Arsip

Posts Tagged ‘Istighatsah’

Pengertian Istighatsah, Yaa dan Lam Istighotsah, Mustaghats Bih dan Mustaghots Lah » Alfiyah Bait 598-599

3 Maret 2012 7 komentar
–·•Ο•·–

باب الاِسْتِغَاثَةُ

BAB ISTIGHATSAH 

إذَا اسْتُغِيثَ اسْمٌ مُنَادَى خُفِضَا ¤ بِاللَّامِ مَفْتُوحاً كَيَا لَلْمُرْتَضَى

Apabila Isim Munada dibuat Istighotsah maka ia dijarkan oleh Lam istighatsah yg berharkat Fathah. Contoh “Yaa Lal-Murtadhaa” (Tolonglah wahai orang yg Diridhoi Allah!) 

وَافْتَحْ مَعَ المَعْطُوفِ إنْ كَرَّرْتَ يَا ¤ وَفِي سِوَى ذَلِكَ بِالْكَسْرِ ائْتِيَا

Fathahkan juga Lam Istighasah yg menyertai Ma’thufnya jika kamu mengulang kata “Yaa”, selain daripada itu (tanpa mengulang Yaa pada Ma’thuf) maka gunakanlah Lam Istighotsah yg berharkat kasrah. 

–·•Ο•·–

ISTIGHATSAH (minta pertolongan) : termasuk salah satu dari jenis Nida (panggilan/kata seru) yaitu menyeru pihak kedua agar membebaskan dari hal yg tidak diinginkan yg telah terjadi, atau menyerunya untuk menolak dari suatu yg tidak diinginkan agar tidak terjadi. Perangkat Istighotsah tersebut menggunakan kata “YAA”.

Contoh Istighatsah minta tolong untuk hal yg telah terjadi :

يا لَلنَّاس لِلغريق

YAA LAN-NAASI LIL GHARIIQI = wahai manusia, tolonglah orang yg tenggelam!

Contoh Istighatsah minta tolong menolak hal yg tidak diinginkan agar tidak terjadi :

يا لَلحراس لِلأعداء

YAA LAL-HURRAASI LIL-A’DAA’I = wahai pengawal, tolong awasi musuh-musuh!

Metode Istighotsah yg berfungsi sebagai permintaan tolong tersebut bisa terlaksana apabila telah memenuhi ketiga rukunnya yaitu:

1. Harus menggunakan Huruf Nida’ “YAA” bukan yg lainnya.
2. Isim yg menjadi Mustaghats Bih (pihak kedua yg dipintai pertolongan) dijarkan oleh Lam berharkat fathah selamanya, kecuali pada Mustaghats lain yg athaf pada Mustaghats pertama dengan tanpa mengulang huruf Nida’ “YAA”. Contoh:

يا لَلعلماء ولِلمصلحين لِلشباب

YAA LAL-‘ULAMAA’I WA LIL-MUSLIHIINA LISY-SYABAABI = wahai para ulama dan aparat sosial, tolonglah generasi muda!.

lafazh AL-MUSHLIHIINA = asalnya bukan merupakan Mustaghots, karena tidak ada huruf Nida “Yaa” padanya, akan tetapi ia telah diathafkan pada lafazh “ULAMAA’I” maka makna Istighotsah juga dikandungnya.

Apabila pada Ma’thufnya mengulang kata “Yaa”, maka wajib Lamnya berharkat Fathah, contoh:

يا لَلوعاظ ويا لَلخطباء لِظاهرة السَّهَرِ

YAA LAL-WU’AAZHI WA YAA LAL-KHUTHOBAA’I LI ZHAAHIROTIS-SAHARI = wahai penceramah dan muballigh, tolong peringati wanita malam!

3. Isim yg menjadi Mustaghats Lah (pihak ketiga penyebab dipintanya pertolongan agar ditangani atau diberi bantuan) dijarkan oleh huruf “Lam” berharkat Kasroh seperti pada contoh-contoh diatas, atau dijarkan oleh huruf “Min”, seperti contoh:

يا لَلقاضي من شاهد الزور

YAA LAL-QODHIY MIN SYAAHIDIZ-ZUURI = wahai hakim, tolong hindari saksi palsu!

Ada beberapa pendapat Ulama Nuhat tentang status Lam yg terdapat pada Mustaghats Bih, pendapat terbaik adalah: bahwa Lam tsb adalah huruf Jar yg diharkati fathah untuk membedakan dengan Lam yg terdapat pada Mustaghats Lah.

Beberapa pendapat oleh ulama’ nuhat tentang status huruf “Lam” yg terdapat pada Mustaghats Bih. Namun pendapat yg terbaik bahwa Lam-lam tersebut adalah huruf jar. Penggunaan Lam fathah pada Mustaghats Bih untuk membedakan dengan lam kasrah pada Mustaghats Lah. Masing-masing kedua lam jar tersebut berikut majrurnya, berta’alluq pada huruf Nida’ “Yaa” sebagai pengganti Fi’il “ALTAJI’U” (aku minta tolong) atau Fi’il semacamnya.

Contoh i’robnya :

يا لَلعلماءِ لِلجهال

YAA LAL-‘ULAMAA’I LIL-JUHHAALI = wahai para alim, tolonglah orang-orang bodoh!

YAA = huruf nida dan istighasah.
LAL-ULAMAA’I = LAM huruf Jar dan Istighotsah, ULAMAA’ Majrur, Jar dan Majrur berta’alluq pada YAA.
LIL-JUHHAALI = Jar dan Majrur juga berta’alluq pada YAA.

%d blogger menyukai ini: