Arsip

Archive for Februari, 2012

Bentuk Isim khusus Munada » Alfiyah Bait 595-596-597

29 Februari 2012 5 komentar
–·•Ο•·–

أسماء لازَمَتِ النِّدَاءَ

BAB ISIM-ISIM YG LAZIM UNTUK NIDA’ 

وَفُلُ بَعْضَ مَا يُخَصُّ بالنَّدَا ¤ لُؤْمَانُ نَوْمَانُ كَذَا واطَّرَدَا

“Fulu” termasuk dari isim (Sima’i) yg dikhususi Nida. demikian juga “Lu’maanu” dan “Naumaanu”. 

فِي سَبِّ الأنْثَى وَزْنُ يَا خَبَاثِ ¤ وَالأَمْرُ هَكَذَا مِنَ الثُّلَاثِي

Ada yg secara menerus (Qiyasi) digunakan untuk cacian pada wanita, yaitu wazan “Fa’aali” contoh “Yaa Khabaatsi” (Hei wanita jahat!). Kata perintah juga ada yg berwazan seperti ini, dari Fi’il Tsulatsi. 

وَشَاعَ فِي سَبِّ الذُّكُورِ فُعَلُ ¤ وَلا تَقِسْ وَجُرَّ فِي الشِّعْرِ فُلُ

Terkenal juga penggunaannya untuk cacian pada pria yaitu wazan “Fu’alu” dan janganlah kamu mengiaskannya (Sima’i). Lafazh “Fulu” ada yg dijarkan dalam sebuah Syair (yakni pernah digunakan bukan sebagai Munada). 

–·•Ο•·–

Termasuk dari Isim-Isim yang hanya untuk digunakan sebagai Munada atau Munada Lazim, ada tiga bagian :

1. Sima’i mufakat Nuhat, ada empat lafazh :

  • FULU = laki-laki
  • FULATU = perempuan
  • LU’MAANU = jahat/kurang ajar
  • NAUMAANU = tukang tidur

2. Qiyasi, Mufakat Nuhat :

Yaitu sifat dengan wazan FA’AALI serupa dengan makna FAA’ILATUN dan FAA’IILATUN digunakan sebagai cacian kepada wanita yg berbuat hina. Dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Tamm Mutasharrif, contoh:

يا خباثِ

YAA KHABAATSI = hei wanita tercela!

يا غدارِ

YAA GHADAARI = her wanita penghianat!

يا سراق

YAA SARAAQI = hei wanita pencuri!

Contoh i’rob: KHABAATSI = munada mabni dhammah muqaddar, dicegah i’rob zhahirnya oleh kasrah bentuk asli dalam posisi Nashab.

Diqiaskan juga penggunaan wazan FA’AALI yg mabni kasrah tersebut sebagai kata perintah yakni Isim Fi’il Amar, contoh:

نزال

NAZAALI = turunlah!

شرابِ

SYARAABI = minumlah!

3. Khilaf Nuhat ada yg mengatakan Sima’i ada Qiyasi :

Yaitu Sifat dengan wazan FU’ALU, digunakan sebagai cacian pada laki-laki, contoh:

يا غُدَر

YAA GHUDARU! = hei laki-laki penghianat!

يافُسق

YAA FUSAQU! = hei laki-laki pencuri!

Adapun menurut qoul yg rojih bentuk wazan ini adalah Qiyasi, dengan syarat sebagai penunjukan atas celaan.

Dijelaskan juga bahwa lafazh “FULU” yg lazim untuk Nida’ tsb boleh digunakan pada selain Nida’ tapi khusus dharurah Syi’ir, contoh Syair dalam bahar Rojaz :

في لجةٍ أمسك فلاناً عن فُلِ

FIY LAJJATIN AMSIK FULAANAN ‘AN FULI = dalam situasi tegang…”pegang laki-laki ini dari laki-laki itu” (mencegah agar tidak terjadi perkelahian).

Penggunaan FULU pada syair diatas sebagai Dharurah Syi’ir demikian menurut Ibnu Malik. Menurut Ibnu Hisyam yang benar adalah bahwa FULU disini asalnya FULAANU dibuang Alif dan Nunnya karena Dharurah Syi’ir. Perihal pembuangan seperti ini akan dijelaskan pada Bab TARKHIM pada Bab selanjutnya… InsyaAllah .

Munada Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 582

28 Februari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

المُنَادَى المُضَافُ إلَى يَاء المُتَكَلِّمِ

BAB MUNADA MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM 

وَاجْعَلْ مُنَادًى صَحَّ إنْ يُضِفْ لِيَا ¤ كَعَبْدِ عَبْدِي عَبْدَا عَبْدِيَا

Jika Munada Shahih akhir mudhaf pada Ya’ Mutakallim maka buatlah serupa contoh Abdi, Abdiy, Abdaa atau Abdayaa.  

–·•Ο•·–

Munada yang dimudhafkan pada Ya’ Mutakallim bisa berupa Isim Mu’tal Akhir atau Shahih Akhir.

Apabila berupa Isim Mu’tal Akhir, maka hukumnya sama dengan ketika tidak menjadi Munada, sebagaimana penjelasannya dalam Bab Mudhaf pada Ya’ Mutakallim, yaitu menetapkan Ya Mutakallim dengan berharkat fathah, contoh:

يا فتايَ

YAA FATAAYA = Hai Pemudaku!

يا قاضيَّ

YAA QAADIYA = Hai Hakimku !

oOo

Apabila berupa Isim Shahih, maka boleh dibaca dengan lima cara :

1. Membuang Ya’ Mutakallim dan menetapkan harkat kasrah sebagai dalil terbuangnya Ya’ Mutakallim. Cara yang pertama ini adalah yang paling banyak digunakan, contoh :

يا غلامِ

YAA GHULAAMI = wahai anak mudaku !

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

YAA ‘IBAADI FAT-TAQUUN = Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku (QS. Azzumar 16)

Lafazh ‘IBAADI = Munada Mudhaf, Manshub tanda nashabnya Fathah Muqaddar di atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim yg dibuang untuk takhfif/meringankan, dicegah i’rab zhahirnya karena Isytighol mahal/ termuatnya posisi dengan huruf yang sesuai. Ya’ yg terbuang adalah Dhamir Mutakallim Mabni Sukun pada posisi Jarr sebagai Mudhaf Ilaih.

2. Menetapkan Ya’ dengan berharkat Sukun, Cara yang keduan ini juga yang paling banyak digunakan setelah cara yg pertama, contoh:

يا غلامي

YAA GHULAAMIY = wahai pemudaku !

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an dengan menetapkan Ya’ sukun oleh sebagian Qiro’ah Sab’ah bacaan Abu ‘Amr dan Ibnu “Amir:

يَا عِبَادِيْ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ

YAA ‘IBAADIY LAA KHOUFUN ‘ALAIKUMUL-YAUMA WA LAA ANTUM TAHZANUUN. = “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.(Az-Zukhruf 68)

Lafazh IBAADIY = Munada Manshub, tanda nashabnya Fathah muqaddar diatas Ya’ yg dibuang. Ya’ dhamir mutakallim mabni sukun dalam posisi Jarr sebagai Mudhaf Ilaih.

3. Mengganti Ya’ dengan Alif kemudian membuangnya, menetapkan harkat Fathah sebagai dalil terbuangnya Alif, contoh:

يا غلامَ

YAA GHULAAMA = wahai pemudaku !

Lafazh GHULAAMA = Munada Mudhaf Manshub, tanda nashabnya Fathah zhahir. Ya’ Mutakallim diganti Alif yg terbuang dalam mahal Jar Mudhaf Ilaih.

4. Mengganti Ya’ dengan Alif yg ditetapkan, contoh:

يا غلامَا

YAA GHULAAMAA = wahai pemudaku !

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ

YAA ASAFAA ‘ALAA YUUSUFA = “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf” (QS. Yusuf 84)

Lafazh ASAFAA = Munada Manshub, tanda nashabnya dengan fathah zhahir, Ya’ Mutakallim digantikan Alif sebagai Dhamir yg mabni atas sukun dalam mahal Jar Mudhaf Ilaih.

5. Menetapkan Ya’ dengan berharkat Fathah, contoh :

يا غلامِيَ

YAA GHULAAMIYA = wahai pemudaku!

contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ

QUL YAA ‘IBAADIYAL-LADZIINA ASROFUU ‘ALAA ANFUSIHIM = Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri (QS. Az-Zumar :53)

Lafazh ‘IBAADIYA = Munada dinashabkan dengan Fathah Muqaddar, Ya’ mutakallim dhamir mabni fathah dalam mahal jarr menjadi Mudhaf Ilaih.

Lima cara bacaan diatas dalam hal yang paling banyak digunakan, yaitu : dengan membuang Ya’ Mutakallim dan cukup dengan harkat kasrah pada akhir kalimat, kemudian menetapkan Ya’ sukun atau berharkat Fathah, kemudian mengganti Ya’ dengan Alif, kemudian membuang Alif, terakhir cukup dengan Fathah akhir kalimah.

Tabi’ Munada Mabni Dhammah » Alfiyah Bait 585-586-587

28 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

فصْل في تابع المنادى

FASAL MENERANGKAN TABI’ MUNADA 

تَابعَ ذِيْ الضَّمِّ المُضَافَ دُونَ ألْ ¤ ألْزِمْهُ نَصْباً كَأَزَيْدُ ذَا الْحِيَلْ

Terhadap Tabi’ yg mengikuti Munada mabni dhommah (munada mufrod alam/nakirah maksudah) yang mana Tabi’ tsb mudhaf tanpa AL, hukumilah ia wajib Nashob, contoh: “A, Zaidu dzal-hiyal” (Wahai, Zaid si empunya ide..!) 

وَمَا سِوَاهُ ارْفَعْ أوِ انْصَبْ وَاجْعَلَا ¤ كَمُسْتَقِلٍّ نَسَقاً وَبَدَلا

Selain Tabi’ Munada yg mudhaf tanpa Al sebagaimana diatas (yakni berupa tabi’ munada yg mufrod atau mudhaf menyandang AL) maka boleh rofa’kanlah atau nashobkanlah. Sedangkan tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq dan Badal, hukumilah sebagaimana Munada itu sendiri (yakni, mabni dhammah jika mufrod atau Nashab jika Mudhaf). 

وَإنْ يَكُنْ مَصْحُوبَ ألْ مَا نُسِقَا ¤ ففِيهِ وَجْهَانِ وَرَفْعٌ يُنْتَقَى

Jika Tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq yg disandangi AL, maka boleh dua jalan (Rofa’ atau Nashob) sedangkan Rofa adalah jalan yg terpilih. 

–·•Ο•·–

Fasal ini diangkat oleh Mushannif untuk menerangkan hukum Tabi’ kepada Munada, semisal Na’at dan lain-lainnya. Telah dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa Munada didalam tarkibnya terdapat dua keadaan hukum:  1. Mabni dan 2. Nashab

Untuk Munada Mabni, maka hukum Tab’inya ditafsil sebagai berikut:

1. Apabila Munada Mabni dan Tabi’nya berupa Isim Mudhaf tanpa AL yang berupa Na’at, Taukid atau ‘Athaf Bayan. Maka Tabi’ disini wajib Nashab dengan petimbangan mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada. Dan tidak boleh dimabnikan dengan mempertimbangkan Lafazh Munada.

Contoh Tabi’ Munada berupa Na’at yang mudhaf tanpa AL :

يا خالدُ صاحبَ محمد

YAA KHAALIDU SHAAHIBA MUHAMMADIN = wahai Khalid teman Muhammad!

Contoh Tabi’ Munada berupa Athaf Bayan yang mudhaf tanpa AL :

يا صالحُ أبا عبد الله

YAA SHAALIHU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Shaleh bapak Abdullah!

Contoh Tabi’ Munada berupa Taukid yang mudhaf tanpa AL :

يا تميمُ كلَّهُم

YAA TAMIIMU KULLAHUM = wahai seluruh bani Tamim…!

2. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Mudhaf dg menyandang AL atau berupa mufrod (tidak mudhaf). Maka Tabi’-tabi’ tersebut boleh Rofa’ dan Nashab. Rofa’ dengan pertimbangan mengikuti Lafazh Munada, dan Nashab mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada.

Contoh pada Tabi’ berupa Athaf Bayan:

يا رجلُ زيدٌ وزيداً

YAA ROJULU ZAIDUN / ZAIDAN = wahai seorang Zaid…!

Contoh pada Tabi’ berupa Taukid:

يا تميم أجمعون وأجمعين

YAA TAMIIMU AJMA’UUNA / AJMA’IINA = wahai bani Tamim semuanya..!

Termasuk pada hukum Tabi’ nomer 2 – boleh rofa’ dan nashab, yaitu Athaf Nasaq yg menyandang AL, contoh :

يا خالدُ والطالب

YAA KHAALIDU WAT-THAALIBU / AT-THAALIBA = wahai Khalid dan seorang Santri.

Pada contoh ini lebih baik memilih Rofa’ menurut Imam Khalil dan Imam Sibawaihi demikian untuk menyamai pada lafazh Matbu’.

Namun dalam Al-Qur’an ditemukan Nashab, contoh:

يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ

YAA JIBAALU AWWIBII MA’AHUU WAT-THAIRO = “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”

Qiro’ah Sab’ah membaca Nashab sebagai athaf kepada mahal i’rab JIBAALU. Para Nuhat seperti Imam Sibawaih dan Imam Khalil mereka memahami dalam ayat ini bahwa Nashabnya lafazh AT-THAIRO athaf kepada lafazh FADHLAN sebelumnya.

3. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Athaf Nasaq tanpa AL atau berupa Badal, maka dihukumi sebagaimana hukum Munada secara mandiri: Mabni apabila Mufrad (tidak mudhaf) dan Nashab apabila Mudhaf, contoh:

Athaf Nasaq tanpa AL :

يا خالدُ ومحمدُ

YAA KHAALIDU WA MUHAMMADU! = hai Khalid dan Muhammad.

Badal :

يا رجلُ خالدُ

YAA ROJULU KHAALIDU! = hai seorang lelaki Khalid..!.

Dua contoh Tabi’ diatas dihukumi seperti Munada Mufrad seperti hukum mengatakan :

يا محمدُ ويا خالدُ

YAA MUHAMMADU dan YAA KHAALIDU = Hai Muhammad! dan Hai Khalid!

Athaf Nasaq tanpa AL, Nashab karena Mudhaf:

يا خالد وصاحبَ الدار

YAA KHAALIDU WA SHAAHIBAD-DAARI = wahai Khalid dan Pemilik rumah..!

Contoh Badal, Nashab karena Mudhaf:

يا زيد أبا عبد الله

YAA ZAIDU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Zaid bapak Abdullah..!

Pengertian Nida’, Munada dan Mandub » Alfiyah Bait 573-574

26 Februari 2012 16 komentar
–·•Ο•·–

النِّدَاءُ

BAB NIDA’ 

وَلِلْمُنَادَى النَّاءِ أوْ كَالنَّاءِ يَا ¤ وَأيْ وَآ كَذا أيَا ثُمَّ هَيَا

Penggunaan huruf Nida’ (kata seru) untuk Munada jauh atau berhukum jauh, yaitu “Yaa”, “Ay” dan “Aay”. Demikian juga “Ayaa”, dan “Hayaa”. 

وَالهَمْزُ لِلدَّانِي وَوَا لِمَنْ نُدِبْ ¤ أوْ يَا وَغَيْرُ وَا لَدَى اللَّبْسِ اجْتُنِبْ

Hamzah “A” untuk Munada dekat. “Waa” digunakan untuk Mandub yg diratapi atau menggunakan “Yaa”, adapun penggunaannya selain “Waa” dilarang ketika ada kesamaran (antara “Yaa” untuk ratapan dan “Yaa” panggilan jauh). 

–·•Ο•·–

Definisi Nida’ (kata seru) : Tholabul-Iqbal (mohon perhatian) dengan menggunakan salah satu huruf Nida’ yang menggantikan tugas Fi’il “AD’UU/aku berseru” baik secara lafazhan atau taqdiran (dikira-kira).

Contoh Nida’ dengan huruf Nida’ lafzhan :

يا صاحبَ السيارة تمهل

YAA SHAAHIBAS-SAYYAARATA TAMAHHAL! = hoi si empunya mobil, pelan-pelan!

Contoh Nida’ dengan huruf Nida’ taqdiran (dikira-kira) :

صاحبَ السيارة تمهل

SHAAHIBAS-SAYYAARATA TAMAHHAL! = si empunya mobil, pelan-pelanlah!

(Perihal pembuangan huruf Nida’ seperti contoh ini, akan diterangkan pada bait selanjutnya)

Huruf-huruf Nida’ ada delapan terbagi tiga :

1. Digunakan untuk Munada dekat

“A” Hamzah berharkat fathah pendek, contoh:

أخالد أجب

A KHAALIDU AJIB..! = He Khalid, jawablah!

2. Digunakan untuk Munada jauh atau berhukum jauh

“Yaa, Aa, Ayaa, Hayaa, Ay, Aay”

Contoh Munada jauh :

يا صاعد الجبل تمهل

YAA SHAA’IDAL-JABALI TAMAHHAL! = he pendaki gunung, hati-hati!

Contoh Munada hukum jauh :

أيا غافلاً والموت يطلبه

AYAA GHAAFILAN WAL-MAUTU YATHLUBU HU = wahai orang yg lupa kematian akan menyertainya..!

3. Digunakan untuk Munada Mandub (yg diratapi) kata seru untuk menyatakan rasa sedih atau sakit, baik karena musibah, kesakitan, kematian, kehilangan, dsb.

“Waa”, contoh:

وا رأساه

WAA RO’SAAH = aduh kepalaku (misalkan, kepadanya sakit)

وا زَيْدَاه

WAA ZAIDAAH = Oh.. Zaid (misalkan, kerena kematian Zaid)

Boleh juga menggunakan huruf Nida’ “Yaa” sebagai Nida’ Mandub, bilaman ada qorinah yg menunjukkan tentang itu.

Contoh Syair oleh Jarir bin ‘Athiyyah yang berduka atas kematian Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan menyebut-nyebut keagungannya.

حُمِّلْتَ أمراً عظيماً فاصطبرت له ¤ وقمت فيه بأمر الله يا عمرا

HUMMILTA AMRON ‘AZHIIMAN FASHTHOBARTA LAHU # WA QUMTA FIIHI BI AMRILLAAHI YAA ‘UMAROO. = Kau bebani dirimu dengan hal yang mulia, karenanya engkau bersabar dan kau tegakkan didalamnya sesuai perintah Allah, Oh… Umar!

Kategori:Bait 573-574 Tag:, ,

Definisi Badal : Tabi’ maksud hukum tanpa perantara » Alfiyah Bait 565

25 Februari 2012 8 komentar
–·•Ο•·–

الْبَدَلُ

BAB BADAL 

التَّابعُ المَقْصُودُ بالْحُكْمِ بلا ¤ وَاسِطَةٍ هُوَ المُسَمَّى بَدَلا

Isim Tabi’ yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum tanpa perantara (huruf Athaf), demikian dinamakan Badal. 

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ke lima dari Isim-isim Tawabi’, yaitu BADAL.

Definisi Badal : Isim Tabi’ yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum dengan tanpa perantara huruf Athaf antara Badal dan Mubdal Minhunya. Contoh:

عَمَّ الرخاء في زمن الخليفة عمر بن عبد العزيز

AMMA AR-RAKHAA’U FIY ZAMANI AL-KHALIIFATI ‘UMARO BNI ‘ABDIL ‘AZIIZI = Ketentraman menyeluruh pada masa Khalifah Umar Bin ‘Abdul ‘Aziz.

Lafazh UMARO = Sebagai badal dari lafazh KHALIIFATI, dan sebagai lafazh yg dimaksudkan oleh penisbatan hukum.
Andaikan cukup hanya menyebut Khalifah maka tidak diketahui siapakah Khalifah yang dimaksud, karena sebutan Khalifah bukanlah maksud dari dzat Umar bin Abd Aziz itu sendiri. Akan tetapi sebutan Kholifah sebagai Tamhid (pembuka) bagi lafazh sesudahnya, agar kalimat diterima lebih kuat didalam hati si pendengar.

Penjelasan Definisi :

TABI :

Isim jenis bagian dari Tawabi’.

YANG DIMAKSUDKAN OLEH HUKUM :

Sebagai qayyid awal atau sebagai batasan definisi bagian pertama untuk membedakan dengan pengertian Tawabi’ yang lain seperti Na’at, Athaf Bayan dan Taukid, karena Tabi’-tabi’ tsb sebatas penyempurna bagi Matbu’nya yg dikenai penisbatan hukum, dan bukan sebagai Tabi’ yang dinisbati oleh hukum itu sendiri.

Qayyid diatas juga dapat membedakan dengan pengertian Athaf Nasaq dengan Huruf Wawu dan serupanya, contoh:

جاء صالح وعاصم

JAA’A SHAALIHUN WA ‘AASHIMUN = Shaleh dan Ashim telah datang.

Maksud hukum (JAA’A) pada contoh ini tidak hanya tertuju pada Tabi’ (AASHIMUN) tapi juga tertuju pada Matbu’ (SHAALIHUN).

Demikian juga Ma’thuf dengan huruf “LAA”, contoh:

جاء عاصم لا صالح

JAA’A ‘AASHIMUN LAA SHAALIHUN = Ashim datang Zaid tidak.

Lafazh setelah huruf Athaf LAA yaitu lafazh “SHAALIHUN” sebagai Tabi’ tapi tidak dikenai maksud hukum.

Demikian juga Ma’thuf dengan huruf “BAL” setelah nafi (kalimat negative), contoh:

ما جاء صالح بل عاصم

MAA JAA’A SHAALIHUN BAL ‘AASHIMUN = Shaleh tidak datang tapi Ashim.

yang dikenai maksud hukum “tidak datang” dalam contoh ini adalah Matbu’ yaitu lafazh SHAALIHUN.

TANPA HURUF PERANTARA:

Sebagai Qayyid Tsani atau sebagai batasan definisi bagian kedua untuk membedakan dengan Ma’thuf dengan huruf BAL setelah kalam itsbat (kalimat positive), contoh:

جاء صالح بل عاصم

JAA’A SHAALIHUN BAL ‘AASHIMUN = Shaleh datang namun Ashim.

Lafazh ‘AASHIMUN = sebagai Tabi’ yang dikenai maksud hukum, tapi disini ada huruf perantara yaitu BAL, oleh karenanya tidak dinamakan Badal.

Definisi Athaf Nasaq » Alfiyah Bait 540-541-542

25 Februari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

عَطْفُ النَّسقِ

ATHAF NASAQ 

تَالٍ بحَرْفٍ مُتْبعٍ عَطْفُ النَّسَقْ ¤ كَاخصُصْ بوُدٍّ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ

Isim tabi’ yg mengikuti dg huruf penghubung (antara Tabi’ dan Matbu’nya), demikian definisi Athaf Nasaq. Seperti contoh “Ukhshush bi waddin wa tsanaa’in man shadaqa” = Istimewakan..! dengan belas kasih dan sanjungan terhadap orang-orang yg jujur. 

فَالْعَطْفُ مُطْلَقاً بِوَاوٍ ثُمَّ فَا ¤ حَتَّى أمَ أوْ كَفيكَ صِدْقٌ وَوَفَا

Athaf yg mengikuti secara Mutlaq (lafazh dan Makna) yaitu dengan huruf Athaf Wawu, Tsumma, Fa’, Hatta, Am, dan Aw. Seperti contoh “Fiika shidqun wa wafaa” = kamu harus jujur dan menepati.   

وَأتْبَعَت لَفْظاً فَحَسْبُ بَلْ وَلا ¤ لَكِنْ كَلَمْ يَبْدُ امْرُؤٌ لَكِنْ طَلَا

Sedangkan huruf Athaf yg cukup mengikutkan secara lafazhnya saja, yaitu Bal, Laa dan Laakin. Seperti contoh “Lam yabdu imru’un laakin tholaa” tidak tampak seorangpun melainkan anak rusa.   

–·•Ο•·–

Definisi Athaf Nasaq :

Isim Tabi’ yang terdapat perantara di antara Tabi’ dan Matbu’ dengan salah satu huruf Athaf.

Definisi Nasaq menurut bahasa adalah Isim Mashdar “NASQUN” yg berarti “penyusunan teratur” contoh: NASAQTU AL-KALAAMA = aku menyusun/mengatur kalimat. yakni mengathafkan satu bagian kepada bagian yg lain sehingga bagian-bagian tersebut beriringan secara teratur.

oOo

Huruf-huruf Athaf semuanya ada sembilan dan terbagai menjadi dua bagian:

1. Bagian pertama dari Huruf-huruf Athaf yg melaksanakan Tasyrik (penyekutuan) secara lafazh dan makna.

Penyekutuan secara Lafazh dimaksudkan adalah didalam hukum i’robnya. Penyekutuan secara makna dimaksudkan adalah menetapkan pada Ma’thuf dengan hukum yang ditetapkan pada Ma’thuf ‘Alaih. Penetapan demikian berlaku pada Athaf Mufrod, sedangkan Athaf Jumlah tidak berlaku Faidah Tasyrik (penyekutuan).

Bagian huruf Athaf disini ada enam huruf :

1. Wawu
2. Tsumma
3. Huruf Fa’
4. Hattaa
5. Am
6. Aw

Contoh:

جاء خلد وعلي

JAA’A KHOOLIDUN WA ‘ALIYYUN = Khalid dan Ali telah datang

حضر الطلاب ولم يحضر المدرس

HADHARA AT-THULLAABU WA LAM YAHDHUR AL-MUDARRISU = para siswa telah hadir dan para guru belum hadir.

oOo

2. Bagian kedua dari Huruf-huruf Athaf yg melaksanakan Tasyrik (penyekutuan) secara lafazhnya saja tidak secara makna.

Tasyrik secara Lafazhnya, yakni secara i’robnya. Dan tidak secara makna, yakni tidak menghukumi Ma’thuf dengan hukum secara makan yg ada pada ma’thuf Alaih.

Bagian huruf Athaf disini ada tiga huruf :

1. Bal
2. Laa
3. Laakin

Contoh:

ما جاء الضيف بل ولده

MAA JAA’A ADH-DHAIFU BAL WALADUHU = Tamu itu tidak datang tapi anaknya.

Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535

24 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

العطف

BAB ATHAF

عطف البيان

ATHAF BAYAN 

الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ

Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan). 

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ

Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.   

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:

1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)

Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.

Penjelasan Definisi :

TABI’ :

adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.

IDHAH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.

TAKHSHISH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.

Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):

أكرمت محمداً أخاك

AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.

Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.

Contoh sebagai Takhshish (penghusus):

سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ

SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.

Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.

Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.

Contoh Taukid :

جاء الأمير نفسه

JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.

Contoh Athaf Nasaq :

قرأت التفسير والحديث

QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.

Contoh Badal :

قضيت الدين نصفه

QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.

Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.

Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :

Contoh Na’at :

هذا خالد الكاتب

HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.

Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh Athaf Bayan :

هذا التاجر خليل

HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.

Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.

JAMID :

Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.

TANPA TAKWIL :

Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :

مررت بعلي هذا

MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.

Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.

%d blogger menyukai ini: