Beranda > Bait 608-609-610-611 > Pengertian Munada Tarkhim dlm Ilmu Nahwu » Alfiyah Bait 608-609-610-611

Pengertian Munada Tarkhim dlm Ilmu Nahwu » Alfiyah Bait 608-609-610-611

–·•Ο•·–

باب التَّرْخِيمُ

BAB TARKHIM  

تَرْخِيماً احذِفْ آخِرَ المُنَادَى ¤ كَيَاسُعَا فِيمَنْ دَعَا سُعَادا

Buanglah dengan di-tarhim pada akhir kalimah Munada, seperti contoh “Yaa Su’aa” didalam perkataan orang yg memanggil nama Su’aad. 

وَجَوِّزَنْهُ مُطْلَقاً فِي كُلِّ مَا ¤ أُنِّثَ بِالهَا وَالَّذِي قَدْ رُخِّمَا

Perbolehkanlah tarkhim secara mutlak pada setiap Munada yg dita’nits dengan Ha’ (ta’ marbutoh). Dan terhadap Munada yg ditarkhim… (ke bait selanjutnya)  

بحَذْفهَا وَفِّرْهُ بَعْدُ وَاحْظُلَا ¤ تَرْخِيمَ مَا مِنْ هذِهِ الْهَا قَدْ خَلا

…dengan membuang Ha’ ta’nits tsb, pertahankan setelah itu. Cegahlah tarkhim terhadap munada yg kosong dari Ha’ ta’nits…  

إلّا الرُّبَاعِيَّ فَمَا فَوقُ الْعَلَمْ ¤ دُونَ إضَافَةٍ وَإسْنادٍ مُتَمْ

kecuali berupa isim empat huruf atau lebih yg berupa isim alam bukan tarkib idhafah atau tarkib Isnad tamm.  

–·•Ο•·–

Pengertian Tarkhim menurut bahasa adalah melunakkan suara. Menurut Istilah Ilmu Nahwu adalah pembuangan akhir kalimah didalam Nida’ dengan cara khusus umumnya untuk meringankan.

Macam-macam Tarhim :

1. Tarkhim Munada
2. Tarkhim Dharurah
3. Tarkhim Tashghir (dijelaskan pada bab Tashghir)

Pembagian Isim yg ditarkhim

1. Barakhiran Ha’
2. Tidak berakhiran Ha’

Jika Isim tersebut diakhiri dengan Ha’ maka boleh ditarkhim secara mutlak yakni baik berupa Isim ‘Alam semisal “Faathimah”, “Hamzah”, atau bukan Isim ‘Alam semisal “Jaariyah”, baik berupa Isim lebih dari tiga huruf atau tetap tiga huruf semisal “Syaatun”. Maka menjadi “Yaa Faathima”, “Yaa Hamza”, “Yaa Syaa”.

Contoh:

ياشا إدجني

YAA SYAA IDZJINIY! = hai kambing tinggalah/diamlah disini.

lafazh SYAA asalnya SYAATUN ditarkhim dengan membuang akhir kalimah yg berupa huruf Ha’ Muannats (huruf ta’ marbuthoh disebut Ha’ karena ketika wakof dibaca Ha’).

Jika Isim tersebut tidak berakhiran Ha’ muannats, maka boleh ditarkhim dengan tiga syarat sbb:

1. Harus Isim empat huruf atau lebih.
2. Harus isim ‘Alam.
3. Harus bukan tarkib idhofi atau tarkib isnadi.

Apabilah ketiga syarat diatas tidak terpenuhi, maka isim yg tidak berakhiran Ha’ tersebut tidak boleh ditarhim, semisal hanya terdiri dari tiga huruf “zaidun”, “umar” atau bukan isim Alam “qoo’imun” “jaalisun” atau berupa terkib idhafi “Abdul Aziz” atau berupa tarkib Isnadi “Syaaba Qornaahaa”. (InsyaAllah akan dijelaskan bagian-bagiannya pada bait selanjutnya)

  1. Anonim
    13 Maret 2012 pukul 11:59

    arju ila babul akhor liaana haza sohehun jiddan linataalamu ilmun nahwu

    • ulul albab rahman
      19 Maret 2012 pukul 16:19

      arju ila babil akhor…dst…
      ….ilman nahwi.

  1. 16 November 2012 pukul 13:08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: