Arsip

Posts Tagged ‘Isim Maushul’

Latihan membuat Khobar dengan Alladzi sebagai Mubtada’nya » Alfiyah Bait 817-818-819

28 Mei 2012 22 komentar
–••Ο••–

الإخبار بالذي والألف واللام

Bab Membuat Khobar dengan ALLADZII atau ALIF LAM  

مَا قِيلَ أخْبِرْ عَنْهُ بِالَّذيْ خَبَرْ  ¤  عَنِ الَّذي مُبْتَدأ قَبْلُ اسْتَقَرْ

Suatu yg dipertanyakan dg soal: “Buatkanlah khobar darinya dengan Alladzi!” adalah (membuat) Khobar dari Mubtada’ Alladzi yg menetapi sebelumnya  

وَمَا سِواهُمَا فَوَسِّطْهُ صِلَهْ  ¤  عَائِدُهَا خَلَفُ مُعْطِيْ التَّكْمِلَهْ

Lafazh selain keduanya (selain Alladzi dan Khobarnya) letakkanlah ditengah-tengah sebagai Shilah, dan ‘Aidnya adalah pengganti Isim pemberi penyempurna (yakni ‘Aid Dhamir yg menggantikan posisi Isim yg dibuat khabar sang penyempurna faidah). 

نَحْوُ الَّذِيْ ضَرَبْتُهُ زَيْدٌ فَذَا  ¤  ضرَبْتُ زَيْداً كَانَ فَادْرِ الْمَأخَذَا

Seperti contoh: “Alladzii dhorobtuhuu Zaidun” maka ini hasil dari rupa kalimat: “Dhorobtu Zaidan”. Maka fahamilah (qiyaskanlah) dasar pengambilannya  

وَباللَّذَيْنَ وَالَّذِينَ وَالَّتي  ¤  أَخْبِرْ مُرَاعِياً وِفَاقَ الْمُثْبتِ

Juga buatkan khabar dengan Alladzaini, Alladziina dan Allatiy, seraya mempertimbangkan kecocokan terhadap lafazh yg ditetapkan (yakni, kecocokan antara Aid Dhamir Shilah Maushul dengan Isim yg ditetapkan menjadi Khobar). 

–••Ο••–

Bab ini dicantumkan oleh Ulama Nahwu sebagai latihan bagi siswa dalam ilmu Nahwu, sebagaimana mereka membuat Bab Abniyah untuk melatih siswa dalam tamrin ilmu Shorof.
Bab ini digunakan sebagai ujian khusus, atau sebagai penguatan hukum atas pengetahuan siswa akan ilmu nahwu, karena disini juga mencakup pemusnadan pada isim Dhamir dan isim Zhahir. atau sebagai latihan ringkas atas kecakapan siswa dan semacamnya.
Apabila kamu ditanyakan dengan contoh soal berikut :
Butkan khobar dari kata KHALIDUN dengan Isim Maushul ALLADZI pada kalimat berikut :

خالد منطلق

KHALIDUN MUNTHALIQUN = Khalid Pergi

Maka untuk menjawab gunakan metode 5 langkah sbb :

1. Gunakan isim maushul yg sesuai dg pertanyaan (Khalidun), dan letakkan di awal kalimat sebagai mubtada’.
2. Letakkan kata yg ditanyakan (Khalidun) pada akhir kalimat, karena akan dibuat Khobar.
3. Merofa’kan kata yg ditanyakan (Khalidun) karena menjadi Khobar.
4. Kata yg lain (Munthaliqun) diletakkan di tengah-tengah antara Isim Maushul dan Khabarnya, sebagai Shilah Maushul.
5. Memasang Dhamir/A’id pada posisi kata yg dipertanyakan dan menyesuaikannya baik Maknanya dan I’robnya, sekaligus menyesuaikan dengan Isim Maushul sebagai ‘Aid Shilahnya.

Maka jawabannya adalah :

الذي هو منطلق خالد

ALLADZI HUWA MUNTHALIQUN KHALIDUN = yang pergi itu adalah Khalid

Contoh pertanyaan lagi berikut menggunakan Isim Mutsanna :
Buatkan khobar dari kata AL-MUHAMMADAINI pada kalimat berikut :

أكرمت المحمدين

AKROMTU AL-MUHAMMADAINI = aku menghormati kedua Muhammad itu.

Maka jawabannya :

اللذان أكرمتهما المحمدان

ALLADZAANI AKROMTUHUMAA AL-MUHAMMADAANI = yang aku hormati itu adalah kedua Muhammad.

Contoh jawaban jika pertanyaannya menggunakan kata Jamak :

الذين أكرمتهم المحمدون

ALLADZIINA AKROMTUHUM AL-MUHAMMADUUNA = yang aku hormati itu adalah mereka Muhammad.

Contoh jawaban untuk kata Mu’annats :

التي أكرمتها هند

ALLATI AKROMTUHAA HINDUN = yang aku hormati itu adalah Hindun.

Dan qiyaskan pada contoh pertanyaan yg lain.

PERHATIAN !
Tentang Al-Mukhbar ‘Anhu (isim yg dikhobari) dalam ilmu Nahwu pada Bab ini adalah isim yg dijadikan khobar dari Isim maushul yg dijadikan Mubtada’nya.

Dan sebaliknya menurut zhahirnya lafaz pertanyaan adalah membuat khobar dari Isim yg disebut sebagai Al-Mukhbar ‘Anhu dalam arti dari Mubtada’ yg akan dikhobari dengan Isim Maushul sebagai Khobarnya. Tidak demikian maksud pertanyaan, sebab ketika isim yg dipertanyakan tsb sebagai al-Mukhbar Anhu dari segi Makna, maka benar jika diucapkan dengan pertanyaan “IKHBAR ‘ANHU!/Buatkan khobar darinya!” yakni Khobar yg terbuat dari Isim dalam pertanyaan.

Faktor Mabninya Kalimat Isim: Wadh’i, Ma’nawi, Niyabah, Iftiqoriy.

20 Agustus 2010 1 komentar

كَالْشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا ¤ وَالْمَعْـنَـــوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُـــــــنَا

Seperti keserupaan bangsa “Wadh’i” di dalam dua isimnya lafadz جئتنا. Dan keserupaan bangsa “Ma’nawi” dalam contoh متى dan هنا.

وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلاَ ¤ تَأَثُّــــرٍ وَكَافْــتِقَارٍ أُصِّلا

Dan keserupaan bangsa “Niyabah” pengganti dari Fi’il tanpa pembekasan I’rob (Isim Fi’il). Dan keserupaan bangsa “Iftiqoriy” kebutuhan yang dimustikan (membutuhkan shilah) .

Kitab Alfiyah Bab Mu'rob dan Mabni

Disebutkan pada dua bait di atas tentang macam-macam keserupaan kalimat isim terhadap kalimat huruf yang menjadi faktor kemabnian Kalimat Isim tersebut. Segi keserupaan ini terdapat pada empat faktor:

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Wadh’i/ kondisi bentuknya:

Yaitu isim yang bentuknya serupa dengan bentuk kalimat huruf, hanya terdiri dari satu huruf misal TA’ pada lafadz ضربت. Atau hanya terdiri dari dua huruf misal NA pada lafadz أكرمنا. Sebagaimana contoh dalam Bait:

جئتنا

Engkau datang kepada kami.

TA’nya adalah Isim Fa’il dan NAnya adalah Isim Maf’ul dari Kata Kerja جَاءَ

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Ma’nawi/maknanya:

Dalam hal ini ada dua term:
(1). Keserupaan bangsa makna yang ada padanannya, misal متى serupa maknanya dengan Kalimat Huruf Istifham (kata tanya). Atau serupa maknanya dengan Kalimat Huruf Syarat.

→ Contoh Isim Istifham:

مَتَى تَقُومُ ؟

Kapan kamu mau berdiri?

مَتى السّفرُ ؟

Kapan bepergian?

مَتَى نَصْرُ الله أَلاَ إِنَّ نَصْرَ الله قَرِيبٌ

“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

→ Contoh Isim Syarat:

مَتَى تَقُمْ أَقُمْ

Bilamana kamu berdiri, niscaya aku ikut berdiri.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

(2). Keserupaan bangsa Ma’nawi yang dikira-kira, karena tidak ada padanannya. Misal هنا artinya: disini (kata tunjuk sesuatu/Isim Isyarah) serupa maknanya dengan Kalimat Huruf secara dikira-kira karena tidak ada contoh kalimat huruf padanannya. Namun demikian, Isim isyarah ini menunjukkan makna dari suatu makna, diserupakan dengan Kalimat Huruf yang juga menunjukkan karakter demikian, seperti Kalimat Huruf  ما Nafi untuk meniadakan sesuatu, لا Nahi untuk mencegah sesuatu, ليت Tamanni untuk mehayalkan sesuatu, dan لعل Taroji untuk mengharap sesuatu, dan lain-lain. Contoh:

أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَاهُنَا آمِنِينَ

Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Niyabah/pengganti Fi’il

Yaitu semua jenis “Isim Fi’il” atau Kalimah Isim yang beramal seperti amal Kalimah Fi’il beserta bebas dari bekas ‘Amil, yang demikian adalah seperti Kalimat Huruf. Contoh:

هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ

jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu

دَرَاكِ زَيْدًا

Temukan Zaid!

Lafazh دراك “Darooki” pada contoh ini adalah Isim Mabni (Mabni Kasroh) karena serupa dengan Kalimah Huruf pada faktor Niyabah. disebutkan dalam Bait: بلا تأثر “yang tanpa dibekasi amil” atau mengamal I’rob tanpa bisa diamali I’rob. Adalah untuk membedakan dengan Isim yang beramal seperti Kalimat Fi’il tapi ada bekas Amil. Contoh:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa!

ضَرْبًا زَيْدًا

Pukullah Zaid!

Lafadz ضربا “Dhorban” adalah Isim masdar yang dinashobkan oleh ‘Amil yaitu Kalimat Fi’il yang dibuang, menggantikan tugas Kalimat Fi’il اضرب “Idhrib!” pukullah!. Berbeda dengan lafadz دراك “Darooki” sekalipun dikatakan pengganti tugas Kalimat Fi’il أدرك “Adrik!” temukan! Tapi ia mandiri tanpa ada pembekasan ‘Amil.

Walhasil dari apa yang tersirat dari Bait Syair Mushannif: bahwa Masdar dan Isim Fi’il bersekutu dalam hal sama-sama menggantikan tugas Kalimat Fi’il. Perbedaannya adalah: Masdar ada bekas ‘Amil, dihukumi Mu’rob karena tidak serupa dengan Kalimat Huruf. sedangkan “Isim Fi’il” tidak ada bekas ‘Amil, dihukumi Mabni karena serupa dengan Kalimah Huruf.

Mengenai kemabnian dan masalah khilafiyah yang ada pada Kalimat Isim Fiil ini, akan diterangkan nanti pada Bait-Bait Syair Mushannif secara khusus yaitu pada Bab Isim Fi’il dan Isim Ashwat. Insya Allah.

Keserupaan pada Kalimah Huruf bangsa Iftiqoriy/kebutuhan yang musti.

Maksudnya adalah Isim Maushul seperti الذي dan saudara-saudaranya, musti butuh terhadap jumlah sebagai shilahnya. Sama seperti Kalimah Huruf yang musti butuh kepada kalimat lain. Oleh karena itu Isim Maushul dihukumi Mabni. Disebutkan dalam Bait وكافتقار أصلا “Kebutuhan yang dimustikan” untuk membedakan dengan Kalimah Isim yang Iftiqorinya/karakter kebutuhannya tidak musti. Seperti “Isim Nakirah” yang disifati, butuh terhadap jumlah sebagai sifatnya, namun  kebutuhannya itu tidak sampai pada kategori lazim atau musti. Contoh:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلاَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu

Kesimpulan dari dua Bait di atas, bahwa Isim Mabni ada enam bab: ISIM DHOMIR, ISIM SYARAT, ISIM ISTIFHAM, ISIM ISYARAH, ISIM FI’IL dan ISIM MAUSHUL.

Referensi:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 576 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: