Arsip

Posts Tagged ‘Rofa’’

I’rab Fi’il Mudhari’ Rofa’ karena kosong dari Amil Nashob dan Amil Jazm » Alfiyah Bait 676

31 Maret 2012 6 komentar
–·•Ο•·–

إعراب الفعل

BAB I’RAB KALIMAH FI’IL

اِرْفَعْ مُضَارِعاً إذَا يُجَرَّدُ ¤ مِنْ نَاصِبٍ وَجَازِمٍ كَتَسْعَدُ

Rofa’kanlah Fi’il Mudhari’ apabila kosong dari amil nashab dan amil jazem, seperti contoh “TAS’ADU” (kamu beruntung). 

–·•Ο•·–

Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu, bahwa Fi’il Mudhari’ ada yang Mu’rob dan ada yang Mabni.
Mengenai Mabninya Fi’il Mudhari’ telah selesai pembahasannya pada Bab Mu’rob dan Mabni. Pembahasan selanjutnya mengenai i’rob Fi’il Mudhari’ baik Rofa’, Nashob dan Jazem. Yakni, jika Fi’il Mudhori’ tersebut dimasuki oleh amil nashob maka dinashobkan/Manshub, atau jika dimasuki oleh amil jazem maka dijazemkan/Majzum. Dan apabila tidak ada suatu amil pun yg masuk, maka Fiil Mudhari’ tersebut dirofa’kan/Marfu’.

Contoh Firman Allah dalam Al-Qur’an al-Karim :

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

YUDABBIRUL-AMRO = Dia mengatur urusan (QS. As-Sajdah : 5)

I’rob :
lafazh YUDABBIRU = Fi’il Mudhari’ dirofa’kan/Marfu’ sebab kosong dari Amil Nashob dan Amil Jazem, tanda rofa’nya dengan harkat Dhamma Zhahir pada akhir kalimahnya. dan Faa’ilnya berupa Dhamir Mustatir.
lafazh AL-AMRO = Nashab menjadi Maf’ul Bih.

Tidak disebutkan oleh mushannif pada Bait di atas bahwa syarat Fi’il mudhari yg dirofa’kan harus tidak bersambung dengan Nun Taukid atau Nun Mu’annats, karena juga telah dijelaskan pada bab Mu’rob dan Mabni dalam pembahasan kemabnian Fi’il Mudhari’.

Macam-macam I’rab/I’rob dalam Tata Bahasa Arab » Alfiyah Bait 23-24

1 Oktober 2010 7 komentar

وَالْرَّفْعَ وَالْنَّصْبَ اجْعَلَنْ إعْرَابَا ¤ لاسْــمٍ وَفِــعْــلٍ نَحْـوُ لَنْ أَهَـــــابَا

Jadikanlah Rofa’ dan Nashab sebagai I’rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi’il, seperti lafadz Lan Ahaba.

وَالاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا ¤ قَــدْ خُصِّصَ الْفِعْـلُ بِأَنْ يَنْـجَزِمَا

Kalimah Isim dikhususi dengan I’rab Jarr, sebagaimana juga Fi’il dikhususi dengan dii’rab Jazm.

Pengertian I’rab / I’rob (الإعراب) dalam Ilmu Nahwu adalah: Bekas secara Zhahiran atau Taqdiran yang terdapat pada akhir Kalimah disebabkan oleh pengamalan Amil. Contoh:

جَاءَ زَيْدٌ – رَأَيْتُ زَيْدًا – مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

جَاءَ الْفَتَى – رَأَيْتُ الْفَتَى – مَرَرْتُ بِالْفَتَى

I’rob Zhahir/terang : adalah bekas akhir kalimah, tidak ada penghalang yang mencegah dalam mengucapkannya. Contoh: زَيْدٌ – زَيْدًا – زَيْدٍ pada contoh susunan kalimat diatas.

I’rab Taqdir/kira-kira : Adalah bekas akhir kalimah, terdapat penghalang yang mencegah dalam melafalkannya. Baik penghalang tersebut karena Udzur semisal جَاءَ الْفَتَى, atau karena berat semisal جَاءَ الْقَاضِيْ, atau karena demi kesesuaian semisal جَاءَ اَبِيْ.

Macam-macam I’rab ada empat:

  1. Raf’a / Rofa’ (الرفع) masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Fi’il (الاسم و الفعل)
  2. Nashb / Nashob (النصب) masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Fi’il (الاسم و الفعل)
  3. Jarr / jar (الجر) masuk kepada Kalimah Isim (الاسم)
  4. Jazm / Jazem (الجزم) masuk kepada Kalimah Fi’il (الفعل)
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 639 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: