Beranda > Bait 31 > 4 Syarat I’rob Asma al-Sittah: Mudhaf, tidak Mudhaf pd Ya’ Mutakallim, Mukabbar dan Mufrad » Alfiah Bait 31

4 Syarat I’rob Asma al-Sittah: Mudhaf, tidak Mudhaf pd Ya’ Mutakallim, Mukabbar dan Mufrad » Alfiah Bait 31

وَشَرْطُ ذَا اْلإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ ¤ لِلْيَــا كَــجَا أَخُــوْ أَبِيْـــكَ ذَا اعْـــتِلاَ

Syarat I’rob ini (I’rob Asmaus-Sittah) yaitu harus di mudhaf-kan, tidak mudhof kepada Ya’ Mutakallim. Seperti contoh: “Jaa akhuu abiika dza’tilaa”.

Para Ahli Nahwu menentukan empat syarat untuk Asmaus-Sittah yang dii’rab dengan Huruf. yaitu:

 

Syarah Alfiyah, Al-Asymuni

 

 

1. Harus mudhaf, dipilihnya syarat ini untuk menjaga daripada yang tidak mudhof, karena yang demikian akan di-i’rob dengan harokah zhohir. Contoh:

هَذَا أَبٌ وَرَأَيْتُ أَبًا وَمَرَرْتُ بِأَبٍ

Ini seorang bapak, aku melihat seorang bapak, aku berjumpa dengan seorang bapak.

إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا

sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya

وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ

baginya seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan

قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ

ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)..

2. Tidak Mudhaf pada Ya’ Mutakallim. Contoh:

هَذَا أَبُوْ زَيْدٍ وَأَخُوْهُ وَحَمُوْهُ

Ini ayah Zaid/saudaranya/mertuanya.

Sedangkan apabila mudhaf kepada ya’ mutakallim, maka dii’rab dengan harakah muqaddar/dikira-kira pada huruf terakhir sebelum ya’ mutakallim. Contoh:

هَذَا أَبِيْ وَرَأَيْتُ أَبِيْ وَمَرَرْتُ بِأَبِيْ

Ini adalah bapakku, aku melihat bapakku, aku berpapasan dengan bapakku.

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku

إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ

sungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja.

فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا

lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali

3. Harus bershighat mukabbar (مكبر), dipilihnya syarat ini untuk menjaga dari shigat mushaghghar (مصغر)/memperkecil, karena yang dimikian ini dii’rab dengan harkah zhahir. Contoh:

هَذَا أُبَيُّ زَيْدٍ وَذُوَيُّ مَالٍ

Ini adalah bapak-kecilnya Zaid dan si hartawan yunior

وَرَأَيْتُ أُبَيَّ زَيْدٍ وَذُوَيَّ مَالٍ

Aku melihat bapak-kecilnya Zaid dan si hartawan yunior

ومررت بِأُبَيِّ زَيْدٍ وَذُوَيِّ مَالٍ

Aku berpapasan dengan bapak-kecilnya Zaid dan si hartawan yunior

4. Harus Mufrad (tunggal), dipilihnya syarat ini, untuk menjaga dari bentuk Jamak, karena yang demikian ini dii’rab dengan harkah zhahir. Contoh:

هَذَا آبَاءُهُمْ وَرَأَيْتُ آبَاءَهُمْ وَمَرَرْتُ بِآبَائِهِمْ

Ini adalah bapak-bapak mereka, aku melihat bapak-bapak mereka, aku berpapasan dengan bapak-bapak mereka.

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.

Atau untuk menjaga dari bentuk dual, karena yang demikian ini dii’rab dengan tanda Alif ketika rofa’/Ya’ ketika Jar dan Nashab. Contoh:

هَذَانِ أَبَوَا زَيْدٍ وَرَأَيْتُ أَبَوَيْهِ وَمَرَرْتُ بِأَبَوَيْهِ

Ini adalah kedua orang tua  zaid, aku melihat kedua orang tua zaid, aku berpapasan dengan kedua orang tua zaid.

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana

Tidak disebutnya empat syarat diatas oleh Mushannif Alfiyah, kecuali dua syarat pertama, sedangkan dua syarat sisanya sudah tersirat dalam contoh pada bait diatas, yaitu dengan contoh Mukabbar dan Mufrad

كَجَا أخُو أبِيكَ ذَا اعْتِلاَ

Telah datang saudara ayahmu yang berpangkat tinggi itu.

Dan perlu diketahui bahwa penggunaan Lafadz Dzu ذو Asmaus-sittah selamanya harus mudhaf karena ia tidak pernah digunakan kecuali mudhaf, dan mudhafnya tertentu kepada Isim Jenis yang zhahir, bukan Dhamir atau Shifat. Contoh:

جَاءَ نِيْ ذُوْ مَالٍ

Si hartawan datang padaku

Tidak boleh melafalkan:

جَاءَنِيْ ذُوْ قَائِمٍ

About these ads
Kategori:Bait 31
  1. knapa asma'ul khomsah harus menggunakan lafad2 abuka ahuka hamuka fuka dan dumalin?
    23 Desember 2010 pukul 14:11

    mengapa lafad2 asma’ul khomsah harus mengunakan lafad abuka ahuka hamuka fuka dan dumalin

    • Anonymous
      6 Februari 2011 pukul 08:29

      ya karna itu memeng yang sudah di tetepkan ulama nahwu………

  2. 15 Juli 2011 pukul 18:15
  3. Muhamad hamdan firdaus
    11 Oktober 2011 pukul 09:23

    Mumtadz…

  4. hammad
    26 Juni 2012 pukul 09:52

    mau tanya dong arti dari asma sittah itu masing2 apa saja?
    abu, akhu, dzu, famu, hanu, dll.
    jazakallah

  1. 16 November 2012 pukul 13:11

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: