Arsip

Archive for Januari, 2012

NI’MA dan BI’SA pengertian dan bentuk Fa’ilnya » Alfiyah Bait 485-486-487

30 Januari 2012 6 komentar
–·•Ο•·–

نِعْمَ وَبِئْسَ وَمَا جَرَى مَجْرَاهُمَا

Ni’ma dan Bi’sa dan kalimah yang berlaku seperti keduanya

فِعْلانِ غيْرُ مُتَصَرِّفَيْنِ ¤ نِعْمَ وَبِئْسَ رَافِعَان اسْمَيْنِ

Dua Fi’il yang tidak mutasharrif (Fi’il jamid) yaitu NI’MA dan BI’SA, keduanya merofa’kan kepada Isimnya masing-masing (sebagai Fa’ilnya) 

مُقَارِنَىْ ألْ أوْ مَضَا فَينِ لِمَا ¤ قَارَنَهَا كَنِعِمَ عُقْبَى الكُرَما

baik Failnya bersambung dengan AL, atau mudhaf pada isim yang bersambung AL. contoh: NI’MA ‘UQBAL-KUROMAA’I=sebaik-baik balasan bagi orang-orang mulia 

وَيَرْفَعَانِ مُضْمَراً يُفَسِّرُهُ ¤ مُمَيِّزٌ كَنِعْمَ قَوْماً مَعْشَرُهُ

atau merofa’kan pada Dhamir yang ditafsiri oleh Tamyiz, contoh: NI’MA QOUMAN MA’SYAROHU = sebaik-baiknya kaum yaitu kerabatnya

–·•Ο•·–

NI’MA dan BI’SA adalah kata kerja/kalimah Fi’il yang menunjukkan makna PUJIAN dan CELAAN secara umum. Keduanya berupa Fi’il Madhi yang jamid menetapi zaman madhi dan tentunya memiliki Fail / Subjek. Akan tetapi kedua Fi’il ini tidak ada penunjukan zaman setelah keduanya berikut Failnya dijadikan kalimat berupa jumlah insya’ ghairu tholabiy.

Penampakan Fa’il/subjeknya ada empat macam :

1. Menyandang alif lam (AL) baik disebut AL Jinsiyah atau AL ‘Ahdiyah.

Contoh:

نعم الخلق الصدق

NI’MAL-KHULUQU ASH-SHIDQU = sebaik-baik akhlaq yaitu jujur.

وبئس الخلق الكذب

WA BI’SAL-KHULUQU AL-KIDZBU = dan seburuk-buruk akhlaq yaitu dusta.

Contoh Ayat Al-Qur’an:

نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

NI’MAL-MAULAA WA NI’MAN-NASHIIRU = Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. Al-Anfaal:40)

Lafazh NI’MA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan pujian.
Lafazh MAULAA = Fa’ilnya, dirofa’kan dengan dhammah muqaddar karena udzur.

2. Mudhaf kepada Isim yang menyandang AL.

Contoh:

نعم قائد المسلمين خالد

NI’MA QAA’IDUL-MUSLIMIINA KHAALIDUN = sebaik-baik panglima muslimin yaitu Khalid.

وبئس رجل القوم أبو جهل

WA BI’SA RAJULUL-QAUMI ABUU JAHLIN = dan seburuk-buruk lelaki suatu kaum yaitu Abu Jahal.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

ولنعم دار المتقين

WA LA NI’MA DAARUL-MUTTAQIIN = dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (An-Nahl:30)

وبئس مثوى الظالمين

WA BI’SA MATSWAZH-ZHOOLIMIIN = dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (QS. Ali ‘Imran:151)

3. Mudhaf kepada Isim yang Mudhaf kepada Isim menyandang AL.

Contoh:

نعم حافظ كتاب الله

NI’MA HAAFIZHU KITAABILLAAHI = sebaik-baik orang yang hafal Kitab Allah.

وبئس مهمل أوامر القرآن

WA BI’SA MUHMILI AWAAMIRIL-QUR’AANA = seburuk-buruk orang yang menelantarkan perintah-perintah Al-Qur’an.

(Bentuk Fa’il yang nomer 3 ini, oleh Mushannif tidak disebutkan dalam Bait.)

4. Fa’ilnya Berupa Dhamir Mustatir dan setelahnya ada Isim Nakirah sebagai penafsir dari kesamaran tentang Dhamir Mustatir tersebut.

Contoh:

نعم صديقا الكتاب

NI’MA SHADIIQAN AL-KITAABU = sebaik-baik teman yaitu kitab

بئس خلقا خلف الوعد

BI’SA KHULUQAN KHULFUL-WA’DI = seburuk-buruk perangai yaitu tidak menepati janji.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

بئس للظالمين بدلا

BI’SA LIZH-ZHOOLIMIINA BADALAN = Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim

Lafazh BI’SA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan celaan, Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir wujuban, takdirannya Huwa.
Lafazh BADALAN = Tamyiz yang menafsiri Fa’il Dhamir Mustatir tsb.

Pengertian Ta’ajjub dan tanda i’rabnya » Alfiyah Bait 474-475

27 Januari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

التَّعَجُّبُ

BAB TA’AJJUB (TAKJUB)

بِأفْعَلَ انْطِقْ بَعْدَ مَا تَعَجُّبَا ¤ أوْ جِئْ بِأفْعِلْ قَبْلَ مَجْرُورٍ ببَا

Berucaplah dengan wazan AF’ALA setelah MAA (MAA AF’ALA) sebagai ungkapan takjub, atau boleh gunakan wazan AF’IL sebelum Majrur oleh BA’ (AF’IL BIHI) 

وَتِلْوَ أفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كما ¤ أوْفَى خَلِيلَيْنَا وَأصْدِقْ بِهِمَا

Nashabkanlah terhadap kalimah yang jatuh sesudah wazan AF’ALA seperti: MAA AUFAA KHOLIILAINAA WA ASHDIQ BI HIMAA (alangkah alimnya kedua sahabatku ini dan alangkah benar keduanya) 

–·•Ο•·–

Ta’ajjub adalah : perasaan di dalam hati ketika merasakan adanya suatu hal yang dibodohi penyebabnya. Ta’ajjub dalam hal ini terbagi dua macam:

Pertama: Tanpa kaidah, hanya dapat diketahui melalui qarinah atau sesuatu yang menunjukan maksud Ta’ajjub.
contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, (QS. Al-Baqarah:28)

Lafaz KAIFA = Isim Istifham mabni fathah menempati posisi nashab sebagai Hal. dan disini ia berfaidah Ta’ajjub.

Contoh dalam Hadits, dari Abi Hurairah Nabi Bersabda:

سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

Subhaanallaah! sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis.

Lafaz Subhaanallaah = Isim Mashdar yg dinashobkan oleh Fi’il yang terbuang, sebagai ungkapan takjub dari sebab perkataan Abu Hurairah sebelumnya; bahwa seseorang menjadi najis sebab junub.

dan contoh perkataan orang arab:

لله دره فارساً

alangkah hebat! kemahirannya menunggang kuda

Lafazh FAARISAN nashab sebagai Tamyiz yang dikehendaki ta’ajjub.

Kedua: Ta’ajjub qiasi, mempergunakan dua bentuk shighat secara qias, yaitu “MAA AF’ALA” dan “AF’IL BIHI”.

1. Shighat Ta’ajjub “MAA AF’ALA”, contoh:

ما أوسع الحديقة!

MAA AWSA’AL-HADIIQAH! = alangkah luas kebun ini.

Lafaz MAA = Maa ta’ajjub isim Nakirah Tamm, mabni sukun mahal rofa’ menjadi Mubtada’. disebut Isim Nakirah karena punya arti syai’un/sesuatu. dan disebut Tamm karena tidak butuh pada qayyid lain kecuali khobar. Disusun sebagai permulaan kalimat menjadi mubtada’ yang mengandung makna Ta’ajjub.

Lafaz AWSA’A = Fi’il Madhi mabni fathah, bukti bahwa ia kalimah Fiil ketika bersambung dengan Ya’ Mutakallim dipastikannya memasang Nun Wiqayah seperti pada contoh:

أفقرني إلى عفو الله

MAA AFQARANIY ILAA ‘AFWILLAAHI = alangkah fakirnya aku akan pengampunan Allah.

Failnya berupa dhamir mustatir takdirannya Huwa rujuk pada MAA.

lafazh AL-HADIIQAH = Maf’ul Bih dinashabkan oleh AWSA’A. Jumlah Fi’il, Fa’il dan Maf’ul Bih adalah Khobar Jumlah dari Mubtada’ MAA.

2. Shighat Ta’ajjub “AF’IL BIHII”, contoh:

أقبح بالبخل!

AQBIH BIL-BUKHLI = Alangkah jeleknya kikir itu.

Sama halnya dengan mengucapkan:

ما أقبحه

MAA AQBAHA HUU = Alangkah jeleknya kikir itu.

karena dua bentuk ta’ajjub tsb bertujuan sama pada satu objek (AL-BUKHLI) sebagai Mad-lulnya.

Lafaz AQBIH = adalah Fi’il madhi dalam shighat Fi’il Amar, mabni Fathah muqaddar karena berbentuk seperti Fi’il Amar. Asalnya AF’ALA yakni shighat Fi’il Madhi dengan tambahan Hazmah yang berfaidah SHAIRURAH/menjadi, sebagaimana contoh:

أقبح البخل

AQBAHA AL-BUKHLU = kebakhilan menjadi bersifat jelek.

Sebagaimana mereka mengatakan:

أبقلت الأرض

ABQALAT AL-ARDHU = Bumi itu menjadi bertunas (tumbuh tunas)

أثمرت الشجرة

ATSMARAT ASY-SYAJARA = Pohon itu menjadi berbuah.

Dengan demikian penggunaan Fi’il Madhi dengan rupa Fi’il Amar tersebut tiada lain hanya untuk tujuan Ta’ajjub. Dan dikarenakan seperti shighat Fi’il Amar itulah maka tidak benar jika musnad langsung kepada isim zhahir, oleh karena itu pada Fa’ilnya ditambahi huruf Jar BA’ .

Huruf BA‘ = Zaidah.

Lafazh AL-BUKHLI = menjadi Fa’il rofa’ dengan Dhammah muqaddar, tercegah irab zhahirnya karena tempatnya sudah didahului oleh huruf jar zaidah.

Pengertian Sifat Musyabbahah, Sifat yang diserupakan Isim Fa’il » Alfiyah Bait 467

26 Januari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

الصِّفَةُ المُشَبَّهَةُ بِاسْمِ الْفَاعِلِ

Bab Sifat yang diserupakan dengan Isim Fa’il (Sifat Musyabbahah)

صِفَةٌ اسْتًحْسِنَ جَرُّ فَاعِلِ ¤ مَعْنىً بِهَا المُشْبِهَةُ اسْمَ الْفَاعِلِ

Ciri sifat yang menyerupai Isim Fa’il (as-Shifat al-Musyabbahat) adalah sifat yang dianggap benar dengan menjarkan subjek Fa’il dalam maknanya 


–·•Ο•·–

Merupakan Bab yang keempat dari deretan Isim-Isim yang beramal seperti Fi’ilnya. Telah disebutkan pada bab-bab sebelumnya yaitu Mashdar, Isim Mashdar, Isim Fa’il, Shighat Mubalaghah dan Isim Maf’ul. Dan sekarang adalah Shifah Musyabbahah.

Pengertian Shifat Musyabbahat: yaitu sifat yang dibentuk dari Masdar Tsulati Lazim, sebagai penunjukan suatu makna yang menetap pada Maushuf secara tetap.

Contoh:

الصبي فَطِنٌ

ASH-SHOBIYYU FATHINUN = anak itu cerdas

Lafazh FATHINUN adalah shifat Musyabbahah yang diambil dari Mashdar Fi’il Tsulatsi Lazim FATHINA sebagai penunjukan makna FATHAANAH kecerdasan yang menempati pada Maushuf lafazh SHOBIYYUN secara tetap sepanjang waktu bukan sekali-kali.

Berbeda dengan Isim Fa’il yang menjukkan sifat ‘aridhi sekali-kali pada waktu tertentu. contoh:

خالد قائم

KHAALIDUN QAAIMUN = Khalid adalah yang berdiri

Lafazh QAAIMUN disebut Isim Fa’il yaitu sifat yang ‘aridhi tidak tetap sekali-kali orang yang berdiri itu duduk.

Disebutkan oleh Mushannif bahwa tanda-tanda sifat Musyabahat adalah dibenarkannya mengidhafahkan Sifat kepada lafazh yang menjadi Fa’ilnya dalam makna, dan mengamal Jar kepadanya. Contoh:

الحسن الخلق محبوب

AL-HASANUL-KHULUQI MAHBUUBUN = seorang yang baik akhlaknya disenangi.

Asal kalimat adalah:

الحسن خلقه محبوب

AL-HASANU KHULUQUHUU MAHBUUBUN

lafazh KHULUQU dirofa’kan sebagai Fa’il dari lafazh AL-HASANU.

oOo

Sedangkan Isim Fa’il dilarang dimudhafkan kepada Fa’ilnya. contoh tidak benar mengatakan:

خالد ضارب الأب عمرا

KHAALIDUN DHAARIBUL-ABI ‘AMRAN = Khalid yang ayahnya memukul kepada Amar.

dengan maksud lafazh AL-ABU menjadi subjek atau Fa’il dari lafazh DHAARIBU, sebab ada wahem/anggapan mudhaf kepada Maf’ulnya. Karena asal kalimat adalah:

خالد ضارب أباه

KHAALIDUN DHAARIBUN ABAAHU = Khalid yang memukul ayahnya.

Contoh kalimat diatas menetapkan bahwa ayah yang dipukul, bukannya Ayah yang memukul. Maka tidak boleh susunan idhafah demikian karena mengakibatkan terjadinya Lubs/kesamaran.

Akan tetapi apabila Isim Fa’il tersebut dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Lazim dan menunjukkan ketetapan sifat, maka boleh mengidhofahkannya kepada Fa’ilnya karena sifat yang demikian juga disebut SHIFAH MUSYABBAHAH, contoh:

طاهر القلب مستريح

THAAHURUL-QALBI MUSTARIIHUN = seorang yang suci hatinya adalah seorang yang tenang.

Dan apabila Isim Fa’il tersebut dibentuk dari Fi’il Tsulatsi Muta’addi satu Maf’ul, maka boleh mudhaf pada Fa’ilnya dengan syarat ada qarinah yang mencegah terjadinya lubsun atau keserupaan terhadap mudhaf pada Maf’ulnya, contoh:

محمد راحم الأبناء

MUHAMMADUN RAAHIMUL-ABNAA’I = Muhammad yang anak-anaknya bersifat belas kasih.

Lafazh RAAHIMU dimudhafkan kepada Fa’ilnya lafazh ABNAA’I.
Dimaksudkan adalah bahwa anak-anak keturunan Muhammad mereka panyayang sesama manusia. Biasanya ungkapan sifat seperti pada contoh diucapkan sebagai sanjungan kepada kebaikan keturunan seseorang, atau sebagai jawaban bagi yang mengatakan bahwa keturunannya tidak baik.

Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah » Alfiyah Bait 457-462

25 Januari 2012 5 komentar
–·•Ο•·–

أبْنِيَةُ أسْمَاءِ الْفَاعِلِينَ والْمَفعُولِينَ وَالصَّفاتِ المُشَبَّهةِ بِهَا

Bentuk-bentuk Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah

كَفَاعِلٍ صُغ اسْمَ فَاعِلٍ إذَا ¤ مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ يَكُونُ كَغَذَا

Bentuklah Isim Fa’il seperti wazan FAA’ILUN, apabila berupa Fi’il Tsulatsi. Contoh: GHODZAA (bentuk Isim Fa’ilnya GHOODIN asalnya GHOODIWUN) 

وَهُوَ قَلِيلٌ فِي فَعُلْتُ وَفَعِلْ ¤ غَيْرَ مُعَدَّى بَلْ قِيَاسُهُ فَعِلْ

Isim Fa’il wazan FAA’ILUN tersebut jarang digunakan pada Fi’il wazan FA’ULA (dhommah’ain fiilnya) dan Fi’il wazan FA’ILA (karoh ‘ain fiilnya) yang tidak Muta’addi, bahkan qias Isim Fa’ilnya berwazan FA’ILUN, <lanjut ke bait berikutnya). 

وَأفْعَلٌ فَعْلَانُ نَحْوُ أشِرِ ¤ وَنَحْوُ صَدْيَانَ وَنَحْوُ الأَجْهَرِ

atau wazan AF’ALUN atau wazan FA’LAANU. Contoh: ASYIRUN, SHODYAANU dan AJHARU.  

وَفَعْلٌ أوْلَى وَفَعِيلٌ بِفَعُلْ ¤ كَالضَّخْمِ وَالْجَمِيل وَالْفِعْلُ جَمُلْ

Isim Fa’il wazan FA’LUN dan FA’IILUN lebih utama untuk Fi’il wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya). Contohnya DHOHMUN dan JAMIILUN Fi’ilnya berlafazh JAMULA  

وَأفعَلٌ فِيهِ قَلِيلٌ وَفَعَلْ ¤ وَبِسِوَى الْفَاعِلِ قَدْ يَغْنَى فَعَلْ

Adapun Isim Fa’il berwazan AF’ALUN dan FA’LUN pada Fi’il FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) adalah jarang. Selanjutnya Fi’il wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) terkadang cukup dengan bentuk Isim Fa’il selain wazan FAA’ILUN.  


–·•Ο•·–

Bab ini disimpulkan oleh Mushannif untuk menerangkan tentang wazan-wazan Isim Fa’il, Isim Maf’ul, juga Shifat Mushabbahah.
Abniyatu Asmaa’il Faa’iliina, menggunkan bentuk jamak mudzakkar salim (Faa’iliina) dimaksudkan adalah bentuk Isim subjek/pelaku yang didominasi oleh subjek berakal. Ash-shifaatil-Mushabbahati Bihaa, athaf kepada lafazh Asmaa’i, secara ringkas dapat diartikan bentuk sifat yang diserupakan Isim Fa’il dan Isim Maf’ul. Akan tetapi dijelaskan nanti pada Bab berikutnya yaitu Bab As-shifatul-Musyabbahatu bi Ismil-Faa’il. Dengan demikian dhamir “Bihaa” pada Bab ini menunjukkan bahwa Marji’nya hanya kepada Asmaa’il Faai’liina saja.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Fi’il terbagi dua:

1. Fi’il Tsulatsi
2. Fi’il Ghair Tsulatsi

Disebutkan juga bahwa Fi’il Tsulatsi terdapat tiga wazan:

1. FA’ALA, Fathah ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
2. FA’ILA, Kasroh ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
3. FA’ULA, Dhommah ‘Ain, Lazim.

oOo

Berikut adalah Wazan-Wazan Isim Fa’il dan Sifat Mushabbahah:

1. Fi’il berwazan FA’ALA maka Isim Fa’ilnya ikut wazan FAA’ILUN, baik Muta’addi atau Lazim.

Contoh yang Muta’addi:

ضرب – ضارب. أخذ – آخذ

DHARABA-DHAARIBUN = Yang Memukul
AKHADZA-AAKHIDUN = Yang Mengambil

Contoh yang Lazim:

جلس – جالس. خرج – خارج

JALASA-JAALISUN = Yang Duduk
KHARAJA-KHAARIJUN = Yang Keluar

oOo

2. Fi’il berwazan FA’ILA maka Isim Fa’ilnya :

a. ikut wazan FAA’ILUN apabila Muta’addi. Contoh :

ركب – راكب. شرب – شارب

RAKIBA-RAAKIBUN = Yang Menunggang
SYARIBA-SYAARIBUN = Yang Meminum

b. Juga ikut wazan FAA’ILUN apabila Lazim tapi jarang. Contoh:

سلم – سالم. عقرت -عاقر

SALIMA-SAALIMUN = Yang Selamat/Sentosa
‘AQIRAT-‘AAQIRUN = Yang Mandul

d. apabila Lazim paling banyak ikut wazan:

1. FA’ILUN (lk) FA’ILATUN (pr). biasanya menunjukkan tentang makna penyakit-penyakit jasmani atau tabiat atau sifat-sifat batin semisal kebahagiaan, kesedihan, kebaikan dll. Contoh:

فطِنَ – فَطِنٌ

FATHINA -FATHINUN = yang cerdas

فرح – فرِحٌ

FARIHA-FARIHUN = yang gembira

بَطِر – بَطِرٌ

BATHIRA-BATHIRUN = yang angkuh/tidak mensyukuri Nikmat.

وحَذِرَ – حَذِرٌ

HADZIRA-HADZRUN = yang berhati-hati/waspada

وتَعِب – تعب

TA’ABA-TA’IBUN = yang payah/cape

2. AF’ALA (lk) FA’LAA’A (pr). biasanya menunjukkan tentang makna keadaan bentuk corak atau warna atau cacat. Contoh:

حَمِر فهو أحمر

HAMIRA-AHMARA = yang merah

عرج فهو أعرج

ARIJA-A’RAJA = yang pincang

عور فهو أعور

AWIRA-A’WARA = yang jahat/tidak baik

كحل فهو أكحل

KAHILA-AKHALA = yang hitam

oOo

3. Fi’il berwazan FA’ULA maka Isim Fa’ilnya :

a. juga ikut wazan FAA’ILUN tapi jarang. Contoh :

طهُر فهو طاهر

THAHURA-THAAHIRUN = yang bersih/suci

حمُضَ فهو حامض

HAMUDHA-HAAMIDHUN = yang masam

b. Yang banyak ikut wazan :

1. FA’LUN, contoh:

ضحُم – ضخْم

DHAKHUMA-DHAKHMUN = Yang Gemuk

شهُم – شهْم

SYAHUMA-SYAHMUN = yang tangkas/cekatan

صَعُب فهو صَعْب

SHA’UBA-SHA’BUN = yang sulit

2. FA’IILUN, contoh:

شرُف فهو شريف

SYARUFA – SYARIIFUN = yang mulia

نبل فهو نبيل

NABULA – NABIILUN = yang mulia

وقبُح فهو قبيح

QABUHA – QABIIHUN = yang jelek/tidak baik

c. sedikit ikut wazan :

1. AF’ALA, contoh:

خظب فهو أخظب

KHATZABA-AKHTHABA = yang merah kehitaman

2. FA’ALA, contoh:

حَسُن فهو حَسنٌ

HASUNA – HASANUN = yang bagus

وبَطُل فهو بطلٌ

BATHULA – BATHALUN = yang juara/pahlawan

o0o

Kadang-kadang ada Fi’il Ttsulatsi wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) tercukupi tanpa mengikuti wazan Isim Fa’il FAA’ILUN, seperti contoh:

طاب فهو طيب

THAABA – THAYYIBUN = yang baik

شاخ فهو شيخ

SYAAKHA – SYAIKHUN = yang tua

شاب فهو أشيب

SYAABA – ASY-YABU = yang muda

oOo

Kemudian disebutkan oleh mushannif pada Bait diatas (lihat bait ke 458 dan 459). Dapat difahami bahwa Isim Fa’il wazan FAA’ILUN jarang digunakan untuk kedua Fi’il wazan FA’ULA dan juga FA’ILA, yakni bentuk wazan Isim Fa’il FAA’ILUN banyak digunakan pada selain kedua wazan fi’il FA’ULA dan FA’ILA. Selanjutnya dijelaskan bahwa bentuk Isim Fa’il dari keduanya berwazan FA’ALA, AF’ALA dan FA’LAANA. Dan dicontohkan dalam Bait oleh Mushannif dengan contoh sbb:

أشِرَ – أشِرٌ

ASYIRA – ASYIRUN = yang angkuh/tidak menyukuri Nikmat.

صَدِيَ – صديان

SYADIYA – SHADYAANU = yang kehausan

جَهِر – أجهر

JAHIRA – AJHARU = yang tak dapat melihat di siang hari

oOo

c

Bentuk Wazan Mashdar » Alfiyah Bait 440-447

15 Januari 2012 11 komentar
–·•Ο•·–

أبْنِيَةُ المَصَادِرِ

BENTUK-BENTUK WAZAN MASHDAR

فَعْلٌ قِيَاسُ مَصْدَرِ المُعَدَّى ¤ مِنْ ذي ثَلاثَةٍ كَرَدَّ رَدَّا

Wazan FA’LUN adalah qias mashdar dari Fi’il Muta’addi tiga huruf, seperti “RODDA” bentuk mashdarnya adalah “RODDAN” 

وَفَعِلَ اللازِمُ بَابُهُ فَعَلْ ¤ كَفَرَحٍ وَكَجَوىً وَكَشَلَلْ

Wazan fi’il FA’ILA (kasrah ‘ain fi’ilnya) yang Lazim, bab mashdarnya berwazan FA’ALUN, seperti “FAROHUN”, “JAWAN”, dan “SYALALUN”. 

وَفَعَلَ اللازمُ مِثْلَ قَعَدَا ¤ لَهُ فُعُولٌ بِاطِّرادٍ كَغَدَا

Wazan fi’il FA’ALA (fathah ain fi’ilnya) yang Lazim semisal QO’ADA, mashdarnya berwazan FU’UULUN secara permanen, seperti “GHODAA” (mashdarnya adalah “GHUDUWWUN”.  

مَا لَمْ يَكُنْ مُسْتَوْجِباً فِعَالا ¤ أوْ فَعَلَاناً فَادْرِ أوْ فُعَالا

(demikian itu permanen berwazan Fu’uulun) selama tidak mewajibkan terhadap wazan FI’AALUN, FA’ALAANUN atau FU’AALUN, maka dari itu ketahuilah!.  

فَأوَّلٌ لِذِيْ امْتِنَاعٍ كَأبَى ¤ وَالثَّانِ لِلَّذِيْ اقْتَضَى تَقَلُّبَا

Wazan yang pertama (FI’AALUN) bagi mashdar yang menunjukkan makna menolak, Seperti contoh: “ABAA” (mashdarnya IBAA’UN). Dan wazan yang kedua (FA’ALAANUN) untuk mashdar yang menunjukkan makna Taqollub/gerakan berubah-rubah/berguncang (seperti contoh: THOWAFAANAN).  

لِلدَّا فُعَالٌ أوْ لِصَوْتٍ وَشَمَلْ ¤ سَيْراً وَصَوْتاً الْفَعِيلُ كَصَهَلْ

Wazan FU’AALUN untuk mashdar yg menunjukkan makna penyakit dan makna suara. Dan Wazan FA’IILUN untuk mashdar yang mencakup makna perjalanan juga makna suara,  seperti contoh: SHOHIILUN = meringkik  

فُعُولَةٌ فَعَالَةٌ لِفَعُلَا ¤ كَسَهُلَ الأَمْرُ وَزَيْدٌ جَزُلا

Wazan mashdar FU’UULATUN dan FA’AALATUN untuk Fi’il Tsulatsi wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) contoh: SAHULAL-AMRU dan ZAIDUN JAZULA (mashdarnya adalah: SUHUULATUN dan JAZAALATUN.  

وَمَا أتَى مُخَالِفاً لِمَا مَضَى ¤ فَبَابُهُ النَّقْلُ كَسُخْطٍ وَرِضَا

Suatu mashdar yang datang dengan wazan berbeda dari apa yang telah disebut diatas, maka bab mashdarnya adalah Nuqil/Sama’i. seperti contoh: SHUKHTUN dan RIDHAN.  

–·•Ο•·–

Telah disebutkan bahwa Mashdar adalah Isim yang menunjukkan Hadts (kejadian) yang terpisah dari penunjukan Zaman (waktu). Mashdar tsb baik berupa Mashdar dari Fi’il tiga huruf (tsulatsi mujarrad) atau dari Fi’il lebih tiga huruf (tsulatsi mazid atau ruba’i mujarrad dan mazid).

Mashdar dari fi’il tiga huruf sangat banyak macamnya. tidak dapat dipastikan kecuali sama’i atau merujuk pada mu’jam bahasa arab atau kamus. Adapun penjelasan dari Ulama Nahwu mengenai wazan mashdar tsulatsi ini, mengacu pada kaidah kebiasaan yang umum dipergunakan, kaidah ini dapat dipergunakan pada lafazh-lafazh masdar yang belum dipergunakan atau belum didengar (sama’i) dari kalam arab. sekalipun orang dapat mempergunakan kaidah dari Ulama Nahwu ini, namun tidak menafikan untuk melihat dulu dalam kitab mu’jam atau kamus sebelum menetapkan kebenaran bentuk mashdar tsulatsi tersebut.

Bentuk Fi’il dari Tsulatsi sudah pasti jika huruf yang pertama berharkat Fathah, adapun huruf yang kedua terkadang berharkat Fathah, atau Dhommah, atau Kasrah. dengan demikian wazan Fi’il Tsulatsi tersebut ada tiga (FA’ALA, FA’ILA, FA’ULA), sedangkan wazan Mashdarnya sebagai berikut:

1. Fi’il wazan FA’ALA (Fathah ‘Ain Fi’il) :

A. MUTA’ADDI

Mashdarnya berwazan FA’LUN :

أكل أكلاً, فتح فتحاً, أخذ أخذاً

AKALA – AKLAN = Makan
FATAHA – FATHAN = Membuka
AKHODZA – AKHDZAN = Mengambil

B. LAZIM

Mashdarnya berwazan FU’UULUN, apabila Fi’il Shohih :

قعد قعوداً, جلس جلوساً, سجد سجوداً

QO’ADA – QU’UUDAN = Duduk
JALASA – JULUUSAN = Duduk
SAJADA – SUJUUDAN = Sujud

Mashdarnya berwazan FA’LUN atau FI’AALUN, apabila Fi’il Mu’tal ‘Ain :

نام نوماً, صام صوماً

NAAMA – NAUMAN = Tidur
SHOOMA – SHOUMAN = Puasa

قام قياماً, صام صياماً

QOOMA – QIYAAMAN = Berdiri
SHOOMA – SHIYAAMAN = Puasa

Mashdarnya berwazan FI’AALUN, apabila menunjukkan arti menolak :

أبى إباءً, نفر نفاراً، وشرد شراداً

ABAA – IBAA’AN = Menolak
NAFARO – NIFAARON = Kabur/Melarikan diri
SYARODA – SYIROODAN = Kabur/Melarikan diri

Mashdarnya berwazan FI’AALUN, apabila menunjukkan arti Taqollub/gerakan berubah-rubah atau berguncang :

طاف طوفاناً. وخفق خفقاناً. غلى غلياناً

THOOFA – THOWAFAANAN = Towaf/berkeliling
KHOFAQO – KHOFAQOONAN = Menggelepar/berdebar
GHOLAA – GHOLAYAANAN = Menggelegak/mendidih/bergolak

Mashdarnya berwazan FU’AALUN, apabila menunjukkan arti sakit/penyakit :

سَعَل سُعالاً. رَعَفَ رُعافاً

SA’ALA – SU’AALAN = Batuk
RO’AFA – RUFAA’AN = Mimisan

Mashdarnya berwazan FU’AALUN atau FA’IILUN apabila menunjukkan arti suara :

صرخ صراخاً. بكى بكاءً. نعب نعيباً ونُعاباً

SHOROHA – SHUROOHAN = Berteriak
BAKAA – BUKAA’AN = Menangis
NA’ABA – NA’IIBAN/NU’AABAN = Menggaok (Burung gagak)

Mashdarnya berwazan FA’IILUN apabila menunjukkan arti perjalanan :

رحل رحيلاً. ذَمل ذميلاً

ROHALA – ROHIILAN = Berangkat/pindah
DHAMALA – DZAMIILAN = Berjalan pelan-pelan.

2. Fi’il wazan FA’ILA (Kasroh ‘Ain Fi’il) :

A. MUTA’ADDI

Mashdarnya berwazan FA’LUN :

فهم فهماً. حمد حمداً

FAHIMA – FAHMAN = Memahami
HAMIDA – HAMDAN = Memuji
Mashdarnya berwazan FI’AALATUN jika menunjukkan pembuatan :

صاغ صياغة, خاط خياطة

SHOOGHO – SHIYAAGHOTAN = membentuk
KHOOTHO – KHIYAATHOTAN = menjahit

B. LAZIM

Mashdarnya berwazan FA’ALUN :

فرح فرحاً, أشر أشراً, جَوِيَ جوىً

FARIHA – FAROHAN = gembira
ASYIRO – ASYARON = pongah/sombong
JAWIYA – JAWAN = berduka

Mashdarnya berwazan FU’LATUN jika menunjukkan arti warna :

سَمِر سُمْرة, خَضِر خُضْرة, شَهِب شُهْبَة

SAMIRO – SUMROTUN = coklat
KHODIRO – KHUDHROTUN = hijau
SYAHIBA – SHUBHATUN = kelabu

3. Fi’il wazan FA’ULA (Dhommah ‘Ain Fi’il) :

HANYA FI’IL LAZIM

Mashdarnya berwazan FU’UULATUN atau FA’AALATUN :

صَعُب صعوبة. سهل سهولة

SHO’UBA – SHU’UUBATAN = Sukar
SAHULA – SUHUULATAN = Mudah

فَصُح فَصاحة. وبَلُغَ بلاغة

FASHUHA – FASHOOHATAN = Fasih
BALUGHO – BALAAGHOTAN = Sampai

Wazan-wazan Mashdar Tsulatsi yang berbeda dengan qias wazan yang telah disebut diatas, maka dikembalikan secara Sama’i tanpa qias.
contoh:

سَخِط سُخْطاً

SAKHITHO – SHUKHTHON = marah
menurut qias adalah SHAKHOTHON = marah

جحد جحوداً

JAHADA – JUHUUDAN = ingkar
menurut qias adalah JAHDAN

Pengamalan Isim Fa’il dan Pengertian Isim Fa’il » Alfiyah Bait 428-429-430

9 Januari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

إعْمَالُ اسْمِ الْفَاعِلِ

PENGAMALAN ISIM FA’IL

كَفِعْلِهِ اسمُ فَاعلٍ فِي الْعَمَلِ ¤ إنْ كَانَ عَنْ مُضِيِّهِ بِمَعْزِلِ

Isim Fa’il beramal seperti Fi’il-nya. Dengan syarat jika Isim Fa’il tsb menempati jauh dari zaman Madhi (yakni jika menempati zaman Hal atau Istiqbal) 

وَوَلِيَ اسْتِفْهَاماَ أوْ حَرْفَ نِدَا ¤ أوْ نَفْياً أوْ جَا صَفَةً أوْ مُسْنَداَ

Dan disyaratkan juga Isim Fi’il tsb mengiringi Istifham, Huruf Nida’ atau Nafi, atau datang sebagai Sifat (Na’at) atau sebagai Musnad (Khobar). 

وَقَدْ يَكُونُ نَعْتَ مَحْذُوفٍ عُرِفَ ¤ فَيَسْتَحقُّ الْعَمَلَ الَّذِي وُصِف

Dan terkadang Isim Fa’il tsb menjadi Na’at dari Man’ut terbuang yang telah dimaklumi, maka ia berhak juga terhadap amalan yang telah disebut diatas.  

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian kedua dari bagian Isim-isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya yaitu: ISIM FA’IL termasuk didalamnya SHIGHAT MUBALAGHAH.

Pengertian Isim Fa’il:

Adalah Isim musytaq untuk menunjukkan kejadian baru dan sebagai si pelaku.

Penjelasan definisi:

Isim Musytaq : yakni hasil bentukan secara tashrif dari bentuk asal Mashdar tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:

نادم

NAADIMUN = yang menyesal

Atau dari bentuk asal Mashdar lebih dari tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:

مكرم

MUKRIMUN = yang menghormati

Menunjukkan kejadian : yakni hanya menunjukkan kejadian tanpa penunjukan zaman semisal berdiri dan duduk.

Kejadian baru : yakni kejadian yang bersifat aridhi, sekali-kali berubah dan hilang. Demikian ini membedakan dengan Shifat Musyabahah atau Isim Tafdhil, karena keduanya menunjukkan kejadian yang bersifat tetap bukan sekali-kali atau bukan yang bersifat baru.

Sebagai Pelaku : yakni subjek yang mengerjakan pekerjaan yang mana pekerjaan timbul darinya, contoh DHOORIBUN = yang memukul. Demikian ini berbeda dengan definisi Isim Maf’ul yakni Isim Musytaq untuk menunjukkan sebagai objek pekerjaan atau sesuatu yang dikenai pekerjaan.

Penampakan Isim Fa’il ada dua :

1. Isim Fa’il yang bersambung dengan AL: Hukumnya akan diterangkan pada Bait selanjutnya.

2. Isim Fa’il yang tidak bersambung dengan AL, maka:

A. Beramal merofa’kan Fa’il secara mutlak tanpa syarat.

Contoh:

الله عالم ببواطن الأمور

ALLAHU ‘AALIMUN BI BAWAATHINIL-UMUURI = Allah Maha mengetahui terhadap perkara yang tersembunyi.

lafazh AALIMUN = Isim Fa’il didalamnya terdapat Fa’il Dhamir Mustatir dirofa’kan sebagai Fa’ilnya.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ

WA MINANNAASI WAD-DAWAABI WAL-AN’AAMI MUKHTALIFUN AL-WAANUHU = di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faathir :28)

Lafazh AL-WAANU dirofa’kan menjadi Fa’il dari Isim Fa’il lafazh MUKHTALIFUN.

B. Beramal menashobkan Maf’ul Bih dengan dua syarat:

1. Diharuskan dalam penggunaannya untuk suatu yang Hal (yang sedang terjadi) atau Istiqbal (yang akan terjadi). Alasan pengamalannya disini -menurut Ulama Nuhat- adalah karena sejalan dengan kalimah Fi’il sebagai sandaran maknanya. yakni sejalan dengan FI’IL MUDHARI’ yakni mencocoki dalam harkat dan sukunnya. dalam artian sukun atau harkat pada Isim Fail sebanding/sehadapan dengan sukun atau harkat yang ada pada susunan huruf Fi’il Mudhari’nya. contoh:

معلم

MU’ALLIMUN = pengajar

sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:

يعلم

YU’ALLIMU = sedang/akan mengajar.

Demikian juga contoh Isim Fa’il:

نادم

NAADIMUN = yang menyesal

sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:

يندم

YANDAMU = sedang/akan menyesal.

2. Harus ada penopang yakni lafazh yang menjadi awalannya :

a. Berawalan ISTIFHAM, contoh:

أبالغ أنت قصدك

A BAALIGHUN ANTA QOSDAKA? = apakah kamu sampai pada tujuanmu?

lafazh BAALIGHUN = Mubtada’
lafazh ANTA = Fa’il yg menempati kedudukan Khobar (Masaddal-khobar)
lafazh QOSDA = Maf’ul Bih
lafazh KA = Mudhaf Ilaih.

b. Berawalan NAFI, contoh:

ما حامد السوق إلا من ربح

MAA HAAMIDUN AS-SAUQA ILLA MAN ROBIHA = tidak akan memuji pasar kecuali dia yang telah mendapat keuntungan.

HAAMIDUN = menjadi Mubtada’
AS-SAUQA = menjadi Maf’ul Bih dari Isim Fa’il (Haamidun)
ILLA = Adat Istitsna’ Mulgha
MAN = Isim Maushul mabni sukun mahal Rofa’ menjadi Fa’il sadda-masaddal khobar.
ROBIHA = Shilah Maushul.

d. Berawalan NIDA’, contoh:

يا سائقا سيارة تمهل

YAA SAA’IQON SAYYAAROTAN TAMAHHAL! = wahai sopir mobil pelan-pelanlah.

YAA = Huruf Nida’
SAA’IQON = Munada Manshub Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir
SAYYAAROTAN = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il.

e. Menjadi NA’AT dari Man’ut yg disebut atau Man’ut yg dibuang

contoh Naat dari Man’ut yang disebut :

صحبت رجلا عارفا آداب السفر

SHAHIBTU RAJULAN ‘AARIFAN AADAABAS-SAFARI = aku menemani seorang yang mengerti adab-adab perjalanan.

RAJULAN = Man’ut
AARIFAN = Na’at
AADAABA = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il (Aarifan)

contoh Naat dari Man’ut yang dibuang karena ada qarinah:

كم معذب نفسه في طلب الدنيا يرى أنه أسعد الناس

KAM MU’ADZDZIBUN NAFSAHU FIY THOLABID-DUN-YAA YAROO ANNAHU AS’ADAN-NAASA = betapa banyak orang yang menyiksa diri dalam mencari dunia dan beranggapan bahwa dunia membahagiankan manusia.

MA’ADZDZIBUN = Isim Fa’il yg menjadi Na’at dari Man’ut yg dibuang.
NAFSAHU = Maf’ul Bihnya.

takdirannya adalah:

كم شخص معذب نفسه

KAM “SYAKHSHUN” MU’ADZDZIBUN NAFSAHU = banyak “orang/individu” yang menyiksa dirinya.

f. Menjadi HAAL Contoh:

جاء خالد راكبا فرسا

JAA’A KHAALIDUN RAAKIBAN FAROSAN = Khalid datang dengan mengendarai kuda

Contoh ayat Al-Qur’an:

فاعبد الله مخلصا له الدين

FA’BUDILLAAHA MUKHLISHON LAHUD-DIIN = Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (QS. Azzumar :2)

g. Menjadi KHABAR dari Mubtada’ atau Amil Nawasikh

Contoh Khabar dari Mubtada’:

أنت حافظ غيبة جارك

ANTA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA = kamu harus menjaga omongan tetangga kamu.

Contoh Khabar dari Amil Nawasikh:

إنك حافظ غيبة جارك

INNAKA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA

Contoh Ayat dalam Al-Qur’an:

ما كنت قاطعة أمرا حتى تشهدون

MAA KUNTU QAATHI’ATAN AMRAN HATTAA TASYHADUUN = aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku). (QS. An-Naml :32).

o0o

Jika Isim Fa’il tersebut digunkan untuk suatu yang telah terjadi (Madhiy), maka ia tidak beramal. Maka tidak dibenarkan mengatakan misal:

محمد كاتب واجبه أمس

MUHAMMADUN KAATIBUN “WAAJIBAHUU” AMSI

lafazh WAAJIBA tidak boleh dinashabkan sebagai Maf’ul Bih dari Isim Fa’il KAATIBUN. Tapi wajib disusun secara Idhofah, maka yang benar mengatakannya adalah:

محمد كاتب واجبه أمس

MUHAMMADUN KAATIBU “WAAJIBIHII” AMSI = Muhammad mencatat kewajibannya kemarin.

lafazh KAATIBU = mudhaf
lafazh WAAJIBI = mudhaf ilaih

Khilaf dalam hal ini :

  1. Menurut Al-Kasa’i : Isim Fa’il tersebut boleh beramal sekalipun ditujukan untuk zaman Madhiy.
  2. Menurut Al-Akhfash : Isim Fa’il tersebut  sekalipun tidak ada penopang yang menjadi awalannya tetap bisa beramal.
%d blogger menyukai ini: