Arsip

Archive for November, 2011

Pengertian Tanazu’ dan Syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 278-279

30 November 2011 9 komentar
–·•Ο•·–

التنازع في العمل

BAB TANAAZU’ DALAM AMAL

إِنْ عَامِلاَنِ اقْتَضَيَا فِي اسْمٍ عَمَلْ ¤ قَبْلُ فَلِلْوَاحِدِ مِنْهُمَا الْعَمَلْ

Jika dua Amil menuntut pengamalan di dalam suatu isim dan keduanya berada sebelum isim, maka pengamalan berlaku bagi salah satu saja dari keduanya

وَالثَّانِ أَوْلَى عِنْدَ أَهْلِ الْبَصْرَهْ ¤ وَاخْتَارَ عَكْساً غَيْرُهُمْ ذَا أُسْرَهْ

Amil yang kedua lebih utama (beramal) menurut Ahli Bashroh. Selain mereka -yg mempunyai golongan kuat- memilih sebaliknya (amil yg pertama lebih utama beramal)

–·•Ο•·–

Pengertian Tanazu’ menurut bahasa adalah: pertentangan. Pengertian Tanaazu’ menurut istilah Ilmu Nahwu adalah: dua Amil menghadapi satu ma’mul. Contoh:

سمعت ورأيت القارئ

SAMI’TU WA ROAITU AL-QOORI’A* = aku mendengar dan melihat si qori’ itu.

*Masing-masing dari lafaz SAMI’TU dan ROAITU bertentangan menuntut lafaz AL-QOORI’A sebagai Maf’ul Bihnya.

Manuskrip Syarah Alfiyah Ibnu Malik. Penyusun Tidak diketahui. Penyarah Tidak diketahui. Jumlah Halaman 88. Naskah Kurang. Sumber: http://www.mahaja.com/library/manuscripts/manuscript/676

Tidak ada perbedaan antara kedua Amil baik berupa dua Fi’il seperti contoh diatas, atau dua Isim ataupun campuran.

Contoh kedua amil berupa dua Isim:

أنا سامعٌ ومشاهدٌ القارئ

ANA SAAMI’UN WA MUSYAAHIDUN AL-QOORI’A = aku mendengar dan menonton si qori’ itu.

Contoh kedua amil campuran berupa Isim Fi’il dan Fi’il, Firman Allah:

هآؤم اقرءوا كتابيه

HAA’UMUQRO’UU KITAABIYAH* = “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” (al-Haaqqah : 19)

* Amil pertama berupa Isim Fi’il Amar yaitu Lafaz HAA’UMU sinonim dg lafaz KHUDZ (ambillah) huruf Mim tanda Jamak. Amil kedua berupa Fi’il Amar yaitu Lafaz IQRO’UU.

Terkadang Tanazu’ terjadi antara lebih dari dua Amil. Dan terkadang Mutanaza’ Fih (ma’mul tanazu’) lebih dari satu.

Contoh Tanazu’ antara tiga Amil:

يجلس ويسمع ويكتب المتعلم

YAJLISU WA YASMA’U WA YAKTUBU AL-MUTA’ALLIMU* = Pelajar itu duduk, mendengar dan menulis.

* masing-masing dari lafaz YAJLISU, YASMA’U dan YAKTUBU menuntut lafaz AL-MUTA’ALLIMU sebagai Faa’ilnya.

Contoh Tanazu’ antara tiga Amil di dalam isim Mutanaza’ Fih lebih dari satu. Nabi bersabda:

تسبحون وتحمدون وتكبرون خلف كل صلاة ثلاثا وثلاثين

TUSABBIHUUNA WA TAHMADUUNA WA TUKABBIRUUNA KHOLFA KULLI SHOLAATIN TSALAATSAN WA TSALAATSIINA* = kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir sehabis tiap Sholat, sebanyak  33 kali. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

*lafaz KHOLFA dinashobkan sebagai Zhorof dan lafaz TSALAATSAN WA TSALAATSIINA dinashobkan sebagai Maf’ul Muthlaq. Masing-masing ketiga Amil menuntut pengamalan terhadap masing-masing dua Ma’mul.

Syarat-syarat Tanaazu’ bagi kedua Amil adalah:

  1. Harus dikedepankan dari Ma’mulnya.
  2. Diantara dua Amil harus ada Irthibath (hubungan) baik secara Athof atau semacamnya.

Maka tidak dinamakan Tanaazu’ apabila kedua Amil diakhirkan. Contoh:

زيد قام وقعد

ZAIDUN QOOMA WA QO’ADA* = Zaid berdiri kemudian duduk

*Masing-masing Fi’il mempunyai dhamir sebagai ma’mulnya yg merujuk pada Isim yang berada di depannya yaitu lafal ZAIDUN.

Dan tidak pula dinamakan tanazu’ apabila antara dua Amil tidak terdapat irthibath, contoh:

قام قعد زيد

QOOMA QO’ADA ZAIDUN

Dengan demikian apabila terdapat dua Amil mencukupi syarat disebut Tanaazu’, maka salah satu Amil beramal pada Isim Zhahir. Sedangkan Amil yg lain beramal pada Dhamir Isim Zhohir tsb atau disebut Amil Muhmal. Mengenai hal ini tidak ada khilaf antara Ulama Bashroh dan Kufah. Namun yg menjadi ikhtilaf dalam bab Tanazu’ ini adalah dalam hal mana yg lebih utama beramal antara Amil yg pertama dengan Amil yg kedua. Ulama Bashroh memilih Amil kedua beramal karena dekatnya dengan Isim Ma’mul. Sedangkan Ulama Kufah memilih Amil pertama beramal karena ia dikedepankan.

Fi’il Muta’addi dan Fi’il Lazim Definisi dan Tanda-tandanya » Alfiyah Bait 267-268

27 November 2011 22 komentar
–·•Ο•·–

تعدي الفعل ولزومه

FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM

عَلاَمَةُ الْفِعْلِ الْمُعَدَّى أَنْ تَصِلْ ¤ هَا غَيْرِ مَصْدَرٍ بِهِ نَحْوُ عَمِلْ

Tanda Kalimah Fi’il yang Muta’addi adalah dibenarkan kamu menyambungnya dengan “HA” dhamir selain yg merujuk pada Masdar. Demikian seperti contoh “AMILA = melakukan”

فَانْصِبْ بِهِ مَفْعولَهُ إِنْ لَمْ يَنُبْ ¤ عَنْ فَاعِلٍ نَحْوُ تَدَبَّرْتُ الْكُتُبْ

Maka nashobkanlah dengan Fi’il Muta’addin ini terhadap Maf’ulnya jika ia lagi tidak menggantikan Fa’il (tidak menjadi Naibul Fa’il) demikian seperti contoh: “TADABBARTU ALKUTUBA = aku menelaah banyak kitab”

–·•Ο•·–

FI’IL TAM TERBAGI MENJADI MUTA’ADDI DAN LAZIM:

توضيح المقاصد والمسالك بشرح ألفية ابن مالك

1. Definisi Fi’il Muta’addi adalah: kalimah Fi’il yg sampai kepada Maf’ul tanpa perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah lainnya. Contoh:

ضربت زيدا

DHOROBTU ZAIDAN = Aku memukul Zaid.

2. Definisi Fi’il Lazim adalah: kalimah Fi’il yg tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah lainnya semisal Huruf Hamzah lit-ta’diyah.

Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar:

مررت بـزيد

MARORTU BI ZAIDIN = aku melewati Zaed.

Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Hamzah:

أخرجت الزكاة

AKHROJTU AZ-ZAKAATA = aku mengeluarkan zakat.

¤¤¤

TANDA-TANDA FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM:

1. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:

1. Dapat disambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).

2. Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).

Contoh dapat bersambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar *

ضربتــه

DHOROBTUHUU = aku memukulnya

* bukan sebagai tanda Fi’il Mutaadi, karena HA dhamir merujuk pada Masdar sama bisa disambung dengan Fi’il Muta’addi juga Fi’il Lazim, contoh:

الضرب ضربتــه

ADH-DHORBU DHOROBTUHUU = pukulan itu aku yg memukulnya

القيام قمتــه

AL-QIYAAMU QUMTUHUU = berdiri itu aku yg berdirinya

Demikian juga bersambung dg HA dhamir merujuk pada Zhorof (zaman/makan), tidak boleh sebagai tanda Fi’il Muta’addi, sebab butuh tawassu’/taqdir huruf jar, contoh:

الليلةَ قمتــها والنهارَ صمتــها

ALLAILATA QUMTUHAA, WAN-NAHAARO SHUMTUHAA = aku berdiri di malam hari dan aku berpuasa di siang hari.

Sesungguhnya taqdirannya sebelum membuang huruf jar adalah:

الليلةَ قمت فيها والنهارَ صمت فيه

ALLAILATA QUMTU FII HAA, WAN-NAHAARO SHUMTU FII HAA.

¤¤¤

Tambahan:

Sebagian ulama Nuhat berpendapat bahwa kalimah Fi’il terbagi menjadi tiga: 1. MUTA’ADDI, 2. LAZIM dan ditambah 3. Fi’il TIDAK MUTA’ADDI PUN TIDAK LAZIM: yaitu KAANA dan saudara-saudaranya, sebab KAANA tidak menashobakan Maf’ul Bih juga tidak dapat dimuta’addikan dengan huruf jar, seperti itu juga Fi’il-fi’il yg kadang ditemukan Muta’addi sendirinya dan kadang Muta’addin dengan perantara huruf jar, seperti contoh:

شكرتــه وشكرت له

SYAKARTUHUU dan SYAKRTU LAHUU = aku berterima kasih padanya

نصحتــه ونصحت له

NASHOHTUHUU dan NASHOHTU LAHUU = aku menasehatinya.

Maka dikatakan bahwa KAANA cs, tidaklah keluar dari pembagian Fi’il yg dua. KAANA termasuk dari Fi’il Muta’addi karena khobarnya diserupakan Maf’ul Bihnya.

Demikian juga lafazh SYAKARTU wa SYAKARTU LAHUU cs… tidaklah keluar dari dua pembagian fi’il: dikatakan Fi’il Muta’adi karena lafaz SYAKARTU LAHUU Huruf Jar sebagai Zaidah. Atau dikatakan Fi’il Lazim karena lafazh SYAKARTU naza’ khofidh atau membuang huruf jar.

Hukum Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap MAF’UL BIH yg tidak menjadi NAIBUL FAA’IL

Pengertian MAF’UL BIH (objek) adalah: Isim yg dinashobkan yg dikenai langsung oleh pekerjaan FA’IL tanpa perantaraan, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif) atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif):

Contoh KALAM MUTSBAT

فهمت الدرس

FAHIMTU AD-DARSA = aku memahami pelajaran

Contoh KALAM MANFI

لم أفهم الدرس

LAM AFHAM AD-DARSA = aku tidak memahami pelajaran.

¤¤¤

2. Tanda-tanda Fi’il Lazim:

Akan dijelaskan pada bait selanjutnya… Insya Allah.

Pengertian Istighol » Alfiyah Bait 255

25 November 2011 6 komentar
–••Ο••–

إِنْ مُضْمَرُ اسْمٍ سَابِقٍ فِعْلاً شَغَلْ ¤ عَنْهُ بِنَصْبِ لَفْظِهِ أَوِ الْمحَلّ

Jika DHAMIR dari ISIM SABIQ (Isim yg mendahului dalam penyebutannya) merepotkan terhadap Fi’ilnya, tentang hal yang menashabkan lafazh Isim Sabik ataupun mahalnya.

فَالسَّابِقَ انْصِبْهُ بِفعْلٍ أُضْمِرَا ¤ حَتْماً مُوَافِقٍ لِمَا قَدْ أُظْهِرَا

Maka: nashabkanlah ISIM SABIK tersebut oleh FI’IL yang wajib disimpan dengan mencocoki terhadap FI’IL yang dizhahirkan.

–••Ο••–

Definisi ISTIGHOL menurut bahasa adalah: kesibukan.
Definisi ISYTIGHOL menurut istilah nahwu adalah: Mengedepankan Isim (Isim Sabiq) dan mengakhirkan Amilnya (Fi’il atau yg serupa pengamalannya) disibukkan tentang nashabnya Isim Sabiq, sebab Amil tsb sudah beramal pada dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq atau pada Sababnya (lafazh mudhaf pada dhamir Isim Sabiq).

Contoh Isytighal Fi’il/Amil beramal pada Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:

زيدا ضربته

ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya*

زيدا مررت به

ZAIDAN MARORTU BIHII =Zaid, aku berpapasan dengannya*

* Seandainya Dhamir pada contoh-contoh diatas ditiadakan, niscaya Amil/Fi’il tsb beramal pada Isim Sabik sebagai Maf’ulnya yg dikedepankan, atau Mu’allaqnya yg dikedepankan.

Contoh Istighal Fi’il/Amil beramal pada Sabab Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:

زيدا ضربت ابنه

ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.


Tulisan tangan Bahauddin Ibnu 'Aqil (694-769 H). Syarah Ibnu 'Aqil 'ala Alfiyah. Sumber: http://www.mahaja.com

 

Rukun-rukun dalam susunan kalimat ISYTIGHAL ada 3:

1. Masyghuulun ‘Anhu (lafazh yg dikedepankan/isim sabik)
2. Masyghuulun (Amil yg diakhirkan, Fi’il atau serupa Fi’il)
3. Masyghuulun Bihi (Dhamir/Sabab Dhamir yg merujuk pd Isim Saabiq)

Apabila terdapat kalimat dengan bentuk susunan rukun-rukun diatas, maka asalnya lafazh yg dikedepankan/isim sabiq tersebut boleh dibaca dua jalan:
1. Rofa’ sebagai Mubtada dan jumlah sesudahnya sebagai Khobarnya. Demikian yg ROJIH karena bebas dari masalah kira-kira/taqdir.
2. Nashob sebagai Maf’ul Bih bagi ‘Amil/Fi’il yg lafazhnya wajib dibuang ditafsiri dari ‘Amil/Fi’il yg lafaznya disebutkan. Demikian yg MARJUH karena butuh terhadap kira-kira/taqdir (disinilah pembahasan ISYTIGHOL).
Fi’il yg terbuang harus ditafsiri dari Fi’il yg tersebut, baik dalam penafsiarannya mencocoki lafaz dan makna, atau mencocoki makna saja, ataupun tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup Fi’il yg tersebut. Contoh:

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki lafaz dan makna:

زيدا ضربته

ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya

Taqdirannya adalah:

ضربت زيدا ضربته

DHOROBTU ZAIDAN DHOROBTU HU = aku memukul Zaid yakni aku memukulnya

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki makna saja:

زيدا مررت به

ZAIDAN MARORTU BI HII = Zaid, aku berpapasan dengannya

Taqdirannya adalah:

جاوزت زيدا مررت به

JAAWAZTU ZAIDAN MARORTU BI HII = aku lewat bertemu Zaid yakni aku berpapasan dengannya.

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup:

زيدا ضربت ابنه

ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.

Taqdirannya adalah:

أهنت زيدا ضربت ابنه

AHANTU ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = aku menghinakan Zaid yakni aku memukul anaknya*

* maka dengan demikian jumlah fi’liyah yang ada setelah Isim Sabiq tersebut disebut jumlah tafsiriyah la mahalla lahaa minal I’roob (tidak punya I’rob).

Dijelaskan perihal ISIM SABIQ yaitu: ada yg wajib nashab, rojih nashob, wajib rofa’, rojih rofa, ataupun yg tidak nashob dan rofa’ InsyaAllah akan dijelaskan pada Bait-bait selanjutnya.

Pengertian Fa’il » Alfiyah Bait 225

24 November 2011 12 komentar
–••Ο••–

الْفَاعِلُ الَّذِي كَمَرْفُوعَيّ أَتَى ¤ زَيْدٌ مُنِيْرَاً وَجْهُهُ نِعْمَ الْفَتَى

Yang disebut Fa’il adalah seperti kedua lafazh yg dirofa’kan dalam contoh: “ATAA ZAIDUN MUNIIRON WAJHUHU NI’MAL FATAA = zaid datang dengan berseri-seri wajahnya seorang pemuda yg beruntung”.

Yakni, (1).  Fa’il yg dirofa’kan oleh fi’il mutashorrif atau oleh fi’il jamid seperti contoh “ATAA ZAIDUN dan NI’MAL FATAA”. (2).  Fa’il yg dirofa’kan oleh syibhul fi’li/serupa pengamalan fi’il seperti contoh: MUNIIRON WAJHU HU

–••Ο••–

Pengertian Fa’il menurut bahasa adalah: yang mengerjakan pekerjaan (subjek), contoh:

كتب الطالبُ

KATABA ATH-THOOLIBU = siswa menulis

مات زيد

MAATA ZAIDUN = zaid meninggal dunia

Pengertian Fa’il menurut istilah adalah : ISMUN AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN ‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA AW SYIBHU HU. Artinya: Isim yang dimusnadi oleh Fi’il atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum) atau disandari oleh Serupa Fi’il.

Penjelasan Definisi:

ISMUN = Kalimah Isim : Mencakup Isim yang Shorih, berupa Isim Zhohir dan Isim Dhamir.

Contoh Fa’il Isim Zhohir:

قام زيد

Zaid berdiri

Contoh Fa’il Isim Dhamir:

قمـت

Aku berdiri

Juga mencakup Isim Mu’awwal yaitu kalimat yg ditakwil masdar, berupa jumlah ANNA beserta Isim dan Khobarnya, atau AN Masdariyah beserta Fi’ilnya, atau MAA Masdariyah beserta Fi’ilnya.

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah ANNA + Isimnya + Khobarnya:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran).. (Al-‘Ankabuut : 51)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah AN Masdariyah + Fi’il:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah (Al-Hadiid : 16)

Contoh: Fa’il Isim Mu’awwal dari jumlah MAA Masdariyah + Fi’il, dalam Sya’ir:

يسر المرء ما ذهب الليالي # وكان ذهابهن له ذهابا

Kepergian banyak malam menggembirakan seseorang (contoh pesta ulang tahun), padahal kepergian malam itu baginya adalah kepergian umur.

AL-MUSNAD ILAIHI FI’LUN = yang dimusnadi oleh Fi’il : Baik oleh Fi’il Mutashorrif seperti pada contoh-contoh diatas atau dimusnadi oleh Fi’il Jamid:

Contoh Fa’il dimusnadi oleh Fi’il jamid:

نِعْمَ العبدُ

NI’MA AL-‘ABDU = sebaik-baik hamba.

Keluar dari definisi “dimusnadi oleh Fi’il” apabila dimusnadi oleh Jumlah, maka tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Mubtada’.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Jumlah bukan dinamakan Fa’il tapi Mubtada’:

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) .. (An-nahl : 65)

‘ALAA THORIIQOTI FA’ALA = atas jalan FA’ALA (Fi’il Mabni Ma’lum): Yakni menggunakan susunan Fi’il Mabni Ma’lum. Keluar dari definisi ini penggunaan susunan Fi’il Mabni Majhul, maka musnad ilaihnya tidak dinamakan Fa’il tapi dinamakan Naibul Fa’il.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Fi’il Mabni Majhul, bukan dinamakan Fa’il tapi Naibul Fa’il:

كتب الكتاب

KUTIBA AL-KITAABU = kitab itu telah ditulis

AW SYIBHU HU = atau dimusnadi oleh Serupa Fi’il : Yakni lafazh yg beramal seperti Fi’il, seperti Isim Fa’il, Sifat Musyabbahah, Isim Tafdhil, dan lain-lain.

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Fa’il:

أداخلٌ صالحٌ المسجدَ

Apakah Sholeh yang masuk masjid?

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Sifat Musyabbahah:

زيد حسن وجهه

Zaid tampan wajahnya

Contoh Isim yg dimusnadi oleh Isim Tafdhil:

العلمُ أفضلُ من المال

Ilmu lebih utama daripada harta *

* pada contoh lafaz AFDHOLU menyimpan Fa’il berupa Isim Dhamir Mustatir

Pengertian Naibul Fa’il » Alfiyah Bait 242

22 November 2011 10 komentar
–••Ο••–

يَنُوبُ مَفْعُولٌ بِهِ عَنْ فَاعِلِ ¤ فِيما لَهُ كَنيِلَ خَيْرُ نَائِلِ

Maf’ul bih menggantikan Fa’il di dalam semua hukumnya. Seperti contoh: “NIILA KHOIRU NAA-ILI=anugerah terbaik telah diperoleh”.

–••Ο••–

Naibul Fa’il adalah Isim yg dirofa’kan baik secara lafzhan atau mahallan, menggantikan dan menempati tempatnya Fa’il yg tidak disebutkan, dan Fi’ilnya dibentuk Mabni Majhul. Baik isim yg menggantikan itu asalnya berupa Maf’ul bih atau serupanya sepeti Zhorof, Masdar dan Jar-majrur.

Contoh bentuk kalimat asal :

أكرم خالد الغريب

AKROMA KHOOLIDUN AL-GHORIIBA = Kholid menghormati orang asing itu

Contoh bentuk kalimat setelah Fa’ilnya dibuang dan Fi’ilnya dibentuk Mabni Majhul:

أُكْرِم الغريب

UKRIMA AL-GHOORIBU = Orang asing itu dihormati

Pada contoh ini lafazh AL-GHOORIBU adalah Naibul Fa’il menggantikan Fa’ilnya yg dibuang. Lafazh UKRIMA adalah kalimah Fi’il Madhi yang dibentuk Mabni Majhul.

Dengan demikian apabila Fa’ilnya dibuang karena suatu alasan baik alasan bangsa Lafzhiy atau bangsa Ma’nawiy (lihat Motif al-Hadzf/alasan membuang lafazh) maka pembuangan Fa’il ini menimbulkan dua keputusan:
1. Merubah Fi’ilnya ke bentuk Majhul
2. Menempatkan Pengganti Fa’il pada posisi Fa’il berikut hukum2nya, semisal: harus Rofa’, harus berada setelah Fi’ilnya, sebagai pokok kalimat, hukum ta’nits pada fi’ilnya, dan lain-lain (lihat BAB FA’IL) .

Penggunaan Dhamir Antara Muttashil Dan Munfashil » Alfiyah Bait 64 dan 65

15 November 2011 14 komentar
–••Ο••–

وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاء سَلْنِيْهِ وَمَا ¤ أَشْبَهَـهُ فِي كُنْـتُهُ الْخُــلْفُ انْتَمَى

Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha’ pada contoh lafadz سَلْنِيْهِ dan lafadz yang serupanya. Adapun perbedaan Ulama bernisbatkan kepada lafadzكُنْتُهُ

كَـــذَاكَ خِلْتَنِيْــهِ وَاتِّصَــــــالاَ ¤ أَخْتَأارُ غَيْرِي اخْتَارَ الانْفِصَالاَ

Seperti itu juga, yaitu lafadz خِلْتَنِيْهِ , aku memilih menggunakan Dhomir Muttashil, selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil

–••Ο••–

Boleh menggunakan Dhamir Munfashil beserta masih memungkinkan menggunakan Dhamir Muttashil, yg demikian ada di tiga permasalahan:

PERMASALAHAN PERTAMA: Amilnya berupa Fi’il yang bukan Amil Nawasikh yg serupa A’THOO Cs menashabkan dua maf’ul yg berupa dua Dhamir, dhamir yg pertama lebih khusus dari dhamir yg kedua (yakni, dhamir mutakallim lebih khusus dari dhamir mukhothob dan dhamir mukhothob lebih khusus dari dhamir ghaib).

Contoh menggunakan dhamir Muttashil:

الكتاب سلـنيه

AL-KITAABU SALNII HI = Mintalah kitab itu padaku..!

Boleh menggunakan dhamir Munfashil contoh:

الكتاب سلـني إياه

AL-KITAABU SALNII IYYAAHU = Mintalah kitab itu padaku..!

Jika dhamir yg pertama tidak lebih khusus dari dhamir yg kedua, maka wajib menggunakan dhamir Munfashil. Contoh:

الكتاب أعطاه إياك زيد

ALKITAABU A’THOO HU IYYAKA ZAIDUN = Zaid memberikan kitab itu kepadamu

Atau jika kedua dhamir itu tidak nashab semuanya yakni salah satunya, maka wajib menggunakan Dhamir Muttashil contoh:

النظام أحببـته

AN-NIZHAAM AHBABTU HU = aku menyukai undang-undang itu.

PERHATIAN:
Dalam permasalahan pertama ini, lebih diutamakan menggunakan dhamir Muttashil daripada dhamir Munfashil, mengingat pada hukum asalnya (lihat Penggunaan Bentuk Dhamir  » Alfiyah Bait 63) beserta dikokohkan oleh dalil dalam Al-Qur’an, contoh:

فَسَيَكْفِيـكَهُمُ اللَّهُ

FASAYAKFIIKAHUMU-LLAAHU = Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka (Al-Baqarah : 137)

أَنُلْزِمُـكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ

ANULZIMUKUMUUHAA WA ANTUM LAHAA KAARIHUUN = Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya? (Hud : 28)

إِنْ يَسْأَلْـكُمُوهَا

IN YAS-ALKUMUUHAA = Jika Dia meminta harta kepadamu (Muhammad : 47)

Terkadang ditemukan menggunakan dhamir Munfashil sebagaimana dalil dalam Hadits. Oleh karenanya dalam masalah ini, penggunaan dhamir Muttashil tidaklah wajib dan penggunaan dhamir Munfashil tidak khusus pada Syair saja. Contoh dalam Hadits:

أَفَلَا تَتَّقِي اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَّـكَ اللهُ إِيَّاهَا

Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah? (Shahih Muslim).

PERMASALAHAN KEDUA: bersambung….

Kategori:Bait 64-65 Tag:

Penggunaan Bentuk Dhamir » Alfiyah Bait 63

13 November 2011 5 komentar
–••Ο••–

وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ ¤ إذَا تَــــأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّــصِلْ

Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.

–••Ο••–

Jikalau masih memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil janganlah menggantikannya dengan dhamir Munfashil. Sebab dhamir digunakan untuk tujuan meringkas kata. Bentuk dhamir Muttashil jauh lebih ringkas daripada Dhamir Munfashil. Contoh:

أكرمتـك

AKROMTUKA = aku memulyakanmu

jangan mengatakan:

أكرمت إياك

AKROMTU IYYAKA = aku memulyakanmu

Terkadang di beberapa tempat ada yg harus menggunakan dhamir Munfashil karena tidak memungkinkan menggunakan dhamir Muttashil diantaranya adalah:

1. Dhamir dikedepankan dari Amilnya karena suatu motif semisal untuk Faidah Qashr, contoh:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (al-Fatihah : 5)

2. Dhamir Jatuh sesudah ILLA, contoh:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al-Israa’ : 23)

3. Dhamir dipisah dari Amil oleh Ma’mul lain, contoh:

يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ

mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu (Al-Mumtahanah : 1)

4. Dharurah Syi’ir, contoh:

بالباعث الوارث الأموات قد ضمنت إياهم الأرض في دهر الدهارير

Kategori:Bait 63 Tag:
%d blogger menyukai ini: