Pembahasan Kalam Khabar (khobariyah)

الكلامُ على الخبرِ

Pembahasan Kalam Khobar

الخبرُ إمَّا أنْ يكونَ جملةً فِعْلِيَّةً أو اسْمِيَّةً.

Kalam khobar itu baik berupa jumlah fi’liyah (fi’il+faa’il) atau jumlah ismiyah (mubtada’+khabar)

فالأُولى موضوعةٌ لإفادةِ الحدوثِ في زمنٍ مخصوصٍ، معَ الاختصارِ.
وقدْ تُفيدُ الاستمرارَ التَّجدُّديَّ بالقرائنِ، إذا كان الفعْلُ مضارعًا، كقولِ طريفٍ:

Kalam khobar jumlah Fi’liyah:
Diposisikan sebagai pemberi faidah kejadian pada masa tertentu beserta ringkas kalimatnya (tanpa adatuz-zaman).
Terkadang berfaidah “istimrar at-tajaddudi” (masa terus berlangsung berkali-kali) dengan adanya qorinah (hubungan), bilamana fi’ilnya berupa fi’il mudhari’. contoh syair oleh Tharif:

أَوَكلَّما وَرَدَتْ عُكَاظَ قبيلةٌ = بعثُوا إليَّ عَرِيفَهُمْ يتوَسَّمُ

Apakah telah datang, qaum yg setiap kali datang ke pasar ‘Ukazh mengutus kepercayaannya kepadaku sembari memberi tanda.

والثانيةُ موضوعةٌ لمجرَّدِ ثبوتِ المسنَدِ للمسنَدِ إليه، نحوُ: (الشمسُ مُضِيئَةٌ). وقدْ تُفيدُ الاستمرارَ بالقرائنِ إذا لمْ يكُنْ في خبرِها فِعْلٌ، نحوُ: (العلْمُ نافعٌ).

Kalam khobar jumlah ismiyah:
Diposisikan hanya sendirinya menetapkan almusnad (hukum) kepada almusnad ilaih (yg diberi hukum). Contoh الشمسُ مُضِيئَةٌ ASYAMSU MUDHIIATUN matahari adalah yang bersinar terang benderang. Terkadang berfungsi “Istimrar” dengan adanya qorinah, bilamana khobarnya bukan berupa fi’il. Contoh AL-ILMU NAAFI’UN “ilmu itu bermanfaat”

والأصْلُ في الخبَرِ أنْ يُلْقَى لإفادةِ المخاطَبِ الحكْمَ الذي تَضمَّنَتْهُ الجملةُ، كما في قولِنا: (حَضَرَ الأميرُ)، أوْ لإفادةِ أنَّ المتكلِّمَ عالِمٌ به، نحوُ: (أنتَ حَضَرْتَ أمسِ). ويُسَمَّى الحكْمُ فائدةَ الخبَرِ، وكونُ المتكلِّمِ عالِمًا بهِ لازِمَ الفائدةِ.

Asal khabar digunakan untuk menfaidahkan suatu hukum -yg mencakup berbentuk jumlah- kepada mukhatab. Contoh kita berkata: HADHARA AL-AMIR “penguasa itu telah hadir”.
Atau menfaidahkan bahwa mutakallim telah tahu. Contoh ANTA HADHARAT AMSI “kamu telah hadir kemarin”.
Hukum yg pertama dinamakan faidahnya khobar (fa’idatul khobar). Sedangkan hukum yang kedua bahwa mutakallim mengetahuinya, dinamakan tetapnya faidah (lazimul-faa’idah)

  1. kampreto
    23 April 2012 pukul 12:00

    asal khabar digunakan untuk menfaidahkan suatu hukum yg terkandung dalam susunan kalimat

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 614 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: