Arsip

Archive for Desember, 2011

Pengamalan Mashdar dan Isim Mashdar » Alfiyyah Bait 424-425

29 Desember 2011 2 komentar
–·•Ο•·–

إعْمَالُ الْمَصْدَرِ

PENGAMALAN MASHDAR

بِفِعْلِهِ الْمَصْدَرَ ألْحِقْ فِي الْعَمَلْ ¤ مُضَافاً أوْ مُجَرَّداً أوْ مَعَ الَ

Ikutkanlah Mashdar kepada Fi’ilnya di dalam pengamalan. Baik Mashdar tersebut Mudhaf atau Mujarrad (tidak mudhof dan tanpa AL), atau bersamaan dengan AL 

إنْ كَانَ فعْلٌ مَعَ أنْ أوْ مَا يحِلّ ¤ مَحَلَّهُ وَلِاسْمِ مَصْدَرٍ عَمَلْ

Demikian apabila Fi’il bersamaan dengan IN atau MAA dapat menempati tempat Masdar yg mengamalinya. Pengamalan ini juga berlaku untuk Isim Mashdar  

–·•Ο•·–

Di dalam Bahasa Arab, Isim banyak yang beramal seperti pengamalan Fi’il dengan beberapa persyaratan. Di dalam Kitab Alfiyah ini Mushonnif Ibnu Malik telah menyebutnya diantaranya:

1. Mashdar

2. Isim Mashdar

3. Isim Fa’il

4. Shighat Mubalaghah

5. Isim Maf’ul

6. Shifat Musyabbahah

7. Isim Tafdhil.

Dalam Bab ini khusus mengenai pengamalan Mashdar dan Isim Mashdar. Pembahasan ini oleh Ibnu Malik didahulukan dari pembahasan Bentuk-bentuk Mashdar itu sendiri (Bab Abniyatul Mashaadir), karena pengamalan Mashdar masuk kategori Ilmu Nahwu yang sangat erat kaitannya dengan Bab-bab terdahulu. Sedangkan pembahasan mengenai Bentuk-bentuk Masdar masuk dalam Ilmu Shorof demikian dibelangkan.

Definisi Mashdar adalah: Isim yang menunjukkan kejadian (huduts) yang sepi dari zaman dan mencukupi atas huruf-huruf Fi’ilnya atau melebihinya.

Contoh dinamakan Mashdar :

بذلُ المال في الخير نفع لصاحبه

BADZLUL-MAALI FIL-KHOIRI NAF’UN LI SHOOHIBIHII = mendermakan harta di dalam kebaikan bermanfaat bagi si empunya.

Lafazh BADZLU adalah mashdar dari : BADZALA-YABDZALU-BADZLAN.
Badzlan adalah Mashdar bermakna menunjukkan atas kejadian pendermaan tanpa penyertaan zaman. Dan juga mencukupi semua huruf-huruf Fi’ilnya yaitu huruf BA’, DZAL dan LAM.

Contoh lagi dinamakan Mashdar:

إكرام الضيف من آداب الإسلام

IKROOMUDH-DHOIFI MIN AADAABIL-ISLAAMI = menghormati tamu termasuk dari adab-adab dalam Islam.

Huruf pada lafazh IKROOMUN mencukupi atas huruf-huruf Fi’ilnya (AKROMA) berikut melebihinya yaitu ada tambahan Alif sebelum huruf terakhir.

Adapun yang disebut Isim Mashdar berbeda dengan Mashdar. Sekalipun keduanya sama mencocoki dalam hal menunukkan huduts/kejadian.
Bedanya Mashdar tidak akan berkurang hurufnya dari bentuk huruf Fi’ilnya. Sedangkan disebut Isim Mashdar huruf-hurufnya berkurang dari bentuk huruf Fi’ilnya secara lafazhan atau Takdiran dan tanpa ada pergantian huruf.

Contoh dinamakan Isim Masdar

عطاء

ATHOO’UN = Pemberian

Contoh dinamakan Masdar

إعطاء

I’THOO’AN = Pemberian

Persamaannya Lafazh ‘ATHOO’UN dan I’THOO’AN yaitu sama dalam hal penunjukan kejadian. Perbedaannya adalah lafazh ‘ATHOO’AN tidak terdapat huruf Hamzah yang terdapat pada bentuk Fi’ilnya yang berupa lafazh :

أعطى

A’THOO = Memberikan

Tidak terdapatnya huruf Fi’ilnya tersebut baik secara Lafzhan atau secara Takdiran, demikan ini syarat disebut Isim Mashdar.

Beda jika tidak terdapat huruf Fi’ilnya secara Lafzhan, tapi ada secara Taqdiran, demikian tetap dinamakan Mashdar. contoh:

قتال

QITAALUN = peperangan

Mashdar dari Fi’il

قاتل

QOOTALA.= berperang

Lafazh QITAALUN tidak ada huruf Alif sebelum huruf TA’ sebagaimana pada bentuk Fi’ilnya.

Dalam contoh ini tidak terdapat huruf Fi’ilnya secara Lafzhan tapi ada secara Takdiran. Sebab dalam beberapa tempat ia diucapkan dengan lafazh:

قيتال

QIITAALAN = Peperangan

Alif diganti dengan Ya’ untuk menyesuaikan harkat kasroh huruf sebelumnya. Adapun dibaca QITAALAN dengan membuang Ya’ untuk litakhfif/memudahkan dan likatsrotil-isti’mal/banyak dipakai.

Beda juga jika ada pengganti dari huruf yg tidak ada, demikian tetap dinamakan Mashdar. contoh:

عدة

‘IDATAN = Janji

Mashdar dari Fi’il WA’ADA. Tidak ada huruf wawu seperti yang terdapat pada Fi’ilnya baik secara Lafzhan dan Taqdiran. Tapi ada penggantinya yaitu huruf TA’.

¤¤¤

Mashdar beramal seperti pada pengamalan Fi’il Merofa’kan Faa’il dan menashobkan Maf’ul.

Mashdar yang beramal seperti Amal Fi’il ada dua macam:

1. Sebagaimana telah disebutkan pada Bab Maf’ul Muthlaq yaitu: Mashdar yang menggantikan Fi’il atau Mashdar yang bermakna seperti Fi’il. Yakni, membuang Fiil dan menggantikannya dengan Mashdar sebagai pengganti tugas pemaknaan Fi’il baik Fi’il itu lazim atau Fi’il muta’addi. contoh:

إكراماً المسكين

IKROOMAN AL-MISKIINA = hormatilah orang miskin.

Lafazh IKROOMAN adalah mashdar menggantikan tugas lafazh AKRIM! Fiil Amar. terdapat dhamir mustatir wujuuban takdirannya ANTA sebagai Faa’ilnya. Lafazh AL-MISKIINA adalah Maf’ul Bihnya dinashobkan oleh Mashdar.

2. Inilah yang dibahas dalam Bab ini yaitu: Apabilah layak Mashdar tersebut ditempati AN + Fi’il, atau MAA + Fi’il.

Contoh:

يسرني أداؤك الواجب

YASURRUNIY ADAA’UKAL-WAAJIBA = Pelaksanaanmu akan kewajiban menggembirakanku.

lafazh ADAA’U = Adalah Mashdar yang mengamalkan amalan Fi’ilnya. Dimudhafkan kepada Fa’ilnya yang berupa dhamir KAF dan menashobkan kepada Maf’ul Bih yaitu lafazh AL-WAAJIBA. Dan dimungkinkan posisinya ditempati oleh AN+FI’IL atau MAA+FI’IL

Menempatkan AN+FIIL pada posisi Masdar, jika yang dimaksud pada waktu lampau atau pada waktu akan datang. Contoh seperti mengatakan:

يسرني أن تؤدي الواجب

YASURRUNIY AN TU’ADDIY AL-WAAJIBA.

Menempatkan MAA+FIIL pada posisi Mashdar, jiika yang dimaksud pada waktu sekarang. Contoh seperti mengatakan:

يسرني ما تؤدي الواجب

YASURRUNIY MAA TU’ADDIY AL-WAAJIBA.

¤¤¤

Mashdar yang menjadi Amil seperti ini terdapat tiga bagian penampakan:

1. Mashdar Mudhaf

Ini bagian Mashdar yang paling banyak digunakan dalam pengamalannya daripada dua pembagian Mashdar yang lain. Contoh telah disebut diatas.

2. Mashdar bertanwin

Pengamalannya lebih mendekati pada Qiyas daripada Mashdar Mudhaf. sebab diserupakan dengan kalimah Fi’il dalam hal kenakirahannya. Penggunaannya dalam pengamalannya lebih sedikit dibawah pengamalan Mashdar Mudhaf. contoh:

واجب علينا تشجيعٌ كلّ مجتهد

WAAJIBUN ‘ALAINAA TASYJII’UN KULLA MUJTAHID = wajib atas kami memotivasikan keberanian kepada tiap-tiap Mujtahid.

Contoh Ayat Al-Qur’an:

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا

AW ITH’AAMUN FIY YAUMIN DZII MASGHOBATIN YATIIMAN = atau memberi makan pada hari kelaparan kepada anak Yatim (QS. Al-Balad : 14-15)

Lafazh ITH’AAMUN adalah Mashdar Tanwin yang menashobkan Maf’ul Bih lafazh (YATIIMAN).

3. Mashdar Ma’rifah dengan AL

Pengamalannya Syadz, dikarenakan jauh dari persamaan Fi’il sebab bersambung dengan AL. Paling sedikit ditemukan daripada dua pembagian Masdar di atas, baik secara penggunaannya atau secara balaghoh. Contoh:

المجدُّ سريعُ الإنجاز أعمالَه

AL-MAJIDDU SARII’UL-INJAAZI A’MAALAHU = seorang yang giat sangat cepat dalam penyelesaian pekerjaan-pekerjaannya.

Lafazh A’MAALAHU sebagai Maf’ul Bih dari Mashdar AL-INJAAZI.

Hukum-hukum Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 420-421-422-423

28 Desember 2011 8 komentar
–·•Ο•·–

الْمُضَافُ إِلَى يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ

BAB MUDHAF PADA YA’ MUTAKALLIM

آخِرَ مَا أضِيْفَ لِلْيَا اكْسِرْ إِذَا ¤ لَمْ يَكُ مُعْتَلاً كَرَامٍ وَقَذَا

Berilah harkat kasroh pada akhir kalimah yg mudhof pada Ya’ Mutakallim. Dengan syarat apabila tidak berupa Isim Mu’tal. Contoh Isim Mu’tal seperti “Roomin” (Isim Mu’tal Manqush berakhiran Ya’ asalnya “Roomiyun”) dan contoh “Qodzaa” (Isim Mu’tal Maqshur berakhiran Alif) 

أَوْ يَكُ كَابْنَيْنِ وَزَيْدِيْنَ فَذِي ¤ جَمِيْعُهَا الْيَا بَعْدُ فَتْحُهَا احْتُذِي

Atau berupa Isim yang seperti contoh “Ibnaini” (berupa Isim Tatsniyah) juga seperti contoh “Zaidiina” (berupa Isim Jamak Mudzakkar Salim). Kesemua Isim seperti contoh tersebut ini (yakni: Manqush, Maqshur, Tatsniyah dan Jamak Mudzakkar Salim), maka Ya’ Mutakallim yang jatuh sesudahnya diberi harkat Fathah. 

وَتُدْغَمُ الْيَا فِيْهِ وَالْوَاوُ وَإِنْ ¤ مَا قَبْلَ وَاوٍ ضُمَّ فَاكْسِرْهُ يَهُنْ

Ya’ akhir kalimah diidghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Wawu akhir kalimah (juga diidghomkan pada Ya’ Mutakallim, yakni setelah Wawu itu diganti Ya’). Jika huruf sebelum Wawu berharkat Dhommah, maka gantilah dengan harkat kasroh demikian menjadi ringan. 

وَأَلِفَاً سَلِّمْ وَفِي الْمَقْصُوْر عَنْ ¤ هُذَيْلٍ انْقِلاَبُهَا يَاءً حَسَنْ

Tetapkan Salim (yakni selamat tanpa ada perubahan) pada Alif akhir kalimah (di dalam Isim Maqshur dan juga Isim Tatsniyah Marfu’). Perubahan Alif kepada Ya’ di dalam Isim Maqshur adalah baik menurut logat Bani Hudzail. 

–·•Ο•·–

Bab ini dikhususkan untuk hukum-hukum Idhafah Isim kepada Ya’ Mutakallim. Merupakan hukum-hukum Idhofah yg dibahas secara tersendiri. Yakni Hukum Idhafah yang bertalian dengan Ya’ Mutakallim dan hukum Huruf akhir pada Isim yang menjadi Mudhaf.

Kaedah yang umum untuk bab ini adalah: wajib kasroh di akhir kalimah yang Mudhaf pada Ya’ Mutakallim untuk menyesuaikan (lil-munasabah) dengan Ya’ yg jatuh sesudahnya. Dan Ya’ Mutakallim diberi Sukun atau diharkati Fathah, dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.

Termasuk pada hukum yang umum dalam Bab ini adalah apabila Isim yang menjadi Mudhaf berupa:

1. Isim Mufrod Shohih. Semisal lafazh “KITAABUN”. Contoh:

كتابي جديد

KITAABIY JADIIDUN = Kitabku baru.

atau berupa Isim Mufrod yang serupa dengan hukum Shohih. Yakni, Isim yang berakhiran Wawu atau Ya’ dan huruf sebelumnya Sukun, seperti lafazh DALWUN, SHOFWUN, SAQYUN, ZHOBYUN. contoh:

سقيي الماءَ من دلوي فيه ثواب عظيم

SAQYIY AL-MAA’A MIN DALWIY FIIHI TSAWAABUN ‘AZHIIMUN = Pemberianku akan air minum dari timbaku, di dalamnya terdapat pahala yang besar.

2. Jamak Taksir Shohih Akhir. Semisal lafazh “THULLABUN”, “KUTUBUN”. Contoh:

كتبي مرتبة

KUTUBIY MUROTTABATUN = kitab-kitabku tersusun rapi

3. Jama’ Mu’annats Salim. Semisal lafazh “AKHOWAATUN”, “‘AMMAATUN”, “BANAATUN”. Contoh:

أزور عماتي وأَصِلُ أخواتي

AZUURU ‘AMMAATIY WA ASHILU AKHOWAATIY = aku mengunjungi Paman-paman ku dan bersilaturrahmi pada Saudara-saudaraku.

Kaidah I’rob untuk lafazh-lafazh mudhof pada contoh diatas adalah: Untuk lafazh Mudhof yang Marfu’ dikatakan Rofa’ dengan tanda dhommah muqoddar atas huruf sebelum Ya’ Mutakallim. Keterbatasan posisi oleh harkat yang bersesuaian merupakan pencegah dari I’rob Zhahirnya. Dan untuk lafazh Mudhof yang Manshub -selain Jamak Mu’annats Salim- dikatakan Nashob dengan tanda Fathah muqoddar dengan alasan yang sama. Demikian juga untuk Mudhof yang Majrur dikatakan Jar dengan tanda Kasroh Muqoddar dan alasan yg sama. Dan untuk yang Majrur dikatakan juga Jar dengan Kasroh Zhohir demikian untuk alasan kemudahan karena harkat Kasroh nampak dalam lafazhnya. Adapun Kaidah I’rob untuk Ya’ Mutakallim dalam hal ini adalah: Dhamir Muttashil mabni atas Sukun atau Fathah didalam mahal Jar sebab menjadi Mudhaf Ilaih.

¤¤¤

Dibedakan dari Kaidah yang umum yaitu terdapat pada empat masalah. Wajib memberi sukun pada akhir kalimah yang menjadi Mudhof, dan Ya’ Mutakallim menjadi mabni atas Fathah saja sebagai Mudhaf Ilaihnya dalam mahal Jar. Empat masalah tersebut adalah:

1. Isim Maqshur, seperti lafazh “FATAA”, “HUDAA”.

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran Alif. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah dikarenakan paling ringannya harkat. Pemberian harkat untuk menghidari bertemunya dua huruf mati. Maka Alif maqshur ditetapkan, kecuali menurut logat Bani Hudzail, dalam hal ini Alif ditukar dengan Ya’.
Contoh:

هدايَ خير طريق لنجاتي

HUDAAYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.

Contoh bagi lughoh Bani Hudzail:

هديَ خير طريق لنجاتي

HUDAYYA KHOIRU THORIIQIN LI NAJAATIY = Petunjuk untukku adalah paling benarnya jalan menuju keselamatanku.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

قَالَ هِيَ عَصَايَ

QOOLA HIYA ‘ASHOO-YA = Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku (QS. Thoha :18)

I’rob Lafazh ‘ASHOO-YA :
“ASHOO” = Mudhaf Menjadi Khobar dirofa’kan dengan Dhommah muqaddar atas Alif. Tercegah harkat Zhohirnya karena ta’adzdzur.
“YA” = Dhamir Mutakallim Muttashil mabni Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhaf Ilaih.

Contoh lagi Ayat dalam Al-quran:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

QUL INNA SHOLAATIY WA NUSUKIY WA MAHYAAYA WA MAMAATIY LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN = Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162).

2. Isim Manqush, seperti lafazh “AL-HAADIY”, “AD-DAA’IY”

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah, karena berakhiran hurut Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Dan Ya’ Mutakalli disini wajib diharkati Fathah.
Contoh:

الشرع هاديّ لطريق الخير

ASY-SYAR’U HAADIY-YA LI THORIIQIL-KHOIR = peraturan hukum (syara’) sebagai penunjukku menuju jalan kebenaran.

I’rob lafazh HAADIY-YA:
“HAADIY” = Mudhof dalam posisi menjadi Khobar, dirofa’kan dengan Dhommah yang dikira-kira (muqoddar) atas Ya’ yang di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. tercegah I’rob zhohirnya karena berat (lits-tsaqli).
“YA” = Ya’ Dhamir Muttashil Mutakallim mabni atas Fathah dalam mahal Jar menjadi Mudhof Ilaihi.

3. Isim Mutsanna/Tatsniyah berikut Mulhaq-mulhaqnya.

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah. Nun dibuang karena Idhofah. Huruf Alif ditetapkan/Salim ketika Rofa, dan diidghomkan ketika Nashob atau Jar seperti pada Isim Manqush.
Contoh:

لن أجازى إلا بما قدمت يداي

LAN UJAZAA ILLAA BIMAA QODDAMAT YADAAYA = aku tidak akan mendapat balasan kecuali dengan apa yang telah diperbuat oleh kedua tanganku.

لا أعتمد في الرزق بعد الله إلا على يديّ

LAA A’TAMIDU FIR-RIZQI BA’DALLAAHI ILLAA ‘ALAA YADAYYA = aku tidak akan menguasai suatu rizki (harta) setelah Allah. kecuali atas hasil perbuatan kedua tanganku.

I’robnya lafazh YADAAYA: “YADAA” = Fail marfu’, tanda rofa’nya Alif. “YA” = Mudhaf Ilaih mabni fathah di dalam mahal Jar. Asalnya adalah “YADAAANI LIY”. NUN dan LAM dibuang karena Idhofah. Untuk contoh kedua YADAYYA: Ya’ akhir kalimah diidghomakan pada Ya’ Mutakallim.

Contoh di dalam Ayat Al-Qur’an:

مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

MAA MANA’AKA AN TASJUDA LIMAA KHOLAQTU BI YADAYYA = apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (QS. Shood :75)

I’rob pada lafaz YADAYYA: “YADAY” = Isim Mutsanna Majrur tanda Jarnya Ya’, dan diidghomkan pada Ya’ kedua yakni pada Ya’ Mutakallim yang menjadi Mudhaf Ilaih.

4. Jama’ Mudzakkaar Salim dan Mulhaq-mulhaqnya

Hukumnya adalah wajib sukun pada akhir kalimah. Ya’ Mutakallim wajib diharkati Fathah.

Dalam keadaa Rofa Wawu diganti Ya’ dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhommah diganti Kasroh untuk menyesuaikan pada Ya’ Mutakallim (lil munasabah). Untuk keadaan Nashob dan Jar, Ya’ diidghamkan pada Ya’ Mutakallim. contoh:

أنتم مشاركيّ في الدعوة إلى الله

ANTUM MUSYAARIKIYYA FID-DA’WATI ILALLAAH = kalian adalah teman-tamanku di dalam dakwah ilallaah.

I’lal lafazh MUSYAARIKIYYA: asalnya MUSYAARIKUUNA LIY, Nun dan Lam dibuang karena Idhafah. Maka menjadi MUSYAARIKUUYA. Kemudian Wawu diganti Ya dan di-idghomkan pada Ya’ Mutakallim. Kemudian harkat Dhummah diganti Kasroh maka menjadi MUSYAARIKIYYA.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:

وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ

WAMAA ANTUM BI MUSHRIKHIYYA = dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku (QS. Ibrohim : 22)

Jumhur Qiro’ah membaca lafazh MUSHRIKHIYYA dengan Fathah pada Ya’ tasydid. karena asalnya Ya’ jamak yang sukun diidghomkan pada Ya’ Mutakallim yang Fathah, maka harkat Fathah ditetapkan. Sedangkan Qiro’ah Hamzah (sebagian dari Qiro’ah Sab’ah) membaca kasrah pada Ya tasydid menjadi MUSHRIHIYYI demikian termasuk dari salah satu lugot bangsa Arab, dan apabila sebelum wawu berharkat Fathah seperti contoh MUSHTHOFAUNA, maka harkat Fathah tentu ditetapkan menjadi MUSHTHOFAYYA.

Pengertian Idhafah (Idhofah = Sununan Mudhaf dan Mudhof Ilaih) » Alfiyah Bait 385-386-387

24 Desember 2011 18 komentar
–·•Ο•·–

الإضافة

BAB IDHAFAH (MUDHAF DAN MUDHOF ILAIH)

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا ¤ ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا

Terhadap Nun yang mengiringi huruf tanda i’rob atau terhadap Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: THUURI SIINAA’ = Gunung Sinai. 

وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا ¤ لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FIY bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM … <ke bait selanjutnya>. 

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا ¤ أو أعطه التعريف بالذي تلا

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fiy). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih). 

–·•Ο•·–

Setelah Bab Majrur sebab Huruf, selanjutnya Mushannif membahas tentang Majrur sebab Idhofah.

Pengertian Idhafah/Susunan Mudhaf dan Mudhof Ilaih adalah: Penisbatan secara Taqyidiyah (pembatasan) di antara dua lafazh yang mengakibatkan lafazh terakhir selalu di-jar-kan.

Contoh kita mengatakan:

كتاب

KITABUN* = Kitab/Buku

*Lafazh KITAABUN di sini masih bersifat Mutlak/umum belum ada Taqyid/pembatasan.

Contoh apabila kita berkata:

كتاب زيد

KITAABU ZAIDIN* = Kitab/Buku Zaid

  • Lafazh KITAABU = Mudhof
  • Lafazh ZAIDIN = Mudhaf Ilaih
  • Dengan demikian terjadilah Taqyid/pembatasan sebab Idhafah yakni memudhofkan lafazh KITAABUN kepada lafazh ZAIDUN.

Apabila dikehendaki Isim mudhaf pada Isim lain, maka perhatikan hukum-hukum yg berkenaan dengan Idafah, sebagai berikut:

Hukum Idhafah Pertama:

Wajib membuang Tanwin pada akhir kalimah isim yg menjadi Mudaf. apabila sebelum dijadikan Mudof ia mempunyai Tanwin.

Contoh sebelum susunan Idofah:

ركبت سيارة جديدة

ROKIBTU SAYYAAROTAN JADIIDATAN* = aku mengendarai Mobil Baru

Contoh menjadi Mudhaf tanwinnya dibuang:

ركبت سيارة زيد

ROKIBTU SAYYAAROTA ZAIDIN* = aku mengendarai Mobilnya Zaid.

Juga wajib membuang NUN pada akhir Isim Mutsanna, Jamak Mudzakkar Salim, dan Mulhaq-mulhaqnya, apa dimudhofkan. yaitu huruf NUN yg mengiringi huruf Tanda I’rob (yakni Nun yg ada setelah Wawu/Ya’ pada Jamak Mudzakkar Salim, atau Alif/Ya’ pada Isim Tatsniyah). contoh:

يسير الناس على جانبي الشارع

YASIIRUN-NAASA ‘ALAA JAANIBAYISY-SYAARI‘* = orang-orang berjalan di dua sisi pinggir jalan raya.

حاملو العلم محترمون

HAAMILUL-’ILMI MUHTAROMUUN* = orang yg punya ilmu mereka dihormati.

Jika Huruf NUNnya bukan Nun Tatsniyah atau Nun Jamak yakni bukan Nun yg mengiringi Huruf tanda I’rob, maka tidak boleh membuangnya. contoh:

المحافظة على الصلاة عنوانُ الاستقامة

AL-MUHAAFAZHOTU ‘ALASH-SHOLAATI ‘UNWAANUL-ISTIQOOMAH* = menjaga sholat adalah pertanda istiqomah.

Hukum Idofah Kedua:

I’rob Jar bagi Mudhaf Ilaih. Adapun amil Jar-nya adalah lafazh yg menjadi Mudhaf -demikian menurut Qoul yg shahih- alasannya: Lafazh Dhamir yg menjadi Mudhaf Ilaih dapat bersambung langsung dengan lafazh yg menjadi Mudhaf, yang mana dhamir tsb tidak akan bersambung kecuali kepada Amilnya, contohnya:

كتابك جديد

KITAABUKA JADIIDUN = Kitabmu baru.

Hukum Idhafah ketiga:

Wajib menyimpan Huruf Jar Asli yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih. Untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudaf dan Mudhaf Ilaeh-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FIY dan LAM.

1. Idhafah menyimpan makna huruf MIN Lil-Bayan apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. contoh:

خاتمُ ذهبٍ

KHOOTAMU DZAHABIN = cincin dari emas

Takdirannya adalah KHOOTAMUN MIN DZAHABIN’

2. Idhafah menyimpan makna huruf FIY Liz-Zharfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Zhorof bagi lafazh Mudhof. contoh:

عثمان شهيد الدار

‘UTSMAANU SYAHIIDUD-DAARI = Utsman Ra. adalah seorang yg mati Syahid di rumah.

Takdirannya adalah ‘UTSMAANU SYAAHIDUN FID-DAARI.

Atau berupa Zharaf Zaman.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:

بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ

BAL MAKRUL-LAILI WAN-NAHAARI = “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami) (QS. Saba’ : 33)

Takdirannya MAKRUN FIL-LAILI.

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

LILLADZIINA YU’LUUNA MIN-NISAA’IHIM TAROBBUSHU ARBA’ATI ASYHURIN = Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). (QS. Al-Baqarah :226)

Takdirannya TAROBBUSHUN FIY ARBA’ATI ASYHURIN.

3. Idhafah menyimpan makna huruf LAM apabila tidak bermakna MIN atau FIY. contoh:

هذا كتاب زيد

HADZAA KITAABU ZAIDIN = ini kitab milik Zaid

Takdirannya: HADZAA KITAABUN LI ZAIDIN.
LAM berfungsi sebagai Lil-Mulk/Lil-Ikhtishosh Kepemilikan/Kewenangan.

Demikian Hukum-hukum yg berhubungan dengan Idhafah maknawi belum Idhofah Lafzhi yg akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya, berikut hukum-hukum Idhofah yg belum disebut disini.

Huruf Jar dalam Bahasa Arab (من إلى حتى خلا حاشا عدا في عن على مذ منذ رب ل كي و ت ك ب لعل متى) » Alfiyah Bait 364-365

23 Desember 2011 16 komentar
–·•Ο•·–

باب حروف الجر

BAB HURUF-HURUF JAR

هَاكَ حُرُوفَ الْجَرِّ وَهْيَ مِنْ إلىَ ¤ حَتَّى خَلا حَاشَا عَدَا في عَنْ عَلَى

Ambillah sebagai Huruf Jar yaitu : Min, Ila, Hatta, Kholaa, Haasyaa, ‘Adaa, Fii, ‘An, ‘Alaa, 

مُذْ مُنْذُ رُبَّ اللّامُ كَيْ وَاوٌ وَتَا ¤ وَالكَافُ وَالْبَا وَلَعَلَّ وَمَتَى

Mudz, Mundzu, Rubba, Lam, Kay, Wau, Ta’, Kaf, Ba’, La’alla, dan Mataa. 

–·•Ο•·–

Setelah selesai pembahasan tentang Marfu’ dan Manshub, selanjutnya Mushonnif menerangkan tentang Majrur.

Majrur ada tiga sebab:

1. Majrur sebab Huruf jar
2. Majrur sebab Idhofah
3. Majrur sebab Tabi’

Dimulailah dengan pembahasan Majrur sebab Huruf-huruf Jar/Huruf Khafadh, karena ini merupakan Asal dari Amil Jar.

Huruf-huruf Jarr kesemuanya berjumlah sepuluh sebagaimana disebutkan oleh Mushonnif pada Bait diatas. Semua huruf tersebut khusus masuk pada kalimah Isim merupakan Amil Jar/beramal Jar.

Untuk Harf Jar yg berupa (KHOLAA – HAASYAA – ‘ADAA) telah dijelaskan pada Bab Istitsna, dikedepannya penjelasannya karena berstatus Istiqsho’ yakni perlu perhatian khusus didalam Taroddudnya yakni sebagai kalimah huruf apabila menjarkan isim sesudahnya, atau sebagai kalimah Fi’il yang Jamid apabila menashobkan isim sesudahnya.

Untuk Huruf-huruf jar sisanya InsyaAllah akan dijelaskan secara rinci pada Bait-bait selanjutnya. Kecuali (KAY, LA’ALLA dan MATAA) dimana orang arab jarang menggunakannya sebagai huruf Jar, karena itu disebut Huruf Jar Ghorobah/asing, ada yg menyebutnya huruf jar Syadz. Rinciannya sebagai berikut:

KAY كي

Huruf Jar Lit-Ta’lil, untuk menyatakan alasan, digunakan pada tiga tempat:

1. Apabila Kay masuk pada huruf MAA ISTIFHAM, untuk menanyakan penjelasan sebab atau alasan. contoh:

كيمه فعلتَ هذا

KAY-MAH FA’ALTA HAADZAA?* = karena apa/kenapa kamu melakukan ini?

*Lafazh KAY = sebagai huruf Jar dan Lafazh MAA = sebagai Isim Istifham yang dijarkan oleh Kay, Alifnya dibuang karena dimasuki Huruf Jarr, dan ditambah Ha’ pengganti dari Alif yg dibuang, dan harkat fathah sebagai dalil terbuangnya Alif, maka menjadi KAY-MAH.

2. Apabila Kay masuk pada AN MASHDARIYAH dan Shilahnya, umumnya huruf AN tsb dikira-kira (Muqoddar). contoh:

جئت كي أستفيد

JI‘TU KAY ASTAFIIDA* = aku datang untuk mendapat faedah/kegunaan/keuntungan.

*Lafazh ASTAFIIDA = Fi’il Mudhori’ yg dinashobkan oleh AN yg dikira-kira ada setelah huruf KAY, takdirannya JI’TU KAY AN ASTAFIIDA. huruf AN dan jumlah sesudahnya di-takwil Mashdar yg dijarkan oleh KAY dengan takdiran: JI’TU LIL-ISTIFAADZAH.

Demikian menurut salah satu wajah. Adapun dalam wajah lain:
*KAY sebagai huruf Mashdariyah yg menashobkan Fi’il Mudhari’, dan mengira-ngira ada LAM sebelumnya, takdirannya adalah JI’TU LI KAY ASTAFIIDA.

3. Apabila Kay masuk pada MAA MASHDARIYAH dan Shilahnya, contoh:

أحسن معاملة الناس كي ما تسلم من أذاهم

AHSIN! MU’AAMALATAN-NAASI KAY MAA TASLAMU MIN ADZAAHUM* = bersikap baiklah dalam bermasyarakat agar kamu selamat dari perlakuan buruk mereka.

*Lafazh TASLAMU adalah Fi’il Mudhari’ yg dirofa’kan. Maka MAA berikut Jumlah yg ada padanya dita’wil MASHDAR di-jar-kan oleh KAY huruf jar. yakni takdirannya adalah: LI SALAAMATIKA MIN ADZAAHUM.

LA’ALLA لعل

Adalah Huruf Jar yang serupa dengan harf jar zaidah yakni menjarkan secara lafazh saja tidak dalam mahalnya, mempunyai faidah Taroji. digunakan sebagai huruf jar secara terbatas oleh sebagai bangsa Arab. contoh:

لعل المسافر قادم غدا

LA’ALLA AL-MUSAAFIRI QOODIMUN GHODAN* = Semoga musafir itu tiba pada esok hari.

  • Lafazh LA’ALLA = huruf berfaedah Taroji sebagai huruf jar syibhul-zaa’id (diserupakan dengan Huruf Jar Zaidah).
  • Lafazh AL-MUSAFIRI = Majrur lafazhnya dan Marfu’ mahalnya sebagai Mubtada’. Lafazh QOODIMUN = Khobar.
  • Lafazh GHODAN = Isim Zaman Manshub sebagai Zharaf.

MATAA متى

Dipakai sebagai Huruf Jar asli oleh logat Bani Hudzail, berfaedah Ibtidaa’ul-Ghaayah/batas permulaan seperti faedah huruf MIN. contoh mereka berkata:

أخرجها متى كمه

AKHROJAHAA MATAA KUMMIHII = Dia mengeluarkan tangannya dari lengan bajunya.

Kategori:Bait 364-365 Tag:, ,

Pengertian Tamyiz » Alfiyah Bait 356-357

21 Desember 2011 3 komentar

 

–·•Ο•·–

التمييز

AT-TAMYIZ

اِسمٌ بِمَعْنَى مِنْ مُبِينٌ نَكِرَهْ ¤ يُنْصَبُ تَمْيِيزاً بِمَا قَدْ فَسَّرَهْ

Adalah isim yang menunjukkan makna Min, yang jelas serta Nakirah, dinashobkan sebagai Tamyiz oleh lafaz yg ditafsirinya. 

كَشِبْرٍ أرْضًّا وَقَفِيزٍ بُرًّا ¤ وَمَنَوَيْنِ عَسَلاً وَتَمْرًا

Seperti “SYIBRIN ARDHON” = Sejengkal tanah (Tamyiz dari ukuran jarak), “QOFIIZIN BURRON” = Sekofiz gandum (Tamyis dari ukuran takaran), “MANAWAINI ‘ASALAN WA TAMRON” = Dua Manan madu dan kurma (Tamyiz dari ukuran berat). 

–·•Ο•·–

Pengertian Tamyiz adalah: Isim Nakiroh yg menunjukkan makna Min, sebagai penjelasan lafazh samar sebelumnya. contoh:

اشتريت رطلاً عسلاً

ISYTAROITU RITHLAN ‘ASALAN* = aku membeli satu Ritl madu.

* lafazh “‘ASALAN” adalah Tamyiz, karena berupa Isim dengan dalil tanwin, dan Nakiroh yg mengandung makna MIN lil bayan, yakni takdirannya “MINAL-’ASALI” berfungsi untuk menjelaskan kalimah sebelumnya yg samar. karena perkataan ISYTAROITU RITHLAN masih mengundang kesamaran, pendengar tidak akan faham apa yg dikehendaki dengan RITHLAN, apakah madu ataukah kurma atau beras?. oleh karena itu perkataan Rithl sepantasnya diberi penjelasan atau Tamyiz oleh lafazh-lafazh lain yg dimaksud, sebagaimana contoh ‘ASALAN maka hilanglah kesamaran dan dapat difahami serta jelas apa yg dimaksud.

Keluar dari defini Tamyiz Nakirah, yaitu berlafazh Ma’rifah. contoh :

هذا الرجل طاهرٌ قلبَه

HAADZA AR-ROJULU THOOHIRUN QOLBA HU*

*Menashobkan lafazh QOLBA HU, sekalipun sebagai penjelasan bagi lafazh samar sebelumnya, tapi ini tidak dinamakan Tamyiz karena berupa Isim Ma’rifah, dinashobkan oleh sifat Musyabbahah sebagai Maf’ul Bih (Insya Allah akan dijelaskan nanti secara khusus pada Bab Sifat Musyabbahah).

Keluar dari definisi Tamyis yg punya makna MIN, yaitu HAAL yg punya makna FI.

Keluar dari defini Tamyiz menjelaskan lafazh samar sebelumnya, yaitu Isimnya LAA Nafi Jinsi. contoh:

لا رجل في المسجد

LAA ROJULA FIL-MASJIDI*

*lafazh ROJULA sekalipun mengandung makna MIN yakni MIN ROJULIN, tapi fungsinya bukan untuk menjelaskan, namun sebagai Min Lil Istighroq.

Tamyiz ada dua:

  1. Tamyiz Mufrod atau disebut Tamyiz Dzat
  2.  Tamyiz Jumlah atau disebut Tamyiz Nisbat

1. TAMYIZ MUFROD ATAU TAMYIZ DZAT:

Digunakan sebagai Tamyiz bagi lafazh-lafazh yg menunjukkan :

1. Adad/bilangan.
2. Ukuran Jarak
3. Ukuran Takaran
4. Ukuran Berat

Contoh Tamyiz Dzat atau Tamyiz Mufrad untuk lafazh Adad/bilangan:

اشتريت ستة عشر كتاباً

ISYTAROITU SITTATA ‘ASYARO KITAABAN = aku membeli enam belas kitab

Contoh Tamyiz Dzat atau Tamyiz Mufrad untuk lafazh ukuran jarak:

اشتريت ذراعاً صوفاً

ISYTAROITU DZIROO’AN SHUUFAN = Aku membeli satu Dzira’ (satu hasta) kain wool.

Contoh Tamyis Dzat atau Tamyis Mufrad untuk lafazh ukuran takaran:

اشتريت إردباً قمحاً

ISYTAROITU IRDABBAN QOMHAN = Aku membeli satu Irdabb (24 Gantang) Gandum.

Contoh Tamyis Dzat atau Tamyis Mufrad untuk lafazh ukuran berat/timbangan:

اشتريت رطلاً سمناً

ISYTAROITU RITHLAN SAMNAN = aku membeli satu Rithl minyak Samin.

Atau diberlakukan juga untuk lafazh-lafazh yang serupa dengan ukuran-ukuran, contoh:

صببت على النجاسة ذنوباً ماءً

SHOBIBTU ‘ALAA ANNAJAASATI DZANUUBAN MAA’AN = Aku menuangkan pada Najis satu timba air.

اشتريت نحياً سمناً

ISYTAROITU NIHYAN SAMNAN = Aku membeli satu Nihy minyak samin (Nihy : wadah kantong dari kulit khusus tempat samin).

Contoh dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ

INNALLADZIINA KAFARUU WAMAATUU WAHUM KUFFAARUN FALAY-YAQBALU MIN AHADIHIM MIL’UL-ARDHI DZAHABAN WALAWIFTADAA BIH.*

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.. (QS. Ali Imron : 91).

*Lafazh “DZAHABAN” = emas, dinashobkan sebagai Tamyiz dari lafazh serupa ukuran-ukuran yaitu lafazh “MIL’UL-ARDHI” = sepenuh bumi.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

FAMAY-YA’MAL MITSQOOLA DHARROTIN KHOIROY-YAROH. WAMAY-YA’MAL MITSQOOLA DZARROTIN-SYARROY-YAROH*.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah :7-8)

*Lafazh “KHIRON dan SYARRON” dinashobkan sebagai Tamyiz dari lafzh serupa ukuran timbangan, yaitu lafazh “MITSQOOLA DZARROTIN”.
*****

2. TAMYIZ JUMLAH ATAU TAMYIZ NISBAT:

Yaitu Tamyiz untuk menghilangkan kesamaran makna umum dari penisbatan dua lafazh di dalam tarkib jumlah.

Tamyiz Nisbat/Jumlah dalam pertimbangan asalnya terbagi dua macam:

1. Tamyiz Nisbat peralihan dari Faa’il, contoh:

حَسُنَ الشاب خلقاً

HASUNA ASY-SYAABBU KHULUQON* = pemuda itu baik akhlaqnya

*Lafazh “KHULUQON” dinamakan Tamyiz Nisbat, karena menghilangkan kesamaran penisbatan “HASUNA” kepada lafazh “ASY-SYAABBU”, sebagai Tamyiz nisbat peralihan dari Fa’il, karena asalnya :

حَسُنَ خُلُقُ الشاب

HASUNA KHULUQU ASY-SYAABBI = Akhlaq pemuda itu baik.

Contoh dalam Al-Qur’an:

واشتعل الرأس شيباً

WASYTA’ALAR-RO’SU SYAIBAN* = dan kepalaku telah ditumbuhi uban (QS. Maryam :4)

*Lafazh “SYAIBAN” sebagai Tamyiz Nisbat peralihan dari Fa’il lafazh “RO’SU” karena takdirnya: WASYTA’ALA SYAIBURRO’SI.

2. Tamyiz Nisbat peralihan dari Maf’ul, contoh:

وَفَّيْتُ العمال أجوراً

WAFFAITUL-’UMMAALA UJUURON* = aku membayar para pekerja itu ongkos

*Lafazh “UJUURON” sebagai Tamyiz Nisbat menghilangkan kesamaran penisbatan “WAFFAITU” kepada “UMMAALA” disebut Tamyiz Nisbat Manqul dari Maf’ul, karena asalnya adalah: “WAFFAITU UJUUROL-UMMAALI” = aku membayar ongkos para pekerja.

Contoh dalam Al-Quran:

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا

WA FAJJARNAA AL-ARDHO ‘UYUUNAN* = Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air (QS. Al-Qomar 12)

*Lafazh “UYUUNAN” adalah Tamyiz Nisbat yg dimanqul/dialihkan dari Maf’ul Bih, karena taqdirannya adalah: “WAFAJJARNAA ‘UYUUNAL-ARDHI.

Hukum I’rob TAMYIZ umumnya adalah Nashob. adapun Amil yg menashobkan bagi Tamyiz Dzat adalah Isim Mubham/isim yg samar. sedangkan Amil yg menashobkan Tamyiz Nisbat adalah Musnadnya yg berupa kalimah Fi’il atau yg serupa pengamalan Fi’il.

Pengertian Hal » Alfiyah Bait 332

18 Desember 2011 16 komentar
–·•Ο•·–

الحال

AL-HAL

الْحَالُ وَصْفٌ فَضْلَةٌ مُنْتَصِبُ ¤ مُفْهِمُ فِي حَالِ كَفَرْداً أَذْهَبُ

HAL adalah Sifat, sambilan, manshub, dan menjelaskan tentang keadaan seperti sendirian aku pergi = “FARDAN ADZHABU” 

–·•Ο•·–

Hal terbagi dua :

1. Hal Muakkidah, sebagai pengokohan, yakni tidak ada makna lain selain sebagai taukid (dijelaskan pada akhir Bab Haal).

2. Hal Mubayyinah, sebagai penjelasan, yakni Sifat Fadhlah/Sambilan yg dinashobkan untuk menerangkan HAI’AH/tingkah/gaya shohibul-haal ketika terjadinya perkerjaan utama.

Penjelasan definisi dan pengertian Hal pada poin 2:

SIFAT : Suatu yg menunjukkan makna dan dzat. contoh ROOKIBUN = berkendara, FARIHUN = bergembira, MASRUURUN = bergembira. dll. Sifat adalah jenis dapat mencakup Hal, Khobar juga Na’at.

FADHLAH : tambahan/sambilan, adalah hal yg bukan pokok didalam penerapan Isnad, yakni asal penyebutan FADHLAH itu adalah suatu yg tidak musti dalam kebiasaan.

MENERANGKAN HAI’AH/TINGKAH SHAHIBUL-HAL: Maksud Shahibul Hal adalah suatu yang diterangkan tingkahnya oleh Haal. yakni penerangan sifatnya diwaktu pekerjaan terjadi. Shohibul hal bisa berupa Fa’il, Naibul Fail, Maf’ul Bih, dll.
Standar untuk mengetahui sifat sebagai penunjukan HAI’AH adalah dengan cara meletakkan pertanyaan KAIFA/bagaimana? maka jawabannya tentu lafazh hal.

contoh :

جاء الضيف ماشياً

JAA’A ADH-DHOIFU MAASYIYAN* = tamu itu telah datang dengan berjalan kaki

* Lafazh MAASYIYAN adalah sebagai HAAL/keadaan yakni menerangkan HAI’AH/tingkah Isim sebelumnya yg berupa Fa’il lafazh ADH-DHOIFU. Maka lafazh MAASYIYAN ini patut sebagai jawaban dari pertanyaan KAIFA contoh KAIFA JAA’A ADH-DHOIFU?/bagaimana tamu itu datang? maka dijawab: MAASYIYAN/jalan kaki.

contoh Firman Allah:

وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ

WAD’UUHU MUKHLISHIINA* = sembahlah Allah dengan mengikhlaskan (QS. Al-A’rof :29)

*lafz “MUKHLISHIINA” adalah HAL dari lafazh Fa’il yg berupa dhamir Wawu jamak.

contoh Firman Allah:

فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

FA BA’ATSA ALLAHU ANNABIYYIINA MUBASY-SYIRIINA WA MUNDZIRIINA*= maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (QS. Al-Baqoroh : 213)

*lafazh “MUBASY-SYIRIINA WA MUNDZIRIINA” adalah sebagai HAAL dari lafazh Maf’ul Bih “ANNABIYYIINA”

contoh Firman Allah:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا

FA KULUU MIMMAA GHONIMTUM HALAALAN THOYYIBAA* = Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik (QS. Al-Anfal : 69)

*dua lafazh “HALAALAN THOYYIBAA” sebagai HAL dari isim maushul yaitu MAA.

Keluar dari sebutan sifat, yaitu seperti contoh:

رجعتُ القهقرى

ROJA’TUL-QOHQOROO* = aku kembali secara mundur

* lafaz QOHQOROO tidak disebut HAAL sekalipun sebagai penjelasan tentang tingkah daripada Fa’il, karena bukan berupa sifat, tapi berupa sebutan untuk keadaan kembali ke belakang.

Keluar dari sebutan FADHLAH/sambilan, yaitu Sifat yg dijadikan UMDAH (penopang) yakni sebagai pokok atau primer, semisal menjadi Mubtada contoh:

أقائم الزيدان

A QOO’IMUN AZZADIAANI = apakah yg beridiri itu dua Zaid?
atau menjadi Khobar contoh:

زيد قائم

ZAIDUN QOO’IMUN = Zaid berdiri

Keluar dari penunjukan HAI’AH/tingkah, yaitu Tamyiz Musytaq. contoh:

لله دَرُّهُ فارساً

LILLAAHI DARRUHU! FAARISAN* = hebat! penunggangnya.

* Lafazh LILLAAHI DURRUHU! adalah ungkapan ta’jub atau pujian karena kagum. Lafazh FAARISAN dipilih sebagai TAMYIZ bukan HAL karena tidak dimaksudkan sebagai penunjukan HAI’AH tapi sebagai penunjukan pujian daripada kepandaiannya menunggang kuda. Namun demikian bisa saja terjadi sebagai penerangan HAI’AH tergantung dari maksudnya. Seperti itu  juga NA’AT MANSHUB contoh:

رأيت رجلاً واقفاً

RO’AITU ROJULAN WAAQIFAN* = aku lihat lelaki yg menetap.

*Lafaz WAAQIFAN dipilih sebagai NA’AT bukan HAAL, karena memang tidak disusun menjadi HAL  tetapi disusun untuk menghususi pada MAN’UT. Namun demikian bisa saja disusun sebagai penerangan HAI’AH, ini tergantung pada Konteks Kalimatnya.

Pengertian Istitsna’ Mustatsna » Alfiyah Bait 316-317

15 Desember 2011 10 komentar
–·•Ο•·–

الاستثناء

AL-ISTITSNA’

مَا اسْتَثْنَتِ الاَّ مَعْ تَمَامٍ يَنْتَصِبْ ¤ وَبَعْدَ نَفْيٍ أَوْ كَنَفْيٍ انْتُخِبْ

lafazh Mustatsna oleh illa pada kalam tam hukumnya NASHOB. (Selain) jatuh sesudah Nafi atau Syibhu Nafi, dipilihlah hukum … <berlanjut>

إتْبَاعُ مَا اتَّصَلَ وَانْصِبْ مَا انْقَطَعْ ¤ وَعَنْ تَمِيمٍ فِيهِ إِبْدَالٌ وَقَعْ

TABI’ (jadi badal) bagi yg mustatsna muttashil dan harus NASHOB! bagi yang mustasna munqothi’. Menurut logat Bani Tamim, TABI’ BADAL juga berlaku pada yg mustatsna munqothi’. 

–·•Ο•·–

PENGERTIAN ISTITSNA‘ adalah : Mengecualikan dengan adat ILLA atau satu dari saudara ILLA terhadap lafaz yang masuk dalam hukum lafazh sebelum ILLA baik pemasukan hukum tsb kategori hakiki atau taqdiri.
Contoh:

قرأت الكتاب إلا صفحةً

QORO’TU AL-KITAABA ILLA SHOFHATAN* = aku telah membaca kitab itu kecuali satu halaman.

*Lafazh “SHOFHATAN” dikeluarkan/dikecualikan dari hukum lafazh sebelum adat ILLA, yaitu hukum MEMBACA (lafazh QORO’TU), karena ia termasuk dalam hukum tersebut, pemasukan seperti ini disebut hakiki, karena SHOFHATAN bagian dari AL-KITAB. maka pengecualian seperti ini dinamakan MUSTATSNA MUTTASHIL.
Contoh:

جاء القوم إلا سيارةً

JAA’A AL-QOUMU ILLA SAYYAAROTAN* = Kaum itu telah datang kecuali mobil.

*lafazh “SAYYAAROTAN” jatuh sesudah adat ILLA, ia dikecualikan dari hukum lafazh yg ada sebelum ILLA, yaitu hukum datang (lafaz JAA’A). Andaikan tidak ada ILLA ia termasuk pada hukum datangnya Kaum, pemasukan seperti ini disebut Taqdiri, karena ” SAYYAAROTAN” bukanlah jenis dari Kaum. maka pengecualian seperti ini dinamakan MUSTATSNA MUNQOTHI’

ADAWAT ISTISNA semuanya ada delapan dibagi menjadi empat bagian:

1. Kalimah huruf > ILLA
2. Kalimah Isim > GHOIRU dan SIWAA
3. Kalimah Fi’il > LAISA dan LAA YAKUUNU
4. Taroddud antara Fi’il dan Huruf > KHOLAA, ‘ADAA, HASYAA (untuk HASYAA seringnya disebut kalimah Huruf)

USLUB ISTITSNAA‘ tersusun dari tiga bagian:

1. Al-Mustatsnaa (isim yg jatuh sesudah adat istitsna’)
2. Al-Mustatsna minhu (isim yang ada sebelum adat istitsnaa’)
3. Adatul-Istitsna’ (perangkat istitsna).

I’ROB MUSTATSNA pada umumnya adalah wajib Nashob ‘ala Istitsnaiyah, dengan syarat:

1. Berupa Kalam Tamm yaitu: kalam Istitsnaa dengan menyebut Mustatsna Minhu.
2. Berupa Kalam Mujab (kalimat positif) yaitu: tanpa Nafi atau Syibhu Nafi (Nahi, Istifham bimakna Nafi).

Dalam hal ini Mustatsna wajib Nashob tidak ada perbedaan antara yang Mustatsna Muttashil dan Munqathi’ sebagimana dua contoh diatas. Contoh Firman Allah:

فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

FA SYAARIBUU MINHU ILLA QOLIILAN MINHUM = Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka (QS. Al-Baqoroh : 249)

Juga tidak ada perbedaan antara penyebutan mustasna diakhirkan atau dikedepankan dari Mustatsna Minhu-nya, contoh:

حضر إلا علياً الأصدقاءُ

HADHORO ILLA ‘ALIYYAN AL-ASHDIQOO’U = teman-teman telah hadir kecuali Ali

((Apabila Kalam Ghoiru Tamm, yakni tanpa menyebut Mustasna Minhu, maka hukumnya akan diterangkan pada bait selanjutnya))

Apabila Kalam Tam tersebut Ghoiru Mujab atau Manfi (kalimat negatif) yakni memakai Nafi atau Syibhu Nafi, maka dalam hal ini terbagi dua:

1. Jika berupa MUSTASNA MUTTASHIL, maka boleh dibaca dua jalan: Nashob sebab Istitsnaa’ atau Tabi’ mengikuti I’rob al-Mustatsna Minhu. Contoh:

لا تعجبني الكتُب إلا النافع

LAA TU’JIBUNII AL-KUTUBU ILLAA ANNAAFI’U/ANNAAFI’A* = Kitab-kitab itu tidak membuatku kagum kecuali kemanfa’atannya.

*lafzh ANNAAFI’U/ANNAAFI’A manshub sebab Istisna, atau marfu’ sebab Tabi’ menjadi Badal dari Al-Mustatsna Minhu (AL-KUTUBU). Contoh Firman Allah:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا انفســهم

WAL-LADZIINA YARMUUNA AZWAAJAHUM WA LAM YAKUN LAHUM SYUHADAA’U ILLAA ANFUSU HUM* = Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri (QS. Annur :6)

*Qiro’ah Sab’ah membaca lafazh ANFUSU dengan Rofa’, selain pada Al-Qur’an ia boleh dibaca Nashob. Namun bacaan al-Qur’an sunnah mengikuti bacaan Mereka. Dan contoh Firmannya:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ

WA LAU ANNAA KATABNAA ‘ALAIHIM AN-IQTULUU ANFUSAKUM AW-IKHRUJUU MIN DIYAARIKUM MAA FA’ALUUHU ILLAA QOLIILUN MINHUM*
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka (QS. Annisaa’ : 66)

*Qiro’ah Sab’ah selain Ibnu ‘Aamir membaca Rofa’ terhadap lafazh “QOLIILUN” sebagai Badal dari Fa’il dhamir Wau pada lafazh “FA’ALUUHU”. Sedangkan Ibnu ‘Aamir membaca “QOLIILAN” Nashob sebab Istitsna’.

2. Jika berupa MUSTASNA MUNQOTHI’, maka harus dibaca Nashob menurut jumhur mayoritas bangsa Arab. Contoh:

ما حضر الضيوفُ إلا سيارةً

MAA HADHORO ADH-DHUYUUFU ILLAA SAYYAAROTAN = tamu-tamu tidak hadir kecuali Mobil.

Contoh FirmanNya:

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ

MAA LAHUM BIHII MIN ‘ILMIN ILLAA-TTIBAA’A-AZHZHONNI*
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka (QS. An Nisaa’ : 157)

*Pada lafazh ITTIBAA’A, qiro’ah sab’ah membaca Nashob.
Sedangkan bangsa Arab Bani Tamim membaca Tabi’ atau ikut I’rob pada lafazh sebelum ILLA. Sekalipun al-Mustatsna bukan jenis bagian dari al-Mustatsna Minhu. Contoh :

ما حضر الضيوفُ إلا سيارة

MAA HADHORO ADH-DHUYUUFU ILLAA SAYYAAROTUN* = tamu-tamu tidak hadir kecuali Mobil.

*Lafazh “SAYYAAROTUN” dibaca rofa’ dijadikan Badal dari lafaz “ADH-DHUYUUFU”. Demikian ini shah karena kita boleh menyatakan:

حضر سيارة

HADHORO SAYYAAROTUN = Mobil hadir.

Apabila pernyataan dalam hal ini tidak shah, maka wajib dibaca Nashob, mufakat dari semua bangsa Arab. Contoh:

ما زاد المال إلا ما نقص

MAA ZAADA ALMAALA ILLAA MAA NAQOSHO* = harta tidak bertambah kecuali yang berkurang.

*lafazh MAA NAQOSHO (maushul dan shilah) wajib mahal Nashob, karena kita tidak boleh menyatakan:

زاد النقص

ZAADA AN-NAQSHU = kurang bertambah

Pengertian Zhorof Maf’ul Fih » Alfiyah Bait 303

10 Desember 2011 6 komentar
–·•Ο•·–

المفعول فيه وهو المسمى ظرفا

Bab Maf’ul Fih yg disebut Zharaf

اَلظَّرْفُ وقتٌ أَوْ مَكَانٌ ضُمِّنَا ¤ فِي بِاطِّرَادٍ كَهُنَا امْكُثْ أَزْمُنَا

Zhorof adalah waktu atau tempat yg menyimpan makna “FI/di” secara Muth-thorid/kontinu, contoh: “UMKUTS HUNAA AZMUNAA” = “tinggalah di sini beberapa waktu..!”

–·•Ο•·–

Pengertian Maf’ul Fih atau Zhorof adalah: Isim Zaman atau Isim Makan yg menyimpan makna FI/di secara Muththorid/kontinu.

Contoh Maf’ul Fih dari Isim Zaman:

سافرت يوم الخميس

SAAFARTU YAUMAL-KHOMISI = aku bepergian di hari kamis.

Contoh Maf’ul Fihi dari Isim Makan:

صليت خلف مقام إبراهيم

SHOLLAITU KHOLFA MAQOOMI IBROOHIIM = aku shalat di belakang Maqom Ibrohim.

Lafazh YAUMA Isim Zaman dan Lafazh KHOLFA Isim Makan, keduanya menyimpan makna FI/DI. Disebut Zharaf Zaman karena menerangkan waktu pekerjaan terjadi, dan disebut Zhorof Makan menerangkan tempat pekerjaan terjadi.

Disyaratkan juga bahwa Isim Zaman atau Isim Makan tersebut harus Muththorid dalam menyimpan makna FI/DI yakni tetap permanen menyimpan makna FI dalam situasi berbagai macam pekerjaan/fi’il yg masuk, seperti contoh:

سافرت أو قدمت أو صمت أو خرجت يوم الخميس

Aku bepergian, datang, puasa, keluar,… DI HARI KAMIS.

Contoh Maf’ul Fih-Zhorof Zaman/Makan, dalam Al-Qur’an:

أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ

Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main (QS Yusuf :12)

وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَــها

dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. (QS. Al-An’am :92)

1. Keluar dari definisi Isim Zaman atau Isim Makan, yaitu kalimah yg juga menyimpan makna FI tapi bukan Isim Zaman dan bukan Isim Makan. Contoh FirmanNya:

وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ

WA TARGHOBUUNA AN TANKIHUUHUNNA
sedang kamu ingin mengawini mereka (QS. Annisa’ :127)

lafazh ” AN TANKIHUUHUNNA” adalah kalimah ta’wil masdar yg menyimpan makna FI/di. Karena takdir ta’wil masdarnya adalah: وترغبون في نكاحهن = WA TARGHOBUUNA FI NIKAAHIHINNA.
Maka lafazh ” AN TANKIHUUHUNNA” tidak nashob sebagai Zharaf karena bukan Isim Zaman dan bukan Isim Makan.

2. Keluar dari definisi menyimpan makna FI/di, yaitu Isim Zaman/Makan yg tidak menyimpan makan FI/di. Demikian apabila terjadi sebagai Mubtada’ atau Khobar atau Maf’ul Bih, dll. Contoh:

يوم الجمعة يوم مبارك

YAUMUL JUM’ATI YAUMUN MUBAAROK = Hari Jum’at adalah Hari yg diberkati.

Kedua Lafazh “YAUMU” pertama sebagai Mubtada’ dan kedua sebagai Khobar.

Contoh Firman Allah:

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ

WA ANDZIRHUM YAUMAL-AAZIFAH* = Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat) (QS. Al-mu’min : 18)

*lafazh “YAUMA” dinashobkan sebagai Maf’ul Bih oleh Fi’il “ANDHIR”

3. Keluar dari definisi secara Muththorid/kontinu yaitu Isim Zaman/Makan yg tidak Muththorid dalam menyimpan makna FI/DI. Contoh:

دخلت البيت و سكنت الدار

DAKHOLTU AL-BAITA, WA SAKANTU AD-DAARO = aku masuk kedalam rumah, aku tinggal di rumah.

Lafazh “AL-BAITA” dan “AD-DAARO” adalah Isim Makan menyimpan makna FI tapi tidak Muththorid/kontinu yakni tidak pantas menyimpan FI untuk semua Fi’il yg masuk, kerena itu tidak boleh mengatakan: نمت البيت – جلست الدار NIMTU AL-BAITA – JALASTU AD-DAARO dengan maksud menyimpan makna FI. Berbeda dengan masuknya fi’il “DAKHOLA” atau “SAKANA” yg mana keduanya terkadang berlaku muta’addi sindirinya dan terkadang berlaku muta’addi sebab huruf Jar. Maka Lafazh “AL-BAITA” dan “AD-DAARO” pada contoh (DAKHOLTU AL-BAITA, WA SAKANTU AD-DAARO) tidaklah nashob sebagai Zharaf akan tetapi sebagai Maf’ul Bih.

Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih » Alfiyah Bait 298-299-300

8 Desember 2011 12 komentar
–·•Ο•·–

المفعول له

BAB MAF’UL LAH / MAF’UL LIAJLIH

يُنْصَبُ مَفْعُولاً لَه الْمصْدَرُ إِنْ ¤ أَبَانَ تَعْلِيلاً كَجُدْ شُكْراً وَدنْ

Mashdar dinashobkan menjadi Maf’ul Lah (syaratnya) jika ia menjelaskan Ta’lil (alasan/faktor), contoh “JUD SYUKRON WA DIN!” = bersikap baiklah karena bersyukur dan beragamalah! (dg taat)

وَهْو بِمَا يَعْمَلُ فِيهِ مُتَّحدْ ¤ وَقْتاً وَفَاعِلاً وَإنْ شَرْطٌ فُقِدْ

Juga Masdar yg menjadi Maf’ul Lah harus bersatu dengan Amilnya dalam hal waktu dan subjeknya. Dan jika tidak didapati syarat …. >

فَاجْرُرْهُ بِالْحَرْفِ وَلَيْسَ يَمْتَنِعْ ¤ مَعَ الشُّرُوطِ كَلِزُهْدٍ ذَا قَنِعْ

>.. maka majrurkan dengan huruf jar. Pemajruran ini juga tidak dilarang sekalipun Masdar tsb mencukupi Syarat seperti contoh: LI ZUHDIN DZAA QONI’A = dia ini qona’ah dikarenakan zuhud.

–·•Ο•·–

Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih menurut bahasa adalah: objek yg menjadi faktor pekerjaan. Menurut Ilmu Nahwu adalah: Isim Masdar yang menjelaskan tentang faktor/alasan dari penyebutan Amil sebelumnya. Dan bersatu dalam hal waktu dan subjeknya.

Contoh Maf’ul Liajlihi / Maf’ul Lahu:

جئت رغبةً فيك

JI’TU RUGHBATAN FIIKA* = aku datang karena senang kepadamu.

*Pada contoh diatas lafal “RUGHBATAN”=SENANG adalah Isim Masdar yg difahami sebagai faktor bagi Amil/kata kerja lafal “JI’TU”=AKU DATANG. Secara maknanya contoh diatas berbunyi seperti ini:

جئت للرغبة فيك

JI’TUKA LIR-RUGHBATI FIIKA = aku datang karena senang kepadamu.

lafal “RUGHBATAN” Isim Masdar yang menjadi Maf’ul Lah, juga bersekutu dalam hal waktu dengan Amil lafal “JI’TU”, karena waktu aku senang, itulah waktu aku mendatanginya. Juga bersekutu dalam satu subjek yaitu satu Fa’il berupa Dhamir Mutakallim/aku.

Contoh Maf’ul Li Ajlihi/Lahu Fi’rman Allah:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ

WALLADZIINA SHOBARU-BTIGHOO’A WAJHI ROBBIHIM* = Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya (QS Ar-Ro’du :22)

* lafal “IBTIGHOO’A” sebagai Maf’ul Lah/Liajlih.

Juga contoh FirmanNya:

لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

LAU YARUDDUUNAKUM MIMBA’DI IIMAANIKUM KUFFAARON HASADAN MIN ‘INDI ANFUSIHIM* = agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri (Al-Baqoroh :109)

*lafal “KAFFAARON” menjadi HAL sebagai Amil, dan lafal “HASADAN” sebagai Maf’ul Lah.

Hukum I’rob Maf’ul Liajlih / Maf’ul lah adalah : BOLEH NASHOB sekiranya terdapat tiga syarat sebagimana tersirat dalam bait diatas, yaitu:

  1. Isim Mashdar
  2. Lit-Ta’lil/Penjelasan Faktor alasan
  3. Bersatu dengan Amilnya dalam satu Waktu dan satu Fa’il

Atau kalimah yg mencukupi tiga syarat tersebut juga BOLEH DIJARKAN dengan huruf jar Lit-Ta’lil.

Jika salah satu saja dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi maka WAJIB DIJARKAN dengan huruf jar lit-Ta’lil berupa huruf LAM, MIN, FIY atau huruf BA’.

Contoh yang tidak memenuhi syarat Isim Mashdar:

جئتك للكتاب

JI’TU KA LIL KITAABI = aku mendatangimu karena kitab itu.

Contoh FirmanNya:

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

WAL ARDHO WADHO’AHAA LIL ANAAMI = Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). (Ar-Rahmaan :10).

Contoh yang tidak bersatu dengan Amilnya dalam hal satu Waktu:

جئتك اليوم للإكرام غداً

JI’TUKA ALYAUMA LIL IKROOMI GHODAN = aku mendatangimu hari ini untuk penghormatan esok hari.

Contoh yang tidak bersatu dengan Amilnya dalam hal satu Fa’il/Subjek:

جاء خالد لإكرام عليِّ له

JAA’A KHOOLIDUN LI IKROOMI ‘ALIYYUN LAHU = Khalid datang agar Ali menghormatinya.

Contoh FirmanNya:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ

AQIMISH-SHOLAATA LI DULUUKISY-SYAMSI* = Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (Al-Isro’ :78)

*Perbedaan Fa’il/subjek dalam ayat ini adalah pada lafal “AQIM=DIRIKANLAH” subjeknya berupa dhamir wajib mustatir takdirannya ANTA/KAMU dan lafal “DULUUKI=TERGELINCIR” subjeknya berupa lafal “ASY-SYAMSI=MATAHARI” (kemiringan matahari dari tengah-tengah atas langit/zhuhur). Juga terdapat Perbedaan Waktu dalam ayat ini yaitu waktu mendirikan sholat tentunya lebih akhir dari waktu tergelincirnya Matahari.

Kalimah yg dijarkan oleh huruf-huruf jar tersebut, tidak di-I’rob sebagai Maf’ul Lah; karena Maf’ul Lah tersebut khusus bagi kalimah yg Nashob saja. Sekalipun demikian, secara makna keduannya tidak berbeda alias sama.

Pengertian Maf’ul Muthlaq dan Mashdar » Alfiyah Bait 286-287

1 Desember 2011 5 komentar
–·•Ο•·–

المفعول المطلق

BAB MAF’UL MUTHLAQ

اَلْمَصْدَرُ اسْمُ مَا سِوَى الزَّمَانِ مِنْ ¤ مَدْلُولَيِ الْفِعْلِ كَأَمْنٍ مِنْ أَمِنْ

MASHDAR adalah isim yang selain menunjukkan zaman dari dua penunjukan Fi’il (yakni yang menunjukkan pada huduts = kejadian). Seperti lafazh AMNI masdar dari Fi’il lafazh AMINA

بِمِثْلِهِ أَوْ فِعْلٍ أوْ وَصْفٍ نُصِبْ ¤ وَكَوْنُهُ أَصْلاً لِهذَيْنِ انْتُخِبْ

MASDAR dinashobkan oleh serupanya atau oleh FI’IL atau oleh SHIFAT. Keberadaan MASDAR  dipilih sebagai bentuk asal bagi keduanya ini.

–·•Ο•·–

Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Kalimah Fi’il (kata kerja) menunjukkan pada dua hal secara bersamaan yaitu:

  • Huduts (kejadian)
  • Zaman (waktu)

Manuskrip: Tulisan pertama Kitab Syarah Alfiyah Ibnu Malik oleh Jalaluddin As-Suyuthi. 221 Halaman. Sumber : http://www.mahaja.com/library/manuscripts/manuscript/682

Contoh kita mengatakan:

بذل الغني ماله في الخير

BADZALA AL-GHONIYYU MAALAHUU FIL-KHOIRI* = orang kaya itu telah mendermakan hartanya di dalam kebaikan.

* Lafal “BADZALA” adalah Kalimah Fi’il/Kata Kerja, menunjukkan dua hal: kejadian pendermaan dan waktu pendermaan, yakni kejadian pada waktu lampau karena berupa Fi’il Madhiy.

Selanjutnya, kalau kita mengatakan:

بذل المال في الخير نفع لصاحبه

BADZLUL-MAALI FIL-KHOIRI NAF’UN LI SHOOHIBIHII *= mendermakan harta di dalam kebaikan adalah kemanfaatan bagi si empunya harta.

* lafal “BADZLU” adalah kalimah Isim yang menunjukkan kejadian pendermaan tanpa penunjukan waktu, demikian juga pada lafal “NAF’UN”. Maka setiap Isim yang mencocoki terhadap Fi’il di dalam hal sama-sama menunjukkan kejadian akan tetapi berbeda karena tidak menunjukkan zaman, maka Isim tersebut dinamakan ISIM MASDAR. Jadi:

Pengertian Isim Mashdar adalah: Isim yang menunjukkan pada kejadian yang terlepas dari zaman.

Di sini Kiyai Mushonnif menyusun Bab tentang Maf’ul Muthlaq, beserta beliau mendefinisikan Isim Masdar pada awal Bait. Tiada lain karena Maf’ul Mutlaq umumnya terbuat dari Isim Mashdar. Ada juga yg tidak berupa Isim Masdar insyaAllah akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.

Contoh Maf’ul Mutlaq berupa Isim Mashdar :

انتصر الحق انتصاراً

INTASHORO AL-HAQQU INTISHOORON = yang hak telah memperoleh kemenangan dengan sebenar-benar kemenangan.

Pengertian Maf’ul Muthlaq adalah: Isim yang dinashobkan sebagai pengokohan (taukid lafzhi) terhadap Amilnya atau menerangkan macamnya atau bilangannya.

Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq sebagai taukid:

ضربت ضربا

DHOROBTU DHORBAN = aku telah memukul dengan sebenar-benar pukulan

Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq penerangan jenis/macamnya:

سرت سير زيد

SIRTU SAIRO ZAIDIN = aku berjalan semacam jalannya Zaid.

Contoh Mashdar Maf’ul Muthlaq penerangan jumlah:

ضربت ضربتين

DHOROBTU DHORBATAINI = aku memukul sebanyak dua pukulan.

Hukum Masdar dalam hal ini adalah nashob, baik amil yg menashobkan berupa Isim Mashdar, Fi’il, atau Sifat.

Contoh Masdar dinashobkan oleh ISIM MASDAR :

فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا

maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al-Isro’ : 16)

Contoh Mashdar dinashobkan oleh FI’IL:

وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling dengan berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (An-Nisa’ : 27)

Contoh Masdar dinashobkan oleh SHIFAT:

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا

Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shooffaat : 1)

Menurut pendapat yg masyhur dan rojih: Isim Mashdar merupakan bentuk asal dari semua Kalimah Musytaq, baik Fi’il, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifah Musyabbahah, Isim Tafdhil, Isim Zaman, Isim Makan, Isim alat, semua itu dibentuk dari asal Isim Masdar. Contoh Isim Fa’il lafaz “AL-QOOIMU” hasil bentukan dari Masdar lafaz “AL-QIYAAMU”. Contoh Isim Alat lafaz “AL-MIFTAAHU” hasil bentukan dari Masdar lafaz “AL-FATHU” dan seterusnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 604 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: