Arsip

Posts Tagged ‘Nahwu’

Penggunaan Lafaz KAM dalam Bahasa Arab » Alfiyah Bait 746-747

25 April 2013 13 komentar

كم، وكأين، وكذا
Bab KAM, KA’AYYIN dan KADZAA

746- مَيِّزْ فِي الاسْتِفْهَامِ كَمْ بِمِثْلِ مَا… مَيِّزْتَ عِشْرِينَ كَكَمْ شَخْصاً سَمَا
Tamyizkanlah KAM dalam Istifham, seperti kamu memberi Tamyiz pada lafazh ISYRUUNA. Contoh KAM SYAKHSHON SAMAA? (berapa orangkah yg ternama?)

747- وَأَجِزَ انْ تَجُرَّهُ مِنْ مُضْمَرَا… إنْ وَلِيَتْ كَمْ حَرْفَ جَرٍّ مُظْهَرَا
Dan dipersilahkan! Tamyiznya dijarkan oleh MIN yg tersimpan, apabila KAM tsb mengiringi huruf Jar yg ditampakkan.

Khusus pada bab ini menjelaskan tentang kinayah-kinayah Adad yg jumlahnya ada tiga yaitu: KAM, KA’AYYIN dan KADZAA. Disebut Kinayah karena menyebut sesuatu tidak dengan penamaannya, tentunya karena ada suatu alasan menurut Balaghah. Masing-masing dari tiga lafazh tsb digunakan sebagai kinayah untuk bilangan Ma’dudnya/Tamyiznya dan sekalipun bilangan Ma’dud tsb bersifat mubham (samar).

1. KAM كم (berapa banyak)

KAM mempunyai dua janis penggunaan; Istifhamiyah dan Khobariyah. Masing-masing digunakan di awal kalimat (shodar kalam), apabila digunakan pada kalam istifham/pertanyaan maka disebut “Kam Istifhamiyah”, dan apabila digunakan pada kalam khobariyah (yg mengandung makna insya’iyah pada kebanyakannya) maka disebut “Kam Khobariyah”.

KAM juga menempati mahal I’rob pada susunan suatu kalam, contoh :

Mahal Nashob sebagai Zharaf Zaman :
كم يوما صمت
KAM YAUMAN SHUMTA? = berapa hari kamu puasa?

Mahal Nashob sebagai Zharaf Makan :
كم ميلا مشيت
KAM MAILAN MASYAITA? = berapa mil kamu berjalan?

Contoh Ayat Al-Qur’an :

كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ
KAM LABITSTA QOOLA LABITSTU YAUMAN AW BA’DHO YAUUM. = “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.”

Mahal Nashob sebagai Maf’ul Muthlaq :

كم زيارة زرت المريض؟
KAM ZIYAAROTAN ZURTU AL-MARIIDH? = berapa kali kunjungan kamu mengunjungi orang sakit tsb?

Mahal Nashob sebagai Maf’ul Bih :

كم حديثا حفظت؟
KAM HADIITSAN HAFAZHTA? = berapa hadits yg telah kamu hafal?

Contoh Ayat Al-Qur’an :

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ
SAL BANIY ISROO’IILA KAM AATAINAAHUM MIN AAYATIN BAYYINATIN = Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka.”

Mahal Jar dimasuki huruf jar:

بكم ريال اشتريت هذا الكتاب
BI KAM RIYAALIN ISYTAROITA HADZAL KITAABA = berapa riyal kamu beli buku ini?

Mahal Jar menjadi mudhaf ilaih :

فوق كم متر تضع الشبابيك؟
FAUQO KAM MITRIN TADHO’U ASY-SYABAABIKA = diatas berapa meter kamu memasang jendela itu?

Mahal Rofa’ menjadi Mubtada :

كم كتابا عندك؟
KAM KITAABA INDAKA? = berapa buku kepunyaanmu?

كم رجلا جاء؟
KAM ROJULAN JAA’A? = berapa lelaki yg dating?

Mahal Nashob menjadi Khobarnya Kaana :

كم كان مالك؟
KAM KAANA MAALIKU? = berapa orang sebagai pemilik/penguasa?

Contoh Ayat Al-Qur’an :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ

KAM MIN FI’ATIN QOLIILATIN GHOLABAT FI’ATAN KATSIIROTAN BI IDZNILLAAHI = Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.

Dan contoh-contoh lain sebagainya.

=====

KAM ISTIFHAMIYAH

KAM disini mempunyai makna “Berapa?” (ayyu ‘adadin?), maka digunakan untuk menyanyakan jumlah sesuatu (ma’dudnya) yg dijadikan sebagai Tamyiznya yg mufrod dan manshub, contoh :

كم سورة حفظت؟
KAM SUUROTAN HAFAZHTA? = berapa surah yg kamu hafal?

I’rob:
KAM = Isim Istifhamiyah mabni sukun dalam mahal nashob menjadi Maf’ul Bih yg dikedepankan (maf’ul muqoddam).
SUUROTAN = Tamyiznya.

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ, قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ
QOOLA KAM LABITSTUM FIL-ARDHI ‘ADADA SINIIN, QOOLUU LABITSNAA YAUMA AW BA’DHO YAUMIN FAS’ALIL ‘AADDIIN. = Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” (QS. Al-Mu’minuun: 112-113)

I’rob :
KAM = Isim Istifham mabni sukun menempati mahal nashob sebagai zharaf dari lafazh sesudahnya.
‘ADADA SINIINA = Tamyiznya, dinashobkan dengan tanda nashob Ya’ karena mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim.
===

Boleh juga Tamyiznya di I’rob Jar, apabila KAM dimasuki huruf jar. Sebagaimana contoh :

بكم ريال اشتريت هذا الكتاب
BI KAM RIYAALIN ISYTAROITA HADZAL KITAABA = berapa riyal kamu beli buku ini?

I’rob :
RIYAALIN = Tamyiznya yg di I’rob jar, dijarkan oleh huruf jar MIN yg disimpan. Atau menurut pendapat dijarkan sebab idhofah, karena beralasan asal idhofah tanpa ada takdir huruf jar, juga alasan huruf jar apabila dibuang maka tidak beramal.

Kemudian ada Tamyiz Kam yg dijarkan oleh huruf jar MIN secara zhahir sedangkan Kam-nya tidak dimasuki huruf Jar, sebagaimana contoh :

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ
SAL BANIY ISROO’IILA KAM AATAINAA HUM MIN AAYATIN BAYYINATIN = Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka.”

I’rob :
KAM = bisa sebagai Istifhamiyah atau Khobariyah, menempati mahal nashob menjadi Maf’ul Bih kedua yg dikedepankan (maf’ul tsani muqoddam)
HUM = Maf’ul Bih pertama
MIN AAYATIN = Tamyiznya yg dijarkan oleh huruf MIN zhahiran.

Definisi LAW Huruf Syarat » Alfiyah Bait 709

11 Mei 2012 3 komentar
–·•Ο•·–

فصل لو

FASAL “LAW”

لَوْ حَرْفُ شَرْطٍ في مُضِيٍّ وَيَقِلْ ¤ إيلاؤها مُسْتَقْبَلاً لكِنْ قُبِلْ

LAW sebagai huruf syarat pada zaman madhi (masa telah lalu). Dan jarang sebagai syarat pada zaman istiqbal (masa akan datang) akan tetapi ini dapat diterima (menurut konteks tujuannya). 

–·•Ο•·–

Sebelumnya perlu diketahui bahwa penggunaan LAW dalam Bahasa Arab terdapat lima makna :

1. LAW Syarthiyah (pembahasan dalam Bab ini).

2. LAW Mashdariyah (masuk pada pembahasan Huruf Maushul/Takwil Mashdar)

3. LAW Lit-Taqlil (berfaidah menyedikitkan) contoh dalam hadits Nabi saw bersabda :

بلغوا عني ولو آية

BALLIGHUU ‘ANNIY WA LAW AAYATAN = sampaikan dariku walau sekira satu ayat.

أولم ولو بشاة

AWLIM WA LAW BI SYAATIN = berwalimahlah walau dengan sekira satu kambing.

4. LAW Lit-Tamanni (harapan kosong) contoh dalam Al-Quran :

فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

FA LAW ANNA KARROTAN FA NAKUUNA MINAL MUSLIMIIN = maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa’ 102).

5. LAW Lil-‘Ardh (penampakan permohonan secara halus), contoh :

لو تنزل عندنا فتصيبَ خيراً

LAW TANZILU ‘INDANAA FA TASHIIBA KHAIRAN = sudilah kiranya anda mendatangi kami, maka semoga anda mendapat kabaikan.

oOo

LAW Syarthiyah termasuk dari adawat syarat yg bukan amil jazem, terbagi menjadi dua bagian :

1. LAW Syarhiyah Imtina’iyah (huruf syarat yg bersifat mengelak)
2. LAW Syartihyah Ghoiru Imtina’iyah (huruf syarat yg tidak bersifat mengelak)

LAW Syarthiyah Imtina’iyah

Law disini berfaidah mengajukan Jawab di atas Syarat yg dikemukakan. Demikian ini memastikan punya konteks Pengelakan Syarat (As-Syarthiyah al-Imtna’iyyah) sekalipun Syarat Imtina’iyah ini tidak terjadi pada kenyataannya. Sedangkan yg berbeda adalah pada dua sisi Jawabnya:

(I) Terkadang juga bersifat mengelak (Jawab Imtina’iyah): ciri-cirinya adalah apabila Syarat yg dikemukakan merupakan satu-satunya sebab dari timbulnya Jawab.

(II) Terkadang tidak bersifat mengelak (Jawab Ghair Imtina’iyah): ciri-cirinya adalah apabila Syarat yg dikemukakan bukanlah satu-satunya sebab timbulnya jawab, yakni Jawab bisa ditimbulkan oleh sebab lain bukan hanya oleh Syarat yg tercantum.

Contoh (I). Syarat dan Jawab sama-sama Imtina’iyah karena syarat adalah satu-satunya sebab dari timbulnya Jawab :

لو كانت الشمس طالعة كان النهار موجوداً

LAW KAANAT AS-SYAMSU THAALI’ATAN KAANA AN-NAHAARU MAUJUUDAN = kalau saja matahari itu terbit, maka siang itu ada.

Contoh (II). Syarat Imtina’iyah sedangkan Jawab Ghair Imtina’iyah karena syarat bukanlah satu-satunya sebab dari timbulnya Jawab :

لو ركب المسافر الطائرة لبلغ غايته

LAW ROKIBA AL-MUSAAFIRU AT-THAA’IROTA LA BALAGHA GHAAYATAHU = kalau saja musafir itu naik pesawat terbang, tentu dia sampai pada tujuannya.

Contoh (I) = Syarat Imtina’iyah dan juga Jawab Imtina’iyah, karena terbitnya matahari satu-satunya sebab adanya siang.

Contoh (II) = Syarat Imtina’iyah sedangkan Jawab Ghairu Imtina’iyah, karena naik pesawat bukanlah satu-satunya sebab sampainya pada tujuan, bisa sebab lain semisal naik motor, mobil, kapal laut dsb.

Keterangan diatas sebagai pencerahan atas ahli nuhat yg mengi’rob LAW Imtina’iyah tsb dengan sebutan “harfun imtinaa’in li imtinaa’in” (adalah huruf penolakan jawab karena penolakan syarat). Demikian masih menimbulkan pertimbangan sebab belum pasti sebagaimana pada contoh II diatas. Mungkin para Nuhat tsb memandang menurut ghalibnya. Adapun definisi yg mudah dalam menghi’rob sebagaimana yg didefinisikan oleh Imam Sibawaih “harfun yadullu ‘alaa maa kaana sa yaqo’u li wuquu’i ghoirihi” (adalah huruf yg menunjukkan atas suatu yang akan terjadi sebab perkara lain) yakni menunjukkan suatu yg bakal terjadi pada masa lalu disebabkan kemungkinan lain yg juga terjadi pada masa lalu. Contoh:

لو حضر أخوك لحضرت

LAW HADHORO AKHUUKA LA HADHORTU = kalau saja saudaramu itu hadir tentu akupun telah hadir.

Yakni kehadiranku bakal terjadi pada masa lalu itu andaikan saudaramu hadir pada masa lalu itu juga.

Dengan demikian definisi pengi’roban ala Sibawaihi tsb lebih mengena secara umum baik pada dua contoh sebelumnya (contoh I dan contoh II) diatas.

LAW Syarthiyah Ghairu Imtina’iyah

Law disini berfaidah menggantungkan Jawab (akibat) di atas Syarat (sebab) yg kemungkinan bisa terjadi ataupun tidak terjadi pada masa akan datang (mustaqbal). Dengan demikian dapat diserupakan maknanya dengan IN Syarthiyah di dalam hal hubungan ta’liq antara Jawab dan Syarat. Dan di dalam hal bahwa masa pada jumlah Syarat dan Jawabnya adalah masa mustaqbal.
Umumnya yg menjadi fi’il syarat dan fi’il jawab dari Law Ghairu Imtina’iyah ini, keduanya berupa Fi’il Mudhari’. Contoh :

لو يقدم خالد غداً لا أسافر

LAW YAQDUMU KHOOLIDUN GHADAN LAA USAAFIRU = Jikalau Khalid datang besok, maka saya tidak jadi pergi.

Dan apabilah Fiil yg mengiringi Law ghairu imtina’iyah ini berupa Fi’il Madhi maka harus ditakwil Mustaqbal. Contoh dalam Alqur’an :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ

WALYAKHSYAL-LADZIINA LAW TAROKUU MIN KHOLFIHIM DZURRIYYATAN DHI’AAFAN KHOOFUU ‘ALAIHIM = Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. (QS. Annisaa’ 4).

Keterangan Ayat (QS. Annisaa’ 4) :

“TAROKUU” (mereka meninggal) = Fi’il Syarat berupa Fi’il Madhi yg ditakwil Fi’il Mustaqbal “YATROKUUNA”. Mengira-ngira penakwilan demikian, sebab lafazh “KHOOFUU” (mereka khawatir) sebagai Jawabnya. Yakni, kekhawatiran mereka itu terjadi sebelum mereka meninggal dunia, bukan setelah mereka meninggal dunia, yakni mustahil dalam konteks sesudah mereka mati.

Aksen Bahasa Arab Untuk Lafazh اب، أخ، حم dan هن menghasilkan I’rob Itmam, Naqsh dan Qashr » Alfiyah Bait 29-30

9 Oktober 2010 1 komentar

أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ ¤ وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤ وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.

Abun, Akhun, Hamun dan Hanu (اب، أخ، حم dan هن), termasuk golongan Asma al-Sittah yang berlaku tanda I’rob: Rofa’ denga Wawu, Nashob dengan Fathah dan Khofadh/Jarr dengan Ya’, sebagaimana I’rob Dzu dan Famun yang telah disebutkan pada Bait sebelumnya.

Syarah Alfiyah, Dalilus Salik

I’RAB ITMAM, QASHR ATAU NAQSH UNTUK (اب، أخ، حم)

Menurut lughoh/logat/aksen yang masyhur dikalangan orang Arab, menjadikan tanda I’rab Asmaus-sittah untuk lafazh (اب، أخ، حم) terkenal dengan di-i’rab Itmam (Sempurna, menyertakan huruf illah (و-ا-ي) sebagai tanda I’rabnya).

Contoh:

هَذَا أَبُوْهُ وَأَخُوْهُ وَحَمُوْهَا

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

مَرَرْتُ بِأَبِيْهِ وَأَخِيْهِ وَحَمِيْهَا

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Selanjutnya Ibnu Malik mensyairkan dalam Bait Syairnya “Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.” Menunjukkan ada dua aksen lagi untuk ketiga Kalimah dari Asmaus-Sittah tsb (اب، أخ، حم).

Pertama: Naqsh (cacat/kurang) yaitu dengan membuang wawu, alif dan ya’ atau dengan di-irab harakah zhahir.

Contoh:

هَذَا أَبُهُ وَأَخُهُ وَحَمُهَا

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

رَأَيْتُ أَبَهُ وَأَخَهُ وَحَمَهَا

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

مَرَرْتُ بِأَبِهِ وَأَخِهِ وَحَمِهَا

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Sebagaimana Syair Arab oleh Ru’bah bin Ajjaj dalam bahar rojaz musaddas:

بِأَبِهِ اقْتَدَى عَدِىٌّ في الْكَرَمْ ¤ وَمَنْ يُشَابِهْ أَبَهُ فَمَا ظَـلَمْ

Shahabah Adi (Shahabah Nabi, Adi bin Hatim ra.) mengikuti jejak ayahnya dalam hal kemuliaan. Maka siapa saja yg mengikuti jejak ayahnya, ia tidak zhalim.

Aksen/logat seperti pada contoh syair diatas jarang ditemukan untuk lafazh (اب، أخ، حم) artinya jarang di-I’rab Naqsh.

Kedua: Qashr (ringkas) yaitu tetap dengan tanda Alif baik pada Rofa’, Nashab dan Jarnya.

Atau semua I’rabnya dikira-kira atas Alif dan disebut I’rab Qashr. Sebagaimana I’rab untuk isim-isim Maqshur. Aksen seperti ini, dikalangan orang Arab (tepatnya oleh Bani Harits, Bani Khats’am dan Bani Zubaid) lebih masyhur dipakai daripada I’rab Naqsh.
Contoh:

هَذَا أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

مَرَرْتُ بِأَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

Sebagaiman disebutkan dalam Syair Arab yang juga berbahar rojaz :

إِنَّ أَبَـاهَــا وَأَبَـا أَبَـاهَــا ¤ قَدْ بَلَغَا فِي المَجْدِ غَايَتَاهَا

Sesungguhnya Bapaknya dan bapak bapaknya (leluhurnya), benar-benar telah sampai pada batas kemuliaannya.

I’RAB NAQSH ATAU ITMAM UNTUK (هن )

Sedangkan untuk lafazh Hanu (هن), maka yang fasih adalah dengan tanda I’rab harakah secara zhahir. Sebagaimana dalam Bait disebutkan “Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik” maksudnya untuk lafazh Hanu lebih baik di-I’rab Naqsh (Cacat/kurang, tanpa menyertakan huruf illah (و-ا-ي) sebagai tanda I’rabnya) Contoh:

هَذَا هَنُ زَيْدٍ وَرَأَيْتُ هَنَ زَيْدٍ وَمَرَرْتُ بِهَنِ زَيْدٍ

Ini anunya Zaid, aku melihat anunya Zaid, aku lewat berpapasan dengan anunya Zaid.

هن (hanu) sebutan/kinayah untuk suatu yg jelek menyebutnya, ada mengartikan kemaluan, ada juga mengartikan sosok manusia dsb, tergantung konteks kalimat. Contoh Lafadz Hanu yg terdapat dalam Hadits, Rosulullah saw. Bersabda:

مَنْ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِليَّةِ فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا

Barang siapa bangga menisbatkan/menjuluki dirinya dengan penisbatan Jahiliyah, maka gigitkanlah ia pada anunya bapaknya (istilah Indonesia: kembalikan ke rahim ibunya). Dan janganlah kalian memanggil dengan julukan itu!.

Contoh di-I’rob Itmam yang jarang dipakai untuk lafazh Hanu:

هَذَا هَنُوْهُ وَرَأَيْتُ هَنَاهُ وَنَظَرْتُ إلَى هَنِيْهِ

Ini Anunya. Aku melihat Anunya. Aku memandang pada Anunya.

Pendapat Imam Abu Zakariya Al-Farra’ beliau mengingkari terhadap kebolehan I’rab Itmam untuk lafazh “Hanu”, namun ini ditangkis oleh hujah Imam Sibawaehi dengan hikayah orang-orang Arab yang meng-itmamkan lafazh “Hanu” tsb. Demikian juga hujah para Ulama nahwu lain yang memelihara terhadap aksen Bahasa Arab tentang Hanu dengan di-Itmam.

Kesimpulan pembahasan: bahwa lafazh (اب، أخ، حم) terdapat tiga aksen/logat. Yang paling masyhur adalah di-I’rab Itmam, kemudian di-I’rab Qashr, dan terakhir paling jarang digunakan dii’rab Naqsh. Dan untuk lafazh (هن) terdapat dua aksen/logat, paling masyhur dengan I’rab Naqsh dan paling jarang dii’rab Itmam.

Syarat Dzu (ذو) & Famun (فم) yang tergolong pada Asmaus-Sittah » Alfiyah Bait 28

5 Oktober 2010 3 komentar

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤ وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

Syarah Alfiyah, Audhahul Masalik - Ibnu Hisyam

Termasuk pada Asmaus-Sittah atau Isim-isim yang tanda rafa’nya dengan wawu (و), tanda nashabnya dengan alif (ا) dan tanda jar-nya dengan ya’ (ي),  yaitu Dzu (ذو) dan Famun (فم).

Persyaratan lafazh Dzu (ذو) yang tergolong pada Asmaus-Sittah adalah Dzu (ذو) yg difahami makna Shahib/الصاحب (Si empunya/pemilik). Contoh:

جَائَنِيْ ذُوْ مَالٍ

Si Hartawan datang kepadaku.

وَاللهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

Dan Allah mempunyai karunia yang besar

Itulah maksud dalam Bait Syair diatas “adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib” untuk membedakan dengan Dzu (ذو) Isim Maushul (sering digunakan oleh kaum Thayyi’) karena Dzu (ذو) Isim Maushul ini, tidak mempunyai makna si pemilik, tapi ia memiliki makna seperti الذي . hukum Dzu Isim Maushul ini Mabni. Artinya tetap dalam satu bentuk ذو baik keadaan rafa’, nashab dan jar-nya. Contoh:

جَاءَنِيْ ذُوْ قَامَ , رَأيْتُ ذُو قَامَ , مَرَرْتُ بِذُو قَامَ

Dia yang berdiri mendatangiku, Aku melihat dia yang berdiri, Aku bertemu dengan dia yang berdiri.

Sebagaimana contoh dalam syair arab

فَإِمَّـا كِرَامٌ مُوسِرُونَ لَقِيتُـهُمْ ¤ فَحَسْبِيَ مِنْ ذُو عِنْدَهُمْ مَا كَفَانِيَا

Adapun mereka yang mulia lagi mudah hidupnya (kaya), bilamana aku menemuinya, maka cukuplah bagiku kemurahan yang ada padanya itu dalam melayaniku (sebagai tamu) .

Demikian juga disyaratkan pada lafazh Famun (فم) dalam I’rob Asmaus-Sittah yaitu Huruf mim harus dihilangkan daripadanya. Contoh:

هَذَا فُوْهُ, رَأيْتُ فَاهُ, نَظَرْتُ إلىَ فِيْهِ

Ini mulutnya, aku lihat mulutnya, aku memandang kepada mulutnya.

Apabilah Huruf Mimnya tidak dihilangkan daripadanya maka di-I’rob dengan Harkah. Contoh:

هَذَا فَمٌ, رَأيْتُ فَمًا, نَظَرْتُ إلىَ فَمٍ

Ini mulut, aku lihat mulut, aku memandang kepada mulut.

Pelajaran Nahwu dari Kitab Alfiyah Bait ke 21-22 » Bentuk Mabni

30 September 2010 6 komentar

وَكُلُّ حَـرْفٍ مُسْتَــحِقٌّ لِلْبِنَا ¤ وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا

Semua Kalimah Huruf menghaki terhadap Mabni. Asal didalam Kemabnian adalah dihukumi Sukun.

وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ ¤ كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّــــاكِنُ كَمْ

Diantara bentuk Mabni adalah Mabni Fathah, Mabni Kasroh dan Mabni Dhommah. Seperti lafadz: Aina, Amsi, Haitsu, dan Mabni Sukun seperti Lafadz Kam.

Semua Kalimah Harf/Huruf (الحرف) adalah Mabni. Dalam hal ini, kemabnian kalimah huruf tidak membutuhkan terhadap pelaksanaan I’rob untuk memahami makna-makna yang terkandung daripadanya pada suatu susunan kalimat, tidak sebagaimana Kalimah Isim. Contoh:

أَخَذْتُ مِنَ الدَّرَاهِمِ

Aku telah mengambil sebagian dari Dirham-dirham itu.

Pengertian makna “sebagian” (التبعيض) dari Kalimah Huruf “Min” (من) pada contoh diatas, terfaidah tanpa membutuhkan pelaksanaan I’rob.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.

Pengertian makna “batas permulaan” (ابتداء الغاية) pada Kalimah Huruf “Min” (من) dan pengertian makna “batas akhiran” pada Kalimah Huruf “Ila” (إلى) dalam contoh ayat diatas, terlaksana tanpa membutuhkan terhadap I’rob.

Bentuk Mabni adalah tetapnya akhir kalimah pada satu bentuk keadaan. Bentuk Mabni ada empat macam:

1. Mabni Sukun.
Mabni sukun adalah bentuk asal Mabni. Karena merupakan paling ringannya syakal. Oleh karena itu ia bisa masuk pada Kalimah Isim, Kalimah Fi’il dan Kalimah Harf/huruf. contoh: اُكْتُبْ – كَمْ – مِنْ

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ

Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka.”

Kalimah Mabni ini tidak akan berharakah kecuali untuk mengantisipasi bertemunya dua huruf mati. Contoh:
Diberi harakah kasroh

قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ

Berkata isteri Al Aziz

Diberi harakah dhommah

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ

Mereka orang-orang yang mengatakan…

Diberi harakah fathah

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian

2. Mabni fathah
Harkat fathah merupakan paling dekatnya harkat terhadap Sukun, oleh karena itu ia juga masuk kepada kalimah Isim, Fi’il dan Huruf. contoh: كَيْفَ – قَامَ – وَ

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan.

3. Mabni Kasrah
Masuk kepada kalimah Isim dan kalimah Huruf, tidak masuk kepada kalimah Fi’il contoh:

هَا أَنْتُمْ أُولاَءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya.

4. Mabni Dhommah
Juga masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Huruf, tidak masuk kepada Kalimah Fi’il. Seperti حَيْثُ (Kalimah Isim) dan مُنْذُ (Huruf Jarr). Sedangkan Harakah Dhommah pada akhir Kalimah Fi’il Madhi pada contoh اَلطُّلاَّبُ حَضَرُوا Bukanlah Harakah asli, namun ia adalah Harakah pengganti untuk memantaskan pada huruf Wau.

Mabni membuang Huruf Illah termasuk pada mabni sukun, karena ia pengganti dari mabni sukun.

Alfiyah Bait 15. Isim Mu’rob dan Isim Mabni

13 Agustus 2010 3 komentar

الْمُعْرَبُ وَالْمَبْنِي

BAB MU’RAB DAN MABNI

وَالاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي ¤ لِشَبَـــهٍ مِنَ الْحُــرُوْفِ مُدْنِي

Diantaranya Kalimat Isim ada yang Mu’rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati.

Kitab Alfiyah Bab Mu'rob dan Mabni

Bait ini menerangkan bahwa kalimah isim terbagi menjadi:

  • Isim Mu’rob: yaitu Isim yang selamat dari keserupaan dengan Kalimat Huruf.
  • Isim Mabni: yaitu Isim yang dekatnya keserupaan dengan kalimat huruf.

Menurut pendapat Kyai Mushannif bahwa yang menjadi illat kemabnian Kalimat Isim dirumuskan menjadi “Serupa Kalimat Huruf” yang akan dijelaskan bagian-bagiannya pada dua bait berikutnya. Rumusan Mushannif ini sejalan dengan pendapat Mazhab Nahwu lain seperti Imam Abu Ali al-Farisi, juga Imam Sibawaih, bahwa Illat kemabnian kalimat Isim semuanya dikembalikan kepada “Serupa kalimat Huruf”.

Terjemah Indonesia Kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik

28 Juli 2010 37 komentar

Terjemahan Bahasa Indonesia Kitab Nazhom Matan Alfiyyah Ibnu Malik. Semoga bermanfaat bagi kita yang ingin memperdalam pengetahuan tentang Tata Bahasa Arab, Ilmu Nahwu dan Sharaf dari Bait-Bait Alfiah. Sebagai bekal untuk lebih mengenal Aqidah dan Syari’at menurut Agama Islam. kgss7kzeyn9v

بسم الله الرحمن الرحيم

المقدمة

MUQADDIMAH

قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu..

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat. (waktu yg singkat)

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi.

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah..

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat..

 

**********************

الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

BAB KALAM DAN SESUATU YANG KALAM TERSUSUN DARINYA

PENGERTIAN KALAM, KALIM, KALIMAT, QOUL

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim.

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam.

 

BENTUK KALIMAT-KALIMAT DAN CIRI-CIRINYA

بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي

Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimat Fi’il menjadi jelas.

سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤ فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ

Selain keduanya (ciri Kalimah Isim dan ciri Kalimah Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.

وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤ بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah! Fi’il Amar dengan tanda Nun Tauqid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu difahami sebagai kata perintah.

وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!

**********************

الْمُعْرَبُ وَالْمَبْنِي

BAB MU’RAB DAN MABNI

KALIMAH-KALIMAH YANG MU’RAB DAN YANG MABNIY

وَالاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي ¤ لِشَبَـــهٍ مِنَ الْحُــرُوْفِ مُدْنِي

Diantara Kalimat Isim ada yang Mu’rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati

كَالْشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا ¤ وَالْمَعْـنَـــوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُـــــــنَا

Seperti keserupaan bangsa wadh’iy didalam contoh dua Isimnya lafadz Ji’tana. Dan keserupaan bangsa Ma’nawiy di dalam contoh “Mata” dan “Huna”.

وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلاَ ¤ تَأَثُّــــرٍ وَكَافْــتِقَارٍ أُصِّلا

Dan keserupaan bangsa “Niyabah” pengganti dari Fi’il tanpa pembekasan I’rob (Isim Fi’il). Dan keserupaan bangsa “Iftiqoriy” kebutuhan yang dimustikan (Isin Maushul, membutuhkan shilah) .

وَمُعْرَبُ الأَسْمَاءِ مَا قَدْ سَلِمَا ¤ مِنْ شَبَهِ الْحَرْفِ كَأَرْضٍ وَسَمَا

Adapun Mu’rabnya Kalimah-kalimah Isim, adalah Kalimah yang selamat dari keserupaan dengan Kalimah Huruf, seperti contoh Ardhin dan Suman.

وَفِـــعْلُ أَمْرٍ وَمُضِيٍّ بُنِـيَا ¤ وَأَعْرَبُوا مُضَارِعَاً إنْ عَرِيَا

Fi’il Amar dan Fi’il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu’rab terhadap Fi’il Mudhori’ jika sepi…..

مِنْ نُوْنِ تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرٍ وَمِنْ ¤ نُوْنِ إنَــاثٍ كَيَرُعْنَ مَنْ فُـــتِنْ

Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun jamak mu’annats, seperti lafadz: Yaru’na Man Futin.

وَكُلُّ حَـرْفٍ مُسْتَــحِقٌّ لِلْبِنَا ¤ وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا

Semua Kalimah Huruf menghaki terhadap Mabni, dan asal tanda kemabniannya dihukumi Sukun.

وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ ¤ كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّــــاكِنُ كَمْ

Diantara bentuk mabni adalah Mabni Fathah, Mabni Kasroh dan Mabni Dhommah. Seperti lafadz: Aina, Amsi, Haitsu, dan Sukun seperti Lafadz Kam.

 

MACAM-MACAM I’RAB

وَالْرَّفْعَ وَالْنَّصْبَ اجْعَلَنْ إعْرَابَا ¤ لاسْــمٍ وَفِــعْــلٍ نَحْـوُ لَنْ أَهَـــــابَا

Jadikanlah Rofa’ dan Nashab sebagai I’rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi’il, seperti lafadz Lan Ahaba.

وَالاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا ¤ قَــدْ خُصِّصَ الْفِعْـلُ بِأَنْ يَنْـجَزِمَا

Kalimah Isim dikhususi dengan I’rab Jarr, sebagaimana juga Fi’il dikhususi dengan dii’rab Jazm.

 

TANDA ASAL I’RAB

فَارْفَعْ بِضَمَ وَانْصِبَنْ فَتْحَاً وَجُرْ ¤ كَسْــــــرَاً كَــذِكْرُ اللَّهِ عَبْــدَهُ يَسُـرْ

Rofa’kanlah olehmu dengan tanda Dhommah, Nashabkanlah! Dengan tanda Fathah, Jarrkanlah! Dengan tanda Kasrah. Seperti lafadz Dzikrullahi ‘Abdahu Yasur.

وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ ¤ يَنُــوْبُ نَحْوُ جَا أَخْــو بَنِي نَمِــرْ

Dan Jazmkanlah! Dengan tanda Sukun. Selain tanda-tanda yang telah disebut, merupakan penggantinya. Seperti lafadz: Jaa Akhu Bani Namir.

TANDA I’RAB ASMAUS SITTAH

وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ ¤ وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤ وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ ¤ وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤ وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.

وَشَرْطُ ذَا الإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ ¤ لِلْيَــا كَــجَا أَخْــو أَبِيْـــكَ ذَا اعْـــتِلاَ

Syarat I’rab ini (Rafa’ dg wau, Nasha dg Alif, dan Jarr dg Ya’ pada Asmaus Sittah) harus Mudhaf kepada selain Ya’ Mutakallim. Seperti: Jaa Akhu Abiika Dza-’tilaa.

TANDA I’RAB ISIM TATSNIYAH DAN MULHAQNYA

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ

Rafa’kanlah! dengan Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhomir, dengan menjadi Mudhof.

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ

Juga (Rofa’ dg Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rabnya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang dijarrkan.

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤ جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ

Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jarr dan Nashabnya, terletak setelah harkat Fathah yang tetap dipertahankan.

TANDA I’RAB JAMAK MUDZAKKAR SALIM  DAN MULHAQNYA

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ ¤ سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ

Rofa’kanlah dengan Wau!, Jarrkan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jamak Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”

وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤ وَبَابُـــهُ أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا

Serupa dengan keduanya (Jamaknya lafadz Aamir dan Mudznib) yaitu lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”,

أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا ¤ وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا

Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan Aradhuuna. Semua contoh dalah syadz (tidak cukup syarat untuk dikatakan Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna…..

وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ

…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat) hal ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ ¤ فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ

Fathahkanlah! harakah “Nun”nya Kalimat yang dijamak Mudzakkar Salim dan Mulhaqnya. Ada segelintir orang bercakap-cakap dengan mengkasrahkannya.

وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ ¤ بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ

Adapun “Nun”nya Kalimat yang ditatsniyahkan dan Mulhaqnya, adalah terbalik (Harakah Nun dikasrahkan). Semuanya mengamalkan demikian, maka perhatikanlah!

TANDA I’RAB JAMAK MU’ANNATS SALIM  DAN MULHAQNYA

وَمَا بِتَـــا وَأَلِــفٍ قَــدْ جُمِــعَا ¤ يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفِي النَّصْبِ مَعَا

Setiap Kalimah yang dijamak dengan tambahan Alif dan Ta’ (Jamak Muannats Salim) tanda Jarr dan Nashabnya sama dikasrohkan.

كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ ¤ كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ

Begitu juga (Dii’rab seperti Jamak Muannats Salim) yaitu lafadz “Ulaatu”. Dan Kalimah yang sungguh dijadikan sebuah nama seperti lafadz “Adri’aatin” (nama tempat di Syam) yang demikian ini juga diberlakukan I’rab seperti Jamak Mu’annats Salim.

TANDA I’RAB ISIM YANG TIDAK MUNSHORIF

وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ

Setiap Isim yang tidak Munshorif dijarrkan dengan Harakah Fathah, selama tidak Mudhof atau tidak jatuh sesudah AL.

TANDA I’RAB AF’ALUL KHOMSAH

وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رَفْـــعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا

Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz  تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak).

وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَــلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

TANDA I’RAB ISIM MU’TAL (ISIM MAQSHUR DAN ISIM MANQUSH)

وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا ¤ كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا

Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).

فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤ جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا

Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.

وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ ¤ وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ

Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.

TANDA I’RAB FI’IL MU’TAL

وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ

Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.

فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي

Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…

والرَّفعَ فيهما انْوِ واحذِفْ جازِمَا ¤ ثــلاثَـــهُنَّ تَقــــضِ حُكمَــا لازِمَــــا

dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) jika engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang benar.

**********************

KLIK BAB SELANJUTNYA

Bait 10. Tanda Kalimat Isim: Jar, Tanwin, Nida’, Al, Musnad

28 Juli 2010 12 komentar

بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

Bab Kalam

Nadzom Alfiyah

Pada Bait ini, Mushannif menyebutkan tentang Tanda-tanda Kalimat Isim (Kata Benda). Sebagai ciri-cirinya untuk membedakan dengan Kalimat yang lain (Kalimat Fi’il/Kata Kerja dan Kalimat Huruf/Kata Tugas). Diantaranya adalah: Jar, Tanwin, Nida’, Al (Alif dan Lam) dan Musnad.

Jarr جر

Tanda Kalimat Isim yang pertama adalah Jar, mencakup: Jar sebab Harf, Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’. Contoh:

مَرَرْتُ بغُلاَمِ زَيْدٍ الفَاضِلِ

Aku berjumpa dengan Anak Lelakinya Zaid yang baik itu.

Lafadz غلام dikatakan Jar sebab Harf (dijarkan oleh Kalimah Huruf), Lafadz زيد dikatakan Jar sebab Idhafah (menjadi Mudhaf Ilaih), dan Lafadz الفاضل dikatakan Jar sebab Tabi’ (menjadi Na’at/Sifat). Hal ini menunjukkan bahwa perkataan Mushannif lebih mencakup dari Qaul lain yang mengatakan bahwa tanda Kalimat Isim sebab Huruf Jarr, karena ini tidak mengarah kepada pengertian Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’.

Tanwin تنوين

Tanda Kalimat Isim yang kedua adalah Tanwin. Tanwin adalah masdar dari Lafadz Nawwana yang artinya memberi Nun secara bunyinya bukan tulisannya. Sebagai tanda baca yang biasanya ditulis dobel ( اً-اٍ-اٌ ). Di dalam Ilmu Nahwu, Tanwin terbagi empat macam:

  • Tanwin Tamkin: yaitu Tanwin standar yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim yang Mu’rab selain Jamak Mu’annats Salim dan Isim yang seperti lafadz جوار dan غواش (ada pembagian khusus). Contoh: زيد dan رجل di dalam contoh:

جَاءَ زَيْدٌ هُوَ رَجُلٌ

Zaid telah datang dia seorang laki-laki

  • Tanwin Tankir: yaitu Tanwin penakirah yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim Mabni sebagai pembeda antara Ma’rifahnya dan Nakirahnya. Seperti Sibawaeh sang Imam Nahwu (yang Makrifah) dengan Sibawaeh yang lain (yang Nakirah). Contoh:

مَرَرْتُ بِسِبَوَيْهِ وَبِسِبَوَيْهٍ آخَرَ

Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (yang Imam Nahwu) dan Sibawaeh yang lain.

  • Tanwin Muqabalah: yaitu Tanwin hadapan yang pantas disematkan kepada Isim Jamak Mu’annats Salim (Jamak Salim untuk perempuan). Karena statusnya sebagai hadapan Nun dari Jamak Mudzakkar Salimnya (Jamak Salim untuk laki-laki). Contoh:

أفْلَحَ مُسْلِمُوْنَ وَمُسْلِمَاتٌ

Muslimin dan Muslimat telah beruntung.

  • Tanwin ‘Iwadh: atau Tanwin Pengganti, ada tiga macam:

    ◊ Tanwin Pengganti Jumlah: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz إذ sebagai pengganti dari Jumlah sesudahnya. Contoh Firman Allah:

وَأنْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَنْظًرُوْنَ

Kalian ketika itu sedang melihat.

Maksudnya ketika nyawa sampai di kerongkongan. Jumlah kalimat ini dihilangkan dengan mendatangkan Tanwin sebagai penggantinya.

◊  Tanwin Pengganti Kalimah Isim: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz كل sebagai pengganti dari Mudhaf Ilaihnya. Contoh:

كَلٌّ قَائِمٌ

Semua dapat berdiri.

Maksudnya Semua manusia dapat berdiri. Kata manusia sebagai Mudhaf Iliahnya dihilangkan dan didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.

◊  Tanwin Pengganti Huruf: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada lafadz جوار dan غواش dan lain-lain sejenisnya, pada keadaan I’rab Rafa’ dan Jarrnya. Contoh:

هَؤُلاَءِ جَوَارٍ. وَمَرَرْتُ بِجَوَارٍ

Mereka itu anak-anak muda. Aku berjumpa dengan anak-anak muda.

Pada kedua  lafadz جوار asal bentuknya جواري kemudian Huruf Ya’ nya dibuang didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.

Pembagian macam-macam Tanwin yang telah disebutkan di atas, merupakan Tanwin yang khusus untuk tanda Kalimat Isim. Itulah yang dmaksudkan dari kata Tanwin dalam Bait tsb, yaitu Tanwin Tamkin, Tanwin Tankir, Tanwin Muqabalah dan Tanwin ‘Iwadh.

Adapun Tanwin Tarannum/Taronnum dan Tanwin Ghali, yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Qofiyah atau kesamaan bunyi huruf akhir dalam bait-bait syair Bahasa Arab. Tidak dikhususkan untuk Kalimat Isim saja, tapi bisa digunakan untuk Kalimat Fi’il dan juga untuk Kalimat Harf.

Nida’ نداء

Tanda Kalimat Isim yang ketiga adalah Nida’. Yaitu memanggil dengan menggunakan salah satu kata panggil atau Huruf Nida’ berupa يا dan saudara-saudaranya. Huruf Nida dikhususkan kepada Kalimat Isim karena Kalimat yang jatuh sesudah Huruf Nida’ (Munada) statusnya sebagai Maf’ul Bih. Sedangkan Maf’ul Bih hanya terjadi kepada Kalimat Isim saja. Contoh:

يَا رَسُوْلَ اللهِ

Wahai Utusan Allah.

AL أل

Tanda Kalimat Isim yang keempat berupa AL أل atau Alif dan Lam. Yaitu AL yang fungsinya untuk mema’rifatkan dan AL Zaidah. Contoh:

رَجَعَ الرَجُلُ مِنَ المَكَّةَ

Orang laki-laki itu telah pulang dari kota Mekkah.

AL pada Lafadz الرَجُلُ dinamakan AL Ma’rifat, sedang AL pada Lafadz المَكَّةَ dinamakan AL Zaidah. Sedangkan AL yang selain disebut di atas, tidak khusus masuk kepada Kalimat Isim. seperti AL Isim Maushul yang bisa masuk kepada Kalimat Fi’il Mudhori’, dan AL Huruf Istifham yang bisa masuk kepada Fi’il Madhi.

Musnad  مسند

Tanda Kalimat Isim yang kelima adalah Musnad. Artinya yang disandar atau menurut Istilah yang  dihukumi dengan suatu hukum. Contoh:

قَاَمَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ قَائِمٌ

Zaid telah berdiri dan Zaid adalah orang yang berdiri.

Kedua Lafadz زيد pada contoh di atas merupakan Musnad atau yang dihukumi dengan suatu hukum, yaitu hukum berdiri.  Hukum berdiri pada lafadz Zaid yang pertama adalah Kata Kerja dam Hukum berdiri untuk Lafadz Zaid yang kedua adalah Khabar.

Bait 8-9. Pengertian Kalam, Kalim, Qaul dan Kalimat

20 Juli 2010 27 komentar

الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam

Kitab Nadzom

Kitab Nadzom Alfiyyah KLIK DOWNLOAD

KALAM

Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan.

  • Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal: دَيْزٌ Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal عَمْرٌو ‘Amrun, ‘Amr nama orang.
  • Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz: اِنْ قَامَ زَيْدٌ Apabila Zaid berdiri.

Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI’IL + ISIM. Contoh pertama: زيد قائم Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua قام زيد Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadz استقم ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil ‘Amar dan Isim Fa’il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI’IL + ISIM takdirnya adalah استقم أنت ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz استقم.

Bab Kalam

Bab Kalam Ibnu Aqil

KALIM

Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal: إن قام زيد jika Zaid telah berdiri.

KALIMAT

Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal دَيْزٌ Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam.

QAUL

Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal).

Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz لا إله إلا الله Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil.

Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya: قد قام زيد Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim: إن قام زيد Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam: زيد قائم Zaid orang yang berdiri.

Referensi: Kitab Syarah Ibnu Aqil

Site Url: Syarah Ibni ‘Aqil Li Alfiyyah Ibni Malik Page 6-7

Bait 1-7. Muqaddimah Pengarang

24 Juni 2010 41 komentar

بسم الله الرحمن الرحيم
المقدمة

MUQADDIMAH


قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

وَأَسْــتَعِيْنُ اللهَ فِي أَلْفِيَّـــهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu.

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat.

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi.

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah.

وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.

Muqoddimah

Muqoddimah Alfiyah | Judul Kitab: Syarh Ibni 'Aqil Li Alfiyyah Ibni Malik | Pengarang: Ibnu 'Aqil 'Abdullah Bin 'Abdurrahman 769 H. | Tulisan Naskh Oleh: Al-Qousiy 1281 H. | Koleksi Manuskrip: Universitas King Saud. Link: http://makhtota.ksu.edu.sa/makhtota/1491/6

Kitab Nahwu Sharaf Alfiyah Ibnu Malik, adalah sebuah Kitab Mandzumah atau Kitab Bait Nadzam yang berjumlah seribu Bait, berirama Bahar Rojaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf

Pengarang Kitab Alfiyah ini, adalah seorang pakar Bahasa Arab, Imam yang Alim yang sangat luas ilmunya. Beliau mempunyai nama lengkap Abdullah Jamaluddin Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Malik at-Tha’iy al-Jayyaniy. Beliau dilahirkan di kota Jayyan Andalus (Sekarang: Spanyol) pada Tahun 600 H. Kemudian berpindah ke Damaskus dan meninggal di sana pada Tahun 672 H.

Karya emas beliau yang lain, yg cukup terkenal bernama Kitab Al-Kafiyah As-Syafiyah, terdiri dari tiga ribu Bait Nadzam yang juga bersyair Bahar Rojaz. Juga Kitab lainnya, karangan beliau yang terkenal bernama: Nadzam Lamiyah al-Af’al yang membahas Ilmu Sharaf, Tuhfatul Maudud yang membahas masalah Maqshur dan Mamdud. Semuanya membahas tentang  Tata Bahasa Arab baik Nahwu atau Sharaf.

Adapun Kitab Alfiyah ini adalah Kitab yang Ringkas berbentuk Nadzam, namun mencakup semua pembahasan masalah Ilmu Nahwu dengan detil. Sebagaimana beliau katakan pada Bait Muqaddimah pada Kitab Alfiyah ini:

“Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu”.

Metode Kitab Alfiyah ini sebenarnya cukup memberikan kemudahan bagi pelajar untuk menguasainya. Tidak hanya untuk para senior. Karena Alfiyah ini cukup mengandung pengertian yang sangat luas, tapi dengan lafad yang ringkas. Sebagaimana beliau memberi penilaian terhadap Kitab Alfiyah ini, dalam Muqaddimahnya yang berbunyi:

“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat”

Kitab Alfiyah ini, disebut juga Kitab Khalashah yang berarti Ringkasan. Diringkas dari Kitab karangan beliau yang benama Al-Kafiyah As-Syafiyah, merupakan Kitab yang membahas panjang lebar tentang Ilmu Nahwu. Sebagaimana beliau berkata pada Bait terahir dari Kitab ini, yaitu pada Bait ke 1000:

“Telah terbilang cukup kitab Khalashah ini sebagai ringkasan dari Al-Kafiyah, sebagai kitab yang kaya tanpa kekurangan”.

Beliau juga memberi motivasi, bahwa Kitab ini dapat memenuhi apa yang dicari oleh para pelajar untuk memahami Ilmu Nahwu. Beliau berkata pada Bait ke 999

“Aku rasa sudah cukup dalam merangkai kitab Nadzom ini, sebagai Kitab yang luas pengertiannya dan mencakup semuanya”.

Begitulah memang, Kitab Alfiyah Ibnu Malik ini cukup sukses, mendapat kedudukan tinggi dan penilaian terhormat di hati para pencari ilmu gramatika Bahasa Arab. Dimanapun para pencinta Ilmu Nahwu pasti mengenalnya. Tersebar luas dan diajarkan di berbagai Lembaga-Lembaga Pendidikan. Tidaklah sedikit Kitab-Kitab Syarah yang menyarahi dari Nadzam Alfiyah Ibnu Malik ini, dan tidak sedikit pula Kitab Hawasyi yang menyarahi dari Syarahnya Kitab ini. Semoga beliau mendapat kedudukan yang tinggi disisi-Nya. Amin.

Ref. | Alfiyah Ibnu Malik | Syarah Ibnu ‘Aqil | I’rob Alfiyah Ibnu Malik |

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 610 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: