Arsip

Posts Tagged ‘Pengertian’

Pengertian Ikhtishash dalam Kaidah Nahwu » Alfiyah Bait 620-621

15 Maret 2012 1 komentar
–·•Ο•·–

الاختصاصُ

BAB IKHTISHASH 

الاخـــتـــصـــاصُ كــــنـــــداءٍ دُونَ يـــــــــا  ¤ كَــأَيُّــهـــا الــفــتـــى بـــإِثْــــرِ ارْجُــونِـــيَـــا

Ikhtishash itu seperti Nida’ tanpa “Yaa” (tanpa huruf nida’), contoh “Ayyuhal-Fataa” setelah bekas lafazh “Urjuuniy” (Urjuuniy ayyuhal-Fataa = mengharaplah kalian kepadaku seorang pemuda). 

وقــــــــدْ يُــــــــرَى ذا دُونَ أيٍّ تِــــلْــــوَ أَلْ  ¤ كمِـثـلِ نـحـنُ الـعُـرْبَ أَسْـخَــى مَـــنْ بَـــذَلْ

Terkadang dipertimbangkan untuk Isim Mukhtash yg selain “Ayyun” dengan menyandang “AL”, contoh “Nahnul-‘Aroba askhaa man badzala” (Kami -orang-orang Arab- adalah paling murahnya orang yg dermawan). 

–·•Ο•·–

Pengertian Ikhtishash secara bahasa adalah Isim Mashdar dari Fi’il Madhi “Ikhtashshah” (mengkhususkan), sebagaimana contoh:

اختص فلان فلاناً بأمر

IKHTASHSHA FULAANUN FULAANAN BI AMRIN = Fulan menghususi Fulan dengan sesuatu perkara

Yakni meringkas si Fulan pada penetapan suatu perkara

Pengertian Ikhtishosh menurut istilah Nahwu adalah : mengkhususkan/meringkaskan hukum pada Dhamir selain ghaib dan sesudahnya ada Isim Zhahir Ma’rifat yg menjadi makna dari Isim Dhamir tersebut.

Contoh:

نحن المسلمين خير أمة أخرجت للناس

NAHNU AL-MUSLIMIINA KHAIRU UMMATIN UKHRIJAT LINNAASI = Kami -orang-orang Muslim- adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

أنا طالب العلم لا تفتر رغبتي

ANA THAALIBUL-‘ILMI LAA TAFTURU RUGHBATIY = Saya -penuntut ilmu- takkan reda semangatku.

نحن الموقعين على هذا نشهد بكذا وكذا

NAHNU AL-MUWAQQI’IINA ‘ALAA HAADZAA NASYTAHIDU BI KADZAA WA KADZAA = Kami -yang bertandatangan dibawah ini- bersaksi demikian dan seterusnya…

Penjelasan Definisi :

  • Menghususkan hukum pada dhamir = Meringkas pengertian dhamir atas suatu hukum.
  • Dhamir selain ghaib = Umumnya Dhamir Mutakallim, atau dhamir Mukhatab tapi jarang seperti contoh:

أنت الخطيبَ أفصح الناس قولاً

ANTA AL-KHOTIIBA AFSHAHUN-NAASI QOULAN = Kamu -penceramah- paling fasihnya orang dalam berkata.

  • Sesudahnya ada Isim Zhahir Ma’rifat = Yakni ma’rifat sebab idhofah atau menyandang “AL” seperti pada contoh-contoh diatas.

Tujuan dari pada penyebutan Isim Zhahir adalah untuk mengkhususi Isim Dahmir, menjelaskan serta menghilangkan kesamaran. Dan dinamakan pula Isim Zhahir Manshub ‘Alal Ikhtishosh yakni dinashobkan oleh Fi’il yg wajib terbuang misalnya takdir fi’il : AKHUSHSHU (aku menghususkan) dan semisalnya.

Contoh dalam Hadits, Nabi saw bersabda :

إنا معشر الأنبياء لا نورث

INNAA MA’SYAROL ANBIYAA’I LAA NUUROTSU = Kami -kelompok para Nabi- tidak mewariskan.

إنا آلَ محمد لا تحل لنا الصدقة

INNAA AALA MUHAMMADIN LAA TAHILLU LANAA ASH-SHADAQATU = Kami -keluarga Muhammad- tidak halal bagi kami menerima sedekah.

Contoh I’robnya :

MA’SYAROL ANBIYAA’I = Dinashabkan atas Ikhtishash oleh Fi’il yg wajib dibuang, sebagai Jumlah Mu’taridhah antara Isim INNA dan Khabarnya, atau sebagai HAAL dari dhamir NAA.

Terkadang Ikhtishosh tersebut dengan menggunakan lafazh “AYYUN” (Mudzakkar) dan “AYYATUN” (Muannats) yg wajib mabni dhommah dalam mahal nashab, dan disambung dengan “HAA” (huruf Tanbih) menjadi “AYYUHAA” dan “AYYATUHAA”. Kedua lafazh Ikhtishosh ini tetap dalam bentuknya baik untuk mufrod, mutsanna dan jamak. Ditetapkan pula setelah keduanya ada Isim yg dirofa’kan sebagai NA’ATnya.

Contoh :

إني – أيها المسلم – نظيف اليد واللسان

INNIY AYYUHAL-MUSLIMU NAZHIIFUL-YADDI WAL-LISAANI = sesungguhnya saya -sebagai seorang muslim- harus bersih tangan dan ucapan.

إنني – أيتها المسلمة – أُحسنُ الححاب

INNANIY AYYATUHAL-MUSLIMATI UHSINUL-HIJAABI – sesungguhnya saya -sebagai seorang muslimah- harus memperbagus Hijab (penutupan aurat).

Sebagaimana disebutkan bahwa tujuan asal Ikhtishash adalah sebagai Takhshish (penghususan) atau Qashr (ringkasan) yg terkadang berfungsi Fakhr (kebanggaan) sebagimana dua contoh diatas. Dan terkadang berfungsi Tawadhu’ (kerandahan diri) seperti contoh:

أنا أيها العبد محتاج إلى عفو الله

ANA AYYUHAL-‘ABDU MUHTAAJUN ILAA ‘AFWILLAAHI = Saya-sebagai seorang hamba- sangat butuh akan Pengampunan Allah.

Dengan demikian penggunaan Ikhatishash itu ada dua :

1. Menggunakan “AYYUHAA” atau “AYYATUHAA”
2. Menggunakan Isim yg menyandang “AL” atau “Mudhaf”.

Disebutkan dalam Bait diatas bahwa Ikhtishosh serupa dengan Nida’ dalam keumuman penampakannya, yakni sama-sama menyertakan Isim yg kadang dimabnikan dhammah dan kadang dinashabkan, juga sama berfaidah Ikhtishosh, dan masing-masing digunakan untuk orang kedua (hadir) tidak untuk orang ketiga (ghaib).

Perbedaannya adalah Ikhtishash untuk Mutakallim juga Mukhatab, sedangkan Nida’ husus Mukhatab saja. Ikhtishash tidak menggunakan huruf Nida’ baik secara lafazh dan taqdir. Ikhtishosh tidak bisa dijadikan shodar kalam (awalan kalimat) sedangkan Nida’ bisa. Ikhtishash banyak menggunakan “AL” pada isim mukhtashnya sedangkan Nida’ tidak boleh menggunakan “AL” pada Munadanya kecuali dalam pengecualian sebagaimana telah disebut pada bab Nida’

Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535

24 Februari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

العطف

BAB ATHAF

عطف البيان

ATHAF BAYAN 

الْعَطْفُ إِمَّا ذُو بِيانِ أوْ نَسَقْ ¤ وَالْغَرَضُ الآن بَيانُ مَا سَبَقْ

Athaf terbagi: pertama Athaf Bayan, kedua Athaf Nasaq. Sasaran kali ini menerangkan bagian Athaf yg pertama (Athaf Bayan). 

فَذُو الْبَيَانِ تَابعٌ شِبْهُ الصِّفَهْ ¤ حَقِيقَةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَهْ

Athaf Bayan adalah Tabi’ menyerupai sifat, yang-mana hakekat yang dimaksud menjadi terungkap dengannya.   

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian ketiga dari Isim Tawabi’ yaitu ATHAF.
Athaf terbagi dua:

1. Athaf Bayan
2. Athaf Nasaq (akan diterangkan setelah Bab ini)

Definisi Athaf Bayan : Isim Tabi’ yg berfungsi sebagai Idhah (penjelas) atau sebagai Takhshish (pengkhusus), berupa Isim Jamid tanpa takwil.

Penjelasan Definisi :

TABI’ :

adalah Isim Jenis bagian dari Tawabi’.

IDHAH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Ma’rifah, untuk menghilangkan perkara serupa yang beredar dan mengarah pada maksud Isim Ma’rifah, dikarenakan mempunyai banyak kepenunjukan.

TAKHSHISH :

Apabila Matbu’nya berupa Isim Nakirah, untuk membatasi kepenunjukannya dan mempersempit jangkauannya.

Contoh sebagai Idhoh (penjelasan):

أكرمت محمداً أخاك

AKROMTU MUHAMMADAN AKHOOKA = aku memulyakan Muhammad Saudaramu.

Lafazh AKHOOKA = berfungsi untuk menjelaskan maksud daripada lafah “MUHAMMADAN” -sekalipun berupa Isim Ma’rifat- andaikan tanpa penyebutan Tabi’, maka ia tetap membutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan.

Contoh sebagai Takhshish (penghusus):

سمعت كلمة خطبةً كثيرة المعاني قليلة الألفاظ

SAMI’TU KALIMATAN KHUTHBATAN KHATSIIROTAL-MA’AANIY QOLIILATAL-ALFAAZHI = saya telah mendengar kalimat khotbah yang kaya akan makna nan simpel lafazhnya.

Lafazh KHUTHBATAN = sebagai Athaf Bayan, digunakan sebagai pengkhusus dari Isim Nakirah “KALIMATAN” dikarenakan banyaknya kepenunjukannya bisa kalimat syair, kalimat natsar, kalimat khotbah, kalimat peribahasa dll. Oleh karena itu andaikan tanpa menyebut Tabi’ maka lafazh “KALIMATAN” tetap dalam status keumumannya didalam banyaknya kepenunjukannya.

Penyebutan Qoyyid IDHOH dan TAKHSHISH ini, untuk mengeluarkan pengertian Tabi’ TAUKID, Tabi’ ATHAF NASAQ dan Tabi’ BADAL.

Contoh Taukid :

جاء الأمير نفسه

JAA’A AL-AMIIRU NAFSUHUU = Penguasa telah datang sendirinya.

Contoh Athaf Nasaq :

قرأت التفسير والحديث

QORO’TU AT-TAFSIIRO WA AL-HADIITSA = aku membaca Tafsir dan Hadits.

Contoh Badal :

قضيت الدين نصفه

QODHOITU AD-DAINA NISHFAHUU = Aku melunasi hutang separuhnya.

Ketiga contoh Tabi’ diatas sesungguhnya bukan sebagai IDHOH bagi kalimah Matbu’.

Adapun Tabi’ NA’AT tidak keluar dari definisi qayyid IDHOH dan TAKHSIS tapi keluar dari qayyid lain. Na’at dan Athof Bayan bersekutu dalam hal fungsi Idhoh, akan tetapi pada Athof Bayan berfungsi sebagai penjelasan bagi dzat Matbu’, yakni penerangan eksistensi hakikat asalnya. Sedangkan pada Na’at bukan sebagai penjelasan secara langsung terhadap dzat asal Matbu’nya (man’utnya), tapi sebagai keterangan Sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh perbedaan fungsi IDHAH antara Na’at dan Athaf Bayan :

Contoh Na’at :

هذا خالد الكاتب

HAADZAA KHOOLIDUN AL-KAATIBU = ini adalah Khalid sang sekretaris.

Lafazh AL-KAATIBU = sebagai Na’at sebagai keterangan atau penjelas bagi Matbu’nya dengan menyebut sifat diantara sifat-sifatnya.

Contoh Athaf Bayan :

هذا التاجر خليل

HAADZAA AT-TAAJIRU KHOLIILUN = Dia ini seorang pedagang (dia) Khalil.

Lafazh KHOLIILUN = sebagai Athaf Bayan sebagai penjelasan dzat Matbu’ AT-TAAJIRU.

JAMID :

Umumnya Athaf Bayan berupa Isim Jamid, demikian juga membedakan dengan Na’at yang umumnya berupa Isim Musytaq.

TANPA TAKWIL :

Yakni tanpa ditakwil isim musytaq, juga sebagai pembeda dari Naat Jamid yg harus ditakwil Isim Musytaq, seperti contoh Naat yg berupa Isim Isyaroh :

مررت بعلي هذا

MARORTU BI ‘ALIY HAADZAA = aku berjumpa dengan Ali ini.

Lafazh HAADZAA = sebagai Naat Jamid yg ditakwil : yang hadir ini.

Pengertian Tabi’ Na’at Man’ut dan Faidahnya » Alfiyah Bait 506-507

7 Februari 2012 10 komentar
–·•Ο•·–

النعت

BAB NA’AT

يَتْبَعُ فِي الإعْرَابِ الأسْمَاء الأوَلْ  ¤ نَعْتٌ وَتوْكِيدٌ وَعَطْفٌ وَبَدَلْ

Mengikuti Isim awal di dalam I’robnya, yaitu: Na’at, Taukid, ‘Athaf dan Badal. 

فَالنَّعْتُ تَابعٌ مُتِمٌّ مَا سَبَقْ  ¤ بِوَسْمِهِ أوْ وَسْمِ مَا بِهِ اعْتَلَقْ

Adapun Na’at adalah Tabi’ penyempurna lafazh sebelumnya dengan sebab menyifatinya (Na’at Haqiqi) atau menyifati lafazh hubungannya (Na’at Sababi). 

–·•Ο•·–

TABI’ / TAWABI

Pengertian Tabi’ (yang mengikuti) : adalah Isim yang bersekutu dengan lafazh sebelumnya di dalam i’robnya secara mutlak.

Penjelasan Definisi: Lafazh sebelumnya disebut Matbu’ (yang diikuti). Di dalam i’robnya secara mutlak dimaksudkan untuk semua keadaan i’rob Rofa’, Nashob dan Jar. Contoh:

جاء الرجلُ المهذبُ

JAA’A AR-ROJULU AL-MUHADZDZABU = Laki-laki yang baik itu telah datang

رأيت الرجلَ المهذبَ

RO’AITU AR-ROJULA AL-MUHADZDZABA = Aku melihat laki-laki yang baik itu

سلمت على الرجلِ المهذبِ

SALLAMTU ‘ALAA AR-ROJULI AL-MUHADZDZABI = Aku memberi salam pada laki-laki yang baik itu

Pada tiga contoh diatas, lafazh AL-MUHADZDZAB (Tabi’) mengikuti lafazh AR-ROJUL (Matbu’) di dalam tiga bentuk i’robnya masing-masing.

Keluar dari definisi Tabi’ adalah Khobar dari Mubtada’ dan Haal dari Isim Manshub.

Contoh Khobar dari Mubtada’ :

الدنيا متاع

AD-DUNYA MATAA’UN = Dunia itu perhiasan.

Contoh Haal dari Isim Manshub :

لا تشرب الماء كدراً

LAA TASYROB! AL-MAA’A KADIRON = jangan kamu minum air dalam keadaan keruh!

Dua lafazh Khabar dan Haal pada contoh diatas tidak disebut Tabi’ karena tidak bersekutu dengan lafazh sebelumnya secara mutlak pada semua keadaan i’robnya, namun hanya pada sebagian keadaan i’rob saja.

Isim-isim Tabi’ atau dijamak Tawabi’ menurut pokoknya ada empat: Na’at, Taukid, ‘Athaf dan Badal. InsyaAllah akan dijelaskan nanti secara rinci untuk semua bentuk-bentuk tawabi’ pada bab-bab selanjutnya.

Menurut yang masyhur : Matbu’ tidak boleh diakhirkan dari Tabi’nya yakni dengan sebab mengedepankan Tabi’nya, demikian mafhum dari perkataan Mushannif pada Bait diatas “AL-ASMAA’IL-AWWALI”.

NA’AT

Pengertian Na’at : adalah Isim Tabi’ sebagai penyempurna bagi lafazh Matbu’nya dengan memberi penjelasan sifat diantara sifat-sifat Matbu’ atau diantara sifat-sifat lafazh yang berta’alluq pada Matbu’.

Penjelasan definisi: Tabi’ adalah nama jenis yang mencakup semua Tabi. Sebagai penyampurna matbu’ dengan sebab menjelaskan sifatnya, untuk membedakan dengan bentuk-bentuk tabi’ lain yang tidak menunjukan sifat Matbu’ ataupun sifat yang berta’alluq pada Matbu’. Dengan demikian Na’at harus berupa Isim Musytaq untuk melaksanakan penunjukan suatu makna sekaligus si empunya makna.

Diambil dari definisi Na’at tersebut, maka Na’at terbagi dua macam:

1. Na’at Hakiki:

Adalah Na’at yang menunjukkan sifat bagi Isim sebelumnya. Contoh:

أقمت في المنزل الفسيح

AQIMTU FIL-MANZILIL-FASIIHI = saya tinggal di rumah yang luas

Lafazh AL-FASIIHI = Na’at Hakiki yang menunjukkan sifat bagi Isim yang ada sebelumnya (AL-MANZILI). Dan disebut Na’at Kakiki karena yang punya sifat AL-FASIIHI (luas) hakikatnya adalah Man’ut sendiri yaitu lafazh AL-MANZILI (tempat tinggal/rumah).

Ciri-ciri Na’at Haqiqi adalah: menyimpan dhamir mustatir yang merujuk pada Man’ut.

2. Na’at Sababi

Adalah Na’at yang menunjukkan sifat bagi Isim yang mempunyai irthibat/ikatan dengan Matbu’. Contoh:

أقمت في المنزل الفسيح فناؤه

AQIMTU FIL-MANZILIL-FASIIHI FINAA’U HUU = saya tinggal di rumah yang luas halamannya

Lafazh AL-FASIIHI disebut Na’at, akan tetapi bukanlah Na’at bagi lafazh Matbu’ AL-MANZILI, karena AL-FASIIHI bukan sifat bagi AL-MANZILI. Hanya saja sifat tersebut diperuntukan bagi Isim yang mempunyai ikatan dengan Isim Matbu’ yaitu lafazh FANAA’U HUU/halamannya. Oleh karena itu disebut Na’at Sababi.

AL-FASIIHI = Na’at, majrur dengan tanda jar kasroh. FANAA’U = Fa’ilnya, dirofa’kan oleh sifat dengan tanda rofa’ dhammah. HUU = Mudhaf Ilaih, Dhamir Bariz Muttashil yang merujuk pada Matbu’ sebagai robit/pengikat antara isim zhahir dan matbu’.

Ciri-ciri Na’at Sababi: yakni setelah Na’at didatangkannya Isim Zhahir yang dirofa’kan oleh Na’at dan mencakup ada dhamir yang kembali pada Man’ut.

Faidah-faidah Na’at sebagai penyempurna faidah lafaz sebelumnya, yang masyhur adalah sebagai berikut :

1. Faidah IDHAH (menjadikan jelas) apabila Man’utnya berupa Isim Ma’rifah.

Yakni: menghilangkan isytirok lafzhiy (persekutuan lafazh) di dalam lafazh Isim ma’rifah, dan menghilangkan ihtimal ma’nawiy (kemungkinan makna) yang mengarah kepada makna Isim ma’rifah. Contoh:

حضر خالد التاجر

HADHARA KHAALIDUN AT-TAAJIRU = Khalid yang pedagang itu telah hadir.

2. Faidah TAKHSHISH (penghususan) apabila Man’utnya berupa isim Nakirah.

Yakni: mengurangi Isytirok makna di dalam makna isim nakirah dan mempersempit bilangan jumlah yang mencakupinya. Contoh:

جاء رجل واعظ

JAA’A ROJULUN WAA’IZHUN = seorang lelaki penasehat telah datang.

3. Faidah MUJARRODUL-MADAH (pujian khusus). Contoh:

رضي الله عن عمرَ بنِ الخطابِ الشاملِ عدلُه الرحيمِ قلبُه

RODHIYALLAAHU ‘AN UMAROBNIL-KHOTHTHOOBI ASY-SYAAMILI ‘ADLUHUU AR-ROHIIMI QOLBUHUU = semoga Allah memberi Rahmat pada Umar bin Khaththab yang keadilannya luas dan hatinya penuh kasih .

4. Faidah MUJARRODUDZ-DZAMM (celaan khusus). Contoh:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

A’UUDZU BILLAAHI MINASY-SYAITHOONIR-ROJIIMI = aku berlindung kepada Allah dari Syetan yang terkutuk.

5. Faidah TAROHHUM (menaruh belas kasih). Contoh:

اللهم ارحم عبدك المسكين

ALLAHUMMA IRHAM ‘ABDAKA AL-MISKIINA = ya.. Allah, kasihanilah hambaMu yang miskin.

6. Faidah TAUKID (pengokohan). Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

فإذا نفخ في الصور نفخة واحدة

FA IDZAA NUFIKHO FISH-SHUURI NAFKHOTUN WAAHIDATUN = Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup (QS. Al-haaqqah:13)

Lafazh WAAHIDATUN = Na’at yang berfaidah sebagai Taukid, sebab makna wahidah sudah dimafhumi dari Man’ut lafazh NAFKHOTUN yang berupa Isim Murroh.

فاسلك فيها من كل زوجين اثنين

FASLUK FIIHAA MIN KULLIN ZAUJAINI ITSNAINI = maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis) (QS. Al-Mu’minun:27)

Lafazh ITSNAINI = Na’at yg berfaidah sebagai Taukid, dari lafazh man’ut ZAUJAINI.

Pengertian Isim Tafdhil dan Syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 496-497

2 Februari 2012 7 komentar
–·•Ο•·–

أَفْعَلُ التَّفْضِيلِ

BAB AF’ALU AT-TAFDHIL

صُغْ مِنْ مَصُوغ مِنْهُ للتَّعَجُّبِ  ¤ أَفْعَلَ للتَّفْضِيلِ وَأْبَ اللَّذْ أبِي

Bentuklah lafazh yang boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub kepada bentuk Isim Tafdhil “AF’ALA”. dan tinggalkan lafazh yang tidak diperbolehkan. 

ومَا بِهِ إلى تَعَجُّبٍ وُصِل  ¤ لِمَانِع بِهِ إلى التَّفْضِيلِ صِل

Suatu yang disambung sebagai perantara pembentukan ta’ajjub karena ada hal yang tidak memperbolehkannya, maka sambungkan juga kepada pembentukan Isim Tafdhil (dengan alasan yang sama) 

–·•Ο•·–

Wazan Af’alut-Tafdhil “AF’ALA” adalah kalimah Isim karena bisa dimasuki oleh tanda-tanda kalimah Isim. Termasuk Isim yang tidak Munsharif karena menetapi dua illah: Washfiyah dan Wazan Fi’il. Isim Tafdhil tersebut tidak akan munsharif kecuali Hamzahnya dibuang dalam banyak penggunaannya yaitu lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN”. Terkadang ada juga kalimah lain dari Isim Tafdhil yang berlaku pembuangan Hamzah seperti keduanya, yaitu lafazh “AHABBU” menjadi “HABBUN” seperti dalam syahid syair bahar basith berikut:

وزادني كلفا بالحب أن منعت # وحب شيء إلى الإنسان ما منعا

WA ZAADANIY KALAFAN BIL-HUBBI AN MANA’AT # WA HABBU SYAI’IN ILAL-INSAANI MAA MUNI’AA

Penolakanmu menambah cintaku semakin menyala-nyala # suatu yang lebih dicintai oleh manusia adalah suatu yang ditolak.

Terkadang juga lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN” dipergunakan bentuk aslinya yaitu “AKHYARU” dan “ASYARRU”.

Contoh sebagian Qiro’ah membaca Ayat berikut :

مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشَرُّ

MANIL-KADZDZAABUL-ASYARRU = siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi lebih buruk. (QS. Al-Qamar:26)

dan contoh syahid syair dalam penggalan syair bahar Rojaz berikut:

بلال خيرُ الناسِ وابن الأخير

BILAALU KHAIRUN-NAASI WABNUL-AKHYARI = Bilal manusia terbaik dan putra orang terbaik.

Af’al At-Tafdhil yaitu Isim Musytaq yang berwazan AF’ALA. Termasuk bagian dari Isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya. Umumnya menunjukkan kepada dua hal yang mempunyai hubungan sifat yang mana salah satunya diunggulkan dari yang lainnya.

Contoh:

العلم أفضل من المال

AL-‘ILMU AFDHALU MINAL-MAALI = Ilmu lebih utama dari harta.

  • Lafazh AL-‘ILMU = yang diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL
  • Lafazh AL-MAALI = yang tidak diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL ‘ALAIH atau disebut AL-MAFDHUL.
  • Lafazh AFDHALU = Wazan AF’ALA yang menunjukkan Tafdhil atau Isim Tafdhil, biasanya diperuntukkan untuk sifat Tafdhil yang keberadaannya selalu tetap dan eksis yakni tidak sekali-kali.

Af’al At-Tafdhil musytaq dari asal Mashdar Fi’il, dibuat dengan bentuk wazan AF’ALA untuk menghasilkan makna tafdhil/melebihkan. Disyaratkan lafazh yang boleh dibuat Isim Tafdhil disini adalah berasal dari Fi’il-Fi’il yang secara langsung boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub, yakni Fiil-Fi’il yang mencukupi syarat dibuat Ta’ajjub yang telah diterangkan pada Bab Ta’ajjub, yaitu:

1. Tsulatsi
2. Mutasharrif
3. Dapat menerima hal perlebihan
4. Tamm
5. Mutsbat
6. Tidak punya bentuk Sifat dengan wazan AF’ALA
7. Mabni Ma’lum

Sebagaimana Fi’il yang tidak boleh dijadikan shighat Fi’il Ta’ajjub karena tidak mencukupi syarat, maka tidak boleh juga untuk dijadikan shighat Isim Tafdhil. Dan Fi’il yang tidak mencukupi syarat tersebut boleh dijadikan sebagai penunjukan Tafdhil dengan sebab persambungan lafazh perantara yaitu lafazh ASYADDU, contoh:

بَحْثُ خالد أشدُّ اختصاراً من بحث محمد

BAHTSU KHAALIDIN ASYADDU IKHTISHAARAN MIN BAHTSI MUHAMMADIN = Pembahasan Khalid lebih ringkas dari pembahasan Muhammad.

Lafazh IKHTISHAARAN = Isim Manshub dii’rob sebagai Tamyiz jatuh sesudah lafazh perantara untuk makna ta’ajjub yaitu lafazh ASYADDU.

NI’MA dan BI’SA pengertian dan bentuk Fa’ilnya » Alfiyah Bait 485-486-487

30 Januari 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

نِعْمَ وَبِئْسَ وَمَا جَرَى مَجْرَاهُمَا

Ni’ma dan Bi’sa dan kalimah yang berlaku seperti keduanya

فِعْلانِ غيْرُ مُتَصَرِّفَيْنِ ¤ نِعْمَ وَبِئْسَ رَافِعَان اسْمَيْنِ

Dua Fi’il yang tidak mutasharrif (Fi’il jamid) yaitu NI’MA dan BI’SA, keduanya merofa’kan kepada Isimnya masing-masing (sebagai Fa’ilnya) 

مُقَارِنَىْ ألْ أوْ مَضَا فَينِ لِمَا ¤ قَارَنَهَا كَنِعِمَ عُقْبَى الكُرَما

baik Failnya bersambung dengan AL, atau mudhaf pada isim yang bersambung AL. contoh: NI’MA ‘UQBAL-KUROMAA’I=sebaik-baik balasan bagi orang-orang mulia 

وَيَرْفَعَانِ مُضْمَراً يُفَسِّرُهُ ¤ مُمَيِّزٌ كَنِعْمَ قَوْماً مَعْشَرُهُ

atau merofa’kan pada Dhamir yang ditafsiri oleh Tamyiz, contoh: NI’MA QOUMAN MA’SYAROHU = sebaik-baiknya kaum yaitu kerabatnya

–·•Ο•·–

NI’MA dan BI’SA adalah kata kerja/kalimah Fi’il yang menunjukkan makna PUJIAN dan CELAAN secara umum. Keduanya berupa Fi’il Madhi yang jamid menetapi zaman madhi dan tentunya memiliki Fail / Subjek. Akan tetapi kedua Fi’il ini tidak ada penunjukan zaman setelah keduanya berikut Failnya dijadikan kalimat berupa jumlah insya’ ghairu tholabiy.

Penampakan Fa’il/subjeknya ada empat macam :

1. Menyandang alif lam (AL) baik disebut AL Jinsiyah atau AL ‘Ahdiyah.

Contoh:

نعم الخلق الصدق

NI’MAL-KHULUQU ASH-SHIDQU = sebaik-baik akhlaq yaitu jujur.

وبئس الخلق الكذب

WA BI’SAL-KHULUQU AL-KIDZBU = dan seburuk-buruk akhlaq yaitu dusta.

Contoh Ayat Al-Qur’an:

نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

NI’MAL-MAULAA WA NI’MAN-NASHIIRU = Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. Al-Anfaal:40)

Lafazh NI’MA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan pujian.
Lafazh MAULAA = Fa’ilnya, dirofa’kan dengan dhammah muqaddar karena udzur.

2. Mudhaf kepada Isim yang menyandang AL.

Contoh:

نعم قائد المسلمين خالد

NI’MA QAA’IDUL-MUSLIMIINA KHAALIDUN = sebaik-baik panglima muslimin yaitu Khalid.

وبئس رجل القوم أبو جهل

WA BI’SA RAJULUL-QAUMI ABUU JAHLIN = dan seburuk-buruk lelaki suatu kaum yaitu Abu Jahal.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

ولنعم دار المتقين

WA LA NI’MA DAARUL-MUTTAQIIN = dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (An-Nahl:30)

وبئس مثوى الظالمين

WA BI’SA MATSWAZH-ZHOOLIMIIN = dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (QS. Ali ‘Imran:151)

3. Mudhaf kepada Isim yang Mudhaf kepada Isim menyandang AL.

Contoh:

نعم حافظ كتاب الله

NI’MA HAAFIZHU KITAABILLAAHI = sebaik-baik orang yang hafal Kitab Allah.

وبئس مهمل أوامر القرآن

WA BI’SA MUHMILI AWAAMIRIL-QUR’AANA = seburuk-buruk orang yang menelantarkan perintah-perintah Al-Qur’an.

(Bentuk Fa’il yang nomer 3 ini, oleh Mushannif tidak disebutkan dalam Bait.)

4. Fa’ilnya Berupa Dhamir Mustatir dan setelahnya ada Isim Nakirah sebagai penafsir dari kesamaran tentang Dhamir Mustatir tersebut.

Contoh:

نعم صديقا الكتاب

NI’MA SHADIIQAN AL-KITAABU = sebaik-baik teman yaitu kitab

بئس خلقا خلف الوعد

BI’SA KHULUQAN KHULFUL-WA’DI = seburuk-buruk perangai yaitu tidak menepati janji.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

بئس للظالمين بدلا

BI’SA LIZH-ZHOOLIMIINA BADALAN = Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim

Lafazh BI’SA = Fi’il Madhi Jamid untuk menyatakan celaan, Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir wujuban, takdirannya Huwa.
Lafazh BADALAN = Tamyiz yang menafsiri Fa’il Dhamir Mustatir tsb.

Pengertian Ta’ajjub dan tanda i’rabnya » Alfiyah Bait 474-475

27 Januari 2012 1 komentar
–·•Ο•·–

التَّعَجُّبُ

BAB TA’AJJUB (TAKJUB)

بِأفْعَلَ انْطِقْ بَعْدَ مَا تَعَجُّبَا ¤ أوْ جِئْ بِأفْعِلْ قَبْلَ مَجْرُورٍ ببَا

Berucaplah dengan wazan AF’ALA setelah MAA (MAA AF’ALA) sebagai ungkapan takjub, atau boleh gunakan wazan AF’IL sebelum Majrur oleh BA’ (AF’IL BIHI) 

وَتِلْوَ أفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كما ¤ أوْفَى خَلِيلَيْنَا وَأصْدِقْ بِهِمَا

Nashabkanlah terhadap kalimah yang jatuh sesudah wazan AF’ALA seperti: MAA AUFAA KHOLIILAINAA WA ASHDIQ BI HIMAA (alangkah alimnya kedua sahabatku ini dan alangkah benar keduanya) 

–·•Ο•·–

Ta’ajjub adalah : perasaan di dalam hati ketika merasakan adanya suatu hal yang dibodohi penyebabnya. Ta’ajjub dalam hal ini terbagi dua macam:

Pertama: Tanpa kaidah, hanya dapat diketahui melalui qarinah atau sesuatu yang menunjukan maksud Ta’ajjub.
contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, (QS. Al-Baqarah:28)

Lafaz KAIFA = Isim Istifham mabni fathah menempati posisi nashab sebagai Hal. dan disini ia berfaidah Ta’ajjub.

Contoh dalam Hadits, dari Abi Hurairah Nabi Bersabda:

سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

Subhaanallaah! sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis.

Lafaz Subhaanallaah = Isim Mashdar yg dinashobkan oleh Fi’il yang terbuang, sebagai ungkapan takjub dari sebab perkataan Abu Hurairah sebelumnya; bahwa seseorang menjadi najis sebab junub.

dan contoh perkataan orang arab:

لله دره فارساً

alangkah hebat! kemahirannya menunggang kuda

Lafazh FAARISAN nashab sebagai Tamyiz yang dikehendaki ta’ajjub.

Kedua: Ta’ajjub qiasi, mempergunakan dua bentuk shighat secara qias, yaitu “MAA AF’ALA” dan “AF’IL BIHI”.

1. Shighat Ta’ajjub “MAA AF’ALA”, contoh:

ما أوسع الحديقة!

MAA AWSA’AL-HADIIQAH! = alangkah luas kebun ini.

Lafaz MAA = Maa ta’ajjub isim Nakirah Tamm, mabni sukun mahal rofa’ menjadi Mubtada’. disebut Isim Nakirah karena punya arti syai’un/sesuatu. dan disebut Tamm karena tidak butuh pada qayyid lain kecuali khobar. Disusun sebagai permulaan kalimat menjadi mubtada’ yang mengandung makna Ta’ajjub.

Lafaz AWSA’A = Fi’il Madhi mabni fathah, bukti bahwa ia kalimah Fiil ketika bersambung dengan Ya’ Mutakallim dipastikannya memasang Nun Wiqayah seperti pada contoh:

أفقرني إلى عفو الله

MAA AFQARANIY ILAA ‘AFWILLAAHI = alangkah fakirnya aku akan pengampunan Allah.

Failnya berupa dhamir mustatir takdirannya Huwa rujuk pada MAA.

lafazh AL-HADIIQAH = Maf’ul Bih dinashabkan oleh AWSA’A. Jumlah Fi’il, Fa’il dan Maf’ul Bih adalah Khobar Jumlah dari Mubtada’ MAA.

2. Shighat Ta’ajjub “AF’IL BIHII”, contoh:

أقبح بالبخل!

AQBIH BIL-BUKHLI = Alangkah jeleknya kikir itu.

Sama halnya dengan mengucapkan:

ما أقبحه

MAA AQBAHA HUU = Alangkah jeleknya kikir itu.

karena dua bentuk ta’ajjub tsb bertujuan sama pada satu objek (AL-BUKHLI) sebagai Mad-lulnya.

Lafaz AQBIH = adalah Fi’il madhi dalam shighat Fi’il Amar, mabni Fathah muqaddar karena berbentuk seperti Fi’il Amar. Asalnya AF’ALA yakni shighat Fi’il Madhi dengan tambahan Hazmah yang berfaidah SHAIRURAH/menjadi, sebagaimana contoh:

أقبح البخل

AQBAHA AL-BUKHLU = kebakhilan menjadi bersifat jelek.

Sebagaimana mereka mengatakan:

أبقلت الأرض

ABQALAT AL-ARDHU = Bumi itu menjadi bertunas (tumbuh tunas)

أثمرت الشجرة

ATSMARAT ASY-SYAJARA = Pohon itu menjadi berbuah.

Dengan demikian penggunaan Fi’il Madhi dengan rupa Fi’il Amar tersebut tiada lain hanya untuk tujuan Ta’ajjub. Dan dikarenakan seperti shighat Fi’il Amar itulah maka tidak benar jika musnad langsung kepada isim zhahir, oleh karena itu pada Fa’ilnya ditambahi huruf Jar BA’ .

Huruf BA‘ = Zaidah.

Lafazh AL-BUKHLI = menjadi Fa’il rofa’ dengan Dhammah muqaddar, tercegah irab zhahirnya karena tempatnya sudah didahului oleh huruf jar zaidah.

Pengamalan Isim Fa’il dan Pengertian Isim Fa’il » Alfiyah Bait 428-429-430

9 Januari 2012 2 komentar
–·•Ο•·–

إعْمَالُ اسْمِ الْفَاعِلِ

PENGAMALAN ISIM FA’IL

كَفِعْلِهِ اسمُ فَاعلٍ فِي الْعَمَلِ ¤ إنْ كَانَ عَنْ مُضِيِّهِ بِمَعْزِلِ

Isim Fa’il beramal seperti Fi’il-nya. Dengan syarat jika Isim Fa’il tsb menempati jauh dari zaman Madhi (yakni jika menempati zaman Hal atau Istiqbal) 

وَوَلِيَ اسْتِفْهَاماَ أوْ حَرْفَ نِدَا ¤ أوْ نَفْياً أوْ جَا صَفَةً أوْ مُسْنَداَ

Dan disyaratkan juga Isim Fi’il tsb mengiringi Istifham, Huruf Nida’ atau Nafi, atau datang sebagai Sifat (Na’at) atau sebagai Musnad (Khobar). 

وَقَدْ يَكُونُ نَعْتَ مَحْذُوفٍ عُرِفَ ¤ فَيَسْتَحقُّ الْعَمَلَ الَّذِي وُصِف

Dan terkadang Isim Fa’il tsb menjadi Na’at dari Man’ut terbuang yang telah dimaklumi, maka ia berhak juga terhadap amalan yang telah disebut diatas.  

–·•Ο•·–

Bab ini menerangkan bagian kedua dari bagian Isim-isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya yaitu: ISIM FA’IL termasuk didalamnya SHIGHAT MUBALAGHAH.

Pengertian Isim Fa’il:

Adalah Isim musytaq untuk menunjukkan kejadian baru dan sebagai si pelaku.

Penjelasan definisi:

Isim Musytaq : yakni hasil bentukan secara tashrif dari bentuk asal Mashdar tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:

نادم

NAADIMUN = yang menyesal

Atau dari bentuk asal Mashdar lebih dari tiga huruf menjadi bentuk Isim Fa’il, contoh:

مكرم

MUKRIMUN = yang menghormati

Menunjukkan kejadian : yakni hanya menunjukkan kejadian tanpa penunjukan zaman semisal berdiri dan duduk.

Kejadian baru : yakni kejadian yang bersifat aridhi, sekali-kali berubah dan hilang. Demikian ini membedakan dengan Shifat Musyabahah atau Isim Tafdhil, karena keduanya menunjukkan kejadian yang bersifat tetap bukan sekali-kali atau bukan yang bersifat baru.

Sebagai Pelaku : yakni subjek yang mengerjakan pekerjaan yang mana pekerjaan timbul darinya, contoh DHOORIBUN = yang memukul. Demikian ini berbeda dengan definisi Isim Maf’ul yakni Isim Musytaq untuk menunjukkan sebagai objek pekerjaan atau sesuatu yang dikenai pekerjaan.

Penampakan Isim Fa’il ada dua :

1. Isim Fa’il yang bersambung dengan AL: Hukumnya akan diterangkan pada Bait selanjutnya.

2. Isim Fa’il yang tidak bersambung dengan AL, maka:

A. Beramal merofa’kan Fa’il secara mutlak tanpa syarat.

Contoh:

الله عالم ببواطن الأمور

ALLAHU ‘AALIMUN BI BAWAATHINIL-UMUURI = Allah Maha mengetahui terhadap perkara yang tersembunyi.

lafazh AALIMUN = Isim Fa’il didalamnya terdapat Fa’il Dhamir Mustatir dirofa’kan sebagai Fa’ilnya.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ

WA MINANNAASI WAD-DAWAABI WAL-AN’AAMI MUKHTALIFUN AL-WAANUHU = di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faathir :28)

Lafazh AL-WAANU dirofa’kan menjadi Fa’il dari Isim Fa’il lafazh MUKHTALIFUN.

B. Beramal menashobkan Maf’ul Bih dengan dua syarat:

1. Diharuskan dalam penggunaannya untuk suatu yang Hal (yang sedang terjadi) atau Istiqbal (yang akan terjadi). Alasan pengamalannya disini -menurut Ulama Nuhat- adalah karena sejalan dengan kalimah Fi’il sebagai sandaran maknanya. yakni sejalan dengan FI’IL MUDHARI’ yakni mencocoki dalam harkat dan sukunnya. dalam artian sukun atau harkat pada Isim Fail sebanding/sehadapan dengan sukun atau harkat yang ada pada susunan huruf Fi’il Mudhari’nya. contoh:

معلم

MU’ALLIMUN = pengajar

sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:

يعلم

YU’ALLIMU = sedang/akan mengajar.

Demikian juga contoh Isim Fa’il:

نادم

NAADIMUN = yang menyesal

sehadapan/sebanding dengan susunan Fi’il Mudhari:

يندم

YANDAMU = sedang/akan menyesal.

2. Harus ada penopang yakni lafazh yang menjadi awalannya :

a. Berawalan ISTIFHAM, contoh:

أبالغ أنت قصدك

A BAALIGHUN ANTA QOSDAKA? = apakah kamu sampai pada tujuanmu?

lafazh BAALIGHUN = Mubtada’
lafazh ANTA = Fa’il yg menempati kedudukan Khobar (Masaddal-khobar)
lafazh QOSDA = Maf’ul Bih
lafazh KA = Mudhaf Ilaih.

b. Berawalan NAFI, contoh:

ما حامد السوق إلا من ربح

MAA HAAMIDUN AS-SAUQA ILLA MAN ROBIHA = tidak akan memuji pasar kecuali dia yang telah mendapat keuntungan.

HAAMIDUN = menjadi Mubtada’
AS-SAUQA = menjadi Maf’ul Bih dari Isim Fa’il (Haamidun)
ILLA = Adat Istitsna’ Mulgha
MAN = Isim Maushul mabni sukun mahal Rofa’ menjadi Fa’il sadda-masaddal khobar.
ROBIHA = Shilah Maushul.

d. Berawalan NIDA’, contoh:

يا سائقا سيارة تمهل

YAA SAA’IQON SAYYAAROTAN TAMAHHAL! = wahai sopir mobil pelan-pelanlah.

YAA = Huruf Nida’
SAA’IQON = Munada Manshub Fa’ilnya berupa Dhamir Mustatir
SAYYAAROTAN = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il.

e. Menjadi NA’AT dari Man’ut yg disebut atau Man’ut yg dibuang

contoh Naat dari Man’ut yang disebut :

صحبت رجلا عارفا آداب السفر

SHAHIBTU RAJULAN ‘AARIFAN AADAABAS-SAFARI = aku menemani seorang yang mengerti adab-adab perjalanan.

RAJULAN = Man’ut
AARIFAN = Na’at
AADAABA = Maf’ul Bih dinashabkan oleh Isim Fa’il (Aarifan)

contoh Naat dari Man’ut yang dibuang karena ada qarinah:

كم معذب نفسه في طلب الدنيا يرى أنه أسعد الناس

KAM MU’ADZDZIBUN NAFSAHU FIY THOLABID-DUN-YAA YAROO ANNAHU AS’ADAN-NAASA = betapa banyak orang yang menyiksa diri dalam mencari dunia dan beranggapan bahwa dunia membahagiankan manusia.

MA’ADZDZIBUN = Isim Fa’il yg menjadi Na’at dari Man’ut yg dibuang.
NAFSAHU = Maf’ul Bihnya.

takdirannya adalah:

كم شخص معذب نفسه

KAM “SYAKHSHUN” MU’ADZDZIBUN NAFSAHU = banyak “orang/individu” yang menyiksa dirinya.

f. Menjadi HAAL Contoh:

جاء خالد راكبا فرسا

JAA’A KHAALIDUN RAAKIBAN FAROSAN = Khalid datang dengan mengendarai kuda

Contoh ayat Al-Qur’an:

فاعبد الله مخلصا له الدين

FA’BUDILLAAHA MUKHLISHON LAHUD-DIIN = Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (QS. Azzumar :2)

g. Menjadi KHABAR dari Mubtada’ atau Amil Nawasikh

Contoh Khabar dari Mubtada':

أنت حافظ غيبة جارك

ANTA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA = kamu harus menjaga omongan tetangga kamu.

Contoh Khabar dari Amil Nawasikh:

إنك حافظ غيبة جارك

INNAKA HAAFIZHUN GHAIBATA JAARIKA

Contoh Ayat dalam Al-Qur’an:

ما كنت قاطعة أمرا حتى تشهدون

MAA KUNTU QAATHI’ATAN AMRAN HATTAA TASYHADUUN = aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku). (QS. An-Naml :32).

o0o

Jika Isim Fa’il tersebut digunkan untuk suatu yang telah terjadi (Madhiy), maka ia tidak beramal. Maka tidak dibenarkan mengatakan misal:

محمد كاتب واجبه أمس

MUHAMMADUN KAATIBUN “WAAJIBAHUU” AMSI

lafazh WAAJIBA tidak boleh dinashabkan sebagai Maf’ul Bih dari Isim Fa’il KAATIBUN. Tapi wajib disusun secara Idhofah, maka yang benar mengatakannya adalah:

محمد كاتب واجبه أمس

MUHAMMADUN KAATIBU “WAAJIBIHII” AMSI = Muhammad mencatat kewajibannya kemarin.

lafazh KAATIBU = mudhaf
lafazh WAAJIBI = mudhaf ilaih

Khilaf dalam hal ini :

  1. Menurut Al-Kasa’i : Isim Fa’il tersebut boleh beramal sekalipun ditujukan untuk zaman Madhiy.
  2. Menurut Al-Akhfash : Isim Fa’il tersebut  sekalipun tidak ada penopang yang menjadi awalannya tetap bisa beramal.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 639 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: