Arsip

Posts Tagged ‘Masdar’

Pengamalan Mashdar dan Isim Mashdar » Alfiyyah Bait 424-425

29 Desember 2011 3 komentar
–·•Ο•·–

إعْمَالُ الْمَصْدَرِ

PENGAMALAN MASHDAR

بِفِعْلِهِ الْمَصْدَرَ ألْحِقْ فِي الْعَمَلْ ¤ مُضَافاً أوْ مُجَرَّداً أوْ مَعَ الَ

Ikutkanlah Mashdar kepada Fi’ilnya di dalam pengamalan. Baik Mashdar tersebut Mudhaf atau Mujarrad (tidak mudhof dan tanpa AL), atau bersamaan dengan AL 

إنْ كَانَ فعْلٌ مَعَ أنْ أوْ مَا يحِلّ ¤ مَحَلَّهُ وَلِاسْمِ مَصْدَرٍ عَمَلْ

Demikian apabila Fi’il bersamaan dengan IN atau MAA dapat menempati tempat Masdar yg mengamalinya. Pengamalan ini juga berlaku untuk Isim Mashdar  

–·•Ο•·–

Di dalam Bahasa Arab, Isim banyak yang beramal seperti pengamalan Fi’il dengan beberapa persyaratan. Di dalam Kitab Alfiyah ini Mushonnif Ibnu Malik telah menyebutnya diantaranya:

1. Mashdar

2. Isim Mashdar

3. Isim Fa’il

4. Shighat Mubalaghah

5. Isim Maf’ul

6. Shifat Musyabbahah

7. Isim Tafdhil.

Dalam Bab ini khusus mengenai pengamalan Mashdar dan Isim Mashdar. Pembahasan ini oleh Ibnu Malik didahulukan dari pembahasan Bentuk-bentuk Mashdar itu sendiri (Bab Abniyatul Mashaadir), karena pengamalan Mashdar masuk kategori Ilmu Nahwu yang sangat erat kaitannya dengan Bab-bab terdahulu. Sedangkan pembahasan mengenai Bentuk-bentuk Masdar masuk dalam Ilmu Shorof demikian dibelangkan.

Definisi Mashdar adalah: Isim yang menunjukkan kejadian (huduts) yang sepi dari zaman dan mencukupi atas huruf-huruf Fi’ilnya atau melebihinya.

Contoh dinamakan Mashdar :

بذلُ المال في الخير نفع لصاحبه

BADZLUL-MAALI FIL-KHOIRI NAF’UN LI SHOOHIBIHII = mendermakan harta di dalam kebaikan bermanfaat bagi si empunya.

Lafazh BADZLU adalah mashdar dari : BADZALA-YABDZALU-BADZLAN.
Badzlan adalah Mashdar bermakna menunjukkan atas kejadian pendermaan tanpa penyertaan zaman. Dan juga mencukupi semua huruf-huruf Fi’ilnya yaitu huruf BA’, DZAL dan LAM.

Contoh lagi dinamakan Mashdar:

إكرام الضيف من آداب الإسلام

IKROOMUDH-DHOIFI MIN AADAABIL-ISLAAMI = menghormati tamu termasuk dari adab-adab dalam Islam.

Huruf pada lafazh IKROOMUN mencukupi atas huruf-huruf Fi’ilnya (AKROMA) berikut melebihinya yaitu ada tambahan Alif sebelum huruf terakhir.

Adapun yang disebut Isim Mashdar berbeda dengan Mashdar. Sekalipun keduanya sama mencocoki dalam hal menunukkan huduts/kejadian.
Bedanya Mashdar tidak akan berkurang hurufnya dari bentuk huruf Fi’ilnya. Sedangkan disebut Isim Mashdar huruf-hurufnya berkurang dari bentuk huruf Fi’ilnya secara lafazhan atau Takdiran dan tanpa ada pergantian huruf.

Contoh dinamakan Isim Masdar

عطاء

ATHOO’UN = Pemberian

Contoh dinamakan Masdar

إعطاء

I’THOO’AN = Pemberian

Persamaannya Lafazh ‘ATHOO’UN dan I’THOO’AN yaitu sama dalam hal penunjukan kejadian. Perbedaannya adalah lafazh ‘ATHOO’AN tidak terdapat huruf Hamzah yang terdapat pada bentuk Fi’ilnya yang berupa lafazh :

أعطى

A’THOO = Memberikan

Tidak terdapatnya huruf Fi’ilnya tersebut baik secara Lafzhan atau secara Takdiran, demikan ini syarat disebut Isim Mashdar.

Beda jika tidak terdapat huruf Fi’ilnya secara Lafzhan, tapi ada secara Taqdiran, demikian tetap dinamakan Mashdar. contoh:

قتال

QITAALUN = peperangan

Mashdar dari Fi’il

قاتل

QOOTALA.= berperang

Lafazh QITAALUN tidak ada huruf Alif sebelum huruf TA’ sebagaimana pada bentuk Fi’ilnya.

Dalam contoh ini tidak terdapat huruf Fi’ilnya secara Lafzhan tapi ada secara Takdiran. Sebab dalam beberapa tempat ia diucapkan dengan lafazh:

قيتال

QIITAALAN = Peperangan

Alif diganti dengan Ya’ untuk menyesuaikan harkat kasroh huruf sebelumnya. Adapun dibaca QITAALAN dengan membuang Ya’ untuk litakhfif/memudahkan dan likatsrotil-isti’mal/banyak dipakai.

Beda juga jika ada pengganti dari huruf yg tidak ada, demikian tetap dinamakan Mashdar. contoh:

عدة

‘IDATAN = Janji

Mashdar dari Fi’il WA’ADA. Tidak ada huruf wawu seperti yang terdapat pada Fi’ilnya baik secara Lafzhan dan Taqdiran. Tapi ada penggantinya yaitu huruf TA’.

¤¤¤

Mashdar beramal seperti pada pengamalan Fi’il Merofa’kan Faa’il dan menashobkan Maf’ul.

Mashdar yang beramal seperti Amal Fi’il ada dua macam:

1. Sebagaimana telah disebutkan pada Bab Maf’ul Muthlaq yaitu: Mashdar yang menggantikan Fi’il atau Mashdar yang bermakna seperti Fi’il. Yakni, membuang Fiil dan menggantikannya dengan Mashdar sebagai pengganti tugas pemaknaan Fi’il baik Fi’il itu lazim atau Fi’il muta’addi. contoh:

إكراماً المسكين

IKROOMAN AL-MISKIINA = hormatilah orang miskin.

Lafazh IKROOMAN adalah mashdar menggantikan tugas lafazh AKRIM! Fiil Amar. terdapat dhamir mustatir wujuuban takdirannya ANTA sebagai Faa’ilnya. Lafazh AL-MISKIINA adalah Maf’ul Bihnya dinashobkan oleh Mashdar.

2. Inilah yang dibahas dalam Bab ini yaitu: Apabilah layak Mashdar tersebut ditempati AN + Fi’il, atau MAA + Fi’il.

Contoh:

يسرني أداؤك الواجب

YASURRUNIY ADAA’UKAL-WAAJIBA = Pelaksanaanmu akan kewajiban menggembirakanku.

lafazh ADAA’U = Adalah Mashdar yang mengamalkan amalan Fi’ilnya. Dimudhafkan kepada Fa’ilnya yang berupa dhamir KAF dan menashobkan kepada Maf’ul Bih yaitu lafazh AL-WAAJIBA. Dan dimungkinkan posisinya ditempati oleh AN+FI’IL atau MAA+FI’IL

Menempatkan AN+FIIL pada posisi Masdar, jika yang dimaksud pada waktu lampau atau pada waktu akan datang. Contoh seperti mengatakan:

يسرني أن تؤدي الواجب

YASURRUNIY AN TU’ADDIY AL-WAAJIBA.

Menempatkan MAA+FIIL pada posisi Mashdar, jiika yang dimaksud pada waktu sekarang. Contoh seperti mengatakan:

يسرني ما تؤدي الواجب

YASURRUNIY MAA TU’ADDIY AL-WAAJIBA.

¤¤¤

Mashdar yang menjadi Amil seperti ini terdapat tiga bagian penampakan:

1. Mashdar Mudhaf

Ini bagian Mashdar yang paling banyak digunakan dalam pengamalannya daripada dua pembagian Mashdar yang lain. Contoh telah disebut diatas.

2. Mashdar bertanwin

Pengamalannya lebih mendekati pada Qiyas daripada Mashdar Mudhaf. sebab diserupakan dengan kalimah Fi’il dalam hal kenakirahannya. Penggunaannya dalam pengamalannya lebih sedikit dibawah pengamalan Mashdar Mudhaf. contoh:

واجب علينا تشجيعٌ كلّ مجتهد

WAAJIBUN ‘ALAINAA TASYJII’UN KULLA MUJTAHID = wajib atas kami memotivasikan keberanian kepada tiap-tiap Mujtahid.

Contoh Ayat Al-Qur’an:

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا

AW ITH’AAMUN FIY YAUMIN DZII MASGHOBATIN YATIIMAN = atau memberi makan pada hari kelaparan kepada anak Yatim (QS. Al-Balad : 14-15)

Lafazh ITH’AAMUN adalah Mashdar Tanwin yang menashobkan Maf’ul Bih lafazh (YATIIMAN).

3. Mashdar Ma’rifah dengan AL

Pengamalannya Syadz, dikarenakan jauh dari persamaan Fi’il sebab bersambung dengan AL. Paling sedikit ditemukan daripada dua pembagian Masdar di atas, baik secara penggunaannya atau secara balaghoh. Contoh:

المجدُّ سريعُ الإنجاز أعمالَه

AL-MAJIDDU SARII’UL-INJAAZI A’MAALAHU = seorang yang giat sangat cepat dalam penyelesaian pekerjaan-pekerjaannya.

Lafazh A’MAALAHU sebagai Maf’ul Bih dari Mashdar AL-INJAAZI.

Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih » Alfiyah Bait 298-299-300

8 Desember 2011 13 komentar
–·•Ο•·–

المفعول له

BAB MAF’UL LAH / MAF’UL LIAJLIH

يُنْصَبُ مَفْعُولاً لَه الْمصْدَرُ إِنْ ¤ أَبَانَ تَعْلِيلاً كَجُدْ شُكْراً وَدنْ

Mashdar dinashobkan menjadi Maf’ul Lah (syaratnya) jika ia menjelaskan Ta’lil (alasan/faktor), contoh “JUD SYUKRON WA DIN!” = bersikap baiklah karena bersyukur dan beragamalah! (dg taat)

وَهْو بِمَا يَعْمَلُ فِيهِ مُتَّحدْ ¤ وَقْتاً وَفَاعِلاً وَإنْ شَرْطٌ فُقِدْ

Juga Masdar yg menjadi Maf’ul Lah harus bersatu dengan Amilnya dalam hal waktu dan subjeknya. Dan jika tidak didapati syarat …. >

فَاجْرُرْهُ بِالْحَرْفِ وَلَيْسَ يَمْتَنِعْ ¤ مَعَ الشُّرُوطِ كَلِزُهْدٍ ذَا قَنِعْ

>.. maka majrurkan dengan huruf jar. Pemajruran ini juga tidak dilarang sekalipun Masdar tsb mencukupi Syarat seperti contoh: LI ZUHDIN DZAA QONI’A = dia ini qona’ah dikarenakan zuhud.

–·•Ο•·–

Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih menurut bahasa adalah: objek yg menjadi faktor pekerjaan. Menurut Ilmu Nahwu adalah: Isim Masdar yang menjelaskan tentang faktor/alasan dari penyebutan Amil sebelumnya. Dan bersatu dalam hal waktu dan subjeknya.

Contoh Maf’ul Liajlihi / Maf’ul Lahu:

جئت رغبةً فيك

JI’TU RUGHBATAN FIIKA* = aku datang karena senang kepadamu.

*Pada contoh diatas lafal “RUGHBATAN”=SENANG adalah Isim Masdar yg difahami sebagai faktor bagi Amil/kata kerja lafal “JI’TU”=AKU DATANG. Secara maknanya contoh diatas berbunyi seperti ini:

جئت للرغبة فيك

JI’TUKA LIR-RUGHBATI FIIKA = aku datang karena senang kepadamu.

lafal “RUGHBATAN” Isim Masdar yang menjadi Maf’ul Lah, juga bersekutu dalam hal waktu dengan Amil lafal “JI’TU”, karena waktu aku senang, itulah waktu aku mendatanginya. Juga bersekutu dalam satu subjek yaitu satu Fa’il berupa Dhamir Mutakallim/aku.

Contoh Maf’ul Li Ajlihi/Lahu Fi’rman Allah:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ

WALLADZIINA SHOBARU-BTIGHOO’A WAJHI ROBBIHIM* = Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya (QS Ar-Ro’du :22)

* lafal “IBTIGHOO’A” sebagai Maf’ul Lah/Liajlih.

Juga contoh FirmanNya:

لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

LAU YARUDDUUNAKUM MIMBA’DI IIMAANIKUM KUFFAARON HASADAN MIN ‘INDI ANFUSIHIM* = agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri (Al-Baqoroh :109)

*lafal “KAFFAARON” menjadi HAL sebagai Amil, dan lafal “HASADAN” sebagai Maf’ul Lah.

Hukum I’rob Maf’ul Liajlih / Maf’ul lah adalah : BOLEH NASHOB sekiranya terdapat tiga syarat sebagimana tersirat dalam bait diatas, yaitu:

  1. Isim Mashdar
  2. Lit-Ta’lil/Penjelasan Faktor alasan
  3. Bersatu dengan Amilnya dalam satu Waktu dan satu Fa’il

Atau kalimah yg mencukupi tiga syarat tersebut juga BOLEH DIJARKAN dengan huruf jar Lit-Ta’lil.

Jika salah satu saja dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi maka WAJIB DIJARKAN dengan huruf jar lit-Ta’lil berupa huruf LAM, MIN, FIY atau huruf BA’.

Contoh yang tidak memenuhi syarat Isim Mashdar:

جئتك للكتاب

JI’TU KA LIL KITAABI = aku mendatangimu karena kitab itu.

Contoh FirmanNya:

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

WAL ARDHO WADHO’AHAA LIL ANAAMI = Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). (Ar-Rahmaan :10).

Contoh yang tidak bersatu dengan Amilnya dalam hal satu Waktu:

جئتك اليوم للإكرام غداً

JI’TUKA ALYAUMA LIL IKROOMI GHODAN = aku mendatangimu hari ini untuk penghormatan esok hari.

Contoh yang tidak bersatu dengan Amilnya dalam hal satu Fa’il/Subjek:

جاء خالد لإكرام عليِّ له

JAA’A KHOOLIDUN LI IKROOMI ‘ALIYYUN LAHU = Khalid datang agar Ali menghormatinya.

Contoh FirmanNya:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ

AQIMISH-SHOLAATA LI DULUUKISY-SYAMSI* = Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (Al-Isro’ :78)

*Perbedaan Fa’il/subjek dalam ayat ini adalah pada lafal “AQIM=DIRIKANLAH” subjeknya berupa dhamir wajib mustatir takdirannya ANTA/KAMU dan lafal “DULUUKI=TERGELINCIR” subjeknya berupa lafal “ASY-SYAMSI=MATAHARI” (kemiringan matahari dari tengah-tengah atas langit/zhuhur). Juga terdapat Perbedaan Waktu dalam ayat ini yaitu waktu mendirikan sholat tentunya lebih akhir dari waktu tergelincirnya Matahari.

Kalimah yg dijarkan oleh huruf-huruf jar tersebut, tidak di-I’rob sebagai Maf’ul Lah; karena Maf’ul Lah tersebut khusus bagi kalimah yg Nashob saja. Sekalipun demikian, secara makna keduannya tidak berbeda alias sama.

Pengertian Maf’ul Muthlaq dan Mashdar » Alfiyah Bait 286-287

1 Desember 2011 5 komentar
–·•Ο•·–

المفعول المطلق

BAB MAF’UL MUTHLAQ

اَلْمَصْدَرُ اسْمُ مَا سِوَى الزَّمَانِ مِنْ ¤ مَدْلُولَيِ الْفِعْلِ كَأَمْنٍ مِنْ أَمِنْ

MASHDAR adalah isim yang selain menunjukkan zaman dari dua penunjukan Fi’il (yakni yang menunjukkan pada huduts = kejadian). Seperti lafazh AMNI masdar dari Fi’il lafazh AMINA

بِمِثْلِهِ أَوْ فِعْلٍ أوْ وَصْفٍ نُصِبْ ¤ وَكَوْنُهُ أَصْلاً لِهذَيْنِ انْتُخِبْ

MASDAR dinashobkan oleh serupanya atau oleh FI’IL atau oleh SHIFAT. Keberadaan MASDAR  dipilih sebagai bentuk asal bagi keduanya ini.

–·•Ο•·–

Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Kalimah Fi’il (kata kerja) menunjukkan pada dua hal secara bersamaan yaitu:

  • Huduts (kejadian)
  • Zaman (waktu)

Manuskrip: Tulisan pertama Kitab Syarah Alfiyah Ibnu Malik oleh Jalaluddin As-Suyuthi. 221 Halaman. Sumber : http://www.mahaja.com/library/manuscripts/manuscript/682

Contoh kita mengatakan:

بذل الغني ماله في الخير

BADZALA AL-GHONIYYU MAALAHUU FIL-KHOIRI* = orang kaya itu telah mendermakan hartanya di dalam kebaikan.

* Lafal “BADZALA” adalah Kalimah Fi’il/Kata Kerja, menunjukkan dua hal: kejadian pendermaan dan waktu pendermaan, yakni kejadian pada waktu lampau karena berupa Fi’il Madhiy.

Selanjutnya, kalau kita mengatakan:

بذل المال في الخير نفع لصاحبه

BADZLUL-MAALI FIL-KHOIRI NAF’UN LI SHOOHIBIHII *= mendermakan harta di dalam kebaikan adalah kemanfaatan bagi si empunya harta.

* lafal “BADZLU” adalah kalimah Isim yang menunjukkan kejadian pendermaan tanpa penunjukan waktu, demikian juga pada lafal “NAF’UN”. Maka setiap Isim yang mencocoki terhadap Fi’il di dalam hal sama-sama menunjukkan kejadian akan tetapi berbeda karena tidak menunjukkan zaman, maka Isim tersebut dinamakan ISIM MASDAR. Jadi:

Pengertian Isim Mashdar adalah: Isim yang menunjukkan pada kejadian yang terlepas dari zaman.

Di sini Kiyai Mushonnif menyusun Bab tentang Maf’ul Muthlaq, beserta beliau mendefinisikan Isim Masdar pada awal Bait. Tiada lain karena Maf’ul Mutlaq umumnya terbuat dari Isim Mashdar. Ada juga yg tidak berupa Isim Masdar insyaAllah akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.

Contoh Maf’ul Mutlaq berupa Isim Mashdar :

انتصر الحق انتصاراً

INTASHORO AL-HAQQU INTISHOORON = yang hak telah memperoleh kemenangan dengan sebenar-benar kemenangan.

Pengertian Maf’ul Muthlaq adalah: Isim yang dinashobkan sebagai pengokohan (taukid lafzhi) terhadap Amilnya atau menerangkan macamnya atau bilangannya.

Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq sebagai taukid:

ضربت ضربا

DHOROBTU DHORBAN = aku telah memukul dengan sebenar-benar pukulan

Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq penerangan jenis/macamnya:

سرت سير زيد

SIRTU SAIRO ZAIDIN = aku berjalan semacam jalannya Zaid.

Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq penerangan jumlah:

ضربت ضربتين

DHOROBTU DHORBATAINI = aku memukul sebanyak dua pukulan.

Hukum Masdar dalam hal ini adalah nashob, baik amil yg menashobkan berupa Isim Mashdar, Fi’il, atau Sifat.

Contoh Masdar dinashobkan oleh ISIM MASDAR :

فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا

maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al-Isro’ : 16)

Contoh Mashdar dinashobkan oleh FI’IL:

وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling dengan berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (An-Nisa’ : 27)

Contoh Masdar dinashobkan oleh SHIFAT:

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا

Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shooffaat : 1)

Menurut pendapat yg masyhur dan rojih: Isim Mashdar merupakan bentuk asal dari semua Kalimah Musytaq, baik Fi’il, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifah Musyabbahah, Isim Tafdhil, Isim Zaman, Isim Makan, Isim alat, semua itu dibentuk dari asal Isim Masdar. Contoh Isim Fa’il lafaz “AL-QOOIMU” hasil bentukan dari Masdar lafaz “AL-QIYAAMU”. Contoh Isim Alat lafaz “AL-MIFTAAHU” hasil bentukan dari Masdar lafaz “AL-FATHU” dan seterusnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 660 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: