Arsip

Posts Tagged ‘Taukid’

AMMAA Huruf Syarat, Taukid, Tafsil, bukan Amil Jazm » Alfiyah Bait 712-713

23 Mei 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

أَماَّ وَلَوْلاَ وَلَوْمَا

Bab AMMAA, LAWLAA dan LAWMAA 

أَمَّا كَمَهْمَا يَكُ مِنْ شَيءٍ وَفَا ¤ لِتِلْوِ تِلْوَهَا وُجُوباً أُلِفَا

Huruf syarat “AMMAA” seperti makna “MAHMAA YAKU MIN SYAI’IN” (apapun yg ada/bagaimanapun). Sedangkan FA’ wajib dipasang pada yg mengiringi pengiringnya (yakni pada Jawab yg mengiringi Syaratnya). 

وَحَذْفُ ذِيْ الفَا قَلَّ فِيْ نَثْرٍ إذَا ¤ لَمْ يَكُ قَوْلٌ مَعَهَا قَدْ نُبِذَا

Pembuangan FA’ ini (yakni FA’ Jawab) jarang terjadi pada kalam natsar, (kecuali) apabila jawabnya berupa lafazh “QOUL” yg dibuang bersama FA’nya. 

–·•Ο•·–

“AMMAA” termasuk dari huruf syarat yg bukan amil jazm, berfaidah taukid dan sering dipergunakan untuk Tafsil.
· Bukti sebagai huruf syarat : Lazim menggunakan FA’ pada jawabnya.
· Bukti berfaidah taukid : sebagaimana ulama nahwu menyebutnya “harfun yu’thi al-kalaama fadhla taukiidin” yakni huruf yg berfaidah melebihkan kalam dengan nilai taukid, contoh kalimat “ZAIDUN DZAAHIBUN” kalau dikehendaki zaid sudah pasti perginya maka diucapkan dengan kalimat “AMMAA ZAIDUN FA DZAAHIBUN”.
· Bukti sering dipergunakan untuk tafsil : diulang-ulangnya pada tiap-tiap bagian tafsilannya, contoh dalam Al-Qur’an (QS. Adh-Dhuha 9-10)

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

FA AMMAA AL-YATIIMA FA LAA TAQHAR, WA AMMAA AS-SAA’ILA FA LAA TANHAR. = Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. (QS. Adh-Dhuha 9-10).

Terkadang tanpa diulang dengan mencukupi penyebutan AMMAA pada salah-satu bagian tafsilnya, contoh dalam Al-Qur’an (QS. Ali Imran 7):

فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ

FA AMMAA AL-LADZIINA FII QULUUBIHIM ZAIGHUN fa yattabi’uuna maa tasyabaha minhubtighaa’al-fitnati wab-tighaa’a ta’wiilihi wa maa ya’lamu ta’wiilahu illallaahu. WAR-ROOSIKHUUNA FIL-’ILMI YAQUULUUNA AAMANNAA BIHI = Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat… (QS. Ali Imran 7).

Ayat ini pada kalimat tafsil kedua seakan berbunyi : “AMMAA” AR-ROOSIKHUUNA FIL-’ILMI “FA” YAQUULUUNA AAMANNAA BIHI..

Terkadang penggunaan AMMAA terlewatkan tanpa fungsi Tafsil, contoh :

أما زيد فمنطلق

AMMAA ZAIDUN FA MUNTHALIQUN = Bagaimanapun… Zaid sudah pergi.

Lafazh AMMAA disini menempati posisi “Adat Syarat + Fi’il Syarat” oleh karena itu Imam Sibawaih menafsirinya dg kalimat: “MAHMAA YAKU MIN SYAI’IN” (apapun yg ada/bagaimanapun). sedangkan lafazh yg jatuh setelah AMMAA disebut Jawab Syarat, karena itulah diwajibkan memasang FA Jawab sebagai robit/kaitan antara Jawab dan Syarat.
Contoh apabila kamu mengucapkan :

أما علي فمخترع

AMMAA ‘ALIYYUN FA MUKHTARI’UN = Bagaimanapun… Ali lah penemunya.

Maka penakdiran asal kalimatnya adalah :

مهما يك من شيء فعلي مخترع

MAHMAA YAKU MIN SYAI’IN FA ‘ALIYYUN MUKHTARI’UN = apapun adanya Ali lah penemunya.

I’lal Kalimat :

lafazh “AMMAA” menggantikan lafazh ” MAHMAA YAKU MIN SYAI’IN” maka menjadi “AMMAA FA ‘ALIYYUN MUKHTARI’UN” kemudian huruf FA’nya diakhirkan pada Khobar, maka menjadi ” AMMAA ‘ALIYYUN FA MUKHTARI’UN”.
Huruf FA’ tersebut wajib dipasang pada Jawab sebagai Robit Mujarrad. Tidak boleh membuang FA’ kecuali jawabnya berupa lafazh QOUL yg dibuang, maka umumnya FA’nya juga ikut dibuang, contoh dalam Al-Qur’an :

فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ: “أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ…”

FA AMMAL-LADZIINA-SWADDAT WUJUUHUHUM: “AKAFARTUM BA’DA IIMAANIKUM…” = Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?..” (QS. Ali Imran 106)

Fa’ dan Jawab yg dibuang tersebut takdirannya adalah :

فَيُقَالُ لَهُمْ: أَكَفَرْتُم…

FA YUQOOLU LAHUM: “AKAFARTUM… = maka dikatakan kepada mereka : “Kenapa kamu kafir….”

FA YUQOOLU LAHUM = Jawab berupa Lafazh Qoul.
AKAFARTUM = Maquul/isi dari Qoul.
Lafazh Qoul dibuang dicukupi dengan adanya Maquul, dan FA’nya otomatis ikut terbuang, sesuai kaidah “Yashihhu tab’an maa laa yashihhu istiqlaalan” (shah diikutkan bagi suatu yg tidak shah dilepaskan).

Selain tersebut diatas, pembuangan FA’ pada kalam Natsar (Selain pada Lafazh QOUL yg terbuang) juga ditemukan tapi sedikit adanya.

Contoh dalam Hadits Rosulullah bersabda :

أَمَّا مُوسَى كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ إِذْ انْحَدَرَ فِي الوَادِي يُلَبِّي

أَمَّا بَعْدُ، مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ

CONTOH I’ROB

أما علي فمخترع

AMMAA ‘ALIYYUN FA MUKHTARI’UN

AMMAA = Huruf Syarat, Taukid, pengganti kalimat “Mahmaa Yaku Min Syai’in”, Mahal Rofa’ menjadi Mubtada’.
ALIYYUN = Rofa’ menjadi Mubtada’
FA MUKHTARI’UN = “Fa” sebagai Robit, “Mukhtari’un” sebagai Khobar dari Mubtada’.
Jumlah Ismiyah “Aliyyun Fa Mukhtari’un” tidak menempati mahal I’rob sebagai Jawab dari Syarat yg bukan Amil Jazem.

مهما يك من شيء فعلي مخترع

MAHMAA YAKU MIN SYAI’IN FA ‘ALIYYUN MUKHTARI’UN

MAHMAA = Isim Syarat, Amil Jazem, menjadi Mubtada’.
YAKU = Fi’il Mudhari’ Tamm diJazemkan oleh Mahmaa menjadi Fi’il Syarat.
MIN SYAI’IN = “Min” huruf Jar Zaidah, “Syai’in” menjadi Fa’il, di I’rob rofa’ dengan Dhammah yg dikira-kira dg harkat kasroh dan tercegah I’rob zahirnya karena dimasuk huruf Jar Zaidah.
FA ‘ALIYYUN = “Fa” huruf tanda jawab yg dipasang pada Jawab syarat. “Aliyyun” Mubtada’.
MUKHTARI’UN = Khobar dari mubtada.
Jumlah “Fa Aliyyun Mukhtari’un” adalah Jumlah Ismiyah dalam mahal jazem menjadi Jawab Syarat.

Tabi’ Munada Mabni Dhammah » Alfiyah Bait 585-586-587

28 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

فصْل في تابع المنادى

FASAL MENERANGKAN TABI’ MUNADA 

تَابعَ ذِيْ الضَّمِّ المُضَافَ دُونَ ألْ ¤ ألْزِمْهُ نَصْباً كَأَزَيْدُ ذَا الْحِيَلْ

Terhadap Tabi’ yg mengikuti Munada mabni dhommah (munada mufrod alam/nakirah maksudah) yang mana Tabi’ tsb mudhaf tanpa AL, hukumilah ia wajib Nashob, contoh: “A, Zaidu dzal-hiyal” (Wahai, Zaid si empunya ide..!) 

وَمَا سِوَاهُ ارْفَعْ أوِ انْصَبْ وَاجْعَلَا ¤ كَمُسْتَقِلٍّ نَسَقاً وَبَدَلا

Selain Tabi’ Munada yg mudhaf tanpa Al sebagaimana diatas (yakni berupa tabi’ munada yg mufrod atau mudhaf menyandang AL) maka boleh rofa’kanlah atau nashobkanlah. Sedangkan tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq dan Badal, hukumilah sebagaimana Munada itu sendiri (yakni, mabni dhammah jika mufrod atau Nashab jika Mudhaf). 

وَإنْ يَكُنْ مَصْحُوبَ ألْ مَا نُسِقَا ¤ ففِيهِ وَجْهَانِ وَرَفْعٌ يُنْتَقَى

Jika Tabi’nya yg berupa Athaf Nasaq yg disandangi AL, maka boleh dua jalan (Rofa’ atau Nashob) sedangkan Rofa adalah jalan yg terpilih. 

–·•Ο•·–

Fasal ini diangkat oleh Mushannif untuk menerangkan hukum Tabi’ kepada Munada, semisal Na’at dan lain-lainnya. Telah dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa Munada didalam tarkibnya terdapat dua keadaan hukum:  1. Mabni dan 2. Nashab

Untuk Munada Mabni, maka hukum Tab’inya ditafsil sebagai berikut:

1. Apabila Munada Mabni dan Tabi’nya berupa Isim Mudhaf tanpa AL yang berupa Na’at, Taukid atau ‘Athaf Bayan. Maka Tabi’ disini wajib Nashab dengan petimbangan mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada. Dan tidak boleh dimabnikan dengan mempertimbangkan Lafazh Munada.

Contoh Tabi’ Munada berupa Na’at yang mudhaf tanpa AL :

يا خالدُ صاحبَ محمد

YAA KHAALIDU SHAAHIBA MUHAMMADIN = wahai Khalid teman Muhammad!

Contoh Tabi’ Munada berupa Athaf Bayan yang mudhaf tanpa AL :

يا صالحُ أبا عبد الله

YAA SHAALIHU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Shaleh bapak Abdullah!

Contoh Tabi’ Munada berupa Taukid yang mudhaf tanpa AL :

يا تميمُ كلَّهُم

YAA TAMIIMU KULLAHUM = wahai seluruh bani Tamim…!

2. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Mudhaf dg menyandang AL atau berupa mufrod (tidak mudhaf). Maka Tabi’-tabi’ tersebut boleh Rofa’ dan Nashab. Rofa’ dengan pertimbangan mengikuti Lafazh Munada, dan Nashab mengikuti Mahal/posisi I’rab Munada.

Contoh pada Tabi’ berupa Athaf Bayan:

يا رجلُ زيدٌ وزيداً

YAA ROJULU ZAIDUN / ZAIDAN = wahai seorang Zaid…!

Contoh pada Tabi’ berupa Taukid:

يا تميم أجمعون وأجمعين

YAA TAMIIMU AJMA’UUNA / AJMA’IINA = wahai bani Tamim semuanya..!

Termasuk pada hukum Tabi’ nomer 2 – boleh rofa’ dan nashab, yaitu Athaf Nasaq yg menyandang AL, contoh :

يا خالدُ والطالب

YAA KHAALIDU WAT-THAALIBU / AT-THAALIBA = wahai Khalid dan seorang Santri.

Pada contoh ini lebih baik memilih Rofa’ menurut Imam Khalil dan Imam Sibawaihi demikian untuk menyamai pada lafazh Matbu’.

Namun dalam Al-Qur’an ditemukan Nashab, contoh:

يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ

YAA JIBAALU AWWIBII MA’AHUU WAT-THAIRO = “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”

Qiro’ah Sab’ah membaca Nashab sebagai athaf kepada mahal i’rab JIBAALU. Para Nuhat seperti Imam Sibawaih dan Imam Khalil mereka memahami dalam ayat ini bahwa Nashabnya lafazh AT-THAIRO athaf kepada lafazh FADHLAN sebelumnya.

3. Apabila Munada Mabni dan Isim Tabi’nya berupa Athaf Nasaq tanpa AL atau berupa Badal, maka dihukumi sebagaimana hukum Munada secara mandiri: Mabni apabila Mufrad (tidak mudhaf) dan Nashab apabila Mudhaf, contoh:

Athaf Nasaq tanpa AL :

يا خالدُ ومحمدُ

YAA KHAALIDU WA MUHAMMADU! = hai Khalid dan Muhammad.

Badal :

يا رجلُ خالدُ

YAA ROJULU KHAALIDU! = hai seorang lelaki Khalid..!.

Dua contoh Tabi’ diatas dihukumi seperti Munada Mufrad seperti hukum mengatakan :

يا محمدُ ويا خالدُ

YAA MUHAMMADU dan YAA KHAALIDU = Hai Muhammad! dan Hai Khalid!

Athaf Nasaq tanpa AL, Nashab karena Mudhaf:

يا خالد وصاحبَ الدار

YAA KHAALIDU WA SHAAHIBAD-DAARI = wahai Khalid dan Pemilik rumah..!

Contoh Badal, Nashab karena Mudhaf:

يا زيد أبا عبد الله

YAA ZAIDU ABAA ‘ABDILLAAHI = wahai Zaid bapak Abdullah..!

Definisi Badal : Tabi’ maksud hukum tanpa perantara » Alfiyah Bait 565

25 Februari 2012 4 komentar
–·•Ο•·–

الْبَدَلُ

BAB BADAL 

التَّابعُ المَقْصُودُ بالْحُكْمِ بلا ¤ وَاسِطَةٍ هُوَ المُسَمَّى بَدَلا

Isim Tabi’ yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum tanpa perantara (huruf Athaf), demikian dinamakan Badal. 

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ke lima dari Isim-isim Tawabi’, yaitu BADAL.

Definisi Badal : Isim Tabi’ yang dimaksudkan oleh penyebutan hukum dengan tanpa perantara huruf Athaf antara Badal dan Mubdal Minhunya. Contoh:

عَمَّ الرخاء في زمن الخليفة عمر بن عبد العزيز

AMMA AR-RAKHAA’U FIY ZAMANI AL-KHALIIFATI ‘UMARO BNI ‘ABDIL ‘AZIIZI = Ketentraman menyeluruh pada masa Khalifah Umar Bin ‘Abdul ‘Aziz.

Lafazh UMARO = Sebagai badal dari lafazh KHALIIFATI, dan sebagai lafazh yg dimaksudkan oleh penisbatan hukum.
Andaikan cukup hanya menyebut Khalifah maka tidak diketahui siapakah Khalifah yang dimaksud, karena sebutan Khalifah bukanlah maksud dari dzat Umar bin Abd Aziz itu sendiri. Akan tetapi sebutan Kholifah sebagai Tamhid (pembuka) bagi lafazh sesudahnya, agar kalimat diterima lebih kuat didalam hati si pendengar.

Penjelasan Definisi :

TABI :

Isim jenis bagian dari Tawabi’.

YANG DIMAKSUDKAN OLEH HUKUM :

Sebagai qayyid awal atau sebagai batasan definisi bagian pertama untuk membedakan dengan pengertian Tawabi’ yang lain seperti Na’at, Athaf Bayan dan Taukid, karena Tabi’-tabi’ tsb sebatas penyempurna bagi Matbu’nya yg dikenai penisbatan hukum, dan bukan sebagai Tabi’ yang dinisbati oleh hukum itu sendiri.

Qayyid diatas juga dapat membedakan dengan pengertian Athaf Nasaq dengan Huruf Wawu dan serupanya, contoh:

جاء صالح وعاصم

JAA’A SHAALIHUN WA ‘AASHIMUN = Shaleh dan Ashim telah datang.

Maksud hukum (JAA’A) pada contoh ini tidak hanya tertuju pada Tabi’ (AASHIMUN) tapi juga tertuju pada Matbu’ (SHAALIHUN).

Demikian juga Ma’thuf dengan huruf “LAA”, contoh:

جاء عاصم لا صالح

JAA’A ‘AASHIMUN LAA SHAALIHUN = Ashim datang Zaid tidak.

Lafazh setelah huruf Athaf LAA yaitu lafazh “SHAALIHUN” sebagai Tabi’ tapi tidak dikenai maksud hukum.

Demikian juga Ma’thuf dengan huruf “BAL” setelah nafi (kalimat negative), contoh:

ما جاء صالح بل عاصم

MAA JAA’A SHAALIHUN BAL ‘AASHIMUN = Shaleh tidak datang tapi Ashim.

yang dikenai maksud hukum “tidak datang” dalam contoh ini adalah Matbu’ yaitu lafazh SHAALIHUN.

TANPA HURUF PERANTARA:

Sebagai Qayyid Tsani atau sebagai batasan definisi bagian kedua untuk membedakan dengan Ma’thuf dengan huruf BAL setelah kalam itsbat (kalimat positive), contoh:

جاء صالح بل عاصم

JAA’A SHAALIHUN BAL ‘AASHIMUN = Shaleh datang namun Ashim.

Lafazh ‘AASHIMUN = sebagai Tabi’ yang dikenai maksud hukum, tapi disini ada huruf perantara yaitu BAL, oleh karenanya tidak dinamakan Badal.

Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535

24 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

العطف

BAB ATHAF

عطف البيان

ATHAF BAYAN 

الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ

Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan). 

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ

Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.   

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:

1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)

Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.

Penjelasan Definisi :

TABI’ :

adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.

IDHAH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.

TAKHSHISH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.

Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):

أكرمت محمداً أخاك

AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.

Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.

Contoh sebagai Takhshish (penghusus):

سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ

SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.

Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.

Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.

Contoh Taukid :

جاء الأمير نفسه

JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.

Contoh Athaf Nasaq :

قرأت التفسير والحديث

QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.

Contoh Badal :

قضيت الدين نصفه

QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.

Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.

Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :

Contoh Na’at :

هذا خالد الكاتب

HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.

Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh Athaf Bayan :

هذا التاجر خليل

HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.

Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.

JAMID :

Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.

TANPA TAKWIL :

Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :

مررت بعلي هذا

MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.

Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.

Pengertian Taukid Ma’nawi dan syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 520-521-522-523

22 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

التوكيد

BAB TAUKID

بِالنَّفْسِ أوْ بِالعَيْنِ الاسْمُ أُكِّدَا ¤ مَعَ ضَمِيرٍ طَابَقَ المُؤكَّدَا

Kalimah Isim menjadi tertaukidi oleh lafazh taukid “an-Nafsi” atau “al-’Aini” beserta ada Dhamir mencocoki pada Isim Muakkad. 

وَاجْمَعْهُمَا بِأفْعُلٍ إنْ تَبِعَا ¤ مَا لَيْسَ وَاحِداً تكُن مُتَّبِعاً

Jama’kanlah kedua lafazh taukid tsb dengan wazan “AF’ULU” jika keduanya tabi’ pada Isim selain mufrad (Mutsanna/Jamak), maka jadilah kamu Muttabi’ (pengikut yg benar). 

وَكُلاً اذْكُرْ فِي الشُّمُولِ وَكِلا ¤ كِلْتَا جَمِيعاً بِالضَّمِيرِ مُوصَلَا

Ucapkanlah untuk taukid syumul (menyeluruh) dengan lafazh Kullu, Kilaa, Kiltaa dan Jami’ yg disambung dengan dhamir.  

وَاسْتَعْمَلُوا أيْضاً كَكُلٍّ فَاعِلَهْ ¤ مِنْ عَمَّ فِي التَّوكِيدِ مِثْلَ النَّافِلَهْ

Demikian juga mereka menggunakan wazan Faa’ilatu dari lafazh Amma (Aammatu) seperti faidah Kullu (untuk syumul) didalam taukid. Serupa bunyi lafazh Naafilatu.  

–·•Ο•·–

Bagian kedua dari Isim-Isim Tawabi’ yaitu TAUKID. Maksud dari perkataan Taukid adalah Isim Muakkid, dengan memutlakkan Mashdar kepada maksud Isim Fa’il.

Taukid ada dua bagian:
1. Taukid Ma’nawi (pembahasan kali ini)
2. Taukid Lafzhi (akan dibahas pada bait-bait selanjutnya)

Pengertian Taukid Ma’nawi adalah:
1. Isim Tabi’ yg disebut untuk menghilangkan kemungkinan lain dari takdir Mudhaf kepada Matbu’nya.
2. Isim Tabi’ yg disebut untuk menghilangkan maksud-maksud khusus dari lafazh penampakan Matbu’ yang umum.

Pengertian Taukid Ma’nawi bagian pertama

Dengan menggunakan lafazh AN-NAFSU dan AL-’AINU, contoh:

حادثني الأمير نفسه

HAADATSANIY AL-AMIIRU NAFSUHU = Presiden itu berkata sendiri kepadaku.

Dalam contoh ini, andaikan cukup pada kata AL-AMIIR (muakkad), maka ada kemungkinan penakdiran mudhaf yang terbuang, boleh jadi yg berkata itu Wakil Presiden atau kepercayaannya atau orang lain yg menyampaikannya. Nah, ketika Taukid disebutkan maka kemungkinan-kemungkinan tersebut menjadi hilang.

Lafazh NAFSU = sebagai Taukid Ma’nawi, dirofa’kan karena tabi’.
lafazh HUU = Dhamir yg merujuk pada Isim Muakkad, menjadi Mudhaf Ilaih.

Disyaratkan kedua lafazh Taukid tsb bersambung dengan Dhamir merujuk pada Isim Muakakd yang sesuai baik secara Mufrad, Mudzakkar dan semacamnya untuk tercapainya fungsi robit antara Tabi’ dan Matbu’.

Kedua lafazh Taukid wajib mufrad apabila mengikuti Muakkad mufrad sebagaimana contoh diatas. Apabila Muakkadnya Isim Mutsanna atau Isim Jamak, maka kedua lafazh Taukid tersebut dijamakkan pada Jamak Taksir Qillah dengan wazan AF’ULU. Penggunaan Taukid jamak pada Muakkad Jamak disini hukumnya wajib, sedangkan penggunaan Taukid Jamak pada Muakkad Mutsanna lebih baik dari penggunaan Taukid Mufrad.

Contoh:

جاء المحمدان أنفسُهما وأعينُهما

JAA’A AL-MUHAMMADAANI ANFUSUHUMAA WA A’YUNUHUMAA = Dua Muhammad telah datang diri keduanya sendiri.

جاء المحمدون أنفسُهم وأعينُهم

JAA’A AL-MUHAMMADUUNA ANFUSUHUM WA A’YUNUHUM = Banyak Muhammad telah datang diri mereka sendiri.

جاءت الفاطمات أنفسُهن أو أعينُهن

JAA’A AL-FAATHIMAATU ANFUSUHUNNA WA A’YUNUHUNNA = Banyak Fathimah telah datang diri mereka sendiri.

Pengertian Taukid Ma’nawi bagian kedua

PERTAMA: menggunakan lafazh KULLUN dan JAMII’UN, contoh:

قرأت القرآن كلَّه أو جميعَهُ

QARA’TU AL-QUR’AANA KULLAHUU AW JAMII’AHUU = Aku membaca Al-Qur’an seluruhnya atau semuanya.

Andaikan tidak didatangkan dengan lafazh KULLUN atau JAMIIUN maka mengandung Ihtimal (kemungkinan) sebab membaca Al-Qur’an sifatnya umum, boleh jadi yang dibaca itu lebih sedikit, atau separuh Al-Quran, atau bahkan lebih dari itu, dll.

Disyaratkan penggunaan Taukid KULLUN dan JAMIIUN ini dengan tiga syarat:

1. Isim Muakkadnya bukan Mutsanna, yakni harus Mufrod atau Jamak
2. Isim Muakkadnya berupa:

a. Isim Jamak yg terdiri dari beberapa Mufrod, contoh:

حضر الضيوف كلُّهم

HADHARA ADH-DHUYUUFU KULLUHUM = para tamu telah hadir semuanya.

b. Isim Mufrod yg terdiri dari beberapa bagian, contoh:

قرأت الكتاب كلَّه

QARA’TU AL-KITAABA KULLAHU = aku membaca kitab itu seluruhnya.

c. Isim Mufrod yg dapat dibagi menurut pertimbangan amilnya, contoh:

اشتريت الحصان كله

ISYTARAITU AL-HISHAANA KULLAHU = aku membeli kuda itu seluruhnya.

Lafazh AL-HISHAANA berupa bagian-bagian menurut pembeliannya.

3. Harus bersambung dengan Dhamir yg merujuk pada Isim Mu’akkad, seperti contoh-contoh di atas.

oOo

KEDUA: menggunakan lafazh KILAA untuk Mudzakkar dan KILTAA untuk Muannats, keduanya digunakan pada Muakkad Mutsanna, contoh:

نجح الأخوان كلاهما

NAJAHA AKHUWAANI KILAAHUMAA = Dua saudaraku telah lulus kedua-duanya.

فازت البنتان كلتاهما

FAAZAT AL-BINTAANI KILTAAHUMAA = Dua putriku telah sukses kedua-duanya.

Andaikan contoh diatas tidak ada lafazh Taukid maka mengandung ihtimal, dengan mempertimbangkah Tatsniyah secara tidak sebenar-benarnya, boleh jadi yang lulus dan yg sukses adalah salah satunya.

Disyaratkan penggunaan Taukid KILAA dan KILTAA dengan tiga syarat:

1. Harus bisa menempatkan hukum Mufrod pada tempat Muakkad Mutsanna.

Syarat ini untuk memungkinkan adanya dugaan sebagian pada keduanya, sebagaimana dua contoh diatas. Demikian ini untuk membedakan dengan contoh berikut:

تخاصم المحمدان كلاهما

TAKHOOSHOMA AL-MUHAMMADAANI KILAAHUMAA = dua Muhammad saling bermusuhan keduanya.

Contoh ini tidak boleh, karena hukum mufrod disini tidak bisa ditempatkan pada Isim Mutsanna, dikarenakan lafazh TAKHOOSHOMA (saling bermusuhan) tidak mungkin terjadi pada satu orang kecuali harus bersamaan antara keduanya. Sedangkan sebagian Ulama Nuhat membolehkannya dengan alasan bahwa taukid disini digunakan sebagai penguat bukan sebagai penghapus Ihtimal.

2. Harus satu didalam makna Musnad terhadap Muakkad, jika musnadnya berbeda demikian tidak boleh seperti contoh:

مات هشام وعاش بكر كلاهما

MAATA HISYAAMU WA ‘AASYA BAKRUN KILAAHUMAA = Hisyam meninggal dan Bakar hidup kedua-duanya.

3. Harus bersambung dengan Dhamir yg merujuk pada Isim Mu’akkad, seperti contoh di atas.

oOo

KETIGA: menggunakan lafazh AAMMATU, seperti faidah KULLU dan JAMII’U untuk taukid syumul. Ta’ Marbutoh pada akhir kalimahnya sebagai Ta’ Zaidah Lazim bukan Ta’ pembeda boleh untuk Muannats dan Mudzakkar, sebab berupa Ta’ Lil-Mubalaghah. contoh:

حضر الجيش عامته

HADHARA AL-JAISYU ‘AAMMATUHU = tentara itu telah hadir semuanya

حضر الطلاب عامتهم

HADHARAT ATH-THULLAABU ‘AAMMATUHUM = para siswa telah hadir semuanya

حضرت الفرقة عامتها

HADHARAT AL-FIRQOTU AAMMATUHAA = rombongan itu telah hadir semuanya

حضرت الفرق عامتهن

HADHARAT AL-FIROQU AAMMATUHUNNA = semua rombongan telah hadir semuanya

حضر الجيشان عامتهما

HADHARA AL-JAISYAANI ‘AAMMATUHUMAA = dua tentara telah hadir semuanya

حضرت الفرقتان عامتهما

HADHARAT AL-FIRQOTAANI AAMMATUHUMAA = dua rombongan telah hadir semuanya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 604 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: