jar) yaitu هُمْ dan ي. Namun statusnya tidak seperti نا yang digaribawahi oleh Kiyai Mushannif Ibnu Malik tsb. karena khusus نا adalah satu-satunya bentuk isim dhamir Muttashil dan Mutakallim yang dapat digunakan pada semua kedudukan i’rab.

Contoh هم:

Sebagai dhamir Munfashil ketika mahal Rafa':

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا

Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).

Sebagai dhamir Muttashil ketika mahal Nashab:

سَلـْـهُمْ أَيـُّـهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ

Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?”

Juga sebagai dhamir Muttashil ketika mahal Jar:

وَمِنـْـهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا

Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah

Contoh ي:

Sebagai dhamir mua’annats mukhatabah (kamu pr) ketika mahal Rafa':

فَكُلِــيْ وَاشْرَبِــيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا

maka makan (kamu pr) , minum (kamu pr) dan bersenang hatilah kamu (pr)

Sebagai dhamir mutakallim (lk/pr) ketika mahal Nashab:

وَآتَانِــي مِنْهُ رَحْمَةً

dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya

Juga sebagai dhamir mutakallim (lk/pr) ketika mahal Jar:

أَنِ اشْكُرْ لِــيْ وَلِوَالِدَيْكَ

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu

Kesimpulan Bait diatas: semua dhamir adalah Mabni. diantara isim dhamir ada yang mencocoki bentuknya dalam mahal jar dan mahal nashab. kemudian digaris bawahi oleh Mushannif bahwa dhamir نا “naa” mencocoki bentuknya untuk semua mahal i’rab yang tiga (rafa’-nashab-jar) sebagaimana contoh dalam bait: بِنَا فَإنَّنَا نِلْنَا. disebutkan bahwa dhamir yang berupa Alif tatsniyah, Wau jamak dan Nun jamak muannats, adalah dhamir mahal Rafa’ bisa digunakan untuk Ghaib juga Hadir* (*mukhatab saja). sebagimana contoh bait: قَامَا واعْلَمَا.

Kategori:Bait 57-58-59 Tag:

Pengertian Dhamir Muttashil, Alfiyah Bait 55-56

11 November 2010 10 komentar
Kitab Alfiyah Ibnu Malik » Bab Nakirah dan Ma’rifah » Bait 55-56
–·•Ο•·– 

وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لاَ يُبْتَدَا ¤ وَلاَ يَلِي إلاَّ اخْتِيَــــارَاً أبَــدَا

Dhomir Muttashil adalah Isim Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan tidak boleh mengiringi إلا selama masih bisa memilih demikian..

كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْني أكْرَمَكْ ¤ وَالْيَــاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكْ

Seperti Ya’ dan Kaf dari contoh lafadz: ابْني أكْرَمَكْ (Ya’ Mutakallim dan Kaf Mukhothob), dan seperti Ya’ dan Ha’ dari contoh lafadz: سَلِيْهِ مَا مَلَكْ (Ya’ Mukhatabah dan Ha’ Ghaib)

–·•Ο•·–

Isim Dhamir dari segi penampakannya ada dua golongan:

(1). Dhamir Bariz (بارز) : adalah Isim Dhamir yang mempunyai bentuk penampakan lafazh secara hakikiyah (kongkrit) atau secara hukmiyah (abstrak).

Contoh dhamir bariz yang hakikiyah

أَكْرَمـْتُ الْغَرِيْبَ

Aku memulyakan orang asing itu.

Contoh dhamir bariz yang hukmiyah:

جََََََاءَ الَّذِيْ أَكْرَمْتُ

seorang yang aku mulyakan telah datang

(maksudnya: أَكْرَمْتُــهُ yang aku memulyakan-nya. maka dhamir yang berupa ـه nya” pada contoh kalimat diatas, ada secara hukumnya).

(2). Dhamir Mustatir (مستتر): adalah Isim Dhamir yang tidak mempunyai bentuk lafazh. contoh:

حَافِظْ عَلَى الصَّلاَةِ

Peliharalah… shalat !

(yakni, حَافِظْ أنْتَ Peliharalah olehmu…!)

Dhamir Bariz ada dua macam:

1. (ضمير بارز متصل) Dhamir Bariz Muttashil

2. (ضمير بارز منفصل) Dhamir Bariz Munfashil (akan diterangkan pada bait-bait selanjutnya)

(ضمير بارز متصل) Dhamir Bariz Muttashil/dhamir muttashil: adalah dhamir yang tidak bisa dijadikan permulaan kalimat dan tidak bisa berada setelah lafazh إلا secara ikhtiar (اختيارا)pemilihan”, maksud ikhtiar adalah longgar atau lowong dalam susunan kalimat tidak sempit semisal pada dharurah syi’ir. Contoh Dhamir Muttashil:

اِسْتَمَعْـتُ لِلْمُحَاضَرَةِ

Aku mendengarkan ceramah

Contoh syawahid syair yang melafalkan dhamir bariz muttashil jatuh sesudah إلا secara Syadz:

أَعُوذُ بِرَبِّ الْعَرْشِ مِنْ فِئَةٍ بَغَتْ × عَلَيَّ فَمَالِي عَوْضُ إِلاّهُ نَاصِرُ

Aku berlindung pada Tuhan yang memiliki Arsy….
daripada golongan orang yang menganiayaiku……
maka sebab itu….
tidaklah bagiku seorang penolong kecuali Dia selamanya….

(syahid pada syair diatas adalah pada lafazh إِلاّهُ dimana dhamir muttashil jatuh setelah إِلاّ adalah Syad,  yakni tidak boleh kecuali pada dharurah syi’il)

Demikian juga Dhamir muttashil jatuh sesudah “Illa” pada syair berikut:

وَمَا عَلَيْنَا إِذَا مَاكُنْتِ جَارَتَنَا × ألاَّ يُجَاوِرَنَا إِلاَّكِ دَيَّارُ

(wahai kekasih…)
tidaklah kami menaruh perhatian…
bilamana dikau sudi menjadi tetangga kami…
seakan tidak ada tetangga lain kecuali hanya dikau seorang…

Kategori:Bait 55-56 Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 614 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: