Beranda > Bait 595-596-597 > Bentuk Isim khusus Munada » Alfiyah Bait 595-596-597

Bentuk Isim khusus Munada » Alfiyah Bait 595-596-597

–·•Ο•·–

أسماء لازَمَتِ النِّدَاءَ

BAB ISIM-ISIM YG LAZIM UNTUK NIDA’ 

وَفُلُ بَعْضَ مَا يُخَصُّ بالنَّدَا ¤ لُؤْمَانُ نَوْمَانُ كَذَا واطَّرَدَا

“Fulu” termasuk dari isim (Sima’i) yg dikhususi Nida. demikian juga “Lu’maanu” dan “Naumaanu”. 

فِي سَبِّ الأنْثَى وَزْنُ يَا خَبَاثِ ¤ وَالأَمْرُ هَكَذَا مِنَ الثُّلَاثِي

Ada yg secara menerus (Qiyasi) digunakan untuk cacian pada wanita, yaitu wazan “Fa’aali” contoh “Yaa Khabaatsi” (Hei wanita jahat!). Kata perintah juga ada yg berwazan seperti ini, dari Fi’il Tsulatsi. 

وَشَاعَ فِي سَبِّ الذُّكُورِ فُعَلُ ¤ وَلا تَقِسْ وَجُرَّ فِي الشِّعْرِ فُلُ

Terkenal juga penggunaannya untuk cacian pada pria yaitu wazan “Fu’alu” dan janganlah kamu mengiaskannya (Sima’i). Lafazh “Fulu” ada yg dijarkan dalam sebuah Syair (yakni pernah digunakan bukan sebagai Munada). 

–·•Ο•·–

Termasuk dari Isim-Isim yang hanya untuk digunakan sebagai Munada atau Munada Lazim, ada tiga bagian :

1. Sima’i mufakat Nuhat, ada empat lafazh :

  • FULU = laki-laki
  • FULATU = perempuan
  • LU’MAANU = jahat/kurang ajar
  • NAUMAANU = tukang tidur

2. Qiyasi, Mufakat Nuhat :

Yaitu sifat dengan wazan FA’AALI serupa dengan makna FAA’ILATUN dan FAA’IILATUN digunakan sebagai cacian kepada wanita yg berbuat hina. Dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Tamm Mutasharrif, contoh:

يا خباثِ

YAA KHABAATSI = hei wanita tercela!

يا غدارِ

YAA GHADAARI = her wanita penghianat!

يا سراق

YAA SARAAQI = hei wanita pencuri!

Contoh i’rob: KHABAATSI = munada mabni dhammah muqaddar, dicegah i’rob zhahirnya oleh kasrah bentuk asli dalam posisi Nashab.

Diqiaskan juga penggunaan wazan FA’AALI yg mabni kasrah tersebut sebagai kata perintah yakni Isim Fi’il Amar, contoh:

نزال

NAZAALI = turunlah!

شرابِ

SYARAABI = minumlah!

3. Khilaf Nuhat ada yg mengatakan Sima’i ada Qiyasi :

Yaitu Sifat dengan wazan FU’ALU, digunakan sebagai cacian pada laki-laki, contoh:

يا غُدَر

YAA GHUDARU! = hei laki-laki penghianat!

يافُسق

YAA FUSAQU! = hei laki-laki pencuri!

Adapun menurut qoul yg rojih bentuk wazan ini adalah Qiyasi, dengan syarat sebagai penunjukan atas celaan.

Dijelaskan juga bahwa lafazh “FULU” yg lazim untuk Nida’ tsb boleh digunakan pada selain Nida’ tapi khusus dharurah Syi’ir, contoh Syair dalam bahar Rojaz :

في لجةٍ أمسك فلاناً عن فُلِ

FIY LAJJATIN AMSIK FULAANAN ‘AN FULI = dalam situasi tegang…”pegang laki-laki ini dari laki-laki itu” (mencegah agar tidak terjadi perkelahian).

Penggunaan FULU pada syair diatas sebagai Dharurah Syi’ir demikian menurut Ibnu Malik. Menurut Ibnu Hisyam yang benar adalah bahwa FULU disini asalnya FULAANU dibuang Alif dan Nunnya karena Dharurah Syi’ir. Perihal pembuangan seperti ini akan dijelaskan pada Bab TARKHIM pada Bab selanjutnya… InsyaAllah .

  1. Anonim
    3 Maret 2012 pukul 21:17

    Alhamdulillah saya dapat belajar ilmu nahwu lewat blog ini

  2. 11 Maret 2012 pukul 11:02

    terima kasih ya ustaz semoga bermamfaat untuk saya amin !

  3. 30 Januari 2014 pukul 10:22

    izin ngopian pak

  1. 16 November 2012 pukul 13:08
  2. 4 Juni 2016 pukul 16:44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: